Rabu, 4 Februari 2026
- Advertisement -

Perlunya Pendidikan Bencana Banjir

Banjir yang melanda Sumatera Barat dan Riau patut menjadi catatan bersama. Meskipun ini bukan yang pertama, akselerasinya yang makin masif patut menggugah semua orang untuk mencari solusinya. Padahal banjir ini belum termasuk banjir besar, tapi  telah memakan korban jiwa.
Saatnya kita tidak berdebat tentang penyebabnya. Entah karena cuaca yang sedang buruk atau cuaca yang buruk itu karena dampak perubahan iklim global, yang pasti dan mengharuskan kita ialah mengubah tatanan dan orientasi kebijakan manajemen lingkungan, manajemen antisipasi bencana, serta sistem pemantauan perkiraan cuaca yang harus lebih canggih.
Sudah waktunya kita memosisikan diri sebagai kawasan negeri yang makin kecil keamanan dari ancaman bencana alam. Penanganan banjir secara menyeluruh, mulai dari tingkat RT sampai Gubernur. 
Dengan begitu, semua lapisan dan komponen masyarakat paham bahwa setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun selalu mengonsolidasi diri untuk mengantisipasi ancaman bencana.
Kita tidak perlu lagi berdebat siapa yang memicu bencana itu. Tidak pula perlu banyak cakap siapa yang paling bertanggung jawab untuk mengantisipasi dan melakukan pencegahan agar masing-masing provinsi/kabupaten/kota aman.
Justru yang lebih urgen ialah bagaimana memobilisasi kesadaran, tindakan, dan implementasi kebijakan yang tepat dan relevan untuk menghadapi ancaman bencana apa pun. 
Ancaman bencana saat ini dan ke depan telah sama merisaukannya setara dengan ancaman kelaparan, ketidakadilan hukum dan ekonomi, atau ancaman krisis energi.
Oleh sebab itu, perlu segala cara dan upaya agar ancaman bencana alam dan sejenisnya dapat menyadarkan semua orang untuk memiliki kemampuan untuk selamat. Bisa melalui pendidikan seputar banjir. Bisa dijadikan muatan lokal, atau disampaikan melalui ceramah di masjid, sehingga warga paham apa saja yang harus dilakukan saat banjir melanda kampung mereka.
Bagi ibu-ibu, mereka diutamakan menjaga anak balitanya saat banjir melanda kampung mereka. Mungkin ini kelihatan sederhana, tetapi pendidikan tentang bencana banjir ini perlu disosialisasikan ke semua warga.
Selama ini yang sering disosialisasikan tentang sikap dalam menghadapi bencana tsunami dan gempa, sementara daerah Riau, yang sering dilanda banjir, kekeringan, kabut asap, belum maksimal dilakukan.
Pendidikan bencana banjir, asap ini memang penting, karena bencana banjir dan asap ini melanda Riau nyaris setiap setahun sekali.
Selain itu, perlu pula menyadarkan pemerintah —sebagai pembuat keputusan politik— agar kebijakannya untuk mencegah bencana alam semakin mencakup semua komponen dan lini birokrasi. 
Tidak tambal sulam. Tidak tumpang tindih. Dan tentu saja harus lebih cepat dan implementatif ketika bencana alam benar-benar menerjang negeri ini.***
Banjir yang melanda Sumatera Barat dan Riau patut menjadi catatan bersama. Meskipun ini bukan yang pertama, akselerasinya yang makin masif patut menggugah semua orang untuk mencari solusinya. Padahal banjir ini belum termasuk banjir besar, tapi  telah memakan korban jiwa.
Saatnya kita tidak berdebat tentang penyebabnya. Entah karena cuaca yang sedang buruk atau cuaca yang buruk itu karena dampak perubahan iklim global, yang pasti dan mengharuskan kita ialah mengubah tatanan dan orientasi kebijakan manajemen lingkungan, manajemen antisipasi bencana, serta sistem pemantauan perkiraan cuaca yang harus lebih canggih.
Sudah waktunya kita memosisikan diri sebagai kawasan negeri yang makin kecil keamanan dari ancaman bencana alam. Penanganan banjir secara menyeluruh, mulai dari tingkat RT sampai Gubernur. 
Dengan begitu, semua lapisan dan komponen masyarakat paham bahwa setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun selalu mengonsolidasi diri untuk mengantisipasi ancaman bencana.
Kita tidak perlu lagi berdebat siapa yang memicu bencana itu. Tidak pula perlu banyak cakap siapa yang paling bertanggung jawab untuk mengantisipasi dan melakukan pencegahan agar masing-masing provinsi/kabupaten/kota aman.
Justru yang lebih urgen ialah bagaimana memobilisasi kesadaran, tindakan, dan implementasi kebijakan yang tepat dan relevan untuk menghadapi ancaman bencana apa pun. 
Ancaman bencana saat ini dan ke depan telah sama merisaukannya setara dengan ancaman kelaparan, ketidakadilan hukum dan ekonomi, atau ancaman krisis energi.
Oleh sebab itu, perlu segala cara dan upaya agar ancaman bencana alam dan sejenisnya dapat menyadarkan semua orang untuk memiliki kemampuan untuk selamat. Bisa melalui pendidikan seputar banjir. Bisa dijadikan muatan lokal, atau disampaikan melalui ceramah di masjid, sehingga warga paham apa saja yang harus dilakukan saat banjir melanda kampung mereka.
Bagi ibu-ibu, mereka diutamakan menjaga anak balitanya saat banjir melanda kampung mereka. Mungkin ini kelihatan sederhana, tetapi pendidikan tentang bencana banjir ini perlu disosialisasikan ke semua warga.
Selama ini yang sering disosialisasikan tentang sikap dalam menghadapi bencana tsunami dan gempa, sementara daerah Riau, yang sering dilanda banjir, kekeringan, kabut asap, belum maksimal dilakukan.
Pendidikan bencana banjir, asap ini memang penting, karena bencana banjir dan asap ini melanda Riau nyaris setiap setahun sekali.
Selain itu, perlu pula menyadarkan pemerintah —sebagai pembuat keputusan politik— agar kebijakannya untuk mencegah bencana alam semakin mencakup semua komponen dan lini birokrasi. 
Tidak tambal sulam. Tidak tumpang tindih. Dan tentu saja harus lebih cepat dan implementatif ketika bencana alam benar-benar menerjang negeri ini.***
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Banjir yang melanda Sumatera Barat dan Riau patut menjadi catatan bersama. Meskipun ini bukan yang pertama, akselerasinya yang makin masif patut menggugah semua orang untuk mencari solusinya. Padahal banjir ini belum termasuk banjir besar, tapi  telah memakan korban jiwa.
Saatnya kita tidak berdebat tentang penyebabnya. Entah karena cuaca yang sedang buruk atau cuaca yang buruk itu karena dampak perubahan iklim global, yang pasti dan mengharuskan kita ialah mengubah tatanan dan orientasi kebijakan manajemen lingkungan, manajemen antisipasi bencana, serta sistem pemantauan perkiraan cuaca yang harus lebih canggih.
Sudah waktunya kita memosisikan diri sebagai kawasan negeri yang makin kecil keamanan dari ancaman bencana alam. Penanganan banjir secara menyeluruh, mulai dari tingkat RT sampai Gubernur. 
Dengan begitu, semua lapisan dan komponen masyarakat paham bahwa setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun selalu mengonsolidasi diri untuk mengantisipasi ancaman bencana.
Kita tidak perlu lagi berdebat siapa yang memicu bencana itu. Tidak pula perlu banyak cakap siapa yang paling bertanggung jawab untuk mengantisipasi dan melakukan pencegahan agar masing-masing provinsi/kabupaten/kota aman.
Justru yang lebih urgen ialah bagaimana memobilisasi kesadaran, tindakan, dan implementasi kebijakan yang tepat dan relevan untuk menghadapi ancaman bencana apa pun. 
Ancaman bencana saat ini dan ke depan telah sama merisaukannya setara dengan ancaman kelaparan, ketidakadilan hukum dan ekonomi, atau ancaman krisis energi.
Oleh sebab itu, perlu segala cara dan upaya agar ancaman bencana alam dan sejenisnya dapat menyadarkan semua orang untuk memiliki kemampuan untuk selamat. Bisa melalui pendidikan seputar banjir. Bisa dijadikan muatan lokal, atau disampaikan melalui ceramah di masjid, sehingga warga paham apa saja yang harus dilakukan saat banjir melanda kampung mereka.
Bagi ibu-ibu, mereka diutamakan menjaga anak balitanya saat banjir melanda kampung mereka. Mungkin ini kelihatan sederhana, tetapi pendidikan tentang bencana banjir ini perlu disosialisasikan ke semua warga.
Selama ini yang sering disosialisasikan tentang sikap dalam menghadapi bencana tsunami dan gempa, sementara daerah Riau, yang sering dilanda banjir, kekeringan, kabut asap, belum maksimal dilakukan.
Pendidikan bencana banjir, asap ini memang penting, karena bencana banjir dan asap ini melanda Riau nyaris setiap setahun sekali.
Selain itu, perlu pula menyadarkan pemerintah —sebagai pembuat keputusan politik— agar kebijakannya untuk mencegah bencana alam semakin mencakup semua komponen dan lini birokrasi. 
Tidak tambal sulam. Tidak tumpang tindih. Dan tentu saja harus lebih cepat dan implementatif ketika bencana alam benar-benar menerjang negeri ini.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari