Selasa, 23 Juli 2024

Sepi Peminat, Dua SDN Akan Ditutup

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – PEMKO Pekanbaru berencana menutup dua sekolah dasar negeri (SDN). Hal ini dilakukan karena sepinya peminat atau minimnya murid baru yang mendaftar.

Kedua SDN yang dipertimbangkan untuk ditutup tersebut adalah SDN 57 Pekanbaru dan SDN 87 Pekanbaru.

- Advertisement -

Sekretaris Kota (Sekko) Pekanbaru Indra Pomi Nasution mengatakan, adanya SD negeri yang tidak diminati sehingga tidak mencapai kuota pada PPDB tahun ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru. Ia menyebutkan, sekolah yang kurang diminati tersebut direncanakan akan ditutup. Dua SD itu yakni SD Negeri 57 dan SDN 87 Pekanbaru.

Sekko katakan, Pemko Pekanbaru akan melihat apakah sekolah tersebut benar-benar sudah tidak diminati lagi atau ada persoalan yang lain. Pihaknya akan melakukan evaluasi bersama Dinas Pendidikan terkait rencana penutupan sekolah tersebut.

”Sekarang kami belum menutup, cuma kami akan evaluasi dulu dari hasil PPDB ini, apakah ada sekolah yang benar-benar tidak diminati lagi,” ungkap Indra, Selasa (9/7).

- Advertisement -

Lanjutnya, ada kemungkinan sepinya peminat di sekolah negeri itu diakibatkan oleh beberapa faktor. Di antaranya karena sistem zonasi dan juga karena sekolah yang berdekatan. Kedua sekolah ini juga berada di tengah Kota Pekanbaru.

”Mungkin karena sekolah ini berdekatan. Ada SD A dan SD B lokasinya berdekatan. Kalau dengan sistem zonasi ini kan anak-anak tempatan, sehingga kurang peminat. Dan itu akan kami efisiensikan,” sambungnya.

Pemko akan melakukan evaluasi di titik-titik yang sekolah yang berdekatan dan juga titik sekolah yang belum ada. Pemko Pekanbaru juga akan membangun sekolah di titik yang belum ada sekolah.

”Nanti akan kami evaluasi, titik mana yang sekolah nggak ada mungkin kita coba bangun sekolah di situ,” terangnya.

Baca Juga:  Awal Tahun, Realisasi PAD Pajak Tembus Rp115 Miliar

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan tinjau ulang penempatan sekolah-sekolah di Kota Bertuah ini.

”Sebelum sistem zonasi, sekolah-sekolah ini dulunya dari mana saja boleh masuk. Sehingga ini akan kita tinjau ulang penempatan sekolah-sekolah tersebut,” terangnya.

Mestinya, kualitas sekolah negeri di Pekanbaru ini sama. Sehingga orang tua tidak perlu lagi khawatir anaknya berada di sekolah yang berkualitas dan bermutu.

Untuk SD Negeri 57 di Jalan Mangga pada PPDB tahun ini baru terdapat lima calon peserta didik yang mendaftar. Sementara untuk SD Negeri 87, mulai tahun ini memang sudah tidak terima murid lagi.

Rencananya, SD Negeri 57 akan dimerger dengan SD Negeri 153 Pekanbaru. Sedangkan untuk SD Negeri 87 akan dimerger dengan SD Negeri 74 Pekanbaru.

Sementara itu, pantauan Riau Pos, SD Negeri 57 Pekanbaru terlihat sepi di hari terakhir pendaftaran ulang penerimaan peserta didik baru (PPDB), Selasa (9/7). Tidak ada terlihat ada aktivitas keramaian orang tua yang mendaftar ulang anak mereka untuk masuk sekolah tersebut.

”Sekolah sudah tutup. Muridnya hanya ada tiga yang daftar dan dua lagi pindahan,” ujar Erwin, salah seorang warga sekitar sekolah, kemarin.

Erwin menceritakan bahwa belasan tahun silam sekolah yang bera di tengah kota ini selalu ramai siswa barunya pada saat PPDB. Namun kini berbeda suasananya. Sekolah yang berada di Jalan Mangga, Kecamatan Sukajadi sepi peminat karena tidak ada anak-anak lagi di sekitar sekolah.

”Sekolah ini sudah ada sekitar 17 tahunan, dulu ya ramai, sekarang bukan tak diminati, tetapi tak ada lagi anak-anak di sekitar sini,” tambahnya.

DPRD Pelajari Wacana Merger SD 

Baca Juga:  Warga Keluhkan Kerusakan Jalan Kaharuddin Nasution

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Pekanbaru Aidil Amri menanggapi wacana merger atau penggabungan dua SD yang mencuat kembali usai PPDB 2024 ini.

Aidil Amri mengatakan, pihaknya akan mempelajari rencana merger tersebut. Komisi III, menurutnya, saat ini sedang membahas hal tersebut bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru.

”Kalau memang harus merger, kita setuju saja. Nanti kita akan lihat dulu apa keluhan masyarakat di situ. Kalau dimerger bagaimana, kalau tidak bagimana, kita akan tinjau kembali,” ujar Aidil.

Politisi Demokrat ini menitikberatkan pentingnya mendengarkan aspirasi masyarakat sebelum sebuah keputusan  diambil. Pihaknya ingin memastikan juga bahwa merger itu pada prosesnya tidak  merugikan para siswa maupun orangtua.”Akan kami pelajari dulu untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk semua pihak yang terlibat. Kita ingin keputusan yang diambil nanti muncul sebagai solusi terbaik,’’ ungkapnya.

Diwacanakan Sejak Tahun Lalu

Wacana merger ini sendiri bukan hal baru. Usia PPBD 2023 lalu, Kepala Disdik Kota Pekanbaru Abdul Jamal kepada Riau Pos sudah menyampaikan bahwa SD Negeri 87 akan dimerger dengan SD Negeri 74. Masalahnya sama, karena sepi pendaftar.

Dua sekolah itu ingin disatukan, salah satu pertimbangan Jamal kala itu, karena dua sekolah negeri itu tidak jauh satu sama lain.

”Merger ini karena kekurangan murid. Jadi nanti dua sekolah yang dimerger akan ditetapkan Plt kepala sekolahnya siapa, sedangkan kepala sekolah di kedua sekolah itu ditarik dulu,” ujar Abdul Jamal kala itu. Wacana itu kemudian disampaikan Jamal lagi pada tahun ini. Kali ini nampaknya hal itu akan segera terwujud dalam waktu dekat.(ilo/end)

Laporan TIM RIAU POS, Kota

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – PEMKO Pekanbaru berencana menutup dua sekolah dasar negeri (SDN). Hal ini dilakukan karena sepinya peminat atau minimnya murid baru yang mendaftar.

Kedua SDN yang dipertimbangkan untuk ditutup tersebut adalah SDN 57 Pekanbaru dan SDN 87 Pekanbaru.

Sekretaris Kota (Sekko) Pekanbaru Indra Pomi Nasution mengatakan, adanya SD negeri yang tidak diminati sehingga tidak mencapai kuota pada PPDB tahun ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru. Ia menyebutkan, sekolah yang kurang diminati tersebut direncanakan akan ditutup. Dua SD itu yakni SD Negeri 57 dan SDN 87 Pekanbaru.

Sekko katakan, Pemko Pekanbaru akan melihat apakah sekolah tersebut benar-benar sudah tidak diminati lagi atau ada persoalan yang lain. Pihaknya akan melakukan evaluasi bersama Dinas Pendidikan terkait rencana penutupan sekolah tersebut.

”Sekarang kami belum menutup, cuma kami akan evaluasi dulu dari hasil PPDB ini, apakah ada sekolah yang benar-benar tidak diminati lagi,” ungkap Indra, Selasa (9/7).

Lanjutnya, ada kemungkinan sepinya peminat di sekolah negeri itu diakibatkan oleh beberapa faktor. Di antaranya karena sistem zonasi dan juga karena sekolah yang berdekatan. Kedua sekolah ini juga berada di tengah Kota Pekanbaru.

”Mungkin karena sekolah ini berdekatan. Ada SD A dan SD B lokasinya berdekatan. Kalau dengan sistem zonasi ini kan anak-anak tempatan, sehingga kurang peminat. Dan itu akan kami efisiensikan,” sambungnya.

Pemko akan melakukan evaluasi di titik-titik yang sekolah yang berdekatan dan juga titik sekolah yang belum ada. Pemko Pekanbaru juga akan membangun sekolah di titik yang belum ada sekolah.

”Nanti akan kami evaluasi, titik mana yang sekolah nggak ada mungkin kita coba bangun sekolah di situ,” terangnya.

Baca Juga:  Vera Farnila Terpilih sebagai Presiden IMA Chapter Pekanbaru

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan tinjau ulang penempatan sekolah-sekolah di Kota Bertuah ini.

”Sebelum sistem zonasi, sekolah-sekolah ini dulunya dari mana saja boleh masuk. Sehingga ini akan kita tinjau ulang penempatan sekolah-sekolah tersebut,” terangnya.

Mestinya, kualitas sekolah negeri di Pekanbaru ini sama. Sehingga orang tua tidak perlu lagi khawatir anaknya berada di sekolah yang berkualitas dan bermutu.

Untuk SD Negeri 57 di Jalan Mangga pada PPDB tahun ini baru terdapat lima calon peserta didik yang mendaftar. Sementara untuk SD Negeri 87, mulai tahun ini memang sudah tidak terima murid lagi.

Rencananya, SD Negeri 57 akan dimerger dengan SD Negeri 153 Pekanbaru. Sedangkan untuk SD Negeri 87 akan dimerger dengan SD Negeri 74 Pekanbaru.

Sementara itu, pantauan Riau Pos, SD Negeri 57 Pekanbaru terlihat sepi di hari terakhir pendaftaran ulang penerimaan peserta didik baru (PPDB), Selasa (9/7). Tidak ada terlihat ada aktivitas keramaian orang tua yang mendaftar ulang anak mereka untuk masuk sekolah tersebut.

”Sekolah sudah tutup. Muridnya hanya ada tiga yang daftar dan dua lagi pindahan,” ujar Erwin, salah seorang warga sekitar sekolah, kemarin.

Erwin menceritakan bahwa belasan tahun silam sekolah yang bera di tengah kota ini selalu ramai siswa barunya pada saat PPDB. Namun kini berbeda suasananya. Sekolah yang berada di Jalan Mangga, Kecamatan Sukajadi sepi peminat karena tidak ada anak-anak lagi di sekitar sekolah.

”Sekolah ini sudah ada sekitar 17 tahunan, dulu ya ramai, sekarang bukan tak diminati, tetapi tak ada lagi anak-anak di sekitar sini,” tambahnya.

DPRD Pelajari Wacana Merger SD 

Baca Juga:  Warga Berharap GPM Digelar Tiap Pekan

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Pekanbaru Aidil Amri menanggapi wacana merger atau penggabungan dua SD yang mencuat kembali usai PPDB 2024 ini.

Aidil Amri mengatakan, pihaknya akan mempelajari rencana merger tersebut. Komisi III, menurutnya, saat ini sedang membahas hal tersebut bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru.

”Kalau memang harus merger, kita setuju saja. Nanti kita akan lihat dulu apa keluhan masyarakat di situ. Kalau dimerger bagaimana, kalau tidak bagimana, kita akan tinjau kembali,” ujar Aidil.

Politisi Demokrat ini menitikberatkan pentingnya mendengarkan aspirasi masyarakat sebelum sebuah keputusan  diambil. Pihaknya ingin memastikan juga bahwa merger itu pada prosesnya tidak  merugikan para siswa maupun orangtua.”Akan kami pelajari dulu untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk semua pihak yang terlibat. Kita ingin keputusan yang diambil nanti muncul sebagai solusi terbaik,’’ ungkapnya.

Diwacanakan Sejak Tahun Lalu

Wacana merger ini sendiri bukan hal baru. Usia PPBD 2023 lalu, Kepala Disdik Kota Pekanbaru Abdul Jamal kepada Riau Pos sudah menyampaikan bahwa SD Negeri 87 akan dimerger dengan SD Negeri 74. Masalahnya sama, karena sepi pendaftar.

Dua sekolah itu ingin disatukan, salah satu pertimbangan Jamal kala itu, karena dua sekolah negeri itu tidak jauh satu sama lain.

”Merger ini karena kekurangan murid. Jadi nanti dua sekolah yang dimerger akan ditetapkan Plt kepala sekolahnya siapa, sedangkan kepala sekolah di kedua sekolah itu ditarik dulu,” ujar Abdul Jamal kala itu. Wacana itu kemudian disampaikan Jamal lagi pada tahun ini. Kali ini nampaknya hal itu akan segera terwujud dalam waktu dekat.(ilo/end)

Laporan TIM RIAU POS, Kota

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari