Sabtu, 7 Maret 2026
- Advertisement -

Ini Penjelasan Presiden Jokowi Mengapa Pemerintah Longgarkan Defisit APBN 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut, berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan. 

Penanganan yang luar biasa telah dilakukan oleh banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal. Pemerintah Indonesia juga melakukan hal yang sama.

Jokowi menyampaikan, pemerintah telah melakukan langkah yang luar biasa melalui Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020. Di antaranya dengan melonggarkan ketentuan defisit APBN menjadi di atas 3 persen selama tiga tahun hingga 2022.

Jokowi memaparkan, bukan hanya Indonesia, negara-negara lain seperti Jerman juga melakukan langkah fiskal dengan mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8 persen PDB-nya. 

Sebagaimana diketahui, ekonomi Jerman terkontraksi minus 11,7 persen pada kuartal-II 2020. Kemudian, Amerika Serikat mengalokasikan 13,6 persen PDB, karena ekonominya terkontraksi 9,5 persen.

Baca Juga:  Polda Metro Ambil Alih Kasus Petinggi Garuda Indonesia yang Dituding Germo

Lalu, Cina juga mengalokasikan stimulus sebesar 6,2 persen PDB. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah kembali positif 3,2 persen pada kuartal-II 2020, setelah terkontraksi 6,8 persen pada kuartal sebelumnya.

“Tahun ini, APBN telah diubah dengan defisit sebesar 5,07 persen PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,3 persen PDB,” ujarnya dalam pidato penyampaian nota keuangan,  di Gedung DPR MPR, Jumat (14/8/2020).

Jokowi menjabarkan, pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat pada saat pendapatan negara mengalami penurunan. Selain itu, perekonomian tahun depan juga diprediksi masih penuh ketidakpastian.

Sehingga, program pemulihan ekonomi akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang.

Baca Juga:  Kurikulum Muatan Lokal Akan Diterapkan

“Kebijakan relaksasi defisit melebihi 3 persen dari PDB masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal,” katanya mengakhiri.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut, berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan. 

Penanganan yang luar biasa telah dilakukan oleh banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal. Pemerintah Indonesia juga melakukan hal yang sama.

Jokowi menyampaikan, pemerintah telah melakukan langkah yang luar biasa melalui Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020. Di antaranya dengan melonggarkan ketentuan defisit APBN menjadi di atas 3 persen selama tiga tahun hingga 2022.

Jokowi memaparkan, bukan hanya Indonesia, negara-negara lain seperti Jerman juga melakukan langkah fiskal dengan mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8 persen PDB-nya. 

Sebagaimana diketahui, ekonomi Jerman terkontraksi minus 11,7 persen pada kuartal-II 2020. Kemudian, Amerika Serikat mengalokasikan 13,6 persen PDB, karena ekonominya terkontraksi 9,5 persen.

- Advertisement -
Baca Juga:  Rencana Impor Beras Strategi Pemerintah Stabilkan Harga saat Pandemi

Lalu, Cina juga mengalokasikan stimulus sebesar 6,2 persen PDB. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah kembali positif 3,2 persen pada kuartal-II 2020, setelah terkontraksi 6,8 persen pada kuartal sebelumnya.

“Tahun ini, APBN telah diubah dengan defisit sebesar 5,07 persen PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,3 persen PDB,” ujarnya dalam pidato penyampaian nota keuangan,  di Gedung DPR MPR, Jumat (14/8/2020).

- Advertisement -

Jokowi menjabarkan, pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat pada saat pendapatan negara mengalami penurunan. Selain itu, perekonomian tahun depan juga diprediksi masih penuh ketidakpastian.

Sehingga, program pemulihan ekonomi akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang.

Baca Juga:  Hak Kebutuhan Biologis, Perlu ’Bilik Asmara’ Bagi Para Napi

“Kebijakan relaksasi defisit melebihi 3 persen dari PDB masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal,” katanya mengakhiri.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut, berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan. 

Penanganan yang luar biasa telah dilakukan oleh banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal. Pemerintah Indonesia juga melakukan hal yang sama.

Jokowi menyampaikan, pemerintah telah melakukan langkah yang luar biasa melalui Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020. Di antaranya dengan melonggarkan ketentuan defisit APBN menjadi di atas 3 persen selama tiga tahun hingga 2022.

Jokowi memaparkan, bukan hanya Indonesia, negara-negara lain seperti Jerman juga melakukan langkah fiskal dengan mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8 persen PDB-nya. 

Sebagaimana diketahui, ekonomi Jerman terkontraksi minus 11,7 persen pada kuartal-II 2020. Kemudian, Amerika Serikat mengalokasikan 13,6 persen PDB, karena ekonominya terkontraksi 9,5 persen.

Baca Juga:  Hak Kebutuhan Biologis, Perlu ’Bilik Asmara’ Bagi Para Napi

Lalu, Cina juga mengalokasikan stimulus sebesar 6,2 persen PDB. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah kembali positif 3,2 persen pada kuartal-II 2020, setelah terkontraksi 6,8 persen pada kuartal sebelumnya.

“Tahun ini, APBN telah diubah dengan defisit sebesar 5,07 persen PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,3 persen PDB,” ujarnya dalam pidato penyampaian nota keuangan,  di Gedung DPR MPR, Jumat (14/8/2020).

Jokowi menjabarkan, pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat pada saat pendapatan negara mengalami penurunan. Selain itu, perekonomian tahun depan juga diprediksi masih penuh ketidakpastian.

Sehingga, program pemulihan ekonomi akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang.

Baca Juga:  Polda Metro Ambil Alih Kasus Petinggi Garuda Indonesia yang Dituding Germo

“Kebijakan relaksasi defisit melebihi 3 persen dari PDB masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal,” katanya mengakhiri.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari