Jumat, 11 September 2026
- Advertisement -

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pekanbaru, Polusi Tertinggi Ketiga di Indonesia

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Pekanbaru, Ahad (6/9). Kondisi tersebut membuat kualitas udara Kota Bertuah memburuk dan menjadi yang tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jambi dan Pontianak, Kalimantan Barat.

Berdasarkan data platform pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 20.00 WIB indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru mencapai 171 atau masuk kategori Tidak Sehat. Konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sekitar 117,9 µg/m³.

Kondisi lebih buruk terpantau di Panam yang meliputi Kecamatan Binawidya dan Kecamatan Tuah Madani serta Tenayan Raya. Kualitas udara di dua wilayah tersebut masuk kategori Berbahaya, dengan PM2.5 masing-masing sekitar 304 µg/m³ di Panam dan 244,6 µg/m³ di Tenayan Raya.

Sementara itu, AQI Jambi berada di angka 196 dan masuk kategori Tidak Sehat. Sedangkan Pontianak menjadi kota dengan polusi tertinggi, dengan AQI mencapai 342 atau kategori Berbahaya.

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan, kualitas udara Pekanbaru pada Ahad berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan pemantauan BMKG, PM2.5 sempat mencapai 81,9 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB. Angka tersebut kemudian meningkat signifikan menjadi 199,3 µg/m³ pada pukul 19.00 WIB atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

“Jika dilihat dari jumlah titik panas dan citra sebaran asap, kualitas udara yang menurun dapat disebabkan oleh kabut asap yang terjadi di wilayah Riau dan asap dari wilayah Selatan,” katanya.

Fenomena asap juga terpantau di pos pengamatan BMKG Pangkalankerinci Pelalawan, Tambang, Pekanbaru dan Japura Inhu dengan jarak pandang sekitar 3-5 kilometer. Arah angin masih bergerak dari Tenggara-Selatan menuju Barat Laut-Utara.

Baca Juga:  Ditutup, Warga Tetap Buang Sampah di TPS Ilegal

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG. Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, jangan lupa gunakan masker,” tegasnya.

Pada hari yang sama, BMKG mendeteksi 156 titik panas di Riau yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Titik panas terbanyak berada di Indragiri Hulu sebanyak 54 titik, Bengkalis 25, Indragiri Hilir 20, Dumai 19, Siak 12, Pelalawan 11, Kepulauan Meranti 7, Kuantan Singingi 4, Rokan Hilir 2 dan Rokan Hulu 2.

Secara keseluruhan, BMKG juga mendeteksi 2.199 titik panas di Sumatera, tersebar di Sumatera Selatan 1.379, Jambi 260, Bangka Belitung 189, Lampung 135, Kepulauan Riau 29, Sumatera Utara 28, Sumatera Barat 14, Aceh 5 dan Bengkulu 4.

Sementara itu, BPBD Damkar Riau mencatat titik api karhutla meningkat menjadi 11 titik yang tersebar di Inhil, Inhu, Bengkalis dan Kepulauan Meranti. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, Inhil menjadi daerah dengan titik api terbanyak, yakni enam titik.

“Selain titik api yang sedang dipadamkan, ada juga titik asap yang sedang didinginkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Ada 14 titik asap yang sedang didinginkan. Di Inhil ada lima titik, Bengkalis tiga titik, Siak dua titik, Inhu dua titik, Kampar satu titik, dan Pelalawan satu titik,” ujar Edy.

Baca Juga:  PKL Diberi Peringatan

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan belum dapat dilakukan dalam beberapa hari terakhir karena belum ditemukan awan potensial untuk penyemaian garam.

“Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” ujar Edy.

Kabut Asap di Bengkalis dan Rohul

Di Bengkalis, kualitas udara juga masih berada pada kategori Tidak Sehat. Sekretaris DLH Bengkalis Marngatin menyebut ISPU berada di angka 200 dan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan.

BPBD Bengkalis bersama tim gabungan masih melakukan pendinginan dan pemadaman. Titik karhutla baru muncul di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Siak Kecil, sejak Jumat (4/9), dengan luas lahan terbakar diperkirakan lima hektare.

Di Rohul, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah sejak pagi hingga pukul 17.30 WIB. Warga Pasirpengaraian Sunardi mengaku udara terasa panas dan gerah serta mulai tercium aroma asap.

“Asap mulai terasa, udara panas dan gerah bercampur bau asap. Kalau keluar rumah cukup lama, terasa kurang nyaman untuk bernapas. Kami berharap kondisi ini segera membaik dan tidak semakin tebal,” ujarnya, Ahad (6/9).

Kepala Pelaksana BPBD Rohul Zulhendri mengatakan verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi merupakan titik api atau anomali panas lainnya.

‘’Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan karhutla. Jika hasil verifikasi menemukan adanya titik api, petugas dapat segera melakukan penanganan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang lebih tebal,’’ ujarnya. (ayi/sol/ksm/epp/das)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Pekanbaru, Ahad (6/9). Kondisi tersebut membuat kualitas udara Kota Bertuah memburuk dan menjadi yang tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jambi dan Pontianak, Kalimantan Barat.

Berdasarkan data platform pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 20.00 WIB indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru mencapai 171 atau masuk kategori Tidak Sehat. Konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sekitar 117,9 µg/m³.

Kondisi lebih buruk terpantau di Panam yang meliputi Kecamatan Binawidya dan Kecamatan Tuah Madani serta Tenayan Raya. Kualitas udara di dua wilayah tersebut masuk kategori Berbahaya, dengan PM2.5 masing-masing sekitar 304 µg/m³ di Panam dan 244,6 µg/m³ di Tenayan Raya.

Sementara itu, AQI Jambi berada di angka 196 dan masuk kategori Tidak Sehat. Sedangkan Pontianak menjadi kota dengan polusi tertinggi, dengan AQI mencapai 342 atau kategori Berbahaya.

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan, kualitas udara Pekanbaru pada Ahad berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5.

- Advertisement -

Berdasarkan pemantauan BMKG, PM2.5 sempat mencapai 81,9 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB. Angka tersebut kemudian meningkat signifikan menjadi 199,3 µg/m³ pada pukul 19.00 WIB atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

“Jika dilihat dari jumlah titik panas dan citra sebaran asap, kualitas udara yang menurun dapat disebabkan oleh kabut asap yang terjadi di wilayah Riau dan asap dari wilayah Selatan,” katanya.

- Advertisement -

Fenomena asap juga terpantau di pos pengamatan BMKG Pangkalankerinci Pelalawan, Tambang, Pekanbaru dan Japura Inhu dengan jarak pandang sekitar 3-5 kilometer. Arah angin masih bergerak dari Tenggara-Selatan menuju Barat Laut-Utara.

Baca Juga:  PKL Diberi Peringatan

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG. Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, jangan lupa gunakan masker,” tegasnya.

Pada hari yang sama, BMKG mendeteksi 156 titik panas di Riau yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Titik panas terbanyak berada di Indragiri Hulu sebanyak 54 titik, Bengkalis 25, Indragiri Hilir 20, Dumai 19, Siak 12, Pelalawan 11, Kepulauan Meranti 7, Kuantan Singingi 4, Rokan Hilir 2 dan Rokan Hulu 2.

Secara keseluruhan, BMKG juga mendeteksi 2.199 titik panas di Sumatera, tersebar di Sumatera Selatan 1.379, Jambi 260, Bangka Belitung 189, Lampung 135, Kepulauan Riau 29, Sumatera Utara 28, Sumatera Barat 14, Aceh 5 dan Bengkulu 4.

Sementara itu, BPBD Damkar Riau mencatat titik api karhutla meningkat menjadi 11 titik yang tersebar di Inhil, Inhu, Bengkalis dan Kepulauan Meranti. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, Inhil menjadi daerah dengan titik api terbanyak, yakni enam titik.

“Selain titik api yang sedang dipadamkan, ada juga titik asap yang sedang didinginkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Ada 14 titik asap yang sedang didinginkan. Di Inhil ada lima titik, Bengkalis tiga titik, Siak dua titik, Inhu dua titik, Kampar satu titik, dan Pelalawan satu titik,” ujar Edy.

Baca Juga:  Ditutup, Warga Tetap Buang Sampah di TPS Ilegal

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan belum dapat dilakukan dalam beberapa hari terakhir karena belum ditemukan awan potensial untuk penyemaian garam.

“Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” ujar Edy.

Kabut Asap di Bengkalis dan Rohul

Di Bengkalis, kualitas udara juga masih berada pada kategori Tidak Sehat. Sekretaris DLH Bengkalis Marngatin menyebut ISPU berada di angka 200 dan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan.

BPBD Bengkalis bersama tim gabungan masih melakukan pendinginan dan pemadaman. Titik karhutla baru muncul di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Siak Kecil, sejak Jumat (4/9), dengan luas lahan terbakar diperkirakan lima hektare.

Di Rohul, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah sejak pagi hingga pukul 17.30 WIB. Warga Pasirpengaraian Sunardi mengaku udara terasa panas dan gerah serta mulai tercium aroma asap.

“Asap mulai terasa, udara panas dan gerah bercampur bau asap. Kalau keluar rumah cukup lama, terasa kurang nyaman untuk bernapas. Kami berharap kondisi ini segera membaik dan tidak semakin tebal,” ujarnya, Ahad (6/9).

Kepala Pelaksana BPBD Rohul Zulhendri mengatakan verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi merupakan titik api atau anomali panas lainnya.

‘’Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan karhutla. Jika hasil verifikasi menemukan adanya titik api, petugas dapat segera melakukan penanganan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang lebih tebal,’’ ujarnya. (ayi/sol/ksm/epp/das)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Pekanbaru, Ahad (6/9). Kondisi tersebut membuat kualitas udara Kota Bertuah memburuk dan menjadi yang tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jambi dan Pontianak, Kalimantan Barat.

Berdasarkan data platform pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 20.00 WIB indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru mencapai 171 atau masuk kategori Tidak Sehat. Konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sekitar 117,9 µg/m³.

Kondisi lebih buruk terpantau di Panam yang meliputi Kecamatan Binawidya dan Kecamatan Tuah Madani serta Tenayan Raya. Kualitas udara di dua wilayah tersebut masuk kategori Berbahaya, dengan PM2.5 masing-masing sekitar 304 µg/m³ di Panam dan 244,6 µg/m³ di Tenayan Raya.

Sementara itu, AQI Jambi berada di angka 196 dan masuk kategori Tidak Sehat. Sedangkan Pontianak menjadi kota dengan polusi tertinggi, dengan AQI mencapai 342 atau kategori Berbahaya.

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan, kualitas udara Pekanbaru pada Ahad berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat akibat tingginya konsentrasi PM2.5.

Berdasarkan pemantauan BMKG, PM2.5 sempat mencapai 81,9 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB. Angka tersebut kemudian meningkat signifikan menjadi 199,3 µg/m³ pada pukul 19.00 WIB atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

“Jika dilihat dari jumlah titik panas dan citra sebaran asap, kualitas udara yang menurun dapat disebabkan oleh kabut asap yang terjadi di wilayah Riau dan asap dari wilayah Selatan,” katanya.

Fenomena asap juga terpantau di pos pengamatan BMKG Pangkalankerinci Pelalawan, Tambang, Pekanbaru dan Japura Inhu dengan jarak pandang sekitar 3-5 kilometer. Arah angin masih bergerak dari Tenggara-Selatan menuju Barat Laut-Utara.

Baca Juga:  Server Gangguan, Layanan KTP-el di Pekanbaru Lumpuh Sementara

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG. Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, jangan lupa gunakan masker,” tegasnya.

Pada hari yang sama, BMKG mendeteksi 156 titik panas di Riau yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Titik panas terbanyak berada di Indragiri Hulu sebanyak 54 titik, Bengkalis 25, Indragiri Hilir 20, Dumai 19, Siak 12, Pelalawan 11, Kepulauan Meranti 7, Kuantan Singingi 4, Rokan Hilir 2 dan Rokan Hulu 2.

Secara keseluruhan, BMKG juga mendeteksi 2.199 titik panas di Sumatera, tersebar di Sumatera Selatan 1.379, Jambi 260, Bangka Belitung 189, Lampung 135, Kepulauan Riau 29, Sumatera Utara 28, Sumatera Barat 14, Aceh 5 dan Bengkulu 4.

Sementara itu, BPBD Damkar Riau mencatat titik api karhutla meningkat menjadi 11 titik yang tersebar di Inhil, Inhu, Bengkalis dan Kepulauan Meranti. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, Inhil menjadi daerah dengan titik api terbanyak, yakni enam titik.

“Selain titik api yang sedang dipadamkan, ada juga titik asap yang sedang didinginkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Ada 14 titik asap yang sedang didinginkan. Di Inhil ada lima titik, Bengkalis tiga titik, Siak dua titik, Inhu dua titik, Kampar satu titik, dan Pelalawan satu titik,” ujar Edy.

Baca Juga:  Tim Unri Hadirkan Inovasi, Limbah Nanas Kini Punya Nilai Jual Tinggi

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan belum dapat dilakukan dalam beberapa hari terakhir karena belum ditemukan awan potensial untuk penyemaian garam.

“Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” ujar Edy.

Kabut Asap di Bengkalis dan Rohul

Di Bengkalis, kualitas udara juga masih berada pada kategori Tidak Sehat. Sekretaris DLH Bengkalis Marngatin menyebut ISPU berada di angka 200 dan meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan.

BPBD Bengkalis bersama tim gabungan masih melakukan pendinginan dan pemadaman. Titik karhutla baru muncul di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Siak Kecil, sejak Jumat (4/9), dengan luas lahan terbakar diperkirakan lima hektare.

Di Rohul, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah sejak pagi hingga pukul 17.30 WIB. Warga Pasirpengaraian Sunardi mengaku udara terasa panas dan gerah serta mulai tercium aroma asap.

“Asap mulai terasa, udara panas dan gerah bercampur bau asap. Kalau keluar rumah cukup lama, terasa kurang nyaman untuk bernapas. Kami berharap kondisi ini segera membaik dan tidak semakin tebal,” ujarnya, Ahad (6/9).

Kepala Pelaksana BPBD Rohul Zulhendri mengatakan verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan titik panas yang terdeteksi merupakan titik api atau anomali panas lainnya.

‘’Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan karhutla. Jika hasil verifikasi menemukan adanya titik api, petugas dapat segera melakukan penanganan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang lebih tebal,’’ ujarnya. (ayi/sol/ksm/epp/das)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari