Sabtu, 29 Agustus 2026
- Advertisement -

Lestarikan Tradisi Pantun, PHI88 dan HI FISIP Unri Kejar Gelar MURI

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Perhimpunan Hubungan Internasinal (PHI) 88 dan Jurusan HI Fisip Universitas Riau (Unri) berupaya meraih gelar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk tradisi pantun. Misi ini diberi titel MURI for HI Unri Penulisan 10.000 Baris Pantun.

''Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap tradisi pantun dan melestarikannya. Apalagi kini pantun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia,'' ujar Fasha Pratama selaku panitia kepada Riaupos.co, Kamis (14/4/2022). 

Dilanjutkan Fasha, karena ini menjadi misi alumni HI dan Jurusan HI FISIP Unri maka peserta penulisan pantun berasal dari alumni, mahasiswa dan dosen HI FISIP Unri. Adapun jadwal kegiatannya adalah 25 Maret-22 Agustus 2022 masa penulisan pantun dan penganugerahan gelar MURI pada 26 November 2022.

''Guna mendukung misi tersebut, kami sudah menggelar Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu pada Senin (4/4/2022) di Auditorium Sutan Balia kampus FISIP Unri,'' ujar Fasha yang mantan Mayor Komahi itu.

Baca Juga:  56 Pegawai KPK Diberhentikan dengan Hormat

Workshop dibuka oleh Dr Tri Joko Waluyo MSi selaku Ketua Jurusan HI FISIP Unri. Turut hadir lewat platform zoom meeting, Adi Kusuma sebagai pemrakarsa sekaligus Ketua PHI88 FISIP Unri, sebuah organisasi alumni angkatan 1988. 

Dalam workshop tersebut, dua narasumber memberikan materi pelatihan via zoom meeting. Pemateri pertama adalah Rendra Setyadiharja SSos MIP. Ia merupakan rekoris/peraih MURI dalam pantun bidang seni pertunjukan. Pemateri kedua yakni Yoan S Nugraha Cht CI M-NLP Sert-PSA selaku penggiat pantun.  

Menurut Yoan, pantun bukan semata seni tradisi lisan budaya Melayu. Pantun sudah menjadi bagian keseharian orang-orang Melayu dalam berkomunikasi. Lebih khusus lagi dalam penyampaian pesan atau nasihat secara bijak.

Baca Juga:  Airlangga Dukung 2022 sebagai Tahun Penempatan PMI

Para penutur pantun memiliki kekayaan kosa kata terhadap benda-benda di sekitarnya. Juga mempunyai pemahaman dan kecepatan berpikir dengan kondisi atau situasi yang ada.

Kini, kedua pelaku seni dari Tanjungpinang, Kepri tersebut bersinergi dalam Pantunesia, sebuah gerakan untuk membumikan serta melestarikan seni pantun. Mereka semakin termotivasi setelah UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda.

Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, Kamis (17/12/2020). Penetapan pantun ini menjadi tradisi budaya tak benda ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air telah diakui yakni pencak silat, seni rakit perahu pinisi, Tari Saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis itu.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

Editor: Eka G Putra

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Perhimpunan Hubungan Internasinal (PHI) 88 dan Jurusan HI Fisip Universitas Riau (Unri) berupaya meraih gelar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk tradisi pantun. Misi ini diberi titel MURI for HI Unri Penulisan 10.000 Baris Pantun.

''Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap tradisi pantun dan melestarikannya. Apalagi kini pantun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia,'' ujar Fasha Pratama selaku panitia kepada Riaupos.co, Kamis (14/4/2022). 

Dilanjutkan Fasha, karena ini menjadi misi alumni HI dan Jurusan HI FISIP Unri maka peserta penulisan pantun berasal dari alumni, mahasiswa dan dosen HI FISIP Unri. Adapun jadwal kegiatannya adalah 25 Maret-22 Agustus 2022 masa penulisan pantun dan penganugerahan gelar MURI pada 26 November 2022.

''Guna mendukung misi tersebut, kami sudah menggelar Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu pada Senin (4/4/2022) di Auditorium Sutan Balia kampus FISIP Unri,'' ujar Fasha yang mantan Mayor Komahi itu.

Baca Juga:  Airlangga Ajak Anggota G20 Perkuat Multilateralisme

Workshop dibuka oleh Dr Tri Joko Waluyo MSi selaku Ketua Jurusan HI FISIP Unri. Turut hadir lewat platform zoom meeting, Adi Kusuma sebagai pemrakarsa sekaligus Ketua PHI88 FISIP Unri, sebuah organisasi alumni angkatan 1988. 

- Advertisement -

Dalam workshop tersebut, dua narasumber memberikan materi pelatihan via zoom meeting. Pemateri pertama adalah Rendra Setyadiharja SSos MIP. Ia merupakan rekoris/peraih MURI dalam pantun bidang seni pertunjukan. Pemateri kedua yakni Yoan S Nugraha Cht CI M-NLP Sert-PSA selaku penggiat pantun.  

Menurut Yoan, pantun bukan semata seni tradisi lisan budaya Melayu. Pantun sudah menjadi bagian keseharian orang-orang Melayu dalam berkomunikasi. Lebih khusus lagi dalam penyampaian pesan atau nasihat secara bijak.

- Advertisement -
Baca Juga:  MUI Tolak Program Dai Bersertifikat Kemenag

Para penutur pantun memiliki kekayaan kosa kata terhadap benda-benda di sekitarnya. Juga mempunyai pemahaman dan kecepatan berpikir dengan kondisi atau situasi yang ada.

Kini, kedua pelaku seni dari Tanjungpinang, Kepri tersebut bersinergi dalam Pantunesia, sebuah gerakan untuk membumikan serta melestarikan seni pantun. Mereka semakin termotivasi setelah UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda.

Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, Kamis (17/12/2020). Penetapan pantun ini menjadi tradisi budaya tak benda ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air telah diakui yakni pencak silat, seni rakit perahu pinisi, Tari Saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis itu.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

Editor: Eka G Putra

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Perhimpunan Hubungan Internasinal (PHI) 88 dan Jurusan HI Fisip Universitas Riau (Unri) berupaya meraih gelar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk tradisi pantun. Misi ini diberi titel MURI for HI Unri Penulisan 10.000 Baris Pantun.

''Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap tradisi pantun dan melestarikannya. Apalagi kini pantun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia,'' ujar Fasha Pratama selaku panitia kepada Riaupos.co, Kamis (14/4/2022). 

Dilanjutkan Fasha, karena ini menjadi misi alumni HI dan Jurusan HI FISIP Unri maka peserta penulisan pantun berasal dari alumni, mahasiswa dan dosen HI FISIP Unri. Adapun jadwal kegiatannya adalah 25 Maret-22 Agustus 2022 masa penulisan pantun dan penganugerahan gelar MURI pada 26 November 2022.

''Guna mendukung misi tersebut, kami sudah menggelar Workshop Keterampilan Menulis Pantun Melayu pada Senin (4/4/2022) di Auditorium Sutan Balia kampus FISIP Unri,'' ujar Fasha yang mantan Mayor Komahi itu.

Baca Juga:  Sambut Ramadhan, Al Izhar School Gelar Taklim

Workshop dibuka oleh Dr Tri Joko Waluyo MSi selaku Ketua Jurusan HI FISIP Unri. Turut hadir lewat platform zoom meeting, Adi Kusuma sebagai pemrakarsa sekaligus Ketua PHI88 FISIP Unri, sebuah organisasi alumni angkatan 1988. 

Dalam workshop tersebut, dua narasumber memberikan materi pelatihan via zoom meeting. Pemateri pertama adalah Rendra Setyadiharja SSos MIP. Ia merupakan rekoris/peraih MURI dalam pantun bidang seni pertunjukan. Pemateri kedua yakni Yoan S Nugraha Cht CI M-NLP Sert-PSA selaku penggiat pantun.  

Menurut Yoan, pantun bukan semata seni tradisi lisan budaya Melayu. Pantun sudah menjadi bagian keseharian orang-orang Melayu dalam berkomunikasi. Lebih khusus lagi dalam penyampaian pesan atau nasihat secara bijak.

Baca Juga:  20.000 Lebih Jemaah Umrah Akan Diizinkan Arab Saudi

Para penutur pantun memiliki kekayaan kosa kata terhadap benda-benda di sekitarnya. Juga mempunyai pemahaman dan kecepatan berpikir dengan kondisi atau situasi yang ada.

Kini, kedua pelaku seni dari Tanjungpinang, Kepri tersebut bersinergi dalam Pantunesia, sebuah gerakan untuk membumikan serta melestarikan seni pantun. Mereka semakin termotivasi setelah UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda.

Badan PBB untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda, Kamis (17/12/2020). Penetapan pantun ini menjadi tradisi budaya tak benda ke-11 bagi Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, beberapa tradisi Tanah Air telah diakui yakni pencak silat, seni rakit perahu pinisi, Tari Saman, dan batik sudah ditetapkan badan PBB yang berkantor pusat di Paris, Prancis itu.

Laporan: Zulkifli Ali (Pekanbaru)

Editor: Eka G Putra

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari