Senin, 15 Juni 2026
- Advertisement -

Jangan Bikin Klopp Marah

INGGRIS (RIAUPOS.CO) – Jurgen Klopp tidak hanya jagoan meracik strategi. Tactician Liverpool FC itu juga pintar mencari-cari kesalahan ketika timnya tidak bisa meraih kemenangan. Seperti alasan Klopp ketika LFC tertahan 2-2 di kandang Tottenham Hotspur dalam Premier League akhir pekan lalu (19/12).

Klopp menyebut Spurs yang memainkan skema 5-3-2 hanya mengandalkan serangan balik lawan LFC. "Ketika mereka (Spurs) mendapatkan bola, mereka menendang sejauh mungkin untuk (Harry) Kane dan Son (Heung-min)," sindir pelatih yang akrab disapa Kloppo tersebut.

Padahal, kalau melihat jalannya pertandingan, Spurs juga beberapa kali melakukan serangan lewat permainan terbuka. Jumlah tembakan tepat sasaran tim asuhan Antonio Conte itu pun hanya beda tipis dengan LFC (5 banding 6). "Klopp tentu tidak bisa mengharapkan lawan bermain dengan skema yang mendukung strateginya untuk menang," ulas Football London. 

Sikap Klopp seolah menambah panjang pernyataan yang terbilang konyol dari pelatih asal Jerman tersebut ketika LFC (julukan LFC) meraih hasil mengecewakan. Khususnya ketika tereliminasi dari sebuah ajang fase gugur. "Pelatih masih marah (atas hasil seri lawan Spurs, red)," ucap pemain LFC yang enggan disebutkan namanya kepada talkSPORT.

 Kondisi itu tentu tidak diharapkan makin menjadi ketika LFC menghadapi Leicester City dalam perempatfinal Piala Liga di Anfield dini hari nanti (siaran langsung Mola TV pukul 02.45 WIB). Meski terbuka kemungkinan The Reds tidak memainkan para pemain utama seperti Mohamed Salah, Sadio Mane, Jordan Henderson, dan Alisson Becker, Klopp pun tentu tidak berharap tereliminasi.

Baca Juga:  Suporter Datang, Klub Tamu yang Dapat Poin

Apalagi, Leicester City datang dengan kondisi bugar. Kali terakhir Kasper Schmeichel dkk tampil adalah saat menghancurkan Newcastle United empat gol tanpa balas lebih dari sepekan lalu (12/12).

Asisten pelatih LFC Pep Ljinders yang memberikan pernyataan dalam pre-match press conference di AXA Training Ground tadi malam membenarkan kondisi Klopp yang masih baper (terbawa perasaan) saat ini. Ditambah banyak kritikan atas sikap intimidatif Klopp di hadapan wasit Paul Tierney seusai laga melawan Spurs. "Juergen (Klopp) adalah orang bersikap fair. Dia juga akan marah kalau dalam skuad kami ada pemain atau staf yang membuat kesalahan," ucap Ljinders kepada Liverpool Echo.  

Ketimbang membahas amarah Klopp, Ljinders lebih senang membahas tantangan di lapangan dini hari nanti. Menurut pria yang juga pernah menjadi asisten Brendan Rodgers (saat ini pelatih Leicester City), LFC tetap menaruh atensi tinggi di Piala Liga. Terlebih, LFC tidak lagi juara Piala Liga sejak 2011-2012 dan musim lalu malah sudah tersingkir sejak putaran keempat. Saat itu LFC angkat koper di kandang sendiri usai kalah oleh Arsenal lewat babak adu penalti 4-5. 

Baca Juga:  Bayern Tersingkir, Nagelsmann 450 Kali Diancam Bunuh di Instagram

"Kami mungkin tidak memprioritaskan (Piala Liga). Tetapi, tim ini selalu selalu menganggap setiap laga selayaknya pertandingan final," tutur Ljinders.

Sementara itu, Leicester City datang ke Anfield bersama mantan pelatih The Reds, Brendan Rodgers. Ini adalah laga perdana bagi The Foxes setelah menunggu 12 hari. Sebelumnya, Leicester batal menghadapi Tottenham dan Everton. 

Lama tidak berlaga tidak membuat pasukan Rodgers aman dari pemain yang absen. Leicester City punya masalah di lini belakang karena Wesley Fofana, Jonny Evans, dan Caglar Soyuncu tidak dapat memperkuat tim. Ini akan membuat Ryan Bertrand digeser sebagai bek tengah menemani Daniel Amartey. 

Bagi Leicester dan Liverpool, Piala Liga Inggris adalah kesempatan mereka bisa memperoleh trofi musim ini. Terutama The Reds yang saat ini berstatus sebagai pemenang trofi EFL Cup terbanyak bersama Manchester City (8 kali). Sementara itu, The Foxes memang sudah 3 kali juara EFL Cup, tetapi terakhir kali mereka mengangkat trofi kompetisi ini adalah pada 1999/2000. 

Dengan jatuhnya Manchester City, sang pemenang Piala Liga Inggris dalam 4 musim beruntun, ini jadi peluang bagi 8 tim tersisa. Selain Liverpool dan Leicester City, masih ada Arsenal, Sunderland, Brentford, Chelsea, Tottenham, dan West Ham United.(ren/dns/eca)

Laporan JPG, Liverpool

INGGRIS (RIAUPOS.CO) – Jurgen Klopp tidak hanya jagoan meracik strategi. Tactician Liverpool FC itu juga pintar mencari-cari kesalahan ketika timnya tidak bisa meraih kemenangan. Seperti alasan Klopp ketika LFC tertahan 2-2 di kandang Tottenham Hotspur dalam Premier League akhir pekan lalu (19/12).

Klopp menyebut Spurs yang memainkan skema 5-3-2 hanya mengandalkan serangan balik lawan LFC. "Ketika mereka (Spurs) mendapatkan bola, mereka menendang sejauh mungkin untuk (Harry) Kane dan Son (Heung-min)," sindir pelatih yang akrab disapa Kloppo tersebut.

Padahal, kalau melihat jalannya pertandingan, Spurs juga beberapa kali melakukan serangan lewat permainan terbuka. Jumlah tembakan tepat sasaran tim asuhan Antonio Conte itu pun hanya beda tipis dengan LFC (5 banding 6). "Klopp tentu tidak bisa mengharapkan lawan bermain dengan skema yang mendukung strateginya untuk menang," ulas Football London. 

Sikap Klopp seolah menambah panjang pernyataan yang terbilang konyol dari pelatih asal Jerman tersebut ketika LFC (julukan LFC) meraih hasil mengecewakan. Khususnya ketika tereliminasi dari sebuah ajang fase gugur. "Pelatih masih marah (atas hasil seri lawan Spurs, red)," ucap pemain LFC yang enggan disebutkan namanya kepada talkSPORT.

 Kondisi itu tentu tidak diharapkan makin menjadi ketika LFC menghadapi Leicester City dalam perempatfinal Piala Liga di Anfield dini hari nanti (siaran langsung Mola TV pukul 02.45 WIB). Meski terbuka kemungkinan The Reds tidak memainkan para pemain utama seperti Mohamed Salah, Sadio Mane, Jordan Henderson, dan Alisson Becker, Klopp pun tentu tidak berharap tereliminasi.

- Advertisement -
Baca Juga:  Jika Bruno, Mbappe, dan Pogba Bergabung, Ini Formasi Madrid Musim Depan

Apalagi, Leicester City datang dengan kondisi bugar. Kali terakhir Kasper Schmeichel dkk tampil adalah saat menghancurkan Newcastle United empat gol tanpa balas lebih dari sepekan lalu (12/12).

Asisten pelatih LFC Pep Ljinders yang memberikan pernyataan dalam pre-match press conference di AXA Training Ground tadi malam membenarkan kondisi Klopp yang masih baper (terbawa perasaan) saat ini. Ditambah banyak kritikan atas sikap intimidatif Klopp di hadapan wasit Paul Tierney seusai laga melawan Spurs. "Juergen (Klopp) adalah orang bersikap fair. Dia juga akan marah kalau dalam skuad kami ada pemain atau staf yang membuat kesalahan," ucap Ljinders kepada Liverpool Echo.  

- Advertisement -

Ketimbang membahas amarah Klopp, Ljinders lebih senang membahas tantangan di lapangan dini hari nanti. Menurut pria yang juga pernah menjadi asisten Brendan Rodgers (saat ini pelatih Leicester City), LFC tetap menaruh atensi tinggi di Piala Liga. Terlebih, LFC tidak lagi juara Piala Liga sejak 2011-2012 dan musim lalu malah sudah tersingkir sejak putaran keempat. Saat itu LFC angkat koper di kandang sendiri usai kalah oleh Arsenal lewat babak adu penalti 4-5. 

Baca Juga:  Tiga Naga Wakili Riau di Kompetisi Liga 3

"Kami mungkin tidak memprioritaskan (Piala Liga). Tetapi, tim ini selalu selalu menganggap setiap laga selayaknya pertandingan final," tutur Ljinders.

Sementara itu, Leicester City datang ke Anfield bersama mantan pelatih The Reds, Brendan Rodgers. Ini adalah laga perdana bagi The Foxes setelah menunggu 12 hari. Sebelumnya, Leicester batal menghadapi Tottenham dan Everton. 

Lama tidak berlaga tidak membuat pasukan Rodgers aman dari pemain yang absen. Leicester City punya masalah di lini belakang karena Wesley Fofana, Jonny Evans, dan Caglar Soyuncu tidak dapat memperkuat tim. Ini akan membuat Ryan Bertrand digeser sebagai bek tengah menemani Daniel Amartey. 

Bagi Leicester dan Liverpool, Piala Liga Inggris adalah kesempatan mereka bisa memperoleh trofi musim ini. Terutama The Reds yang saat ini berstatus sebagai pemenang trofi EFL Cup terbanyak bersama Manchester City (8 kali). Sementara itu, The Foxes memang sudah 3 kali juara EFL Cup, tetapi terakhir kali mereka mengangkat trofi kompetisi ini adalah pada 1999/2000. 

Dengan jatuhnya Manchester City, sang pemenang Piala Liga Inggris dalam 4 musim beruntun, ini jadi peluang bagi 8 tim tersisa. Selain Liverpool dan Leicester City, masih ada Arsenal, Sunderland, Brentford, Chelsea, Tottenham, dan West Ham United.(ren/dns/eca)

Laporan JPG, Liverpool

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

INGGRIS (RIAUPOS.CO) – Jurgen Klopp tidak hanya jagoan meracik strategi. Tactician Liverpool FC itu juga pintar mencari-cari kesalahan ketika timnya tidak bisa meraih kemenangan. Seperti alasan Klopp ketika LFC tertahan 2-2 di kandang Tottenham Hotspur dalam Premier League akhir pekan lalu (19/12).

Klopp menyebut Spurs yang memainkan skema 5-3-2 hanya mengandalkan serangan balik lawan LFC. "Ketika mereka (Spurs) mendapatkan bola, mereka menendang sejauh mungkin untuk (Harry) Kane dan Son (Heung-min)," sindir pelatih yang akrab disapa Kloppo tersebut.

Padahal, kalau melihat jalannya pertandingan, Spurs juga beberapa kali melakukan serangan lewat permainan terbuka. Jumlah tembakan tepat sasaran tim asuhan Antonio Conte itu pun hanya beda tipis dengan LFC (5 banding 6). "Klopp tentu tidak bisa mengharapkan lawan bermain dengan skema yang mendukung strateginya untuk menang," ulas Football London. 

Sikap Klopp seolah menambah panjang pernyataan yang terbilang konyol dari pelatih asal Jerman tersebut ketika LFC (julukan LFC) meraih hasil mengecewakan. Khususnya ketika tereliminasi dari sebuah ajang fase gugur. "Pelatih masih marah (atas hasil seri lawan Spurs, red)," ucap pemain LFC yang enggan disebutkan namanya kepada talkSPORT.

 Kondisi itu tentu tidak diharapkan makin menjadi ketika LFC menghadapi Leicester City dalam perempatfinal Piala Liga di Anfield dini hari nanti (siaran langsung Mola TV pukul 02.45 WIB). Meski terbuka kemungkinan The Reds tidak memainkan para pemain utama seperti Mohamed Salah, Sadio Mane, Jordan Henderson, dan Alisson Becker, Klopp pun tentu tidak berharap tereliminasi.

Baca Juga:  Bastianini Bertekad Tampil Lebih Konsisten di MotoGP Catalunya

Apalagi, Leicester City datang dengan kondisi bugar. Kali terakhir Kasper Schmeichel dkk tampil adalah saat menghancurkan Newcastle United empat gol tanpa balas lebih dari sepekan lalu (12/12).

Asisten pelatih LFC Pep Ljinders yang memberikan pernyataan dalam pre-match press conference di AXA Training Ground tadi malam membenarkan kondisi Klopp yang masih baper (terbawa perasaan) saat ini. Ditambah banyak kritikan atas sikap intimidatif Klopp di hadapan wasit Paul Tierney seusai laga melawan Spurs. "Juergen (Klopp) adalah orang bersikap fair. Dia juga akan marah kalau dalam skuad kami ada pemain atau staf yang membuat kesalahan," ucap Ljinders kepada Liverpool Echo.  

Ketimbang membahas amarah Klopp, Ljinders lebih senang membahas tantangan di lapangan dini hari nanti. Menurut pria yang juga pernah menjadi asisten Brendan Rodgers (saat ini pelatih Leicester City), LFC tetap menaruh atensi tinggi di Piala Liga. Terlebih, LFC tidak lagi juara Piala Liga sejak 2011-2012 dan musim lalu malah sudah tersingkir sejak putaran keempat. Saat itu LFC angkat koper di kandang sendiri usai kalah oleh Arsenal lewat babak adu penalti 4-5. 

Baca Juga:  Ulangi Prestasi 18 Tahun Silam

"Kami mungkin tidak memprioritaskan (Piala Liga). Tetapi, tim ini selalu selalu menganggap setiap laga selayaknya pertandingan final," tutur Ljinders.

Sementara itu, Leicester City datang ke Anfield bersama mantan pelatih The Reds, Brendan Rodgers. Ini adalah laga perdana bagi The Foxes setelah menunggu 12 hari. Sebelumnya, Leicester batal menghadapi Tottenham dan Everton. 

Lama tidak berlaga tidak membuat pasukan Rodgers aman dari pemain yang absen. Leicester City punya masalah di lini belakang karena Wesley Fofana, Jonny Evans, dan Caglar Soyuncu tidak dapat memperkuat tim. Ini akan membuat Ryan Bertrand digeser sebagai bek tengah menemani Daniel Amartey. 

Bagi Leicester dan Liverpool, Piala Liga Inggris adalah kesempatan mereka bisa memperoleh trofi musim ini. Terutama The Reds yang saat ini berstatus sebagai pemenang trofi EFL Cup terbanyak bersama Manchester City (8 kali). Sementara itu, The Foxes memang sudah 3 kali juara EFL Cup, tetapi terakhir kali mereka mengangkat trofi kompetisi ini adalah pada 1999/2000. 

Dengan jatuhnya Manchester City, sang pemenang Piala Liga Inggris dalam 4 musim beruntun, ini jadi peluang bagi 8 tim tersisa. Selain Liverpool dan Leicester City, masih ada Arsenal, Sunderland, Brentford, Chelsea, Tottenham, dan West Ham United.(ren/dns/eca)

Laporan JPG, Liverpool

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari