Rabu, 17 April 2024

Terinspirasi dari Prancis Akan Kembali ke Prancis

RIAUPOS.CO – DARI 2001 hingga 2024 ini, Riau Rhythm konsisten merambah jalan sunyi, untuk melestarikan dan mengedukasi musik tradisi. Selama itu pula sebanyak 9 album telah dibuat. Album terakhir, album ke-9, grup ini merencanakan tur ke Eropa.

Terinspirasi sepulang dari Prancis pada 2001 silam, Rino Dezapaty dan kawan-kawan akan kembali ke Prancis. Di sana mereka berencana merilis album ke-9 tersebut.

- Advertisement -

‘’Tur Eropa ini titiknya di Prancis dan akan berkembang tergantung promotor,’’ ungkap Rino.

Dalam tahun ini juga Riau Rhythm juga mendapat tawaran dari promotor untuk kembali manggung di Amerika. Hanya saja, bila pada 2023 lalu di Amerika bagian utara, tahun ini akan mengarah ke selatan.

‘’Kalau yang kemarin New York, Chicago dan ke atas, ini rencananya ke selatan. Mulai Washington akan ke bawah ke California di Los Angeles dan lain-lain,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Adapun konser di Pekanbaru merupakan bagian dari Awang Menunggang Gelombang, album ke-8 yang terinspirasi jalur rempah nusantara. Sementara album ke-9 akan diperkenalkan di Eropa dan Amerika, namun dipremierkan di Kota Pekanbaru pada Sabtu (30/3/2024) malam.

Perjalanan 9 album ini merupakan perjalan musik yang panjang yang dipicu kegelisahan tanpa henti Riau Rhythm untuk terus berkarya memperkenalkan musik tradisi Melayu.

Sepanjang 23 tahun ini, tidak hanya personel dan formasi yang berganti secara dinamis. Tapi juga aliran yang dipadukan dengan gambus ini juga ikut berubah. Misalnya setelah melewati 2009, perjalanan album ke-5 hingga ke-6, Riau Rhythm masih mempertahankan konsep Melayu fusion.

Baca Juga:  Menyala, Lampu Colok Berbentuk Masjid Tiga Dimensi di Kampung Langkai

Namun Rino menyebutkan, beberapa kurator musik menilai bahwa karena mereka selalu didominasi musik barat. Berangkat dari itu, Rino mulai lebih memperbanyak riset musiknya.

‘’Saya mulai riset ke Candi Muara Takus. Sebelum itu, diawali tahun 2007, 2008 hingga 2009 kami melihat perkembangan generasi muda waktu itu yang lebih cenderung dengan musik barat. Akhirnya kami coba sebuah karya yang lebih cenderung dengan musik-musik barat dengan gambusnya hanya sedikit saja,’’ kata Rino.

Di tengah perubahan dan dinamika itu, pada 2012 Riau Rhythm generasi kedua bubar. Lalu pada 2013 masuk generasi ketiga, yang menurut Rino, harus melewati proses latihan yang panjang dan ‘berdarah-darah’.

‘’Riau Rhythm itu menentukan pemain tidak hanya dari skill-nya saja tetapi juga bagaimana dia berteman, berdiskusi, berdialog dengan satu sama lainnya. Kami di sini adalah orang-orang murni tunak pada kesenian,’’ ungkapnya.

Perjalanan generasi kedua, di mana generasi pertama yang hanya menyisakan Rino sendiri, akhirnya berakhir setelah 9 tahun perjalanan. Generasi ketiga ini ditandai dengan karya musik berbasis riset historis dan antropologis dan konten yang lebih dalam.

Namun Riau Rhythm tetap kukuh pada jalurnya, jalur sunyi musik tradisi atau musik etnik. Rino yakin dan sudah melihat bahwa aliran ini masih memiliki pasar dan peminat.

‘’Pasarnya ada di luar Indonesia. Nah, sekarang Indonesia mulai bergeser ke aliran ini. Terutama karena negara sudah hadir untuk mengakomodir kaya-karya tradisi dan karya-karya dari seluruh seniman di Indonesia ini. Kami sudah bisa menentukan panggung-panggung mana yang akan kami isi di Indonesia,’’ ungkapnya bersemangat.

Baca Juga:  Mempertahankan Eksistensi Budaya Melayu

 

Bertahan Karena Gelisah
Perjalanan 23 tahun tidak singkat, bahkan Rino mengakui itu adalah sangat lama. Namun satu yang membuat dirinya bertahan rasa gelisah.

Menurut Rino Dezapaty, kru Riau Rhythm selalu gelisah. Mereka selalu duduk, diskusi dan membicarakan apa program selanjutnya. Karya apalagi, konsep, desain bahkan mereka memikirkan calon penonton. Bahkan mereka akan berpikir, ke negara mana dan bagaimana membiayainya.

‘’Jadi kami sudah disibukkan dengan membuat program sendiri tidak terpaku dengan apa yang dilihat dari orang lain,’’ kata dia.

Riau Rhythm akan terus berkembang secara dinamis. Mengusung konsep besar, world music atau musik etnik, Indonesia menurut Rino Indonesia sudah kaya. Maka pada karya mereka akhir-akhir ini yang juga membawakan musik etnik dari luar Riau, maka fanbase pun makin meluas.

‘’Kami sudah tidak berbicara lagi Melayu Riau, tetapi sudah berbicara bahwa Indonesia ini bangsa Melayu. Jadi ada karya yang dari Makassar kami bawa Mapalece Bombang judulnya dari Bugis dan juga karya-karya dari Sumatra Utara, Kronik Silalahi yang album kesembilan yang akan dipamerkan tahun ini,’’ sebut Rino.

Semua itu tergambar dalam album Spice Route yang membuat Rino mendeklarasikan bahwa tidak hanya Melayu Riau, tapi bangsa Indonesia adalah bangsa Melayu besar. Musik ini, dengan ruh dan instrumen musik Melayu akan terus berkembang. Begawai Talang Mamak sampai ‘Mapalece Bombang Bugis cukup mewakili hal itu.(end)

 

RIAUPOS.CO – DARI 2001 hingga 2024 ini, Riau Rhythm konsisten merambah jalan sunyi, untuk melestarikan dan mengedukasi musik tradisi. Selama itu pula sebanyak 9 album telah dibuat. Album terakhir, album ke-9, grup ini merencanakan tur ke Eropa.

Terinspirasi sepulang dari Prancis pada 2001 silam, Rino Dezapaty dan kawan-kawan akan kembali ke Prancis. Di sana mereka berencana merilis album ke-9 tersebut.

‘’Tur Eropa ini titiknya di Prancis dan akan berkembang tergantung promotor,’’ ungkap Rino.

Dalam tahun ini juga Riau Rhythm juga mendapat tawaran dari promotor untuk kembali manggung di Amerika. Hanya saja, bila pada 2023 lalu di Amerika bagian utara, tahun ini akan mengarah ke selatan.

‘’Kalau yang kemarin New York, Chicago dan ke atas, ini rencananya ke selatan. Mulai Washington akan ke bawah ke California di Los Angeles dan lain-lain,’’ jelasnya.

Adapun konser di Pekanbaru merupakan bagian dari Awang Menunggang Gelombang, album ke-8 yang terinspirasi jalur rempah nusantara. Sementara album ke-9 akan diperkenalkan di Eropa dan Amerika, namun dipremierkan di Kota Pekanbaru pada Sabtu (30/3/2024) malam.

Perjalanan 9 album ini merupakan perjalan musik yang panjang yang dipicu kegelisahan tanpa henti Riau Rhythm untuk terus berkarya memperkenalkan musik tradisi Melayu.

Sepanjang 23 tahun ini, tidak hanya personel dan formasi yang berganti secara dinamis. Tapi juga aliran yang dipadukan dengan gambus ini juga ikut berubah. Misalnya setelah melewati 2009, perjalanan album ke-5 hingga ke-6, Riau Rhythm masih mempertahankan konsep Melayu fusion.

Baca Juga:  Menyala, Lampu Colok Berbentuk Masjid Tiga Dimensi di Kampung Langkai

Namun Rino menyebutkan, beberapa kurator musik menilai bahwa karena mereka selalu didominasi musik barat. Berangkat dari itu, Rino mulai lebih memperbanyak riset musiknya.

‘’Saya mulai riset ke Candi Muara Takus. Sebelum itu, diawali tahun 2007, 2008 hingga 2009 kami melihat perkembangan generasi muda waktu itu yang lebih cenderung dengan musik barat. Akhirnya kami coba sebuah karya yang lebih cenderung dengan musik-musik barat dengan gambusnya hanya sedikit saja,’’ kata Rino.

Di tengah perubahan dan dinamika itu, pada 2012 Riau Rhythm generasi kedua bubar. Lalu pada 2013 masuk generasi ketiga, yang menurut Rino, harus melewati proses latihan yang panjang dan ‘berdarah-darah’.

‘’Riau Rhythm itu menentukan pemain tidak hanya dari skill-nya saja tetapi juga bagaimana dia berteman, berdiskusi, berdialog dengan satu sama lainnya. Kami di sini adalah orang-orang murni tunak pada kesenian,’’ ungkapnya.

Perjalanan generasi kedua, di mana generasi pertama yang hanya menyisakan Rino sendiri, akhirnya berakhir setelah 9 tahun perjalanan. Generasi ketiga ini ditandai dengan karya musik berbasis riset historis dan antropologis dan konten yang lebih dalam.

Namun Riau Rhythm tetap kukuh pada jalurnya, jalur sunyi musik tradisi atau musik etnik. Rino yakin dan sudah melihat bahwa aliran ini masih memiliki pasar dan peminat.

‘’Pasarnya ada di luar Indonesia. Nah, sekarang Indonesia mulai bergeser ke aliran ini. Terutama karena negara sudah hadir untuk mengakomodir kaya-karya tradisi dan karya-karya dari seluruh seniman di Indonesia ini. Kami sudah bisa menentukan panggung-panggung mana yang akan kami isi di Indonesia,’’ ungkapnya bersemangat.

Baca Juga:  Diskusi Publik Kolokium 2024 FISIP Unri, Pentingkah Muara Takus bagi Riau?

 

Bertahan Karena Gelisah
Perjalanan 23 tahun tidak singkat, bahkan Rino mengakui itu adalah sangat lama. Namun satu yang membuat dirinya bertahan rasa gelisah.

Menurut Rino Dezapaty, kru Riau Rhythm selalu gelisah. Mereka selalu duduk, diskusi dan membicarakan apa program selanjutnya. Karya apalagi, konsep, desain bahkan mereka memikirkan calon penonton. Bahkan mereka akan berpikir, ke negara mana dan bagaimana membiayainya.

‘’Jadi kami sudah disibukkan dengan membuat program sendiri tidak terpaku dengan apa yang dilihat dari orang lain,’’ kata dia.

Riau Rhythm akan terus berkembang secara dinamis. Mengusung konsep besar, world music atau musik etnik, Indonesia menurut Rino Indonesia sudah kaya. Maka pada karya mereka akhir-akhir ini yang juga membawakan musik etnik dari luar Riau, maka fanbase pun makin meluas.

‘’Kami sudah tidak berbicara lagi Melayu Riau, tetapi sudah berbicara bahwa Indonesia ini bangsa Melayu. Jadi ada karya yang dari Makassar kami bawa Mapalece Bombang judulnya dari Bugis dan juga karya-karya dari Sumatra Utara, Kronik Silalahi yang album kesembilan yang akan dipamerkan tahun ini,’’ sebut Rino.

Semua itu tergambar dalam album Spice Route yang membuat Rino mendeklarasikan bahwa tidak hanya Melayu Riau, tapi bangsa Indonesia adalah bangsa Melayu besar. Musik ini, dengan ruh dan instrumen musik Melayu akan terus berkembang. Begawai Talang Mamak sampai ‘Mapalece Bombang Bugis cukup mewakili hal itu.(end)

 

Berita Lainnya

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari