Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Bulan Terang, BanjirRendam Permukiman

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)  —  Banjir rob sering menerpa warga Nusa Indah Hujung, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti hari ini, Selasa (26/11) kemarin permukiman warga di sana kembali direndam air laut. Bahkan beberapa kediaman mereka juga ikut sama. Tak kenal waktu, setiap terang bulan, warga mengaku kondisi itu rutin terjadi.

"Kondisi ini  sering dan kerap dialami oleh kami dan warga sempat," ujar salah seorang warga setempat, Salisah kepada Riau Pos.

Menurut Salisah, tinggi airnya pun bervariasi tergantung cahaya bulan. Saat ini tinggi air rata-rata dua kali mata kaki, badan jalan sekitar tak terlihat. Semetara jika bulan terang penuh tinggi air bisa mencapai selutut.

Biasanya, kata dia lagi bulan terang penuh akhir tahun, seperti Desember 2019 mendatang air pasang laut akan naik tinggi. "Setiap bulan pasti banjir. Pantang bulan terang, air pasang naik," ujarnya.

Baca Juga:  Kuota Solar Tambahan Dikucurkan, Antrean Masih Terjadi di Beberapa SPBU

Hingga saat ini, belum nampak upaya pemerintah untuk menangkal air laut masuk ke permukiman warga sekitar. Disamping itu ia tidak menyangkal awal tahun 2019 lalu ada dari pihak dinas ke lokasi.

"Ada kemarin akhir tahun mereka kemari. Mereka ukur ketinggian air. Tapi entah untuk apa, kami tak tahu," ujarnya.

Anak Salisah, Putra menambahkan, jika warga sudah pernah minta bantu ke pemerintah untuk meninggikan badan jalan dan irigasi anak sungai. Pasalnya jika badan jalan itu ditinggikan dan sungainya terbendung pasang air laut dipastikan tidak akan bisa masuk ke permukiman.

"Asal air laut meluap lewat air sungai yang berada di samping badan jalan ini. Jika jalan ini ditinggikan tak bakalan airnya masuk ke permukiman padat di sini,"ungkapnya.

Baca Juga:  PHR Dukung Dua Rumah Vaksinasi 24 Jam Pemprov Riau selama Ramadan

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, At Taufik menyebutkan, jika perubahan iklim  khususnya di daerah tersebut memang berdampak terhadap naiknya air laut atau rob terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Terlebih di Tebingtinggi, dataran rendah. Ketinggian nol sampai 3 meter di atas permukaan laut termasuk dataran rendah dengan permukaan datar atau landai. Bahkan terdapat daerah 10 sampai 30 cm di bawah permukaan laut yang tak jarang menjadi langganan rob dan abrasi penggerusan daerah pesisir.

Untuk meningkatkan ketahan an terhadap ancaman banjir dan rob, pihaknya semula telah membahas ini bersama Pemda Meranti. "Kita telah desak mereka untuk segera buat DED-nya. Namun bergantinya kepala OPD terkait usulan itu mandek," ujarnya.(wir)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)  —  Banjir rob sering menerpa warga Nusa Indah Hujung, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti hari ini, Selasa (26/11) kemarin permukiman warga di sana kembali direndam air laut. Bahkan beberapa kediaman mereka juga ikut sama. Tak kenal waktu, setiap terang bulan, warga mengaku kondisi itu rutin terjadi.

"Kondisi ini  sering dan kerap dialami oleh kami dan warga sempat," ujar salah seorang warga setempat, Salisah kepada Riau Pos.

Menurut Salisah, tinggi airnya pun bervariasi tergantung cahaya bulan. Saat ini tinggi air rata-rata dua kali mata kaki, badan jalan sekitar tak terlihat. Semetara jika bulan terang penuh tinggi air bisa mencapai selutut.

Biasanya, kata dia lagi bulan terang penuh akhir tahun, seperti Desember 2019 mendatang air pasang laut akan naik tinggi. "Setiap bulan pasti banjir. Pantang bulan terang, air pasang naik," ujarnya.

Baca Juga:  Operasional PT BSS Dihentikan Berkala

Hingga saat ini, belum nampak upaya pemerintah untuk menangkal air laut masuk ke permukiman warga sekitar. Disamping itu ia tidak menyangkal awal tahun 2019 lalu ada dari pihak dinas ke lokasi.

"Ada kemarin akhir tahun mereka kemari. Mereka ukur ketinggian air. Tapi entah untuk apa, kami tak tahu," ujarnya.

Anak Salisah, Putra menambahkan, jika warga sudah pernah minta bantu ke pemerintah untuk meninggikan badan jalan dan irigasi anak sungai. Pasalnya jika badan jalan itu ditinggikan dan sungainya terbendung pasang air laut dipastikan tidak akan bisa masuk ke permukiman.

"Asal air laut meluap lewat air sungai yang berada di samping badan jalan ini. Jika jalan ini ditinggikan tak bakalan airnya masuk ke permukiman padat di sini,"ungkapnya.

Baca Juga:  UMKM Perkokoh Perekonomian

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, At Taufik menyebutkan, jika perubahan iklim  khususnya di daerah tersebut memang berdampak terhadap naiknya air laut atau rob terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Terlebih di Tebingtinggi, dataran rendah. Ketinggian nol sampai 3 meter di atas permukaan laut termasuk dataran rendah dengan permukaan datar atau landai. Bahkan terdapat daerah 10 sampai 30 cm di bawah permukaan laut yang tak jarang menjadi langganan rob dan abrasi penggerusan daerah pesisir.

Untuk meningkatkan ketahan an terhadap ancaman banjir dan rob, pihaknya semula telah membahas ini bersama Pemda Meranti. "Kita telah desak mereka untuk segera buat DED-nya. Namun bergantinya kepala OPD terkait usulan itu mandek," ujarnya.(wir)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Bulan Terang, BanjirRendam Permukiman

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)  —  Banjir rob sering menerpa warga Nusa Indah Hujung, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti hari ini, Selasa (26/11) kemarin permukiman warga di sana kembali direndam air laut. Bahkan beberapa kediaman mereka juga ikut sama. Tak kenal waktu, setiap terang bulan, warga mengaku kondisi itu rutin terjadi.

"Kondisi ini  sering dan kerap dialami oleh kami dan warga sempat," ujar salah seorang warga setempat, Salisah kepada Riau Pos.

Menurut Salisah, tinggi airnya pun bervariasi tergantung cahaya bulan. Saat ini tinggi air rata-rata dua kali mata kaki, badan jalan sekitar tak terlihat. Semetara jika bulan terang penuh tinggi air bisa mencapai selutut.

Biasanya, kata dia lagi bulan terang penuh akhir tahun, seperti Desember 2019 mendatang air pasang laut akan naik tinggi. "Setiap bulan pasti banjir. Pantang bulan terang, air pasang naik," ujarnya.

Baca Juga:  Pasien Positif Covid-19 di Riau Tersisa 216 Orang

Hingga saat ini, belum nampak upaya pemerintah untuk menangkal air laut masuk ke permukiman warga sekitar. Disamping itu ia tidak menyangkal awal tahun 2019 lalu ada dari pihak dinas ke lokasi.

"Ada kemarin akhir tahun mereka kemari. Mereka ukur ketinggian air. Tapi entah untuk apa, kami tak tahu," ujarnya.

Anak Salisah, Putra menambahkan, jika warga sudah pernah minta bantu ke pemerintah untuk meninggikan badan jalan dan irigasi anak sungai. Pasalnya jika badan jalan itu ditinggikan dan sungainya terbendung pasang air laut dipastikan tidak akan bisa masuk ke permukiman.

"Asal air laut meluap lewat air sungai yang berada di samping badan jalan ini. Jika jalan ini ditinggikan tak bakalan airnya masuk ke permukiman padat di sini,"ungkapnya.

Baca Juga:  UMKM Perkokoh Perekonomian

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, At Taufik menyebutkan, jika perubahan iklim  khususnya di daerah tersebut memang berdampak terhadap naiknya air laut atau rob terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Terlebih di Tebingtinggi, dataran rendah. Ketinggian nol sampai 3 meter di atas permukaan laut termasuk dataran rendah dengan permukaan datar atau landai. Bahkan terdapat daerah 10 sampai 30 cm di bawah permukaan laut yang tak jarang menjadi langganan rob dan abrasi penggerusan daerah pesisir.

Untuk meningkatkan ketahan an terhadap ancaman banjir dan rob, pihaknya semula telah membahas ini bersama Pemda Meranti. "Kita telah desak mereka untuk segera buat DED-nya. Namun bergantinya kepala OPD terkait usulan itu mandek," ujarnya.(wir)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)  —  Banjir rob sering menerpa warga Nusa Indah Hujung, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti hari ini, Selasa (26/11) kemarin permukiman warga di sana kembali direndam air laut. Bahkan beberapa kediaman mereka juga ikut sama. Tak kenal waktu, setiap terang bulan, warga mengaku kondisi itu rutin terjadi.

"Kondisi ini  sering dan kerap dialami oleh kami dan warga sempat," ujar salah seorang warga setempat, Salisah kepada Riau Pos.

Menurut Salisah, tinggi airnya pun bervariasi tergantung cahaya bulan. Saat ini tinggi air rata-rata dua kali mata kaki, badan jalan sekitar tak terlihat. Semetara jika bulan terang penuh tinggi air bisa mencapai selutut.

Biasanya, kata dia lagi bulan terang penuh akhir tahun, seperti Desember 2019 mendatang air pasang laut akan naik tinggi. "Setiap bulan pasti banjir. Pantang bulan terang, air pasang naik," ujarnya.

Baca Juga:  Kasus Positif Baru di Riau Bertambah 166 orang

Hingga saat ini, belum nampak upaya pemerintah untuk menangkal air laut masuk ke permukiman warga sekitar. Disamping itu ia tidak menyangkal awal tahun 2019 lalu ada dari pihak dinas ke lokasi.

"Ada kemarin akhir tahun mereka kemari. Mereka ukur ketinggian air. Tapi entah untuk apa, kami tak tahu," ujarnya.

Anak Salisah, Putra menambahkan, jika warga sudah pernah minta bantu ke pemerintah untuk meninggikan badan jalan dan irigasi anak sungai. Pasalnya jika badan jalan itu ditinggikan dan sungainya terbendung pasang air laut dipastikan tidak akan bisa masuk ke permukiman.

"Asal air laut meluap lewat air sungai yang berada di samping badan jalan ini. Jika jalan ini ditinggikan tak bakalan airnya masuk ke permukiman padat di sini,"ungkapnya.

Baca Juga:  SK Tarif Belum Keluar, Tol Permai Masih Gratis

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, At Taufik menyebutkan, jika perubahan iklim  khususnya di daerah tersebut memang berdampak terhadap naiknya air laut atau rob terjadi sejak belasan tahun terakhir.

Terlebih di Tebingtinggi, dataran rendah. Ketinggian nol sampai 3 meter di atas permukaan laut termasuk dataran rendah dengan permukaan datar atau landai. Bahkan terdapat daerah 10 sampai 30 cm di bawah permukaan laut yang tak jarang menjadi langganan rob dan abrasi penggerusan daerah pesisir.

Untuk meningkatkan ketahan an terhadap ancaman banjir dan rob, pihaknya semula telah membahas ini bersama Pemda Meranti. "Kita telah desak mereka untuk segera buat DED-nya. Namun bergantinya kepala OPD terkait usulan itu mandek," ujarnya.(wir)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari