Rabu, 13 Mei 2026
- Advertisement -

Korea Utara Dihadapkan Kondisi Ekonomi Memburuk

PYONGYANG (RIAUPOS.CO) – Bank of Korea Jumat (26/7/2019) merilis perkiraan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara (Korut) pada 2018. PDB itu hanya sekitar 35,9 triliun won (Rp425 triliun). Sedangkan pendapatan per kapita hanya mencapai 1.119 dolar AS alias Rp15,6 juta per tahun.

Angka PDB itu turun 4,1 persen jika dibandingkan dengan capaian 2017. Menurut Korea Selatan (Korsel), itu adalah penurunan ekonomi terbesar selama 20 tahun terakhir. Rekor tersebut hampir menyamai penurunan ekonomi pada 1997. Saat itu Korut sedang dilanda krisis pangan. Ratusan ribu warganya meninggal. ''Ekonomi (Korut) sudah pasti turun lantaran sanksi yang diterima,'' ujar Benjamin Katzeff, pakar Korut dari Stimson Center.

Bank of Korea juga memasukkan musim kemarau panjang sebagai faktor penyebab lesunya ekonomi pemerintahan Kim Jong-un. Hal tersebut juga disampaikan pejabat World Food Programme PBB James Belgrave. Dia mengatakan, panen gandum dan barli menurun 20 persen. ''Tumbuhan di sana terlihat lebih kering dan pendek. Banyak pejabat pertanian yang khawatir,'' ujar Belgrave.

Baca Juga:  Pakai Lampu UV, Tanaman Hidroponik Bisa Panen Sebulan Sekali

Meski begitu, Korut makin agresif menunjukkan ketidakpuasannya terhadap negara tetangga. Setelah menguji coba senjata terbaru pada Kamis (25/7/2019), Kim Jong-un mengutarakan ancaman. Dia menyatakan bahwa negara komunis itu tidak tinggal diam jika Korsel tetap melakukan latihan militer dengan Amerika Serikat (AS).

Melalui Korean Central News Agency (KCNA), putra bungsu Kim Jong-il tersebut mengakui peluncuran rudal yang terdeteksi Korsel sehari sebelumnya. Menurut dia, senjata itu merupakan salah satu andalan Korut untuk menanggulangi ancaman dari selatan. ''Kami tidak punya pilihan selain mengembangkan sistem senjata super untuk menghalau ancaman yang ada,'' ujar Jong-un menurut Al Jazeera.

Kim Jong-un tak membeberkan spesifikasi rudal yang baru saja diluncurkan. Dia hanya mengatakan bahwa misil miliknya tak akan mudah dicegat sistem antirudal. Sebab, rudal tersebut bisa terbang dalam ketinggian rendah dan mengubah sudut secara ekstrem.

Hal itu sesuai dengan tebakan militer Korsel. Mereka menyimpulkan bahwa senjata dari Tentara Rakyat Korea tersebut mirip dengan rudal jarak dekat milik Rusia, Iskander. Iskander terkenal dengan kemampuan terbang lurus, lalu menukik menuju target. Kemampuan itu membuat sistem antirudal balistik sulit memprediksi trayek serangan.

Baca Juga:  Kompolnas: Tilang Elektronik Secara Nasional Harus Didukung

Saat dites, dua rudal tersebut terbang dari kota pesisir Wonsan sampai ke Laut Timur alias Laut Jepang. Mereka terbang sampai jarak 690 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, Korut bisa menyerang wilayah mana pun di Korsel. ''Ini adalah peringatan serius. Pemimpin Korsel tak boleh meremehkan peringatan ini,'' tegas Jong-un sebagaimana dilansir Yonhap.

Dalam beberapa kesempatan, Korut sudah mengutarakan keluhan terhadap rencana Korsel dan AS menggelar latihan gabungan. Selama 2018 Korsel memang membatalkan semua simulasi perang untuk menghormati perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut. Namun, sikap Korsel berubah setelah KTT AS-Korut di Hanoi Februari silam berakhir runyam.(bil/c9/dos)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

PYONGYANG (RIAUPOS.CO) – Bank of Korea Jumat (26/7/2019) merilis perkiraan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara (Korut) pada 2018. PDB itu hanya sekitar 35,9 triliun won (Rp425 triliun). Sedangkan pendapatan per kapita hanya mencapai 1.119 dolar AS alias Rp15,6 juta per tahun.

Angka PDB itu turun 4,1 persen jika dibandingkan dengan capaian 2017. Menurut Korea Selatan (Korsel), itu adalah penurunan ekonomi terbesar selama 20 tahun terakhir. Rekor tersebut hampir menyamai penurunan ekonomi pada 1997. Saat itu Korut sedang dilanda krisis pangan. Ratusan ribu warganya meninggal. ''Ekonomi (Korut) sudah pasti turun lantaran sanksi yang diterima,'' ujar Benjamin Katzeff, pakar Korut dari Stimson Center.

Bank of Korea juga memasukkan musim kemarau panjang sebagai faktor penyebab lesunya ekonomi pemerintahan Kim Jong-un. Hal tersebut juga disampaikan pejabat World Food Programme PBB James Belgrave. Dia mengatakan, panen gandum dan barli menurun 20 persen. ''Tumbuhan di sana terlihat lebih kering dan pendek. Banyak pejabat pertanian yang khawatir,'' ujar Belgrave.

Baca Juga:  Diet VLCD Bisa Bahaya tanpa Pengawasan Ahli

Meski begitu, Korut makin agresif menunjukkan ketidakpuasannya terhadap negara tetangga. Setelah menguji coba senjata terbaru pada Kamis (25/7/2019), Kim Jong-un mengutarakan ancaman. Dia menyatakan bahwa negara komunis itu tidak tinggal diam jika Korsel tetap melakukan latihan militer dengan Amerika Serikat (AS).

Melalui Korean Central News Agency (KCNA), putra bungsu Kim Jong-il tersebut mengakui peluncuran rudal yang terdeteksi Korsel sehari sebelumnya. Menurut dia, senjata itu merupakan salah satu andalan Korut untuk menanggulangi ancaman dari selatan. ''Kami tidak punya pilihan selain mengembangkan sistem senjata super untuk menghalau ancaman yang ada,'' ujar Jong-un menurut Al Jazeera.

- Advertisement -

Kim Jong-un tak membeberkan spesifikasi rudal yang baru saja diluncurkan. Dia hanya mengatakan bahwa misil miliknya tak akan mudah dicegat sistem antirudal. Sebab, rudal tersebut bisa terbang dalam ketinggian rendah dan mengubah sudut secara ekstrem.

Hal itu sesuai dengan tebakan militer Korsel. Mereka menyimpulkan bahwa senjata dari Tentara Rakyat Korea tersebut mirip dengan rudal jarak dekat milik Rusia, Iskander. Iskander terkenal dengan kemampuan terbang lurus, lalu menukik menuju target. Kemampuan itu membuat sistem antirudal balistik sulit memprediksi trayek serangan.

- Advertisement -
Baca Juga:  Alih Fungsi Lahan Ancam Sektor Pertanian, Ini Pesan MPR ke Pemerintah

Saat dites, dua rudal tersebut terbang dari kota pesisir Wonsan sampai ke Laut Timur alias Laut Jepang. Mereka terbang sampai jarak 690 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, Korut bisa menyerang wilayah mana pun di Korsel. ''Ini adalah peringatan serius. Pemimpin Korsel tak boleh meremehkan peringatan ini,'' tegas Jong-un sebagaimana dilansir Yonhap.

Dalam beberapa kesempatan, Korut sudah mengutarakan keluhan terhadap rencana Korsel dan AS menggelar latihan gabungan. Selama 2018 Korsel memang membatalkan semua simulasi perang untuk menghormati perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut. Namun, sikap Korsel berubah setelah KTT AS-Korut di Hanoi Februari silam berakhir runyam.(bil/c9/dos)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PYONGYANG (RIAUPOS.CO) – Bank of Korea Jumat (26/7/2019) merilis perkiraan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara (Korut) pada 2018. PDB itu hanya sekitar 35,9 triliun won (Rp425 triliun). Sedangkan pendapatan per kapita hanya mencapai 1.119 dolar AS alias Rp15,6 juta per tahun.

Angka PDB itu turun 4,1 persen jika dibandingkan dengan capaian 2017. Menurut Korea Selatan (Korsel), itu adalah penurunan ekonomi terbesar selama 20 tahun terakhir. Rekor tersebut hampir menyamai penurunan ekonomi pada 1997. Saat itu Korut sedang dilanda krisis pangan. Ratusan ribu warganya meninggal. ''Ekonomi (Korut) sudah pasti turun lantaran sanksi yang diterima,'' ujar Benjamin Katzeff, pakar Korut dari Stimson Center.

Bank of Korea juga memasukkan musim kemarau panjang sebagai faktor penyebab lesunya ekonomi pemerintahan Kim Jong-un. Hal tersebut juga disampaikan pejabat World Food Programme PBB James Belgrave. Dia mengatakan, panen gandum dan barli menurun 20 persen. ''Tumbuhan di sana terlihat lebih kering dan pendek. Banyak pejabat pertanian yang khawatir,'' ujar Belgrave.

Baca Juga:  Lima Terdakwa Korupsi Anggaran Makan Minum di Kuansing Divonis Berbeda

Meski begitu, Korut makin agresif menunjukkan ketidakpuasannya terhadap negara tetangga. Setelah menguji coba senjata terbaru pada Kamis (25/7/2019), Kim Jong-un mengutarakan ancaman. Dia menyatakan bahwa negara komunis itu tidak tinggal diam jika Korsel tetap melakukan latihan militer dengan Amerika Serikat (AS).

Melalui Korean Central News Agency (KCNA), putra bungsu Kim Jong-il tersebut mengakui peluncuran rudal yang terdeteksi Korsel sehari sebelumnya. Menurut dia, senjata itu merupakan salah satu andalan Korut untuk menanggulangi ancaman dari selatan. ''Kami tidak punya pilihan selain mengembangkan sistem senjata super untuk menghalau ancaman yang ada,'' ujar Jong-un menurut Al Jazeera.

Kim Jong-un tak membeberkan spesifikasi rudal yang baru saja diluncurkan. Dia hanya mengatakan bahwa misil miliknya tak akan mudah dicegat sistem antirudal. Sebab, rudal tersebut bisa terbang dalam ketinggian rendah dan mengubah sudut secara ekstrem.

Hal itu sesuai dengan tebakan militer Korsel. Mereka menyimpulkan bahwa senjata dari Tentara Rakyat Korea tersebut mirip dengan rudal jarak dekat milik Rusia, Iskander. Iskander terkenal dengan kemampuan terbang lurus, lalu menukik menuju target. Kemampuan itu membuat sistem antirudal balistik sulit memprediksi trayek serangan.

Baca Juga:  Kompolnas: Tilang Elektronik Secara Nasional Harus Didukung

Saat dites, dua rudal tersebut terbang dari kota pesisir Wonsan sampai ke Laut Timur alias Laut Jepang. Mereka terbang sampai jarak 690 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, Korut bisa menyerang wilayah mana pun di Korsel. ''Ini adalah peringatan serius. Pemimpin Korsel tak boleh meremehkan peringatan ini,'' tegas Jong-un sebagaimana dilansir Yonhap.

Dalam beberapa kesempatan, Korut sudah mengutarakan keluhan terhadap rencana Korsel dan AS menggelar latihan gabungan. Selama 2018 Korsel memang membatalkan semua simulasi perang untuk menghormati perundingan denuklirisasi antara AS dan Korut. Namun, sikap Korsel berubah setelah KTT AS-Korut di Hanoi Februari silam berakhir runyam.(bil/c9/dos)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari