SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Sekitar 39 ribu penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Meranti terdampak penghentian sementara penyaluran makanan sejak diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat bencana kabut asap.
Kebijakan darurat tersebut berdampak pada penghentian seluruh operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kepulauan Meranti sejak 9 Oktober 2026 lalu.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kepulauan Meranti, Suryani, mengutarakan bahwa keputusan penangguhan distribusi ini mempertimbangkan faktor keselamatan, ketepatan sasaran, serta kepastian keamanan pangan anak-anak saat tidak belajar tatap muka.
“Penghentian sementara ini murni langkah penyesuaian operasional dalam kondisi darurat. Selain karena siswa belajar dari rumah, kondisi udara tidak sehat juga berisiko tinggi terhadap kualitas serta keawetan makanan jika dipaksakan didistribusikan,” jelas Suryani, Senin (19/10/2026).
Meskipun sejumlah sekolah keagamaan mulai kembali menggelar pembelajaran tatap muka, BGN memastikan operasional SPPG baru akan dibuka kembali secara menyeluruh setelah kondisi kualitas udara membaik dan aktivitas sekolah pulih normal.
Suryani menekankan bahwa penangguhan ini bersifat sementara, dan jangkauan sasaran kepada 39 ribu penerima yang mencakup pelajar hingga ibu hamil akan langsung dilanjutkan begitu situasi kondusif.
SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Sekitar 39 ribu penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Meranti terdampak penghentian sementara penyaluran makanan sejak diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat bencana kabut asap.
Kebijakan darurat tersebut berdampak pada penghentian seluruh operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kepulauan Meranti sejak 9 Oktober 2026 lalu.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kepulauan Meranti, Suryani, mengutarakan bahwa keputusan penangguhan distribusi ini mempertimbangkan faktor keselamatan, ketepatan sasaran, serta kepastian keamanan pangan anak-anak saat tidak belajar tatap muka.
“Penghentian sementara ini murni langkah penyesuaian operasional dalam kondisi darurat. Selain karena siswa belajar dari rumah, kondisi udara tidak sehat juga berisiko tinggi terhadap kualitas serta keawetan makanan jika dipaksakan didistribusikan,” jelas Suryani, Senin (19/10/2026).
Meskipun sejumlah sekolah keagamaan mulai kembali menggelar pembelajaran tatap muka, BGN memastikan operasional SPPG baru akan dibuka kembali secara menyeluruh setelah kondisi kualitas udara membaik dan aktivitas sekolah pulih normal.
Suryani menekankan bahwa penangguhan ini bersifat sementara, dan jangkauan sasaran kepada 39 ribu penerima yang mencakup pelajar hingga ibu hamil akan langsung dilanjutkan begitu situasi kondusif.