Rabu, 2 April 2025
spot_img

Buku Bajakan Marak di Situs Belanja Online, Tere Liye Kritik Begini

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Darwis, penulis buku dan pemilik nama pena Tere Liye pada unggahan Facebook miliknya sampaikan keresahan soal penjualan buku bajakan yang marak pada marketplace situs belanja online.

Dalam postingan di facebooknya, Rabu (26/5), Tere Liye mengunggah tulisan Tere Liye Fans yang mengkritik pembajak buku.

“Buku Tere Liye yang dijual di Marketplace dengan harga 20.000 s/d 30.000 per buku, nyaris 100% bisa dipastikan adalah bajakan. Kalau memang tidak punya uang pinjam saja. gratis. atau download aplikasi perpustakaan nasional. lagi-lagi gratis,” tulis Ali Cs pada unggahan Bang Tere, sapaan akrabnya.

Maraknya buku bajakan yang dijual online itupun menuai komentar penulis buku ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ tersebut. Tere Liye sampaikan keluhan sebagai penulis yang harus membayar semua pajak buku.

Baca Juga:  Diduga Balap Liar, 11 Motor Diamankan

“Berhentilah egois sekali dengan semua pemahaman sempit kalian. Lantas memaki penulis bilang tidak ikhlas, kok penulis bego bisa kalah sama pembajak. Buku original itu harus membayar semua pajak, semua biaya2 selain biaya cetak. Pembajak itu tentu saja mereka bisa jual murah, karena mereka hanya bayar nol semua. Tinggal bajak, beres,” tegas Darwis.

Kasus pembajakan buku dan dijual murah di situs belanja online pun mengundang banyak komentar di media sosial. Sebagai penulis Boy Candra juga angkat bicara melalui ciutan Twitter miliknya.

“Nggak heran, banyak kawan-kawan penulis yang akhirnya malas buka suara menolak pembajakan. Toh, kadang mereka dibully oleh orang-orang yang justru katanya mencintai buku. Ngebela hak pekerja buku dan industri tempat bukunya tumbuh malah dibully. Dibilang pelit dan sebagainya,” jelas Boy Candra.

Baca Juga:  Tim PKM UIR Gunakan Game Edukasi di MTS Diniyyah Putri Pekanbaru

Dalam postingan lainya, Boy Candra menuliskan dukunganya sebagai penulis buku, ia menuliskan tidak menerima 100% keuntungan dari penjualan buku dan harus melawan pembajak buku.

“Di negara ini, buku seolah-olah produk penulis doang. Seolah-olah yang diuntungkan cuma penulis doang. Padahal penulis cuma nerima 10%-an royalti. Giliran promo dan pasang badan ngelawan pembajakan harus paling depan. Udah gitu dikatai sama orang-orang lain. Ya sudahlah,” tutup Boy Candra.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Eka G Putra

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Darwis, penulis buku dan pemilik nama pena Tere Liye pada unggahan Facebook miliknya sampaikan keresahan soal penjualan buku bajakan yang marak pada marketplace situs belanja online.

Dalam postingan di facebooknya, Rabu (26/5), Tere Liye mengunggah tulisan Tere Liye Fans yang mengkritik pembajak buku.

“Buku Tere Liye yang dijual di Marketplace dengan harga 20.000 s/d 30.000 per buku, nyaris 100% bisa dipastikan adalah bajakan. Kalau memang tidak punya uang pinjam saja. gratis. atau download aplikasi perpustakaan nasional. lagi-lagi gratis,” tulis Ali Cs pada unggahan Bang Tere, sapaan akrabnya.

Maraknya buku bajakan yang dijual online itupun menuai komentar penulis buku ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ tersebut. Tere Liye sampaikan keluhan sebagai penulis yang harus membayar semua pajak buku.

Baca Juga:  Profesi Barista Makin Naik Kelas

“Berhentilah egois sekali dengan semua pemahaman sempit kalian. Lantas memaki penulis bilang tidak ikhlas, kok penulis bego bisa kalah sama pembajak. Buku original itu harus membayar semua pajak, semua biaya2 selain biaya cetak. Pembajak itu tentu saja mereka bisa jual murah, karena mereka hanya bayar nol semua. Tinggal bajak, beres,” tegas Darwis.

Kasus pembajakan buku dan dijual murah di situs belanja online pun mengundang banyak komentar di media sosial. Sebagai penulis Boy Candra juga angkat bicara melalui ciutan Twitter miliknya.

“Nggak heran, banyak kawan-kawan penulis yang akhirnya malas buka suara menolak pembajakan. Toh, kadang mereka dibully oleh orang-orang yang justru katanya mencintai buku. Ngebela hak pekerja buku dan industri tempat bukunya tumbuh malah dibully. Dibilang pelit dan sebagainya,” jelas Boy Candra.

Baca Juga:  Penyidik Kejari Terus Dalami Dugaan Korupsi Anggota DPRD Inhu

Dalam postingan lainya, Boy Candra menuliskan dukunganya sebagai penulis buku, ia menuliskan tidak menerima 100% keuntungan dari penjualan buku dan harus melawan pembajak buku.

“Di negara ini, buku seolah-olah produk penulis doang. Seolah-olah yang diuntungkan cuma penulis doang. Padahal penulis cuma nerima 10%-an royalti. Giliran promo dan pasang badan ngelawan pembajakan harus paling depan. Udah gitu dikatai sama orang-orang lain. Ya sudahlah,” tutup Boy Candra.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Eka G Putra

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Buku Bajakan Marak di Situs Belanja Online, Tere Liye Kritik Begini

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Darwis, penulis buku dan pemilik nama pena Tere Liye pada unggahan Facebook miliknya sampaikan keresahan soal penjualan buku bajakan yang marak pada marketplace situs belanja online.

Dalam postingan di facebooknya, Rabu (26/5), Tere Liye mengunggah tulisan Tere Liye Fans yang mengkritik pembajak buku.

“Buku Tere Liye yang dijual di Marketplace dengan harga 20.000 s/d 30.000 per buku, nyaris 100% bisa dipastikan adalah bajakan. Kalau memang tidak punya uang pinjam saja. gratis. atau download aplikasi perpustakaan nasional. lagi-lagi gratis,” tulis Ali Cs pada unggahan Bang Tere, sapaan akrabnya.

Maraknya buku bajakan yang dijual online itupun menuai komentar penulis buku ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ tersebut. Tere Liye sampaikan keluhan sebagai penulis yang harus membayar semua pajak buku.

Baca Juga:  Berdayakan Warga, Ubah Sampah Plastik Jadi Paving Block

“Berhentilah egois sekali dengan semua pemahaman sempit kalian. Lantas memaki penulis bilang tidak ikhlas, kok penulis bego bisa kalah sama pembajak. Buku original itu harus membayar semua pajak, semua biaya2 selain biaya cetak. Pembajak itu tentu saja mereka bisa jual murah, karena mereka hanya bayar nol semua. Tinggal bajak, beres,” tegas Darwis.

Kasus pembajakan buku dan dijual murah di situs belanja online pun mengundang banyak komentar di media sosial. Sebagai penulis Boy Candra juga angkat bicara melalui ciutan Twitter miliknya.

“Nggak heran, banyak kawan-kawan penulis yang akhirnya malas buka suara menolak pembajakan. Toh, kadang mereka dibully oleh orang-orang yang justru katanya mencintai buku. Ngebela hak pekerja buku dan industri tempat bukunya tumbuh malah dibully. Dibilang pelit dan sebagainya,” jelas Boy Candra.

Baca Juga:  Diduga Balap Liar, 11 Motor Diamankan

Dalam postingan lainya, Boy Candra menuliskan dukunganya sebagai penulis buku, ia menuliskan tidak menerima 100% keuntungan dari penjualan buku dan harus melawan pembajak buku.

“Di negara ini, buku seolah-olah produk penulis doang. Seolah-olah yang diuntungkan cuma penulis doang. Padahal penulis cuma nerima 10%-an royalti. Giliran promo dan pasang badan ngelawan pembajakan harus paling depan. Udah gitu dikatai sama orang-orang lain. Ya sudahlah,” tutup Boy Candra.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Eka G Putra

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Darwis, penulis buku dan pemilik nama pena Tere Liye pada unggahan Facebook miliknya sampaikan keresahan soal penjualan buku bajakan yang marak pada marketplace situs belanja online.

Dalam postingan di facebooknya, Rabu (26/5), Tere Liye mengunggah tulisan Tere Liye Fans yang mengkritik pembajak buku.

“Buku Tere Liye yang dijual di Marketplace dengan harga 20.000 s/d 30.000 per buku, nyaris 100% bisa dipastikan adalah bajakan. Kalau memang tidak punya uang pinjam saja. gratis. atau download aplikasi perpustakaan nasional. lagi-lagi gratis,” tulis Ali Cs pada unggahan Bang Tere, sapaan akrabnya.

Maraknya buku bajakan yang dijual online itupun menuai komentar penulis buku ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ tersebut. Tere Liye sampaikan keluhan sebagai penulis yang harus membayar semua pajak buku.

Baca Juga:  Tips Koreksi Bagian Bawah Mata dan Pipi Cukup dengan Make-Up

“Berhentilah egois sekali dengan semua pemahaman sempit kalian. Lantas memaki penulis bilang tidak ikhlas, kok penulis bego bisa kalah sama pembajak. Buku original itu harus membayar semua pajak, semua biaya2 selain biaya cetak. Pembajak itu tentu saja mereka bisa jual murah, karena mereka hanya bayar nol semua. Tinggal bajak, beres,” tegas Darwis.

Kasus pembajakan buku dan dijual murah di situs belanja online pun mengundang banyak komentar di media sosial. Sebagai penulis Boy Candra juga angkat bicara melalui ciutan Twitter miliknya.

“Nggak heran, banyak kawan-kawan penulis yang akhirnya malas buka suara menolak pembajakan. Toh, kadang mereka dibully oleh orang-orang yang justru katanya mencintai buku. Ngebela hak pekerja buku dan industri tempat bukunya tumbuh malah dibully. Dibilang pelit dan sebagainya,” jelas Boy Candra.

Baca Juga:  Pertanyakan Masalah Banjir dan Pengelolaan Sampah

Dalam postingan lainya, Boy Candra menuliskan dukunganya sebagai penulis buku, ia menuliskan tidak menerima 100% keuntungan dari penjualan buku dan harus melawan pembajak buku.

“Di negara ini, buku seolah-olah produk penulis doang. Seolah-olah yang diuntungkan cuma penulis doang. Padahal penulis cuma nerima 10%-an royalti. Giliran promo dan pasang badan ngelawan pembajakan harus paling depan. Udah gitu dikatai sama orang-orang lain. Ya sudahlah,” tutup Boy Candra.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Eka G Putra

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari