PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Bagi sebagian mahasiswa Universitas Riau (Unri), menjalani perkuliahan bukan hanya soal mengejar nilai dan menyelesaikan tugas. Ada yang harus berjalan kaki hingga enam kilometer demi membeli makan siang, ada pula yang terpaksa begadang mengolah adonan brownies setelah seharian menjalani praktikum karena tidak memiliki oven di tempat tinggalnya.
Keterbatasan finansial membuat sejumlah mahasiswa harus menjalani peran ganda sebagai pelajar sekaligus pejuang ekonomi. Mereka berusaha membagi waktu antara kuliah, pekerjaan paruh waktu, dan kebutuhan sehari-hari. Bagi sebagian dari mereka, memiliki kendaraan pribadi masih menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan, sementara modal untuk mengembangkan usaha juga belum tersedia.
Namun, sedikit harapan datang pada Rabu (22/7/2026). Bertempat di Warung Kopi Rimba FISIP Unri, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unri menyerahkan bantuan melalui program “Semai Niaga, Arah Berperan, dan Arah Roda Berdaya”.
Sebanyak 50 mahasiswa terpilih menerima bantuan dengan bentuk yang berbeda. Ada yang mendapatkan sepeda sebagai sarana mobilitas, ada yang memperoleh bantuan modal untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mahasiswa yang menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Total nilai bantuan yang disalurkan dalam program tersebut mencapai Rp60 juta.
Presiden BEM Unri 2026 Muhammad Azhari mengatakan, gagasan program itu berawal dari sebuah ide yang sempat dianggap sebagai mimpi yang sulit diwujudkan. Ide tersebut muncul ketika dirinya bersama Wakil Presma Yahya Ramadhani berbincang hingga larut malam.
“Malam itu kami begadang sampai pagi, sarapan lontong, pikiran masih belum stabil. Kami berkhayal, seandainya bisa bantu teman-teman yang jalan kaki misalnya dari Bangau Sakti ke FKIP yang jaraknya 1,5 km itu,” ujar Azhari.
Ketika gagasan tersebut kemudian dimasukkan dalam visi dan misi saat kampanye, tidak sedikit pihak yang meragukannya. Bagi sebagian orang, program membagikan sepeda dan uang tunai secara gratis kepada mahasiswa dinilai sulit untuk direalisasikan.
“Secara awam, siapa yang percaya mahasiswa bisa bagi-bagi sepeda dan uang tunai? Tidak akan mungkin. Kami ditertawakan, dibilang itu program khayalan, ya sebetulnya terlihat seperti program khayalan, cuma bagaimana kita merealisasikan mimpi itu tadi,” ujarnya.
Keraguan tersebut justru menjadi tantangan bagi Azhari dan timnya. Mereka kemudian melakukan survei kelayakan, membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menyesuaikan program dengan kemampuan anggaran BEM.
Setelah melalui proses tersebut, program akhirnya dapat direalisasikan dengan total bantuan mencapai Rp60 juta. Bantuan itu terdiri atas 20 unit sepeda dengan harga yang bervariasi, modal usaha “Semai Niaga” sebesar Rp14 juta untuk tujuh UMKM, serta BLT senilai Rp15 juta yang dibagikan dalam 30 amplop.
Untuk memastikan bantuan diterima mahasiswa yang benar-benar membutuhkan, proses seleksi dilakukan secara bertahap. Dari sekitar 600 mahasiswa yang mendaftar melalui formulir G-Form, hampir 200 orang kemudian mengikuti proses wawancara secara langsung.
Sebanyak tujuh pewawancara dilibatkan untuk menilai kondisi para pendaftar. Proses tersebut dilakukan agar penerima bantuan tidak hanya ditentukan berdasarkan kelengkapan administrasi, tetapi juga berdasarkan kebutuhan nyata yang mereka hadapi.
“Banyak penerima yang wajahnya asing bagi saya. Mereka jarang terlihat di organisasi, pendiam, tapi butuh bantuan. Itulah sejatinya BEM, membantu yang tak terlihat,” ungkap Azhari.
Salah satu penerima bantuan adalah Aby Fabian Aditya, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unri. Bagi mahasiswa perantauan tersebut, sepeda yang diterimanya memiliki arti lebih dari sekadar kendaraan.
Sebelum memperoleh bantuan, Aby tidak memiliki kendaraan pribadi. Untuk bepergian bekerja maupun membeli makanan, ia harus menumpang kendaraan teman kos atau berjalan kaki.
“Kalau mau pergi kerja atau beli makan, otomatis harus isi bensin teman yang nebengin. Padahal uang dari orang tua cuma cukup buat makan sekali sehari. Antara makan atau isi bensin, itu pilihannya,” cerita Aby.
Ia bahkan pernah berjalan kaki seorang diri sejauh tiga kilometer pada pagi hari menuju kedai makan ketika musim libur. Ia memilih berangkat lebih awal agar tidak harus berjalan di bawah terik matahari.
Kini, dengan sepeda yang diterimanya, Aby merasa lebih leluasa menjalani aktivitas kuliah sekaligus bekerja. Ia juga tidak lagi harus selalu bergantung kepada teman kos.
“Saya bangga banget. Ini mengubah hidup saya,” tuturnya.
Cerita lain datang dari Riska Aulia Putri, mahasiswa FMIPA Biologi. Ia mengaku sering dihantui kekhawatiran tidak mampu memenuhi kebutuhan kuliah maupun biaya praktikum.
Sebagai mahasiswa yang aktif melakukan kegiatan di laboratorium dan lapangan, kebutuhan akademik kerap menguras uang yang dimilikinya. Dengan uang harian yang hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000, biaya praktikum menjadi beban tersendiri.
BLT sebesar Rp500.000 yang diterimanya pun akan digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan akademik.
“Sangat bersyukur, hati jadi lebih tenang untuk fokus kuliah,” ucapnya.
Sementara itu, Aqila Haya Sugianto dari Fakultas Pertanian (Faperta) program studi Teknologi Hasil Pertanian memiliki cerita berbeda. Ia telah memulai usaha brownies sejak duduk di kelas 2 SMK.
Namun, keinginannya mengembangkan usaha tersebut terkendala keterbatasan peralatan dan waktu. Di sela kesibukan kuliah, Aqila bahkan harus menghabiskan waktu hingga larut malam untuk membuat adonan brownies di rumah.
Bantuan modal usaha melalui program “Semai Niaga” menjadi peluang baru bagi Aqila untuk mengembangkan bisnisnya.
“Rencananya dana ini untuk buka stand. Kalau tidak ada stand, akan saya gunakan untuk bahan baku,” jelasnya.
Ia optimistis produk brownies yang dibuatnya dapat diterima mahasiswa karena menawarkan rasa yang enak dengan harga yang tetap terjangkau.
Aqila bahkan memiliki target lebih besar untuk usahanya. Ia ingin produknya dapat berkembang dan dikenal luas hingga ke luar negeri, seperti brand brownies “Brooki” yang telah mendunia.
“Saya pengen brownies saya dikenal sampai mancanegara, kayak Brooki di Australia,” pungkasnya penuh semangat.
Pelaksanaan program tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Senator DPD RI Arief Eka Saputra menyampaikan dukungannya sebagai bagian dari kolaborasi antara alumni dan pemerintah daerah untuk mendorong pemberdayaan mahasiswa.
Sekretaris Umum PP IKA Unri Aiden Yusti juga menegaskan komitmen Ikatan Keluarga Alumni untuk terus mendukung pengembangan kewirausahaan mahasiswa. Dukungan tersebut dilakukan melalui berbagai program, termasuk beasiswa dan pendampingan bisnis.
Wakil Rektor III Unri, Prof Dr Hermandra MA, turut memberikan apresiasi terhadap langkah BEM Unri yang dinilai mampu menjawab kebutuhan nyata mahasiswa.
Program tersebut secara resmi dibuka oleh Rektor Unri, Prof Dr Sri Indarti SE MSi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi awal dari gerakan pemberdayaan mahasiswa yang berkelanjutan.
Azhari mengatakan, program tersebut bukan sekadar janji yang disampaikan saat kampanye, melainkan bentuk komitmen yang telah diwujudkan. BEM Unri juga berencana kembali melanjutkan program serupa menjelang berakhirnya masa kepengurusan pada Desember 2026.
“Silakan ambil kebaikannya, tinggalkan kekurangannya. Semoga ini menjadi amal jariah bagi kita semua,” tutupnya.(ali)

