Selasa, 5 Mei 2026
- Advertisement -

Berharap Ada Solusi Terkait Belajar Daring

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Proses kegiatan dalam jaringan (daring) sudah dua tahun dilakukan. Meski sebelumnya sempat diselingi dengan belajar tatap muka terbatas, namun semenjak kasus meningkat dan PPKM, sekolah khususnya SD di zona merah full menerapkan belajar daring.

Dikatakan Kepala SD Muhammadiyah IV Pekanbaru, Nidya, proses belajar daring ini memiliki beberapa kendala. Terlebih jika dilakukan terus menerus di usia anak yang terbilang masih kecil, yakni usia SD. Menurutnya, anak usia tersebut memerlukan pendidikan karakter yang mana sulit untuk diterapkan saat belajar daring.

"Kasihan juga dengan anak dan orang tua yang sudah jenuh dua tahun belajar daring. Karena itu, kami harap ada solusi dari pihak terkait,"  ujarnya Rabu (11/8).

Baca Juga:  3.634 Hewan Kurban Diperiksa

Ia melanjutkan, pendidikan daring dan karakter susah dilakukan, walaupun menggunakan zoom. ‘’Pendidikan dengan daring itu susah tersampaikan materinya. Apalagi untuk menciptakan karakter anak," sambungnya.

Berbagai kendala lain dan keterbatasan juga dihadapi selama proses belajar daring dan PPKM ini. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada solusi terkait proses kegiatan belajar mengajar khsusunya di lini SD yang memerlukan perhatian ekstra dari guru.

"Harapannya nggak muluk-muluk. Semoga nanti ada kebijakan belajar tatap muka terbatas walaupun sekali sepekan dengan protokol kesehatan,"  harapnya.

Sejauh ini pihaknya mengaku telah mentaati segala aturan dari dinas dan juga pemerintah. Kalaupun nanti keputusannya masih terus belajar daring secara full, pihaknya mengaku akan tetap mengikuti aturan yang berlaku.(azr)

Baca Juga:  Baru Dua Daerah Ajukan Pencairan Gaji Guru Bantu

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Proses kegiatan dalam jaringan (daring) sudah dua tahun dilakukan. Meski sebelumnya sempat diselingi dengan belajar tatap muka terbatas, namun semenjak kasus meningkat dan PPKM, sekolah khususnya SD di zona merah full menerapkan belajar daring.

Dikatakan Kepala SD Muhammadiyah IV Pekanbaru, Nidya, proses belajar daring ini memiliki beberapa kendala. Terlebih jika dilakukan terus menerus di usia anak yang terbilang masih kecil, yakni usia SD. Menurutnya, anak usia tersebut memerlukan pendidikan karakter yang mana sulit untuk diterapkan saat belajar daring.

"Kasihan juga dengan anak dan orang tua yang sudah jenuh dua tahun belajar daring. Karena itu, kami harap ada solusi dari pihak terkait,"  ujarnya Rabu (11/8).

Baca Juga:  Pengangguran Terbanyak Sarjana dan Lulusan SMA

Ia melanjutkan, pendidikan daring dan karakter susah dilakukan, walaupun menggunakan zoom. ‘’Pendidikan dengan daring itu susah tersampaikan materinya. Apalagi untuk menciptakan karakter anak," sambungnya.

Berbagai kendala lain dan keterbatasan juga dihadapi selama proses belajar daring dan PPKM ini. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada solusi terkait proses kegiatan belajar mengajar khsusunya di lini SD yang memerlukan perhatian ekstra dari guru.

- Advertisement -

"Harapannya nggak muluk-muluk. Semoga nanti ada kebijakan belajar tatap muka terbatas walaupun sekali sepekan dengan protokol kesehatan,"  harapnya.

Sejauh ini pihaknya mengaku telah mentaati segala aturan dari dinas dan juga pemerintah. Kalaupun nanti keputusannya masih terus belajar daring secara full, pihaknya mengaku akan tetap mengikuti aturan yang berlaku.(azr)

- Advertisement -
Baca Juga:  Terpilih Secara Aklmasi, Jhon Romi Kembali Pimpin Ikasi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Proses kegiatan dalam jaringan (daring) sudah dua tahun dilakukan. Meski sebelumnya sempat diselingi dengan belajar tatap muka terbatas, namun semenjak kasus meningkat dan PPKM, sekolah khususnya SD di zona merah full menerapkan belajar daring.

Dikatakan Kepala SD Muhammadiyah IV Pekanbaru, Nidya, proses belajar daring ini memiliki beberapa kendala. Terlebih jika dilakukan terus menerus di usia anak yang terbilang masih kecil, yakni usia SD. Menurutnya, anak usia tersebut memerlukan pendidikan karakter yang mana sulit untuk diterapkan saat belajar daring.

"Kasihan juga dengan anak dan orang tua yang sudah jenuh dua tahun belajar daring. Karena itu, kami harap ada solusi dari pihak terkait,"  ujarnya Rabu (11/8).

Baca Juga:  Kepengurusan PW PUI Riau Terbentuk

Ia melanjutkan, pendidikan daring dan karakter susah dilakukan, walaupun menggunakan zoom. ‘’Pendidikan dengan daring itu susah tersampaikan materinya. Apalagi untuk menciptakan karakter anak," sambungnya.

Berbagai kendala lain dan keterbatasan juga dihadapi selama proses belajar daring dan PPKM ini. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada solusi terkait proses kegiatan belajar mengajar khsusunya di lini SD yang memerlukan perhatian ekstra dari guru.

"Harapannya nggak muluk-muluk. Semoga nanti ada kebijakan belajar tatap muka terbatas walaupun sekali sepekan dengan protokol kesehatan,"  harapnya.

Sejauh ini pihaknya mengaku telah mentaati segala aturan dari dinas dan juga pemerintah. Kalaupun nanti keputusannya masih terus belajar daring secara full, pihaknya mengaku akan tetap mengikuti aturan yang berlaku.(azr)

Baca Juga:  Agung Nugroho: Perbaikan Jalan di Pekanbaru Melebihi Target Tahunan

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari