(RP) — AKHIRNYA proses pemilihan pemimpin negara ini sampai juga kepada tahap akhirnya. Ketuk palu hakim Majelis Konstitusi (MK ) yang memutus perkara sengketa Pilpres antara pasangan Joko Widodo-Makruf Amin dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, membuat permasalahan tersebut selesai secara hukum. Tensi yang sempat naik dan tegang sejak pengumuman hasil Pilpres yang dimenangkan kubu 01 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), kini mulai mereda. Kedua belah pihak kembali colling down. Pihak kubu 02, walaupun dengan berat hati, nampaknya mulai menerima peristiwa yang terjadi tersebut.
Kini mulailah saatnya banyak pihak yang mengusulkan dan meminta masing-masing pendukung kedua kubu agar bisa kembali bersatu dan berbaur kembali serta melupakan perbedaan yang selama ini terjadi. Istilahnya rekonsiliasi. Tidak ada lagi yang namanya kubu 01 atau 02. Yang ada sekarang adalah 03, yakni persatuan Indonesia. Sehingga dengan bersatu maka bisa menatap masa depan Indonesia yang lebih gemilang dan bekerja lebih giat lagi untuk kemakmuran bersama. Tapi yang perlu diingat, jangan sampai hal tersebut hanya jadi basa basi politik semata.
Memang sebuah hal yang indah dan menjadi idaman kita semua saat ini. Dimana sejak pilpres 2014 lalu hingga pilpres 2019 ini, kedua kubu ini seakan menjadi musuh bebuyutan. Perang terus, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sehingga muncul istilah nama hewan yang disematkan untuk kedua kubu pendukung capres tersebut. Sebuah hal yang tidak sehat bagi demokrasi. Terutama bagi demokrasi kita di Indonesia ini. Kita sudah merasakan nyaman dan asyiknya berpolitik sejak era reformasi. Namun demokrasi hancur tak karuan sejak pilpres 2014 hingga memecah anak bangsa menjadi dua bagian.
Namun apakah rekonsialiasi antar kedua kubu ini bisa terwujud? Mengingat masing-masing mempunyai pendukung “die hardâ€. Apakah dengan keputusan dan ketuk palu hakim Mahkamah Konstitusi (MK) dengan memenangkan pasangan Joko Widodo-Makruf maka masalah bisa selesai dan para pendukung masing-masing calon bisa menerima. Tentu tidak semudah itu. Karena belajar dari kasus Pilkada Jakarta yang heboh beberapa waktu lalu, residunya masih terasa hingga kini. Para pendukung fanatik Ahok, hingga saat ini masih terlihat tidak puas dan terus menyerang kebijakan-kebijakan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.
Nampaknya begitu juga dengan pendukung pilpres kali ini. Jika pendukung fanatik masih ada, maka persatuan sulit tercapai. Seperti jika ada kritik dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemimpin tersebut dalam menjalankan pemerintahan dari kubu sebelah, maka tentu otomatis pendukung setia akan membela. Hal ini akan membuka medan perang baru. Sejauh kritik masih diidentikkan dengan sebuah kebencian, maka persatuan seperti panggang jauh dari api. Demikian juga dengan keberhasilan pemimpin tersebut dianggap sinis, maka akan membuat pendukungnya akan meradang. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi terus menerus. Namun begitulah logikanya. Semoga saja badai ini cepat berlalu.***

