Minggu, 12 Juli 2026
- Advertisement -

Jangan Hamil Dahulu di Masa Pandemi Corona

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkenalkan situs www.siapnikah.org. Situs itu merupakan hasil kerja bersama BKKBN dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selanjutnya, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan yang didirikan Prof Rhenald Kasali PhD. Institusi yang kini dipimpin dr Hasto Wardoyo SpOG (K) itu ingin memastikan setiap pasangan yang hendak berumah tangga benar-benar siap.

Menurut Hasto, ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Di antaranya adalah kesiapan usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, keterampilan hidup, dan intelektual.

"Itulah kunci terbentuknya keluarga berkualitas," ujarnya dalam webinar peluncuran www.siapnikah.org, Senin (4/5).

"Termasuk belajar parenting atau pengasuhan anak."

Hasto menambahkan, usia siap nikah bagi laki-laki setidaknya 25 tahun, sedangkan perempuan 21 tahun. Namun, data BKKBN menunjukkan angka kehamilan dan melahirkan pada usia 15-19 tahun di Indonesia masih tinggi, yakni 36 dari 1.000 kelahiran.

Baca Juga:  Pilkada dan Nataru Momentum Dongkrak Daya Beli

"Hamil dan melahirkan di usia remaja lebih berisiko secara kesehatan maupun mental," ucap Hasto.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang pernah menjadi Bupati Kulonprogo itu menambahkan, satu hal yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah risiko di masa pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19). Dengan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WfH) pada masa pandemi virus corona, bisa jadi interaksi pasangan suami istri menjadi lebih intens.

"Pantauan kami, pemakaian alat kontrasepsi turun 50 persen. Ini bahaya," jelasnya.

Oleh karena itu Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi pada masa pandemi ini. "Jadi, kami berpesan betul, di masa pandemi ini tolong jangan hamil dahulu," ujarnya.

Baca Juga:  Kevin Aprilio - Vicy Melanie Menikah Tahun Ini

Sementara inisiator Rumah Perubahan Rhenald Kasali mengatakan, era digital membutuhkan kesiapan lebih bagi keluarga muda yang tengah membangun rumah tangga ataupun calon pasangan suami istri. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu menambahkan, digitalisasi mendorong perubahan yang cepat dan masif.

"Digitalisasi mendorong perubahan masif dan cepat di berbagai bidang, jadi kita dituntut adaptif," ujar Rhenald.

Akademikus penulis buku Disruption itu menambahkan, popularitas media sosial telah memicu banjir informasi. Sayangnya, kata Rhenald, sebagian adalah hoaks.

"Salah satu isu terbesar yang menjadi sasaran hoaks adalah kesehatan. Jadi, sangat terkait dengan keluarga," katanya.

Sumber: JPNN.Com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkenalkan situs www.siapnikah.org. Situs itu merupakan hasil kerja bersama BKKBN dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selanjutnya, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan yang didirikan Prof Rhenald Kasali PhD. Institusi yang kini dipimpin dr Hasto Wardoyo SpOG (K) itu ingin memastikan setiap pasangan yang hendak berumah tangga benar-benar siap.

Menurut Hasto, ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Di antaranya adalah kesiapan usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, keterampilan hidup, dan intelektual.

"Itulah kunci terbentuknya keluarga berkualitas," ujarnya dalam webinar peluncuran www.siapnikah.org, Senin (4/5).

"Termasuk belajar parenting atau pengasuhan anak."

- Advertisement -

Hasto menambahkan, usia siap nikah bagi laki-laki setidaknya 25 tahun, sedangkan perempuan 21 tahun. Namun, data BKKBN menunjukkan angka kehamilan dan melahirkan pada usia 15-19 tahun di Indonesia masih tinggi, yakni 36 dari 1.000 kelahiran.

Baca Juga:  Penanganan Perkara di KPK Dibatasi Waktu, Pesimis Bisa Bongkar Kasus Besar

"Hamil dan melahirkan di usia remaja lebih berisiko secara kesehatan maupun mental," ucap Hasto.

- Advertisement -

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang pernah menjadi Bupati Kulonprogo itu menambahkan, satu hal yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah risiko di masa pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19). Dengan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WfH) pada masa pandemi virus corona, bisa jadi interaksi pasangan suami istri menjadi lebih intens.

"Pantauan kami, pemakaian alat kontrasepsi turun 50 persen. Ini bahaya," jelasnya.

Oleh karena itu Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi pada masa pandemi ini. "Jadi, kami berpesan betul, di masa pandemi ini tolong jangan hamil dahulu," ujarnya.

Baca Juga:  52.065 Jemaah Calon Haji asal Indonesia Sudah di Makkah

Sementara inisiator Rumah Perubahan Rhenald Kasali mengatakan, era digital membutuhkan kesiapan lebih bagi keluarga muda yang tengah membangun rumah tangga ataupun calon pasangan suami istri. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu menambahkan, digitalisasi mendorong perubahan yang cepat dan masif.

"Digitalisasi mendorong perubahan masif dan cepat di berbagai bidang, jadi kita dituntut adaptif," ujar Rhenald.

Akademikus penulis buku Disruption itu menambahkan, popularitas media sosial telah memicu banjir informasi. Sayangnya, kata Rhenald, sebagian adalah hoaks.

"Salah satu isu terbesar yang menjadi sasaran hoaks adalah kesehatan. Jadi, sangat terkait dengan keluarga," katanya.

Sumber: JPNN.Com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkenalkan situs www.siapnikah.org. Situs itu merupakan hasil kerja bersama BKKBN dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selanjutnya, BKKBN menggandeng Rumah Perubahan yang didirikan Prof Rhenald Kasali PhD. Institusi yang kini dipimpin dr Hasto Wardoyo SpOG (K) itu ingin memastikan setiap pasangan yang hendak berumah tangga benar-benar siap.

Menurut Hasto, ada 10 dimensi kesiapan berkeluarga yang harus menjadi perhatian calon pasangan. Di antaranya adalah kesiapan usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, keterampilan hidup, dan intelektual.

"Itulah kunci terbentuknya keluarga berkualitas," ujarnya dalam webinar peluncuran www.siapnikah.org, Senin (4/5).

"Termasuk belajar parenting atau pengasuhan anak."

Hasto menambahkan, usia siap nikah bagi laki-laki setidaknya 25 tahun, sedangkan perempuan 21 tahun. Namun, data BKKBN menunjukkan angka kehamilan dan melahirkan pada usia 15-19 tahun di Indonesia masih tinggi, yakni 36 dari 1.000 kelahiran.

Baca Juga:  Turki Batalkan Seluruh Flight Internasional

"Hamil dan melahirkan di usia remaja lebih berisiko secara kesehatan maupun mental," ucap Hasto.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang pernah menjadi Bupati Kulonprogo itu menambahkan, satu hal yang menjadi perhatian serius BKKBN adalah risiko di masa pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19). Dengan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WfH) pada masa pandemi virus corona, bisa jadi interaksi pasangan suami istri menjadi lebih intens.

"Pantauan kami, pemakaian alat kontrasepsi turun 50 persen. Ini bahaya," jelasnya.

Oleh karena itu Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi pada masa pandemi ini. "Jadi, kami berpesan betul, di masa pandemi ini tolong jangan hamil dahulu," ujarnya.

Baca Juga:  Pilkada dan Nataru Momentum Dongkrak Daya Beli

Sementara inisiator Rumah Perubahan Rhenald Kasali mengatakan, era digital membutuhkan kesiapan lebih bagi keluarga muda yang tengah membangun rumah tangga ataupun calon pasangan suami istri. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu menambahkan, digitalisasi mendorong perubahan yang cepat dan masif.

"Digitalisasi mendorong perubahan masif dan cepat di berbagai bidang, jadi kita dituntut adaptif," ujar Rhenald.

Akademikus penulis buku Disruption itu menambahkan, popularitas media sosial telah memicu banjir informasi. Sayangnya, kata Rhenald, sebagian adalah hoaks.

"Salah satu isu terbesar yang menjadi sasaran hoaks adalah kesehatan. Jadi, sangat terkait dengan keluarga," katanya.

Sumber: JPNN.Com
Editor: Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari