Minggu, 14 Juli 2024

41 Kecamatan dan 121 Desa di Riau Terdampak

Minimalisir Banjir, Lakukan Modifikasi Cuaca

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi di Riau hingga akhir Januari. Dengan demikian, potensi terjadi banjir di Riau masih besar. Untuk mengantisipasi banjir meluas, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pun akan dilakukan.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Darurat Bencana Banjir di Gedung Daerah Riau, Pekanbaru, Jumat (19/1). ‘’Untuk meminimalisir terjadinya banjir, akan dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca di Riau,” sebutnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau M Edy Afrizal mengatakan, untuk melakukan TMC tersebut pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan BMKG terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan karena TMC pada masa cuaca kemarau berbeda dengan TMC ketika musim hujan. “Kami akan koordinasi dengan BMKG untuk kegiatan TMC di Riau. Termasuk dengan pihak BNBP dan juga BRIN,” ujarnya.

Dijelaskan Edy Afrizal, TMC di musim hujan dilakukan untuk membuat hujan tidak turun di lokasi yang sedang terjadi banjir. Hal ini untuk mengurangi potensi banjir di daerah tersebut. “Jadi hujan-hujan nantinya akan diarahkan ke daerah lautan. Sementara itu untuk kondisi banjir di Riau saat ini juga sudah ada yang mulai surut, seperti di Kuansing, Rokan Hulu dan Bengkalis,” sebutnya.

- Advertisement -

Sementara itu, dalam Rakor Penanganan Darurat Bencana Banjir yang diikuti para kepala daerah di Riau kemarin, Gubernur Riau Edy Natar Nasution menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan puting beliung) tahun 2023.  Status tersebut terhitung sejak 22 Desember 2023 sampai dengan 31 Januari 2024.

Penetapan status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts. 7743/XII/2023 tentang Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Provinsi Riau tahun 2023. “Provinsi Riau telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi ini kurang lebih selama 40 hari. Ini mengingat 10 dari 12 kabupaten/kota di Riau dalam kondisi yang hampir semua banjir,” ujarnya.

Baca Juga:  Infrastruktur Perhubungan Dongkrak Perekonomian

Gubri Edy Nasution juga menyebutkan, 10 daerah yang terdampak banjir di Riau terdiri dari 41 kecamatan dan 121 desa. Adapun rinciannya, Kota Pekanbaru (4 kecamatan dan 6 kelurahan), Indragiri Hilir (5 kecamatan dan 5 desa), Indragiri Hulu (2 kecamatan dan 3 desa),  Pelalawan (6 kecamatan dan 24 desa).

Selanjutnya, Bengkalis (4 kecamatan dan 7 desa), Kampar (3 kecamatan dan 3 desa), Kuantan Singingi (4 kecamatan dan 7 desa), Rokan Hilir (10 kecamatan dan 60 desa), Rokan Hulu (1 kecamatan dan 2 desa), dan Kepulauan Meranti (2 kecamatan dan 4 desa).  “Daerah yang paling banyak terdampak itu ada di Kabupaten Rokan Hilir,” ujarnya.

Warga Mengungsi

Ya, banjir yang melanda daerah Rokan Hilir (Rohil) tak terasa sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Dampaknya, sebagian masyarakat di sejumlah daerah kecamatan yang dilanda banjir terpaksa mengungsi karena kondisi rumah dan lingkungan yang tak memungkinkan untuk ditempati.

Pengungsian yang cukup banyak terjadi di daerah Ujung Tanjung Kecamatan Tanah Putih. Salah satu posko terlihat berada di sekitaran Jembatan Ujung Tanjung di Dusun Terminal. Ketua RW 02 Dusun Terminal Ujung Tanjung Arifidal mengatakan, warga telah mengungsi sejak sebulan terakhir.

Di Dusun Terminal terdapat sebanyak 111 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir dengan ketinggian umumnya satu meter lebih. “Untuk di RT 1 itu sekitar 320 jiwa dan ada beberapa RT yang terdampak. Sebagai antisipasi telah ada posko dekat jembatan Dusun Terminal,” katanya, Jumat (19/1).

Sejauh ini, kebanyakan warga yang mengungsi memilih menumpang di rumah keluarga atau kerabat. Ada yang memilih menyewa rumah di tempat yang lebih aman dari banjir. Sementara sebagian memilih untuk tinggal di posko pengungsian.

Posko pengungsian kondisinya cukup memprihatinkan, hanya berupa tenda terpal yang dibuat seadanya. Saat Riau Pos meninjau langsung terlihat suasana yang tak terlihat nyaman, ruangan sempit. Tumpukan peralatan rumah tangga atau barang-barang milik pengungsi bergeletakan.

Baca Juga:  Rusli Zainal Bebas dari Penjara, Keluarga Siapkan Acara Mendoa

Sementara pengungsi tinggal seadanya melewatkan waktu di tenda. Saat siang hari, hawa di dalam tenda terasa panas menguap. “Untuk yang di posko di titik Jembatan ini ada 13 KK yang tinggal,” kata Arifidal.

Warga tersebut cukup lama bertahan di posko. Sementara dengan lingkungan yang terus digenangi air dalam jangka waktu lama menimbulkan efek buruk bagi anak-anak.

Ketua RW 01, Arafik menyebutkan, sudah ada anak-anak yang terkena penyakit gatal-gatal. “Sudah ada yang gatal-gatal, tapi memang dari pihak puskesmas sudah siaga, mereka bekerja sejak pagi sampai siang setiap harinya,” kata Arafik.

Selain itu, kondisi banjir yang berkepanjangan ini telah memukul perekonomian warga untuk memenuhi keperluan hidup sehari-harinya. Mengingat umumnya warga di RW yang dipimpinnya adalah petani dan nelayan sungai.

Kondisi banjir besar ini mengakibatkan warga tak bisa beraktivitas seperti biasanya. “Areal perkebunan terendam, bagaimana mau memanfaatkan lahan. Begitu juga mendodos tak bisa, sementara kalau yang nelayan kesulitan memperoleh hasil tangkapan,” katanya.

Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Rokan Hilir (Rohil) melakukan aksi peduli bencana alam banjir bersama Persinas Arsad, Senkom Mitra Polri dan Forum Sepakbola Generasi Indonesia (Forsgi).

Secara khusus kegiatan solidaritas ini untuk membantu korban banjir yang ada di wilayah Kecamatan Bangko Pusako dan Kecamatan Pujud. “Alhamdulillah hasil yang didapat kami belikan bahan pokok berupa beras, mie dan telur. Sebagian sudah kami salurkan ke korban banjir di Kecamatan Bangko Pusako,” Kata Ketua DPD LDII Rohil H Sarman Syahroni ST MIP, Jumat (19/1).

Sementara untuk di Kecamatan Pujud, Sekwan DPRD Rohil ini mengatakan, bantuan akan diserahkan Sabtu (20/1) hari ini. “Aksi solidaritas yang kami lakukan ini tentunya diharapkan dapat mengurangi beban dan membantu biaya hidup warga. Karena akibat dari banjir tersebut, banyak warga yang tidak bisa bekerja terutama di sektor pertanian dan perkebunan,” kata Sarman.(sol/fad)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi di Riau hingga akhir Januari. Dengan demikian, potensi terjadi banjir di Riau masih besar. Untuk mengantisipasi banjir meluas, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pun akan dilakukan.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Darurat Bencana Banjir di Gedung Daerah Riau, Pekanbaru, Jumat (19/1). ‘’Untuk meminimalisir terjadinya banjir, akan dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca di Riau,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau M Edy Afrizal mengatakan, untuk melakukan TMC tersebut pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan BMKG terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan karena TMC pada masa cuaca kemarau berbeda dengan TMC ketika musim hujan. “Kami akan koordinasi dengan BMKG untuk kegiatan TMC di Riau. Termasuk dengan pihak BNBP dan juga BRIN,” ujarnya.

Dijelaskan Edy Afrizal, TMC di musim hujan dilakukan untuk membuat hujan tidak turun di lokasi yang sedang terjadi banjir. Hal ini untuk mengurangi potensi banjir di daerah tersebut. “Jadi hujan-hujan nantinya akan diarahkan ke daerah lautan. Sementara itu untuk kondisi banjir di Riau saat ini juga sudah ada yang mulai surut, seperti di Kuansing, Rokan Hulu dan Bengkalis,” sebutnya.

Sementara itu, dalam Rakor Penanganan Darurat Bencana Banjir yang diikuti para kepala daerah di Riau kemarin, Gubernur Riau Edy Natar Nasution menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan puting beliung) tahun 2023.  Status tersebut terhitung sejak 22 Desember 2023 sampai dengan 31 Januari 2024.

Penetapan status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: Kpts. 7743/XII/2023 tentang Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Provinsi Riau tahun 2023. “Provinsi Riau telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi ini kurang lebih selama 40 hari. Ini mengingat 10 dari 12 kabupaten/kota di Riau dalam kondisi yang hampir semua banjir,” ujarnya.

Baca Juga:  Roda 4 Dilarang Lewat, Dialihkan ke Lintas Tengah

Gubri Edy Nasution juga menyebutkan, 10 daerah yang terdampak banjir di Riau terdiri dari 41 kecamatan dan 121 desa. Adapun rinciannya, Kota Pekanbaru (4 kecamatan dan 6 kelurahan), Indragiri Hilir (5 kecamatan dan 5 desa), Indragiri Hulu (2 kecamatan dan 3 desa),  Pelalawan (6 kecamatan dan 24 desa).

Selanjutnya, Bengkalis (4 kecamatan dan 7 desa), Kampar (3 kecamatan dan 3 desa), Kuantan Singingi (4 kecamatan dan 7 desa), Rokan Hilir (10 kecamatan dan 60 desa), Rokan Hulu (1 kecamatan dan 2 desa), dan Kepulauan Meranti (2 kecamatan dan 4 desa).  “Daerah yang paling banyak terdampak itu ada di Kabupaten Rokan Hilir,” ujarnya.

Warga Mengungsi

Ya, banjir yang melanda daerah Rokan Hilir (Rohil) tak terasa sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Dampaknya, sebagian masyarakat di sejumlah daerah kecamatan yang dilanda banjir terpaksa mengungsi karena kondisi rumah dan lingkungan yang tak memungkinkan untuk ditempati.

Pengungsian yang cukup banyak terjadi di daerah Ujung Tanjung Kecamatan Tanah Putih. Salah satu posko terlihat berada di sekitaran Jembatan Ujung Tanjung di Dusun Terminal. Ketua RW 02 Dusun Terminal Ujung Tanjung Arifidal mengatakan, warga telah mengungsi sejak sebulan terakhir.

Di Dusun Terminal terdapat sebanyak 111 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir dengan ketinggian umumnya satu meter lebih. “Untuk di RT 1 itu sekitar 320 jiwa dan ada beberapa RT yang terdampak. Sebagai antisipasi telah ada posko dekat jembatan Dusun Terminal,” katanya, Jumat (19/1).

Sejauh ini, kebanyakan warga yang mengungsi memilih menumpang di rumah keluarga atau kerabat. Ada yang memilih menyewa rumah di tempat yang lebih aman dari banjir. Sementara sebagian memilih untuk tinggal di posko pengungsian.

Posko pengungsian kondisinya cukup memprihatinkan, hanya berupa tenda terpal yang dibuat seadanya. Saat Riau Pos meninjau langsung terlihat suasana yang tak terlihat nyaman, ruangan sempit. Tumpukan peralatan rumah tangga atau barang-barang milik pengungsi bergeletakan.

Baca Juga:  Wabup Nilai Perlu Penguatan Karakter Pendidikan

Sementara pengungsi tinggal seadanya melewatkan waktu di tenda. Saat siang hari, hawa di dalam tenda terasa panas menguap. “Untuk yang di posko di titik Jembatan ini ada 13 KK yang tinggal,” kata Arifidal.

Warga tersebut cukup lama bertahan di posko. Sementara dengan lingkungan yang terus digenangi air dalam jangka waktu lama menimbulkan efek buruk bagi anak-anak.

Ketua RW 01, Arafik menyebutkan, sudah ada anak-anak yang terkena penyakit gatal-gatal. “Sudah ada yang gatal-gatal, tapi memang dari pihak puskesmas sudah siaga, mereka bekerja sejak pagi sampai siang setiap harinya,” kata Arafik.

Selain itu, kondisi banjir yang berkepanjangan ini telah memukul perekonomian warga untuk memenuhi keperluan hidup sehari-harinya. Mengingat umumnya warga di RW yang dipimpinnya adalah petani dan nelayan sungai.

Kondisi banjir besar ini mengakibatkan warga tak bisa beraktivitas seperti biasanya. “Areal perkebunan terendam, bagaimana mau memanfaatkan lahan. Begitu juga mendodos tak bisa, sementara kalau yang nelayan kesulitan memperoleh hasil tangkapan,” katanya.

Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Rokan Hilir (Rohil) melakukan aksi peduli bencana alam banjir bersama Persinas Arsad, Senkom Mitra Polri dan Forum Sepakbola Generasi Indonesia (Forsgi).

Secara khusus kegiatan solidaritas ini untuk membantu korban banjir yang ada di wilayah Kecamatan Bangko Pusako dan Kecamatan Pujud. “Alhamdulillah hasil yang didapat kami belikan bahan pokok berupa beras, mie dan telur. Sebagian sudah kami salurkan ke korban banjir di Kecamatan Bangko Pusako,” Kata Ketua DPD LDII Rohil H Sarman Syahroni ST MIP, Jumat (19/1).

Sementara untuk di Kecamatan Pujud, Sekwan DPRD Rohil ini mengatakan, bantuan akan diserahkan Sabtu (20/1) hari ini. “Aksi solidaritas yang kami lakukan ini tentunya diharapkan dapat mengurangi beban dan membantu biaya hidup warga. Karena akibat dari banjir tersebut, banyak warga yang tidak bisa bekerja terutama di sektor pertanian dan perkebunan,” kata Sarman.(sol/fad)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari