Minggu, 6 April 2025
spot_img

KPU Usul Durasi Kampanye Pemilu 2024 Selama 7 Bulan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  Partai Gelora Indonesia Persilakan Anggota FPI dan PA 212 Bergabung

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Zulhas Coret 10 Loyalis Amien

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  Baliho Firli Bukan dari Anggaran KPK

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Pengamat Duga Peran Luhut Panjaitan Digeser Budi Gunawan

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

KPU Usul Durasi Kampanye Pemilu 2024 Selama 7 Bulan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  Sidang Pendahuluan PHPU Kampar Digelar MK, Pemohon Minta PSU di Empat Kecamatan

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Penetapan Caleg Terpilih Tunggu KPU RI

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra mengusulkan agar masa kampenye di Pemilu 2024 dilaksanakan selama 7 bulan. Hal itu untuk menyamakan durasi kampanye pada Pemilu 2019 lalu, sekaligus menghindari potensi telatnya logistik datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Oleh karenanya KPU mengusulkan durasi kampanye dengan menyamakan durasi kampanye pada pelaksanaan Pemilu 2019 yaitu selama 209 hari atau 7 bulan, untuk menghindari potensi tidak tepatnya logistik datang ke TPS," ujar Ilham dalam rapat dengan Komisi II DPR, Kamis (16/9).

lham juga mengatakan, kamapanye selama 7 bulan tersebut, pihaknya akan melakukan proses pengadaan logistik selama 1 bulan. Kemudian ditambahkan durasi waktu jika gagal lelang selama 2 bulan.

Baca Juga:  Sidang Pendahuluan PHPU Kampar Digelar MK, Pemohon Minta PSU di Empat Kecamatan

"Proses pengadaan satu bulan, proses pengadaan termasuk potensi penambahan waktu jika ada gagal lelang 2 bulan," ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pelaksanaan pekerjaan ini termasuk proses produksi sampai pengiriman kabupaten/kota 3 bulan, pengelolaan gudang itu 50 hari.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku tidak setuju kampanye dilakukan selama 7 bulan. Hal itu lantaran belajar dari Pemilu 2019, ketika ia masih menjabat Kapolri masyarakat terpolarisasi cukup lama.

"Tujuh bulan pertimbangannya sederhana yaitu pertimbangan pengadaan logistik, tapi dampaknya tujuh bulannya itu kita belajar dari kemarin 2019 pengalaman saya sebagai Kapolri, jujur saja, kasihan melihat bangsa, terpolarisasi demikian selama tujuh bulan," ujar Tito.

Tito menilai, masa kampanye sebaiknya lebih pendek supaya masyarakat tidak terpolarisasi. Sebab bila masyarakat terbelah berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Sehingga hal ini bisa dijadikan pertimbangan.

Baca Juga:  Soal Staf Khusus Presiden, PKS: Jangan Biarkan Jokowi Bingung

"Tapi faktanya polarisasi itu akan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan dan konflik dan kekerasan yang kita alami," katanya.

Untuk itu, mantan Kapolri ini mengusulkan supaya masa kampanye di Pemilu 2024 diperpendek dari 6 bulan menjadi 4 bulan.

"Oleh karena itu, masa kampanye ini tetap diperpendek. Tadi saat konsinyering dari 6 bulan ke 4 bulan," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari