Minggu, 4 Januari 2026
spot_img
spot_img

Paru-paru Dunia di Jantung Sumatra, TN Bukit Tigapuluh Jadi Sorotan

RIAUPOS.CO – Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan kawasan konservasi strategis yang membentang lintas kabupaten dan provinsi, serta dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia di Pulau Sumatra.

TNBT berada di Kecamatan Batang Gansal dan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, serta mencakup wilayah Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi. Kawasan ini memiliki hutan tropis yang luas dan lebat, berperan penting dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) serta menghasilkan oksigen (O₂), sekaligus menjaga keseimbangan iklim global.

Selain berfungsi sebagai paru-paru bumi, TNBT juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka. Kawasan ini berperan sebagai penyangga ekologis dan bagian penting dari ekosistem besar Sumatra. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6407/Kpts-II/2002, TNBT memiliki luas kawasan konservasi sekitar 144.223 hektare.

Upaya pelestarian kawasan TNBT terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Balai TNBT dan masyarakat sekitar. Kegiatan penanaman pohon, patroli pengamanan kawasan, serta pencegahan kebakaran hutan rutin dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman perambahan dan kebakaran.

Baca Juga:  Dorong Aparat Usut Tuntas Pembunuh Harimau

Balai TNBT memiliki tugas utama mengelola kawasan konservasi, meliputi perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Selain itu, Balai TNBT juga menjalankan fungsi inventarisasi kawasan, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan pemanfaatan non-komersial, pemberdayaan masyarakat, serta kerja sama konservasi guna melindungi satwa langka seperti Harimau Sumatera.

Baru-baru ini, TNBT menerima kunjungan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, beserta rombongan. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Kepala Balai TNBT, Dr Gebyar Andyono SSi MSI.

“Kunjungan ini menjadi spirit baru bagi kami, terutama atas dukungan Ketua MKA LAMR dalam menjaga kelestarian TNBT,” ujar Gebyar Andyono.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua MKA LAMR dan rombongan bahkan menyempatkan bermalam di Camp Granit TNBT serta mengunjungi air terjun yang berada di dalam kawasan taman nasional. Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf juga melakukan penanaman pohon sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian hutan.

Baca Juga:  Gerakan Kesadaran Masyarakat Peduli Lingkungan

Menurut Gebyar Andyono, kedatangan Ketua MKA LAMR disambut hangat oleh jajaran Balai TNBT. Pada kesempatan itu, Ketua MKA LAMR menyampaikan bahwa kondisi TNBT masih sangat asri dan memiliki peran penting sebagai penyangga paru-paru dunia.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Balai TNBT yang dinilai konsisten menjaga kelestarian kawasan, termasuk mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Talang Mamak dan Anak Rimba yang hidup di sekitar kawasan, khususnya di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jambi.

Ketua MKA LAMR mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keasrian TNBT agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Ia juga menyatakan kesiapan menerima kunjungan pihak lain yang ingin mengetahui langsung kondisi TNBT.(kas)

RIAUPOS.CO – Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan kawasan konservasi strategis yang membentang lintas kabupaten dan provinsi, serta dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia di Pulau Sumatra.

TNBT berada di Kecamatan Batang Gansal dan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, serta mencakup wilayah Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi. Kawasan ini memiliki hutan tropis yang luas dan lebat, berperan penting dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) serta menghasilkan oksigen (O₂), sekaligus menjaga keseimbangan iklim global.

Selain berfungsi sebagai paru-paru bumi, TNBT juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka. Kawasan ini berperan sebagai penyangga ekologis dan bagian penting dari ekosistem besar Sumatra. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6407/Kpts-II/2002, TNBT memiliki luas kawasan konservasi sekitar 144.223 hektare.

Upaya pelestarian kawasan TNBT terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Balai TNBT dan masyarakat sekitar. Kegiatan penanaman pohon, patroli pengamanan kawasan, serta pencegahan kebakaran hutan rutin dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman perambahan dan kebakaran.

Baca Juga:  Tanam Pohon, Wujud Peduli dan Jaga Kelestarian Lingkungan

Balai TNBT memiliki tugas utama mengelola kawasan konservasi, meliputi perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Selain itu, Balai TNBT juga menjalankan fungsi inventarisasi kawasan, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan pemanfaatan non-komersial, pemberdayaan masyarakat, serta kerja sama konservasi guna melindungi satwa langka seperti Harimau Sumatera.

- Advertisement -

Baru-baru ini, TNBT menerima kunjungan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, beserta rombongan. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Kepala Balai TNBT, Dr Gebyar Andyono SSi MSI.

“Kunjungan ini menjadi spirit baru bagi kami, terutama atas dukungan Ketua MKA LAMR dalam menjaga kelestarian TNBT,” ujar Gebyar Andyono.

- Advertisement -

Dalam kunjungan tersebut, Ketua MKA LAMR dan rombongan bahkan menyempatkan bermalam di Camp Granit TNBT serta mengunjungi air terjun yang berada di dalam kawasan taman nasional. Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf juga melakukan penanaman pohon sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian hutan.

Baca Juga:  Bangun Lingkungan Belajar Lebih Kondusif 

Menurut Gebyar Andyono, kedatangan Ketua MKA LAMR disambut hangat oleh jajaran Balai TNBT. Pada kesempatan itu, Ketua MKA LAMR menyampaikan bahwa kondisi TNBT masih sangat asri dan memiliki peran penting sebagai penyangga paru-paru dunia.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Balai TNBT yang dinilai konsisten menjaga kelestarian kawasan, termasuk mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Talang Mamak dan Anak Rimba yang hidup di sekitar kawasan, khususnya di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jambi.

Ketua MKA LAMR mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keasrian TNBT agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Ia juga menyatakan kesiapan menerima kunjungan pihak lain yang ingin mengetahui langsung kondisi TNBT.(kas)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

RIAUPOS.CO – Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan kawasan konservasi strategis yang membentang lintas kabupaten dan provinsi, serta dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia di Pulau Sumatra.

TNBT berada di Kecamatan Batang Gansal dan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, serta mencakup wilayah Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi. Kawasan ini memiliki hutan tropis yang luas dan lebat, berperan penting dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) serta menghasilkan oksigen (O₂), sekaligus menjaga keseimbangan iklim global.

Selain berfungsi sebagai paru-paru bumi, TNBT juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka. Kawasan ini berperan sebagai penyangga ekologis dan bagian penting dari ekosistem besar Sumatra. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6407/Kpts-II/2002, TNBT memiliki luas kawasan konservasi sekitar 144.223 hektare.

Upaya pelestarian kawasan TNBT terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Balai TNBT dan masyarakat sekitar. Kegiatan penanaman pohon, patroli pengamanan kawasan, serta pencegahan kebakaran hutan rutin dilaksanakan untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman perambahan dan kebakaran.

Baca Juga:  Sampah Diolah Bisa Penuhi Kebutuhan Gas Masyarakat

Balai TNBT memiliki tugas utama mengelola kawasan konservasi, meliputi perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Selain itu, Balai TNBT juga menjalankan fungsi inventarisasi kawasan, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan pemanfaatan non-komersial, pemberdayaan masyarakat, serta kerja sama konservasi guna melindungi satwa langka seperti Harimau Sumatera.

Baru-baru ini, TNBT menerima kunjungan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, beserta rombongan. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Kepala Balai TNBT, Dr Gebyar Andyono SSi MSI.

“Kunjungan ini menjadi spirit baru bagi kami, terutama atas dukungan Ketua MKA LAMR dalam menjaga kelestarian TNBT,” ujar Gebyar Andyono.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua MKA LAMR dan rombongan bahkan menyempatkan bermalam di Camp Granit TNBT serta mengunjungi air terjun yang berada di dalam kawasan taman nasional. Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf juga melakukan penanaman pohon sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian hutan.

Baca Juga:  Operasi PETI Hari Ketiga di Kuansing, 1 Pelaku Diamankan, Puluhan Alat Dibakar

Menurut Gebyar Andyono, kedatangan Ketua MKA LAMR disambut hangat oleh jajaran Balai TNBT. Pada kesempatan itu, Ketua MKA LAMR menyampaikan bahwa kondisi TNBT masih sangat asri dan memiliki peran penting sebagai penyangga paru-paru dunia.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Balai TNBT yang dinilai konsisten menjaga kelestarian kawasan, termasuk mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Talang Mamak dan Anak Rimba yang hidup di sekitar kawasan, khususnya di wilayah perbatasan dengan Provinsi Jambi.

Ketua MKA LAMR mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keasrian TNBT agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Ia juga menyatakan kesiapan menerima kunjungan pihak lain yang ingin mengetahui langsung kondisi TNBT.(kas)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari