Sabtu, 22 Juni 2024

Obesitas, Inflamasi Sistemik, Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Waspadai Bahaya Obesitas dan Kaitannya dengan Penyakit Kardiovaskular

RIAUPOS.CO – Saat ini, kita memasuki bulan Ramadan, saat di mana umat muslim menjalakan ibadah puasa. Selain tujuan spiritual, berpuasa terbukti bermanfaat buat kesehatan, berperan untuk menurunkan berat badan, kontrol gula dan tekanan darah. Di bulan yang baik ini, artikel mengenai obesitas ini dipublikasikan untuk masyarakat agar memiliki pemahaman yang lebih baik, motivasi untuk menjalankan hidup sehat, dan mencapai berat badan ideal. Konsumsi makanan gizi seimbang dan olahraga teratur selalu menjadi cara terbaik untuk mengatur berat badan yang sehat.

Obesitas dan Kesehatan Jangka Panjang
Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi berlebih lemak tubuh yang dapat membahayakan kesehatan seseorang. Obesitas menjadi tantangan kesehatan karena dapat meningkatkan risiko mortalitas (kematian) serta berbagai komplikasi kesehatan. Obesitas dan kelebihan berat badan (overweight) berkaitan erat dengan penyakit tidak menular dan berkontribusi terhadap 2,8 juta kematian manusia setiap tahunnya.1

- Advertisement -

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan pengukuran sederhana yang dilakukan untuk mengetahui status gizi seseorang berdasarkan perbandingan berat dan tinggi badan (kg/m2). World Health Organization (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai IMT >=30 kg/m2, sedangkan klasifikasi Asia-Pasifik memiliki cut-off yang lebih rendah, yaitu IMT >= 25 kg/m2. Hal ini dikarenakan ras Asia yang memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi pada IMT tertentu dibandingkan dengan ras Kaukasoid.

Berapa Banyak Penderita Obesitas? Suatu Beban Kesehatan?
Secara epidemiologi, obesitas telah menjadi epidemik global, terutama pada banyak negara di Asia, termasuk Indonesia. The World Obesity Atlas 2022 memperkirakan bahwa di tahun 2030, akan ada sekitar 1 miliar orang dengan obesitas, atau setara dengan 1 dari 5 wanita dan 1 dari 7 pria di dunia.4

Di Indonesia, data menunjukkan bahwa di tahun 2018, 1 dari 5 anak usia sekolah, 1 dari 7 remaja, dan 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas.5 Gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak yang tidak sehat secara berlebihan, serta tingkat aktvitas fisik yang tidak memadai dianggap sebagai dua faktor utama meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, berujung pada terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.

- Advertisement -

Obesitas: Terjadinya Inflamasi/Peradangan, Penyakit Jantung, Stroke dan Kanker
WHO memperkirakan bahwa obesitas berkontribusi terhadap 44% kasus diabetes, 23% kasus penyakit jantung iskemik, dan 7-41% kasus kanker.

Baca Juga:  RS Awal Bros Group Tingkatkan Sinergisitas Berkualitas

Selain itu, obesitas sendiri telah diakui sebagai sebuah penyakit kompleks yang bersifat progresif dan multifaktorial, yang menyebabkan penurunan kualitas dan harapan hidup seseorang. Melihat tren prevalensi obesitas yang makin meningkat, kita harus menyoroti obesitas sebagai penyakit yang membutuhkan penanganan jangka panjang yang efektif dengan strategi yang bersifat multilevel.

Proses bagaimana obesitas menyebabkan penyakit kardiovaskular melibatkan berbagai mekanisme seperti resistensi insulin dan inflamasi sistemik. Inflamasi sistemik dan vaskular merupakan proses fundamental dari proses ateroskelotik, dari pembentukan fatty streak hingga terjadinya aterotrombosis, cikal-bakal terjadinya serangan jantung dan stroke. Kerusakan endotelium mendorong terjadinya reaksi inflamasi/peradangan pada dinding vaskular, yang ditandai dengan peningkatan sekresi sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-1 (IL-1) dan tumoral necrosis factor-alpha (TNF-A). Selain disfungsi endotel, proses inflamasi ini juga mengganggu proses proliferasi, migrasi, dan apoptosis sel, yang mempercepat terbentuknya trombus dan nekrosis jaringan.

Berbagai intervensi dan strategi untuk menanggulangi obesitas telah dikembangkan, namun prevalensi obesitas masih terus meningkat. Kontrol diet, aktivitas fisik, modifikasi gaya hidup, pembedahan bariatrik, dan pemberian obat-obatan adalah beberapa strategi yang digunakan untuk membantu seseorang menurunkan berat badan.

Mana Lebih Efektif: diet Rendah Karbohidrat atau Rendah Lemak
Perubahan gaya hidup termasuk pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi lini pertama pengobatan pada pasien dengan obesitas. Terdapat beberapa jenis diet yang dikenal di masyarakat, termasuk di antaranya low-fat diet, ketogenic diet, Mediterranean diet, hingga restriksi berdasarkan waktu makan seperti intermittent fasting.

Sebuah meta-analisis (penelitian yang mengambil kesimpulan dari banyak peneiltian pendahulu lain) membandingkan efektivitas diet rendah lemak dengan diet rendah karbohidrat dan menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat lebih efektif dibandingkan diet rendah lemak dalam mencapai penurunan berat badan jangka panjang yang berkelanjutan, termasuk kadar lemak, dan trigliserida yang lebih signifikan.9

Diet rendah karbohidrat, serta tinggi protein dan lemak, akan menurunkan rasa lapar yang lebih lama. Peningkatan efek rasa kenyang dan peningkatan pengeluaran energi total ini disebabkan oleh kandungan protein yang tinggi ini.

Perlu diingat bahwa terapi diet pada pasien dengan obesitas harus disesuaikan dengan efikasi, efek jangka panjang, adanya komorbiditas (seperti DM), keamanan, keterjangkauan, nilai gizi, preferensi, dan kepatuhan pasien.

Olahraga Teratur: Latihan Aerobik atau Mengangkat Beban
Aktivitas fisik juga terbukti menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa berolahraga 3-5 kali per minggu selama 3-12 bulan berkaitan dengan penurunan jaringan adiposa viseral (lemak bawah perut). Hal ini mendasari pentingnya aktivitas fisik dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, di mana orang dewasa harus meluangkan minimal 150 menit/seminggu (minimal 30 menit/hari selama 5 kali seminggu) untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang.

Baca Juga:  RS Awal Bros-PTPN IV PalmCo Hadirkan Jamkes Berkualitas

Sebuah penelitian membandingkan efektivitas latihan aerobik, latihan kekuatan (resistance training), dan gabungan keduanya dalam jangka waktu 8 bulan pada populasi overweight dan obesitas. Latihan aerobik serta kombinasi aerobik dan latihan kekuatan bisa menurnkan berat badan dan massa lemak yang signifikan jika dibandingkan dengan populasi yang hanya menjalankan latihan beban. Namun, perbedaan antara keduanya tidak signifikan. Sehingga, latihan aerobik dapat direkomendasikan sebagai aktivitas fisik yang ideal untuk mengurangi massa lemak dan massa tubuh, sedangkan latihan kekuatan dapat ditambahkan untuk meningkatkan massa otot.10

Pada pasien obesitas tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat-obatan. Salah satu obat yang dapat membantu pasien dengan obesitas adalah obat golongan glucagon-like peptide-1 receptor (GLP-1R) agonist, yang merupakan sebuah kelompok obat yang menargetkan kerja hormon inkretin, dengan reseptornya yang tersebar di saluran pencernaan, sistem saraf pusat, sel islet di pankreas, jantung, dan berbagai organ lainnya. Obat jenis ini terbukti bisa menurunkan berat badan dan gula darah secara konsisten.

Suplementasi Vitamin D dan Kalsium Penderita Obesitas
Peningkatan berat badan juga dikaitkan dengan kadar vitamin D yang rendah. Perlu diketahui, orang dengan obesitas membutuhkan suplementasi vitamin D dengan dosis efektif yang lebih tinggi untuk untuk pencegahan kanker, diabetes, atau manfaat lainnya dibandingkan dengan populasi dengan IMT normal.12

Suplementasi kalsium bisa menurunkan proses penyerapan lemak dan mendorong pembuangan lemak dalam tinja. Kalsium juga meningkatkan thermogenesis (suhu tubuh) sehingga mempercepat metabolisme.

Pada sebuah penelitian di Amerika selama 30 tahun, ditemukan bahwa suplementasi kalsium dikaitkan dengan penurunan kejadian obesitas, sehingga diet kaya kalsium maupun suplementasi kalsium dapat direkomendasikan untuk mencegah terjadinya obesitas.

Tren kematian akibat obesitas terus meningkat. Perlu dipahami bahwa selain intervensi di tingkat individu, penanganan obesitas juga membutuhkan bantuan dari pemerintah dan sistem kesehatan di Indonesia untuk memprioritaskan pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas.(rls/egp)

RIAUPOS.CO – Saat ini, kita memasuki bulan Ramadan, saat di mana umat muslim menjalakan ibadah puasa. Selain tujuan spiritual, berpuasa terbukti bermanfaat buat kesehatan, berperan untuk menurunkan berat badan, kontrol gula dan tekanan darah. Di bulan yang baik ini, artikel mengenai obesitas ini dipublikasikan untuk masyarakat agar memiliki pemahaman yang lebih baik, motivasi untuk menjalankan hidup sehat, dan mencapai berat badan ideal. Konsumsi makanan gizi seimbang dan olahraga teratur selalu menjadi cara terbaik untuk mengatur berat badan yang sehat.

Obesitas dan Kesehatan Jangka Panjang
Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi berlebih lemak tubuh yang dapat membahayakan kesehatan seseorang. Obesitas menjadi tantangan kesehatan karena dapat meningkatkan risiko mortalitas (kematian) serta berbagai komplikasi kesehatan. Obesitas dan kelebihan berat badan (overweight) berkaitan erat dengan penyakit tidak menular dan berkontribusi terhadap 2,8 juta kematian manusia setiap tahunnya.1

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan pengukuran sederhana yang dilakukan untuk mengetahui status gizi seseorang berdasarkan perbandingan berat dan tinggi badan (kg/m2). World Health Organization (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai IMT >=30 kg/m2, sedangkan klasifikasi Asia-Pasifik memiliki cut-off yang lebih rendah, yaitu IMT >= 25 kg/m2. Hal ini dikarenakan ras Asia yang memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi pada IMT tertentu dibandingkan dengan ras Kaukasoid.

Berapa Banyak Penderita Obesitas? Suatu Beban Kesehatan?
Secara epidemiologi, obesitas telah menjadi epidemik global, terutama pada banyak negara di Asia, termasuk Indonesia. The World Obesity Atlas 2022 memperkirakan bahwa di tahun 2030, akan ada sekitar 1 miliar orang dengan obesitas, atau setara dengan 1 dari 5 wanita dan 1 dari 7 pria di dunia.4

Di Indonesia, data menunjukkan bahwa di tahun 2018, 1 dari 5 anak usia sekolah, 1 dari 7 remaja, dan 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas.5 Gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak yang tidak sehat secara berlebihan, serta tingkat aktvitas fisik yang tidak memadai dianggap sebagai dua faktor utama meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, berujung pada terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Obesitas: Terjadinya Inflamasi/Peradangan, Penyakit Jantung, Stroke dan Kanker
WHO memperkirakan bahwa obesitas berkontribusi terhadap 44% kasus diabetes, 23% kasus penyakit jantung iskemik, dan 7-41% kasus kanker.

Baca Juga:  RS Awal Bros Group Tingkatkan Sinergisitas Berkualitas

Selain itu, obesitas sendiri telah diakui sebagai sebuah penyakit kompleks yang bersifat progresif dan multifaktorial, yang menyebabkan penurunan kualitas dan harapan hidup seseorang. Melihat tren prevalensi obesitas yang makin meningkat, kita harus menyoroti obesitas sebagai penyakit yang membutuhkan penanganan jangka panjang yang efektif dengan strategi yang bersifat multilevel.

Proses bagaimana obesitas menyebabkan penyakit kardiovaskular melibatkan berbagai mekanisme seperti resistensi insulin dan inflamasi sistemik. Inflamasi sistemik dan vaskular merupakan proses fundamental dari proses ateroskelotik, dari pembentukan fatty streak hingga terjadinya aterotrombosis, cikal-bakal terjadinya serangan jantung dan stroke. Kerusakan endotelium mendorong terjadinya reaksi inflamasi/peradangan pada dinding vaskular, yang ditandai dengan peningkatan sekresi sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-1 (IL-1) dan tumoral necrosis factor-alpha (TNF-A). Selain disfungsi endotel, proses inflamasi ini juga mengganggu proses proliferasi, migrasi, dan apoptosis sel, yang mempercepat terbentuknya trombus dan nekrosis jaringan.

Berbagai intervensi dan strategi untuk menanggulangi obesitas telah dikembangkan, namun prevalensi obesitas masih terus meningkat. Kontrol diet, aktivitas fisik, modifikasi gaya hidup, pembedahan bariatrik, dan pemberian obat-obatan adalah beberapa strategi yang digunakan untuk membantu seseorang menurunkan berat badan.

Mana Lebih Efektif: diet Rendah Karbohidrat atau Rendah Lemak
Perubahan gaya hidup termasuk pola makan dan aktivitas fisik tetap menjadi lini pertama pengobatan pada pasien dengan obesitas. Terdapat beberapa jenis diet yang dikenal di masyarakat, termasuk di antaranya low-fat diet, ketogenic diet, Mediterranean diet, hingga restriksi berdasarkan waktu makan seperti intermittent fasting.

Sebuah meta-analisis (penelitian yang mengambil kesimpulan dari banyak peneiltian pendahulu lain) membandingkan efektivitas diet rendah lemak dengan diet rendah karbohidrat dan menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat lebih efektif dibandingkan diet rendah lemak dalam mencapai penurunan berat badan jangka panjang yang berkelanjutan, termasuk kadar lemak, dan trigliserida yang lebih signifikan.9

Diet rendah karbohidrat, serta tinggi protein dan lemak, akan menurunkan rasa lapar yang lebih lama. Peningkatan efek rasa kenyang dan peningkatan pengeluaran energi total ini disebabkan oleh kandungan protein yang tinggi ini.

Perlu diingat bahwa terapi diet pada pasien dengan obesitas harus disesuaikan dengan efikasi, efek jangka panjang, adanya komorbiditas (seperti DM), keamanan, keterjangkauan, nilai gizi, preferensi, dan kepatuhan pasien.

Olahraga Teratur: Latihan Aerobik atau Mengangkat Beban
Aktivitas fisik juga terbukti menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa berolahraga 3-5 kali per minggu selama 3-12 bulan berkaitan dengan penurunan jaringan adiposa viseral (lemak bawah perut). Hal ini mendasari pentingnya aktivitas fisik dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, di mana orang dewasa harus meluangkan minimal 150 menit/seminggu (minimal 30 menit/hari selama 5 kali seminggu) untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang.

Baca Juga:  RS Awal Bros Group Dukung Kesehatan dan Kegiatan Komunitas

Sebuah penelitian membandingkan efektivitas latihan aerobik, latihan kekuatan (resistance training), dan gabungan keduanya dalam jangka waktu 8 bulan pada populasi overweight dan obesitas. Latihan aerobik serta kombinasi aerobik dan latihan kekuatan bisa menurnkan berat badan dan massa lemak yang signifikan jika dibandingkan dengan populasi yang hanya menjalankan latihan beban. Namun, perbedaan antara keduanya tidak signifikan. Sehingga, latihan aerobik dapat direkomendasikan sebagai aktivitas fisik yang ideal untuk mengurangi massa lemak dan massa tubuh, sedangkan latihan kekuatan dapat ditambahkan untuk meningkatkan massa otot.10

Pada pasien obesitas tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat-obatan. Salah satu obat yang dapat membantu pasien dengan obesitas adalah obat golongan glucagon-like peptide-1 receptor (GLP-1R) agonist, yang merupakan sebuah kelompok obat yang menargetkan kerja hormon inkretin, dengan reseptornya yang tersebar di saluran pencernaan, sistem saraf pusat, sel islet di pankreas, jantung, dan berbagai organ lainnya. Obat jenis ini terbukti bisa menurunkan berat badan dan gula darah secara konsisten.

Suplementasi Vitamin D dan Kalsium Penderita Obesitas
Peningkatan berat badan juga dikaitkan dengan kadar vitamin D yang rendah. Perlu diketahui, orang dengan obesitas membutuhkan suplementasi vitamin D dengan dosis efektif yang lebih tinggi untuk untuk pencegahan kanker, diabetes, atau manfaat lainnya dibandingkan dengan populasi dengan IMT normal.12

Suplementasi kalsium bisa menurunkan proses penyerapan lemak dan mendorong pembuangan lemak dalam tinja. Kalsium juga meningkatkan thermogenesis (suhu tubuh) sehingga mempercepat metabolisme.

Pada sebuah penelitian di Amerika selama 30 tahun, ditemukan bahwa suplementasi kalsium dikaitkan dengan penurunan kejadian obesitas, sehingga diet kaya kalsium maupun suplementasi kalsium dapat direkomendasikan untuk mencegah terjadinya obesitas.

Tren kematian akibat obesitas terus meningkat. Perlu dipahami bahwa selain intervensi di tingkat individu, penanganan obesitas juga membutuhkan bantuan dari pemerintah dan sistem kesehatan di Indonesia untuk memprioritaskan pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas.(rls/egp)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari