Selasa, 25 Agustus 2026
- Advertisement -

Pameran Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya ke Ruang Kreatif

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suasana sejuk Kota Pekanbaru usai diguyur hujan sejak siang hari tidak mengurangi semarak pembukaan Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning di Galeri Hang Nadim (GHN), Anjungan Kampar, Kompleks Bandar Serai, Pekanbaru, Rabu (17/6/2026). Sambil menikmati juadah dan kopi hangat, puluhan tamu undangan mengikuti rangkaian pembukaan pameran yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh apresiasi terhadap seni budaya Melayu.

Kepala Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ke-21 yang diselenggarakan GHN ini memiliki keistimewaan tersendiri karena menghadirkan dua pameran dalam satu kegiatan.

Menurutnya, pameran Khat Melayu menampilkan karya para peserta pelatihan Khat Melayu yang telah dilaksanakan pada 30 dan 31 Mei lalu. Sementara itu, pameran Re-Imaji Lancang Kuning menghadirkan karya para seniman yang menafsirkan kembali simbol Lancang Kuning melalui pendekatan estetik dengan berbagai medium seni.

“Khat Melayu adalah pameran hasil karya para peserta pelatihan Khat Melayu pada 30 dan 31 Mei lalu, sedangkan Re-Imaji Lancang Kuning diikuti seniman yang menafsir ulang Lancang Kuning dengan pendekatan estetik pada beragam medium. Jadi istimewa karena ada dua pameran dalam satu iven,” kata Furqon.

Baca Juga:  20 Ribu Lebih Honorer Berpeluang Jadi PPPK Paruh Waktu

Ia menjelaskan, pelatihan Khat Melayu yang telah digelar sebelumnya merupakan langkah awal dalam proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang mengadaptasi serta merespons kekayaan alam dan budaya Melayu sebagai sumber inspirasi estetik.

Ke depan, kata Furqon, pengembangan tersebut akan dilanjutkan dengan proses digitalisasi berbagai rancangan khat agar dapat digunakan sebagai font pada beragam platform digital.

“Pelatihan Khat Melayu itu baru langkah awal dari proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang menyerap, merespon, mengambil, memodifikasi khasanah alam Melayu sebagai inspirasi estetiknya. Langkah selanjutnya adalah mendijitalisasi khat-khat tersebut menjadi font yang bisa diaplikasikan di berbagai platform, komputer ataupun gawai,” ujarnya.

Ia membayangkan suatu saat nanti pengguna huruf Arab Melayu akan memiliki banyak pilihan font khas daerah, seperti Jalinan Bengkalis, Mandagiri, Kopau, Yamani, Al Pekani, Al Kampari, dan berbagai jenis khat lainnya yang saat ini mulai diperkenalkan melalui pameran tersebut.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi, memberikan apresiasi terhadap upaya GHN dalam mengangkat warisan budaya Melayu melalui pameran seni rupa.

“Saya apresiasi apa yang dilakukan GHN dengan pameran bertema Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning. Ini suatu bentuk kepedulian terhadap warisan budaya kita dalam bentuk pameran seni rupa,” ujarnya.

Baca Juga:  Pusat Perbelanjaan Diserbu Pengunjung

Kristanto yang baru beberapa bulan bertugas di Riau juga berharap kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terus diperkuat dalam menjalankan program pelestarian kebudayaan.

Ia menyebutkan, Kementerian Kebudayaan tahun ini telah menetapkan keberadaan Balai Pelestarian Kebudayaan di setiap provinsi sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya di daerah.

Usai membuka pameran secara resmi, Kristanto Januardi bersama Kepala Dinas Pariwisata Riau Tekad Parbatas, Kepala GHN Furqon Elwe, para seniman, dan tamu undangan meninjau langsung ruang pameran yang berada di lantai satu Galeri Hang Nadim.

Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Di ruang pameran, pengunjung dapat menyaksikan proses perancangan Khat Melayu mulai dari sketsa awal hingga pengaplikasiannya pada berbagai media. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam karya seni dua dimensi dan tiga dimensi, mulai dari desain tugu Lancang Kuning, lukisan, komik, digital art, hingga seni instalasi yang menghadirkan tafsir baru terhadap Lancang Kuning sebagai simbol peradaban Melayu.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suasana sejuk Kota Pekanbaru usai diguyur hujan sejak siang hari tidak mengurangi semarak pembukaan Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning di Galeri Hang Nadim (GHN), Anjungan Kampar, Kompleks Bandar Serai, Pekanbaru, Rabu (17/6/2026). Sambil menikmati juadah dan kopi hangat, puluhan tamu undangan mengikuti rangkaian pembukaan pameran yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh apresiasi terhadap seni budaya Melayu.

Kepala Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ke-21 yang diselenggarakan GHN ini memiliki keistimewaan tersendiri karena menghadirkan dua pameran dalam satu kegiatan.

Menurutnya, pameran Khat Melayu menampilkan karya para peserta pelatihan Khat Melayu yang telah dilaksanakan pada 30 dan 31 Mei lalu. Sementara itu, pameran Re-Imaji Lancang Kuning menghadirkan karya para seniman yang menafsirkan kembali simbol Lancang Kuning melalui pendekatan estetik dengan berbagai medium seni.

“Khat Melayu adalah pameran hasil karya para peserta pelatihan Khat Melayu pada 30 dan 31 Mei lalu, sedangkan Re-Imaji Lancang Kuning diikuti seniman yang menafsir ulang Lancang Kuning dengan pendekatan estetik pada beragam medium. Jadi istimewa karena ada dua pameran dalam satu iven,” kata Furqon.

Baca Juga:  IKTS Siap Bersinergi Bersama Riau Pos

Ia menjelaskan, pelatihan Khat Melayu yang telah digelar sebelumnya merupakan langkah awal dalam proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang mengadaptasi serta merespons kekayaan alam dan budaya Melayu sebagai sumber inspirasi estetik.

- Advertisement -

Ke depan, kata Furqon, pengembangan tersebut akan dilanjutkan dengan proses digitalisasi berbagai rancangan khat agar dapat digunakan sebagai font pada beragam platform digital.

“Pelatihan Khat Melayu itu baru langkah awal dari proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang menyerap, merespon, mengambil, memodifikasi khasanah alam Melayu sebagai inspirasi estetiknya. Langkah selanjutnya adalah mendijitalisasi khat-khat tersebut menjadi font yang bisa diaplikasikan di berbagai platform, komputer ataupun gawai,” ujarnya.

- Advertisement -

Ia membayangkan suatu saat nanti pengguna huruf Arab Melayu akan memiliki banyak pilihan font khas daerah, seperti Jalinan Bengkalis, Mandagiri, Kopau, Yamani, Al Pekani, Al Kampari, dan berbagai jenis khat lainnya yang saat ini mulai diperkenalkan melalui pameran tersebut.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi, memberikan apresiasi terhadap upaya GHN dalam mengangkat warisan budaya Melayu melalui pameran seni rupa.

“Saya apresiasi apa yang dilakukan GHN dengan pameran bertema Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning. Ini suatu bentuk kepedulian terhadap warisan budaya kita dalam bentuk pameran seni rupa,” ujarnya.

Baca Juga:  Masuki Purnabakti, Kakan Kemenag Ingatkan ASN Tetap Disiplin

Kristanto yang baru beberapa bulan bertugas di Riau juga berharap kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terus diperkuat dalam menjalankan program pelestarian kebudayaan.

Ia menyebutkan, Kementerian Kebudayaan tahun ini telah menetapkan keberadaan Balai Pelestarian Kebudayaan di setiap provinsi sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya di daerah.

Usai membuka pameran secara resmi, Kristanto Januardi bersama Kepala Dinas Pariwisata Riau Tekad Parbatas, Kepala GHN Furqon Elwe, para seniman, dan tamu undangan meninjau langsung ruang pameran yang berada di lantai satu Galeri Hang Nadim.

Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Di ruang pameran, pengunjung dapat menyaksikan proses perancangan Khat Melayu mulai dari sketsa awal hingga pengaplikasiannya pada berbagai media. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam karya seni dua dimensi dan tiga dimensi, mulai dari desain tugu Lancang Kuning, lukisan, komik, digital art, hingga seni instalasi yang menghadirkan tafsir baru terhadap Lancang Kuning sebagai simbol peradaban Melayu.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suasana sejuk Kota Pekanbaru usai diguyur hujan sejak siang hari tidak mengurangi semarak pembukaan Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning di Galeri Hang Nadim (GHN), Anjungan Kampar, Kompleks Bandar Serai, Pekanbaru, Rabu (17/6/2026). Sambil menikmati juadah dan kopi hangat, puluhan tamu undangan mengikuti rangkaian pembukaan pameran yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh apresiasi terhadap seni budaya Melayu.

Kepala Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran ke-21 yang diselenggarakan GHN ini memiliki keistimewaan tersendiri karena menghadirkan dua pameran dalam satu kegiatan.

Menurutnya, pameran Khat Melayu menampilkan karya para peserta pelatihan Khat Melayu yang telah dilaksanakan pada 30 dan 31 Mei lalu. Sementara itu, pameran Re-Imaji Lancang Kuning menghadirkan karya para seniman yang menafsirkan kembali simbol Lancang Kuning melalui pendekatan estetik dengan berbagai medium seni.

“Khat Melayu adalah pameran hasil karya para peserta pelatihan Khat Melayu pada 30 dan 31 Mei lalu, sedangkan Re-Imaji Lancang Kuning diikuti seniman yang menafsir ulang Lancang Kuning dengan pendekatan estetik pada beragam medium. Jadi istimewa karena ada dua pameran dalam satu iven,” kata Furqon.

Baca Juga:  Pererat Kebersamaan, Pimpinan PT PLN, BRI, dan Riau Pos Group Olahraga Bersama

Ia menjelaskan, pelatihan Khat Melayu yang telah digelar sebelumnya merupakan langkah awal dalam proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang mengadaptasi serta merespons kekayaan alam dan budaya Melayu sebagai sumber inspirasi estetik.

Ke depan, kata Furqon, pengembangan tersebut akan dilanjutkan dengan proses digitalisasi berbagai rancangan khat agar dapat digunakan sebagai font pada beragam platform digital.

“Pelatihan Khat Melayu itu baru langkah awal dari proses penciptaan gaya kaligrafi huruf Arab Melayu yang menyerap, merespon, mengambil, memodifikasi khasanah alam Melayu sebagai inspirasi estetiknya. Langkah selanjutnya adalah mendijitalisasi khat-khat tersebut menjadi font yang bisa diaplikasikan di berbagai platform, komputer ataupun gawai,” ujarnya.

Ia membayangkan suatu saat nanti pengguna huruf Arab Melayu akan memiliki banyak pilihan font khas daerah, seperti Jalinan Bengkalis, Mandagiri, Kopau, Yamani, Al Pekani, Al Kampari, dan berbagai jenis khat lainnya yang saat ini mulai diperkenalkan melalui pameran tersebut.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi, memberikan apresiasi terhadap upaya GHN dalam mengangkat warisan budaya Melayu melalui pameran seni rupa.

“Saya apresiasi apa yang dilakukan GHN dengan pameran bertema Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning. Ini suatu bentuk kepedulian terhadap warisan budaya kita dalam bentuk pameran seni rupa,” ujarnya.

Baca Juga:  IKTS Siap Bersinergi Bersama Riau Pos

Kristanto yang baru beberapa bulan bertugas di Riau juga berharap kolaborasi dengan berbagai pihak dapat terus diperkuat dalam menjalankan program pelestarian kebudayaan.

Ia menyebutkan, Kementerian Kebudayaan tahun ini telah menetapkan keberadaan Balai Pelestarian Kebudayaan di setiap provinsi sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya di daerah.

Usai membuka pameran secara resmi, Kristanto Januardi bersama Kepala Dinas Pariwisata Riau Tekad Parbatas, Kepala GHN Furqon Elwe, para seniman, dan tamu undangan meninjau langsung ruang pameran yang berada di lantai satu Galeri Hang Nadim.

Pameran Seni Rupa Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Di ruang pameran, pengunjung dapat menyaksikan proses perancangan Khat Melayu mulai dari sketsa awal hingga pengaplikasiannya pada berbagai media. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam karya seni dua dimensi dan tiga dimensi, mulai dari desain tugu Lancang Kuning, lukisan, komik, digital art, hingga seni instalasi yang menghadirkan tafsir baru terhadap Lancang Kuning sebagai simbol peradaban Melayu.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari