Rabu, 22 April 2026
- Advertisement -

Waspada Kabut Asap! Karhutla di Riau Kembali Ganggu Aktivitas Warga

RIAUPOS.CO – Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap pada Senin pagi (30/6). Mulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, udara terasa tidak sehat. Banyak pengendara motor dan pejalan kaki mengeluhkan sesak napas dan jarak pandang yang menurun.

Salah satunya, Syafrizal (39), yang melintas di kawasan HR Soebrantas dan Tuanku Tambusai. “Bau asap cukup menyengat, jarak pandang cuma sekitar 100 meter. Saya terpaksa pakai masker karena sesak di dada,” katanya.

Ia berharap kabut ini tidak menjadi tanda-tanda akan terulangnya bencana kabut asap besar seperti tahun 2019 lalu. Hal serupa juga dirasakan Veri (52), yang mengeluhkan mata perih dan napas yang mulai terganggu akibat paparan asap.

Baca Juga:  Karhutla Meluas di Rohul, Pemadaman Terkendala Medan Sulit dan Minim Air

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menyebut sumber kabut asap berasal dari kebakaran lahan gambut di Tapung, Kabupaten Kampar, yang sudah berlangsung selama tiga hari.

“Lokasinya di lahan gambut, jadi proses pemadaman butuh waktu lebih lama,” jelas Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal. Ia juga menyebut hanya satu helikopter water bombing yang tersedia saat ini, sehingga pemadaman belum optimal. Bantuan helikopter tambahan tengah diupayakan.

Saat ini, seluruh kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat penanganan dan antisipasi kebakaran agar tidak meluas.

Menurut Kepala BMKG Pekanbaru, Irwansyah Nasution, satelit mendeteksi empat titik panas di wilayah Riau—namun tidak secara spesifik di Kampar atau Pekanbaru. Namun, berdasarkan pengamatan visual dan laporan lapangan, kabut asap kemungkinan berasal dari sisa kebakaran skala kecil.

Baca Juga:  Hujan Dua Jam, Dua Jalan Protokol Banjir

Di Tapung, lahan yang terbakar merupakan milik warga berupa semak belukar dan kebun sawit seluas dua hektare. Tim gabungan masih melakukan penyekatan dan pendinginan di lokasi untuk mencegah api kembali menyala.

 

RIAUPOS.CO – Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap pada Senin pagi (30/6). Mulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, udara terasa tidak sehat. Banyak pengendara motor dan pejalan kaki mengeluhkan sesak napas dan jarak pandang yang menurun.

Salah satunya, Syafrizal (39), yang melintas di kawasan HR Soebrantas dan Tuanku Tambusai. “Bau asap cukup menyengat, jarak pandang cuma sekitar 100 meter. Saya terpaksa pakai masker karena sesak di dada,” katanya.

Ia berharap kabut ini tidak menjadi tanda-tanda akan terulangnya bencana kabut asap besar seperti tahun 2019 lalu. Hal serupa juga dirasakan Veri (52), yang mengeluhkan mata perih dan napas yang mulai terganggu akibat paparan asap.

Baca Juga:  Sosok Pekerja Keras untuk Kemajuan Pariwisata

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menyebut sumber kabut asap berasal dari kebakaran lahan gambut di Tapung, Kabupaten Kampar, yang sudah berlangsung selama tiga hari.

“Lokasinya di lahan gambut, jadi proses pemadaman butuh waktu lebih lama,” jelas Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal. Ia juga menyebut hanya satu helikopter water bombing yang tersedia saat ini, sehingga pemadaman belum optimal. Bantuan helikopter tambahan tengah diupayakan.

- Advertisement -

Saat ini, seluruh kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat penanganan dan antisipasi kebakaran agar tidak meluas.

Menurut Kepala BMKG Pekanbaru, Irwansyah Nasution, satelit mendeteksi empat titik panas di wilayah Riau—namun tidak secara spesifik di Kampar atau Pekanbaru. Namun, berdasarkan pengamatan visual dan laporan lapangan, kabut asap kemungkinan berasal dari sisa kebakaran skala kecil.

- Advertisement -
Baca Juga:  Sri Meranti dan Meranti Pandak Masih Terendam

Di Tapung, lahan yang terbakar merupakan milik warga berupa semak belukar dan kebun sawit seluas dua hektare. Tim gabungan masih melakukan penyekatan dan pendinginan di lokasi untuk mencegah api kembali menyala.

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

RIAUPOS.CO – Kota Pekanbaru kembali diselimuti kabut asap pada Senin pagi (30/6). Mulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, udara terasa tidak sehat. Banyak pengendara motor dan pejalan kaki mengeluhkan sesak napas dan jarak pandang yang menurun.

Salah satunya, Syafrizal (39), yang melintas di kawasan HR Soebrantas dan Tuanku Tambusai. “Bau asap cukup menyengat, jarak pandang cuma sekitar 100 meter. Saya terpaksa pakai masker karena sesak di dada,” katanya.

Ia berharap kabut ini tidak menjadi tanda-tanda akan terulangnya bencana kabut asap besar seperti tahun 2019 lalu. Hal serupa juga dirasakan Veri (52), yang mengeluhkan mata perih dan napas yang mulai terganggu akibat paparan asap.

Baca Juga:  Dua Wartawan Senior Riau Pos Juara LKTJ PWI 2022

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menyebut sumber kabut asap berasal dari kebakaran lahan gambut di Tapung, Kabupaten Kampar, yang sudah berlangsung selama tiga hari.

“Lokasinya di lahan gambut, jadi proses pemadaman butuh waktu lebih lama,” jelas Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal. Ia juga menyebut hanya satu helikopter water bombing yang tersedia saat ini, sehingga pemadaman belum optimal. Bantuan helikopter tambahan tengah diupayakan.

Saat ini, seluruh kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat penanganan dan antisipasi kebakaran agar tidak meluas.

Menurut Kepala BMKG Pekanbaru, Irwansyah Nasution, satelit mendeteksi empat titik panas di wilayah Riau—namun tidak secara spesifik di Kampar atau Pekanbaru. Namun, berdasarkan pengamatan visual dan laporan lapangan, kabut asap kemungkinan berasal dari sisa kebakaran skala kecil.

Baca Juga:  Kol Inf Parlindungan Naik Pangkat ke Brigjen TNI

Di Tapung, lahan yang terbakar merupakan milik warga berupa semak belukar dan kebun sawit seluas dua hektare. Tim gabungan masih melakukan penyekatan dan pendinginan di lokasi untuk mencegah api kembali menyala.

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari