Minggu, 30 November 2025
spot_img

Kasus DBD, Balita Dua Tahun Meninggal Dunia

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang balita perempuan berusia dua tahun, Syafa Aghnia, meninggal dunia akibat Dengue Shock Syndrome (DSS) di RSUD Kepulauan Meranti, Ahad (12/10) pagi.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Nyamuk Aedes aegypti kini semakin aktif menyebar di berbagai wilayah Meranti.

Menurut data Dinas Kesehatan (Diskes) Kepulauan Meranti, sejak Januari 2025 tercatat 301 kasus DBD dan Demam Dengue (DD), terdiri dari 144 kasus DBD dan 157 kasus DD. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun 2024 yang hanya 35 kasus.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Ade Suhartian, membenarkan adanya peningkatan kasus signifikan tersebut. “Benar, sudah ada dua korban meninggal dunia akibat DBD tahun ini. Salah satunya anak berusia dua tahun dari Desa Banglas,” ujarnya, Selasa (14/10).

Baca Juga:  BPS: Pengeluaran Rokok Warga Rohul Tembus Posisi Kedua Setelah Makanan

Dari hasil pemeriksaan medis, Syafa mulai demam pada 7 Oktober disertai bintik merah dan batuk berdahak. Kondisinya sempat membaik, namun kembali menurun pada Sabtu (11/10). Ia dibawa ke RSUD Meranti dalam kondisi kritis dengan trombosit 45.000 dan hasil uji dengue positif. Setelah mengalami kejang dan muntah darah, nyawanya tak tertolong meski sempat dirawat intensif.

“Pasien datang sudah dalam kondisi shock septic akibat Dengue Shock Syndrome,” terang Ade.
Diskes Meranti juga mencatat empat anak lainnya masih dirawat karena DBD dan DD di beberapa desa seperti Lemang dan Banglas.

Peningkatan kasus hingga empat kali lipat ini menunjukkan penyebaran DBD masih aktif di tengah lemahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa desa belum rutin melakukan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk sejak awal musim hujan.

Baca Juga:  Bertugas di Rohil, AKBP Isa Disambut Adat Melayu

“Kami sudah minta puskesmas meningkatkan pemantauan jentik dan fogging fokus. Tapi masyarakat juga harus aktif menjaga lingkungan, jangan menunggu ada korban,” tegas Ade.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Meranti Darsini menilai daerahnya kini di ambang Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. “Dua anak meninggal dalam sepuluh bulan adalah tanda bahaya. Pemerintah harus segera tetapkan status siaga DBD dan lakukan fogging serentak,” ujarnya.(wir)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang balita perempuan berusia dua tahun, Syafa Aghnia, meninggal dunia akibat Dengue Shock Syndrome (DSS) di RSUD Kepulauan Meranti, Ahad (12/10) pagi.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Nyamuk Aedes aegypti kini semakin aktif menyebar di berbagai wilayah Meranti.

Menurut data Dinas Kesehatan (Diskes) Kepulauan Meranti, sejak Januari 2025 tercatat 301 kasus DBD dan Demam Dengue (DD), terdiri dari 144 kasus DBD dan 157 kasus DD. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun 2024 yang hanya 35 kasus.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Ade Suhartian, membenarkan adanya peningkatan kasus signifikan tersebut. “Benar, sudah ada dua korban meninggal dunia akibat DBD tahun ini. Salah satunya anak berusia dua tahun dari Desa Banglas,” ujarnya, Selasa (14/10).

Baca Juga:  Terduga Pelaku Pembunuhan Dijerat Pasal Berlapis

Dari hasil pemeriksaan medis, Syafa mulai demam pada 7 Oktober disertai bintik merah dan batuk berdahak. Kondisinya sempat membaik, namun kembali menurun pada Sabtu (11/10). Ia dibawa ke RSUD Meranti dalam kondisi kritis dengan trombosit 45.000 dan hasil uji dengue positif. Setelah mengalami kejang dan muntah darah, nyawanya tak tertolong meski sempat dirawat intensif.

“Pasien datang sudah dalam kondisi shock septic akibat Dengue Shock Syndrome,” terang Ade.
Diskes Meranti juga mencatat empat anak lainnya masih dirawat karena DBD dan DD di beberapa desa seperti Lemang dan Banglas.

- Advertisement -

Peningkatan kasus hingga empat kali lipat ini menunjukkan penyebaran DBD masih aktif di tengah lemahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa desa belum rutin melakukan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk sejak awal musim hujan.

Baca Juga:  Suasana Mencekam saat KLM Sinar Terbakar di Perairan Meranti

“Kami sudah minta puskesmas meningkatkan pemantauan jentik dan fogging fokus. Tapi masyarakat juga harus aktif menjaga lingkungan, jangan menunggu ada korban,” tegas Ade.

- Advertisement -

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Meranti Darsini menilai daerahnya kini di ambang Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. “Dua anak meninggal dalam sepuluh bulan adalah tanda bahaya. Pemerintah harus segera tetapkan status siaga DBD dan lakukan fogging serentak,” ujarnya.(wir)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Kabupaten Kepulauan Meranti. Seorang balita perempuan berusia dua tahun, Syafa Aghnia, meninggal dunia akibat Dengue Shock Syndrome (DSS) di RSUD Kepulauan Meranti, Ahad (12/10) pagi.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Nyamuk Aedes aegypti kini semakin aktif menyebar di berbagai wilayah Meranti.

Menurut data Dinas Kesehatan (Diskes) Kepulauan Meranti, sejak Januari 2025 tercatat 301 kasus DBD dan Demam Dengue (DD), terdiri dari 144 kasus DBD dan 157 kasus DD. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun 2024 yang hanya 35 kasus.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Meranti, Ade Suhartian, membenarkan adanya peningkatan kasus signifikan tersebut. “Benar, sudah ada dua korban meninggal dunia akibat DBD tahun ini. Salah satunya anak berusia dua tahun dari Desa Banglas,” ujarnya, Selasa (14/10).

Baca Juga:  Dinas Damkar Gelar Simulasi Pemadaman Kebakaran

Dari hasil pemeriksaan medis, Syafa mulai demam pada 7 Oktober disertai bintik merah dan batuk berdahak. Kondisinya sempat membaik, namun kembali menurun pada Sabtu (11/10). Ia dibawa ke RSUD Meranti dalam kondisi kritis dengan trombosit 45.000 dan hasil uji dengue positif. Setelah mengalami kejang dan muntah darah, nyawanya tak tertolong meski sempat dirawat intensif.

“Pasien datang sudah dalam kondisi shock septic akibat Dengue Shock Syndrome,” terang Ade.
Diskes Meranti juga mencatat empat anak lainnya masih dirawat karena DBD dan DD di beberapa desa seperti Lemang dan Banglas.

Peningkatan kasus hingga empat kali lipat ini menunjukkan penyebaran DBD masih aktif di tengah lemahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Beberapa desa belum rutin melakukan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk sejak awal musim hujan.

Baca Juga:  Antrean BBM Undang Perhatian Pertamina 

“Kami sudah minta puskesmas meningkatkan pemantauan jentik dan fogging fokus. Tapi masyarakat juga harus aktif menjaga lingkungan, jangan menunggu ada korban,” tegas Ade.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Meranti Darsini menilai daerahnya kini di ambang Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. “Dua anak meninggal dalam sepuluh bulan adalah tanda bahaya. Pemerintah harus segera tetapkan status siaga DBD dan lakukan fogging serentak,” ujarnya.(wir)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari