Rabu, 4 Maret 2026
- Advertisement -

KPU Usul Durasi Kampanye Pemilu 2024 Selama 7 Bulan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  Angket Bisa Diproses Bersama Sengketa di Bawaslu dan MK

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Megawati dan Jokowi Akan Bertemu Prabowo? Ini Jawaban Sekjen PDI P

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  DKPP Pecat Evi Novida Ginting dari Komisoner KPU RI

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

- Advertisement -

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

- Advertisement -

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Angket Bisa Diproses Bersama Sengketa di Bawaslu dan MK

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  MAKI Ajukan Praperadilan dalam Perkara Harun Masiku

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Dikritik PKS Sering ke Luar Negeri, Gerindra Bela Menhan Prabowo

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari