Jumat, 10 Juli 2026
- Advertisement -

6 Ribu Personel TNI-Polri Dikerahkan untuk Amankan Papua

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengaku telah membentuk tim khusus untuk mengejar pihak-pihak yang terus memprovokasi kasus rasisme Papua. Tim tersebut berasal dari Mabes Polri, Polda Papua, Kodam XVII/Cenderawasih, BIN, dan instansi terkait lain. 

“Kita tidak ingin Jayapura dikacaukan oleh mereka. Karena tidak semua masyarakat Papua setuju dengan mereka,” tegas Kapolri di Sentani, Jayapura, kemarin (4/9).

Menurut Cenderawasih Pos, Kapolri juga melarang unjuk rasa susulan. Tujuannya mencegah aksi anarki di wilayah Papua dan Papua Barat. Menurut Tito, sudah terlalu banyak toleransi yang diberikan polisi.

“Jangan sampai demo yang berakhir anarkistis terulang lagi. Gelar pasukan akan kami perkuat. Rekonsiliasi akan kami jalankan,” tegasnya.

Baca Juga:  Melawan "Kutukan Kota Bertuah"

Hingga kemarin, total pasukan TNI-Polri yang disiagakan di Jayapura berjumlah sekitar 6 ribu orang. Personel sebanyak itu sengaja dikerahkan karena wilayah Kota Jayapura hingga Sentani cukup panjang, yakni 40 km. Mereka ditempatkan di objek-objek vital dan daerah yang dianggap memiliki potensi konflik. “Tujuan utamanya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ucap Tito.

Kapolri juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano yang melakukan langkah cepat untuk menetralkan daerahnya. “Masyarakat mulai merasa nyaman karena pemerintah hadir. Sedangkan pemda melakukan pendekatan yang menyejukkan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Benhur Tomi Mano mengatakan, aktivitas di daerahnya sudah sangat baik. Aktivitas di semua sekolah sudah kembali normal.

Baca Juga:  Aturan Kian Longgar, Anak 12 Tahun Bisa Umrah

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwir

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengaku telah membentuk tim khusus untuk mengejar pihak-pihak yang terus memprovokasi kasus rasisme Papua. Tim tersebut berasal dari Mabes Polri, Polda Papua, Kodam XVII/Cenderawasih, BIN, dan instansi terkait lain. 

“Kita tidak ingin Jayapura dikacaukan oleh mereka. Karena tidak semua masyarakat Papua setuju dengan mereka,” tegas Kapolri di Sentani, Jayapura, kemarin (4/9).

Menurut Cenderawasih Pos, Kapolri juga melarang unjuk rasa susulan. Tujuannya mencegah aksi anarki di wilayah Papua dan Papua Barat. Menurut Tito, sudah terlalu banyak toleransi yang diberikan polisi.

“Jangan sampai demo yang berakhir anarkistis terulang lagi. Gelar pasukan akan kami perkuat. Rekonsiliasi akan kami jalankan,” tegasnya.

Baca Juga:  Penyelidikan 25 Kasus Terorisme Terkait Serangan Gedung Capitol Dibuka 

Hingga kemarin, total pasukan TNI-Polri yang disiagakan di Jayapura berjumlah sekitar 6 ribu orang. Personel sebanyak itu sengaja dikerahkan karena wilayah Kota Jayapura hingga Sentani cukup panjang, yakni 40 km. Mereka ditempatkan di objek-objek vital dan daerah yang dianggap memiliki potensi konflik. “Tujuan utamanya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ucap Tito.

- Advertisement -

Kapolri juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano yang melakukan langkah cepat untuk menetralkan daerahnya. “Masyarakat mulai merasa nyaman karena pemerintah hadir. Sedangkan pemda melakukan pendekatan yang menyejukkan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Benhur Tomi Mano mengatakan, aktivitas di daerahnya sudah sangat baik. Aktivitas di semua sekolah sudah kembali normal.

- Advertisement -
Baca Juga:  Pedayung Kampar Raih Dua Emas

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwir

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengaku telah membentuk tim khusus untuk mengejar pihak-pihak yang terus memprovokasi kasus rasisme Papua. Tim tersebut berasal dari Mabes Polri, Polda Papua, Kodam XVII/Cenderawasih, BIN, dan instansi terkait lain. 

“Kita tidak ingin Jayapura dikacaukan oleh mereka. Karena tidak semua masyarakat Papua setuju dengan mereka,” tegas Kapolri di Sentani, Jayapura, kemarin (4/9).

Menurut Cenderawasih Pos, Kapolri juga melarang unjuk rasa susulan. Tujuannya mencegah aksi anarki di wilayah Papua dan Papua Barat. Menurut Tito, sudah terlalu banyak toleransi yang diberikan polisi.

“Jangan sampai demo yang berakhir anarkistis terulang lagi. Gelar pasukan akan kami perkuat. Rekonsiliasi akan kami jalankan,” tegasnya.

Baca Juga:  Ketua MPR Desak Pemerintah Lakukan Transformasi Pendidikan

Hingga kemarin, total pasukan TNI-Polri yang disiagakan di Jayapura berjumlah sekitar 6 ribu orang. Personel sebanyak itu sengaja dikerahkan karena wilayah Kota Jayapura hingga Sentani cukup panjang, yakni 40 km. Mereka ditempatkan di objek-objek vital dan daerah yang dianggap memiliki potensi konflik. “Tujuan utamanya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ucap Tito.

Kapolri juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano yang melakukan langkah cepat untuk menetralkan daerahnya. “Masyarakat mulai merasa nyaman karena pemerintah hadir. Sedangkan pemda melakukan pendekatan yang menyejukkan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Benhur Tomi Mano mengatakan, aktivitas di daerahnya sudah sangat baik. Aktivitas di semua sekolah sudah kembali normal.

Baca Juga:  Dokter Positif Covid-19 Dinyatakan Sembuh di Dumai

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwir

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari