Minggu, 24 Mei 2026
- Advertisement -

Pucuk Ubi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suatu hari Raisa hendak memasak pucuk ubi di kos-kosannya. Beberapa bulan lalu, ia memang menanam beberapa batang ubi di belakang kosnya.

Pagi itu, ia pergi ke halaman belakang untuk memetik pucuk ubi. Setelah mendapatkan segenggam pucuk ubi, tiba-tiba datang pria paruh baya yang marah-marah kepadanya.

Ia mengomeli Raisa karena memetik pucuk ubi di lahannya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dengan nada tinggi, ia mengatakan jika sebulan yang lalu pemilik kos telah menjua lahan tersebut kepadanya.

Karena gugup dan takut serta tidak tahu akan hal itu, Raisa pun buru-buru meminta maaf kepada pria tersebut dan menjelaskan jika ia tidak tahu, dan berjanji tidak akan memetik lagi pucuk ubi di lahan tersebut.

Baca Juga:  Kampar Catat Tiga Kasus Baru Positif Covid-19 dari Klaster BRI

Bukannya menerima permintaan maaf Raisa, pemilik lahan semakin marah. Ia mengatakan Raisa tidak punya sopan santun, dan tidak pernah menegurnya selama mengekos di sana. Tak lupa ia mengancam akan lapor ke polisi terkait pucuk ubi tersebut.

"Kamu nggak percaya, ya? Saya bisa bawa surat-suratnya sekarang," tuturnya.

Mendengar hal tersebut, Raisa sangat kesal. Ia sudah meminta maaf secara baik-baik, alih-alih berdamai, justru pria itu mengatakan hal-hal aneh. Akhirnya Raisa memutuskan berbalik badan menutup pintu dan tak menggubris perkataan pria tersebut.

"Alamaak…! Segitunya. Dasar aneh," ucapnya dalam hati.(anf)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suatu hari Raisa hendak memasak pucuk ubi di kos-kosannya. Beberapa bulan lalu, ia memang menanam beberapa batang ubi di belakang kosnya.

Pagi itu, ia pergi ke halaman belakang untuk memetik pucuk ubi. Setelah mendapatkan segenggam pucuk ubi, tiba-tiba datang pria paruh baya yang marah-marah kepadanya.

Ia mengomeli Raisa karena memetik pucuk ubi di lahannya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dengan nada tinggi, ia mengatakan jika sebulan yang lalu pemilik kos telah menjua lahan tersebut kepadanya.

Karena gugup dan takut serta tidak tahu akan hal itu, Raisa pun buru-buru meminta maaf kepada pria tersebut dan menjelaskan jika ia tidak tahu, dan berjanji tidak akan memetik lagi pucuk ubi di lahan tersebut.

Baca Juga:  Mahasiswa Riau di Yogyakarta Tuntut Penuntasan Kabut Asap

Bukannya menerima permintaan maaf Raisa, pemilik lahan semakin marah. Ia mengatakan Raisa tidak punya sopan santun, dan tidak pernah menegurnya selama mengekos di sana. Tak lupa ia mengancam akan lapor ke polisi terkait pucuk ubi tersebut.

- Advertisement -

"Kamu nggak percaya, ya? Saya bisa bawa surat-suratnya sekarang," tuturnya.

Mendengar hal tersebut, Raisa sangat kesal. Ia sudah meminta maaf secara baik-baik, alih-alih berdamai, justru pria itu mengatakan hal-hal aneh. Akhirnya Raisa memutuskan berbalik badan menutup pintu dan tak menggubris perkataan pria tersebut.

- Advertisement -

"Alamaak…! Segitunya. Dasar aneh," ucapnya dalam hati.(anf)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Perlawanan

Salah Naik Mobil

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Suatu hari Raisa hendak memasak pucuk ubi di kos-kosannya. Beberapa bulan lalu, ia memang menanam beberapa batang ubi di belakang kosnya.

Pagi itu, ia pergi ke halaman belakang untuk memetik pucuk ubi. Setelah mendapatkan segenggam pucuk ubi, tiba-tiba datang pria paruh baya yang marah-marah kepadanya.

Ia mengomeli Raisa karena memetik pucuk ubi di lahannya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dengan nada tinggi, ia mengatakan jika sebulan yang lalu pemilik kos telah menjua lahan tersebut kepadanya.

Karena gugup dan takut serta tidak tahu akan hal itu, Raisa pun buru-buru meminta maaf kepada pria tersebut dan menjelaskan jika ia tidak tahu, dan berjanji tidak akan memetik lagi pucuk ubi di lahan tersebut.

Baca Juga:  Korlantas Polri Dinilai Sukses Mencegah Ribuan Warga Jakarta Mudik

Bukannya menerima permintaan maaf Raisa, pemilik lahan semakin marah. Ia mengatakan Raisa tidak punya sopan santun, dan tidak pernah menegurnya selama mengekos di sana. Tak lupa ia mengancam akan lapor ke polisi terkait pucuk ubi tersebut.

"Kamu nggak percaya, ya? Saya bisa bawa surat-suratnya sekarang," tuturnya.

Mendengar hal tersebut, Raisa sangat kesal. Ia sudah meminta maaf secara baik-baik, alih-alih berdamai, justru pria itu mengatakan hal-hal aneh. Akhirnya Raisa memutuskan berbalik badan menutup pintu dan tak menggubris perkataan pria tersebut.

"Alamaak…! Segitunya. Dasar aneh," ucapnya dalam hati.(anf)

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Perlawanan

Salah Naik Mobil

Trending Tags

Rubrik dicari