Rabu, 22 Mei 2024

Diskusi Publik Kolokium 2024 FISIP Unri, Pentingkah Muara Takus bagi Riau?

Bagi masyarakat luar seperti Tibet, Thailand, dan lainnya, Candi Muara Takus dianggap penting. Namun pemerintah Indonesia sendiri dianggap tidak mempedulikan keberadaan candi satu-sa­tunya di Riau ini.

RIAUPOS.CO – SEBAGAI candi Budha yang berada di wilayah yang masyarakatnya dominan beragama Islam, Candi Muara Takus seperti terabaikan keberadaannya. Masyarakat di sekitar candi menganggapnya sebagai sebuah bangunan biasa yang seolah tanpa arti. Sementara pemerintah Provinsi Riau juga seolah tidak peduli. Dinas Pariwisata Riau hanya menganggapnya sebagai lokasi wisata untuk menyedot wisatawan, sementara dinas lainnya, misalnya Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan, tak menganggarkan dana, misalnya untuk pengembangan dan penelitian yang lebih mendalam.

Yamaha

Maka, akhirnya muncul pertanyaan, pentingkah Candi Muara Takus bagi Riau?

Dalam Diskusi Publik Kolokium 2024 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) tentang “Peradaban Muara Takus” di Kampus Bina Widya, Kamis (7/3/2024), dua pembicara, yakni Ongku Imi (pewaris masa lalu Muara Takus) dan arsitek Dedy Ariandi, sama-sama mempertanyakan peran pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat yang seoalah tidak peduli dengan keberadaan candi satu-satunya di Riau ini.

Menurut Ongku Imi, Candi Muara Takus adalah karya leluhur yang sangat penting yang menjelaskan tentang peradaban manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Dia berharap Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Bagian Tengah yang berpusat di Sumatra Barat (Sumbar) memperhatikan candi ini. Begitu juga dengan Pemkab Kampar dan Pemprov Riau.

- Advertisement -

Kata dia, Muara Takus adalah pusat pendidikan (Dharma) Budha pada zamannya. Dan kini banyak pemeluk Budha dunia dari berbagai negara, datang ke sana. Terutama utusan Dalai Lama di Tibet dan masyarakat Budha dari Thailand. Bahkan Raja Thailand juga pernah datang ke Muara Takus untuk melihat dari dekat salah satu peninggalan peradaban Budha tertua ini.

Masyarakat di sekitar candi sendiri, kata Ongku Imi, sudah minim perhatiannya terhadap Candi Muara Takus. Bukan karena faktor agama yang berbeda, tetapi memang mereka sudah menganggap Muara Takus adalah bangunan yang biasa yang tidak ada nilai pentingnya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini berbeda dengan masyarakat beragama Budha, baik yang di Indonesia maupun di negara lain, karena mereka memiliki keterikatan keyakinan.

- Advertisement -

“Saya sendiri dan keluarga karena ada trah atau keturunan dari Muara Takus, makanya tetap memperhatikan keberadaan candi ini. Kami melakukannya dengan suka-rela. Pemkab Kampar dan Riau pernah menawari saya semacam gaji, tapi kami menolak. Kami melakukan ini karena memang sudah tugas kami,” ujar Ongku Imi.

Jika Candi Muara Takus masih dianggap penting, dia berharap Pemkab Kampar, Pemrov Riau, pemerintah pusat, plus BPCB, memperhatikan keberadaan candi ini agar tidak menjadi bangunan yang dianggap tak berguna oleh masyarakat sekitar.

Ongku Imi juga menjelaskan tentang banyaknya benda-benda peninggalan di Muara Takus seperti beberapa arca dan beberapa peninggalan lainnya yang dulu disimpan digudang di bangunan sebelah candi, hilang entah ke mana hanya beberapa waktu sebelum penutupan dam PLTA Koto Panjang untuk mengairi danau. Menurutnya, itu perlu dicari keberadaannya dan siapa yang bertanggung jawab. Sebab, benda-benda arkeologi tersebut bernilai sangat tinggi, baik nilai seni dan keunikannya, maupun nilai rupiahnya.

Baca Juga:  Pemecahan Rekor Penari dan Bangga Berbusana Melayu

Pada bagian lain, arsitek Dedy Ariandi menjelaskan tentang landscape negeri tua Muara Takus. Menurut dia ada semacam cocoklogi dalam axis Muara Takus dengan dua bukit yang ada di sekitarnya. Menurutnya, biasanya bagunan-bangunan candi di Jawa, selain ada kompeks candi utama, di sekitarnya ada candi-candi lainnya semacam “satelit”-nya. Misalnya Candi Borobudur, di sekitarnya ada Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Umbul, Candi Selogriyo, dan Candi Ngawen. Tetapi di Muara Takus tidak ada.

Kemudian, mengapa Candi Muara Takus berada di pinggir Sungai Kampar Kanan, ini hampir sama dengan candi-candi lain yang ada di India, Vietnam, Myanmar, atau Thailand. Yang menjadi pertanyaannya, apakah fungsi sungai ini hampir sama dengan fungsi pada candi-candi di negara lain itu atau hanya menjadi sarana transportasi, misalnya untuk mencari tanah liat yang menjadi bahan material pembangunannya di masa itu.

Pada komposisi bangunan, menurut dia, bisa menjadi cermin nilai sosial, bahkan pilihan politik. Lalu, tak semua bangunan di Muara Takus menggunakan tanah liat, ada yang dibangun dengan material lain. Dedy berpikir, jangan-jangan di masa itu candi ini dibangun oleh masyarakat yang multi kepercayaan. Pada posisi arah tangga yang berbeda, Dedy juga punya pandangan lain, apakah di masa itu di sekitar Muara Takus merupakan masyarakat yang terbuka atau karena gagal desain?

Dedy membandingkan dengan candi-candi Budha lainnya yang ada di Jawa, yang bahannya bukan dari batu bata, melainkan dari batu andesit, batu gunung. Material yang sama juga menjadi bahan bagunan candi-candi Budha di banyak negara. Lalu, dari sana, Dedy berpikir apakah ini menjelaskan tentang status sosial, atau kebudayaan yang lain?

“Apakah benar Muara Takus adalah salah satu pusat kekuasaan kerajaan besar di masa lalu seperti Sriwijaya, atau hanya bagian dari kekuasaan besar dari luar Muara Takus?” kata Dedy.

Pertanyaan-pertanyaan itu, kata Dedy, memerlukan jawaban. Dan jawaban akan bisa didapatkan jika ada penelitian yang lebih dalam lagi. Yang menjadi masalah, katanya, baik Pemprov Riau maupun pemerintah pusat tidak menganggarkan penelitian tersebut. Jadi seolah keberadaan Muara Takus ini tidak penting. Padahal, bagi masyarakat di luar Indonesia, menganggap Muara Takus itu penting sampai Raja Thailand dan para pendeta dari Tibet atau dari negara lainnya datang untuk beribadah dan bukan kunjungan wisata.

“Saya sebenarnya sudah lama tak memikirkan Muara Takus ini lagi karena memang dianggap tidak penting oleh pemerintah. Namun Prof Yusmar Yusuf meminta saya untuk bicara dalam forum ini lagi, dan saya tetap bicara soal hal itu. Jika pemerintah menganggap penting, seharusnya ada banyak hal yang bisa didalami tentang Muara Takus ini, dan itu harus diteliti lagi,” jelasnya lagi.

Dalam diskusi yang dipandu Dr Fajriani Ananda tersebut juga muncul respon dari beberapa peserta. Misalnya Candra dari FKIP Unri yang mempertanyakan apakah Muara Takus itu sebagai simbol peradaban masa lalu atau hanya peninggalan kebudayaan biasa. Dia menjelaskan tentang peradaban besar di masa lalu seperti di Mesir, di mana patung Spinx, Piramid, dan benda kuno lainnya yang terletak di pinggi Sungai Nil tersebut ternyata menjelaskan tentang peradaban besar Mesir Kuno.

“Apakah tidak mungkin ada peradaban besar di Muara Takus yang letaknya juga di dekat sungai besar yang belum tergali hingga kini?” tanya Candra.

Baca Juga:  Menyala, Lampu Colok Berbentuk Masjid Tiga Dimensi di Kampung Langkai

Peserta diskusi lainnya, Salman, menjelaskan, meski masyarakat sekitar Muara Takus tidak terlalu peduli dengan candi tersebut, menurutnya bukan karena perbedaan keyakinan, termasuk dihubungkan dengan kontestasi politik akhir-akhir ini yang dihubungkan dengan agama. Menurutnya, hal yang biasa terjadi pada masyarakat yang setiap kali melihat bangunan tersebut sehingga terasa biasa saja.

“Kita tak bisa menutup mata bahwa bangunan itu sejak lama ada di sana dan merupakan peninggalan penting yang tak ternilai. Yang justru sekarang dipikirkan adalah, apa yang harus dilakukan di masa datang? Manfaat apa yang bisa didapatkan masyarakat Riau dengan adanya Candi Muara Takus itu?” kata lelaki yang mengaku salah satu tokoh masyarakat Kampar di perantauan tersebut.

Sementara itu Ahmad Jamaan, salah seorang pengajar di FISIP Unri, mempertanyakan tentang kemungkinan-kemungkinan hal besar yang masih tersembunyi di situs Muara Takus yang hingga kini belum terungkap. Baik dalam penelitian arkeologi maupun ilmu lainnya. Misalnya banyaknya tempat penting yang masih terhubung dengan candi di sekitar situs, kuburan-kuburan kuno yang dikabarkan ada di sana, hingga isu harta karun.

“Menurut saya, banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan itu harus dilakukan penelitian multidisiplin ilmu yang lebih mendalam,” ujarnya.

Disarikan dari berbagai sumber, Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Budha yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar. Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Palangka.

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai, dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 Km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.***

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru

Bagi masyarakat luar seperti Tibet, Thailand, dan lainnya, Candi Muara Takus dianggap penting. Namun pemerintah Indonesia sendiri dianggap tidak mempedulikan keberadaan candi satu-sa­tunya di Riau ini.

RIAUPOS.CO – SEBAGAI candi Budha yang berada di wilayah yang masyarakatnya dominan beragama Islam, Candi Muara Takus seperti terabaikan keberadaannya. Masyarakat di sekitar candi menganggapnya sebagai sebuah bangunan biasa yang seolah tanpa arti. Sementara pemerintah Provinsi Riau juga seolah tidak peduli. Dinas Pariwisata Riau hanya menganggapnya sebagai lokasi wisata untuk menyedot wisatawan, sementara dinas lainnya, misalnya Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan, tak menganggarkan dana, misalnya untuk pengembangan dan penelitian yang lebih mendalam.

Maka, akhirnya muncul pertanyaan, pentingkah Candi Muara Takus bagi Riau?

Dalam Diskusi Publik Kolokium 2024 yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) tentang “Peradaban Muara Takus” di Kampus Bina Widya, Kamis (7/3/2024), dua pembicara, yakni Ongku Imi (pewaris masa lalu Muara Takus) dan arsitek Dedy Ariandi, sama-sama mempertanyakan peran pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat yang seoalah tidak peduli dengan keberadaan candi satu-satunya di Riau ini.

Menurut Ongku Imi, Candi Muara Takus adalah karya leluhur yang sangat penting yang menjelaskan tentang peradaban manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Dia berharap Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Bagian Tengah yang berpusat di Sumatra Barat (Sumbar) memperhatikan candi ini. Begitu juga dengan Pemkab Kampar dan Pemprov Riau.

Kata dia, Muara Takus adalah pusat pendidikan (Dharma) Budha pada zamannya. Dan kini banyak pemeluk Budha dunia dari berbagai negara, datang ke sana. Terutama utusan Dalai Lama di Tibet dan masyarakat Budha dari Thailand. Bahkan Raja Thailand juga pernah datang ke Muara Takus untuk melihat dari dekat salah satu peninggalan peradaban Budha tertua ini.

Masyarakat di sekitar candi sendiri, kata Ongku Imi, sudah minim perhatiannya terhadap Candi Muara Takus. Bukan karena faktor agama yang berbeda, tetapi memang mereka sudah menganggap Muara Takus adalah bangunan yang biasa yang tidak ada nilai pentingnya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini berbeda dengan masyarakat beragama Budha, baik yang di Indonesia maupun di negara lain, karena mereka memiliki keterikatan keyakinan.

“Saya sendiri dan keluarga karena ada trah atau keturunan dari Muara Takus, makanya tetap memperhatikan keberadaan candi ini. Kami melakukannya dengan suka-rela. Pemkab Kampar dan Riau pernah menawari saya semacam gaji, tapi kami menolak. Kami melakukan ini karena memang sudah tugas kami,” ujar Ongku Imi.

Jika Candi Muara Takus masih dianggap penting, dia berharap Pemkab Kampar, Pemrov Riau, pemerintah pusat, plus BPCB, memperhatikan keberadaan candi ini agar tidak menjadi bangunan yang dianggap tak berguna oleh masyarakat sekitar.

Ongku Imi juga menjelaskan tentang banyaknya benda-benda peninggalan di Muara Takus seperti beberapa arca dan beberapa peninggalan lainnya yang dulu disimpan digudang di bangunan sebelah candi, hilang entah ke mana hanya beberapa waktu sebelum penutupan dam PLTA Koto Panjang untuk mengairi danau. Menurutnya, itu perlu dicari keberadaannya dan siapa yang bertanggung jawab. Sebab, benda-benda arkeologi tersebut bernilai sangat tinggi, baik nilai seni dan keunikannya, maupun nilai rupiahnya.

Baca Juga:  Merawat Tradisi Silaturahmi dengan Aghi Ghayo Onam

Pada bagian lain, arsitek Dedy Ariandi menjelaskan tentang landscape negeri tua Muara Takus. Menurut dia ada semacam cocoklogi dalam axis Muara Takus dengan dua bukit yang ada di sekitarnya. Menurutnya, biasanya bagunan-bangunan candi di Jawa, selain ada kompeks candi utama, di sekitarnya ada candi-candi lainnya semacam “satelit”-nya. Misalnya Candi Borobudur, di sekitarnya ada Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Umbul, Candi Selogriyo, dan Candi Ngawen. Tetapi di Muara Takus tidak ada.

Kemudian, mengapa Candi Muara Takus berada di pinggir Sungai Kampar Kanan, ini hampir sama dengan candi-candi lain yang ada di India, Vietnam, Myanmar, atau Thailand. Yang menjadi pertanyaannya, apakah fungsi sungai ini hampir sama dengan fungsi pada candi-candi di negara lain itu atau hanya menjadi sarana transportasi, misalnya untuk mencari tanah liat yang menjadi bahan material pembangunannya di masa itu.

Pada komposisi bangunan, menurut dia, bisa menjadi cermin nilai sosial, bahkan pilihan politik. Lalu, tak semua bangunan di Muara Takus menggunakan tanah liat, ada yang dibangun dengan material lain. Dedy berpikir, jangan-jangan di masa itu candi ini dibangun oleh masyarakat yang multi kepercayaan. Pada posisi arah tangga yang berbeda, Dedy juga punya pandangan lain, apakah di masa itu di sekitar Muara Takus merupakan masyarakat yang terbuka atau karena gagal desain?

Dedy membandingkan dengan candi-candi Budha lainnya yang ada di Jawa, yang bahannya bukan dari batu bata, melainkan dari batu andesit, batu gunung. Material yang sama juga menjadi bahan bagunan candi-candi Budha di banyak negara. Lalu, dari sana, Dedy berpikir apakah ini menjelaskan tentang status sosial, atau kebudayaan yang lain?

“Apakah benar Muara Takus adalah salah satu pusat kekuasaan kerajaan besar di masa lalu seperti Sriwijaya, atau hanya bagian dari kekuasaan besar dari luar Muara Takus?” kata Dedy.

Pertanyaan-pertanyaan itu, kata Dedy, memerlukan jawaban. Dan jawaban akan bisa didapatkan jika ada penelitian yang lebih dalam lagi. Yang menjadi masalah, katanya, baik Pemprov Riau maupun pemerintah pusat tidak menganggarkan penelitian tersebut. Jadi seolah keberadaan Muara Takus ini tidak penting. Padahal, bagi masyarakat di luar Indonesia, menganggap Muara Takus itu penting sampai Raja Thailand dan para pendeta dari Tibet atau dari negara lainnya datang untuk beribadah dan bukan kunjungan wisata.

“Saya sebenarnya sudah lama tak memikirkan Muara Takus ini lagi karena memang dianggap tidak penting oleh pemerintah. Namun Prof Yusmar Yusuf meminta saya untuk bicara dalam forum ini lagi, dan saya tetap bicara soal hal itu. Jika pemerintah menganggap penting, seharusnya ada banyak hal yang bisa didalami tentang Muara Takus ini, dan itu harus diteliti lagi,” jelasnya lagi.

Dalam diskusi yang dipandu Dr Fajriani Ananda tersebut juga muncul respon dari beberapa peserta. Misalnya Candra dari FKIP Unri yang mempertanyakan apakah Muara Takus itu sebagai simbol peradaban masa lalu atau hanya peninggalan kebudayaan biasa. Dia menjelaskan tentang peradaban besar di masa lalu seperti di Mesir, di mana patung Spinx, Piramid, dan benda kuno lainnya yang terletak di pinggi Sungai Nil tersebut ternyata menjelaskan tentang peradaban besar Mesir Kuno.

“Apakah tidak mungkin ada peradaban besar di Muara Takus yang letaknya juga di dekat sungai besar yang belum tergali hingga kini?” tanya Candra.

Baca Juga:  Menyala, Lampu Colok Berbentuk Masjid Tiga Dimensi di Kampung Langkai

Peserta diskusi lainnya, Salman, menjelaskan, meski masyarakat sekitar Muara Takus tidak terlalu peduli dengan candi tersebut, menurutnya bukan karena perbedaan keyakinan, termasuk dihubungkan dengan kontestasi politik akhir-akhir ini yang dihubungkan dengan agama. Menurutnya, hal yang biasa terjadi pada masyarakat yang setiap kali melihat bangunan tersebut sehingga terasa biasa saja.

“Kita tak bisa menutup mata bahwa bangunan itu sejak lama ada di sana dan merupakan peninggalan penting yang tak ternilai. Yang justru sekarang dipikirkan adalah, apa yang harus dilakukan di masa datang? Manfaat apa yang bisa didapatkan masyarakat Riau dengan adanya Candi Muara Takus itu?” kata lelaki yang mengaku salah satu tokoh masyarakat Kampar di perantauan tersebut.

Sementara itu Ahmad Jamaan, salah seorang pengajar di FISIP Unri, mempertanyakan tentang kemungkinan-kemungkinan hal besar yang masih tersembunyi di situs Muara Takus yang hingga kini belum terungkap. Baik dalam penelitian arkeologi maupun ilmu lainnya. Misalnya banyaknya tempat penting yang masih terhubung dengan candi di sekitar situs, kuburan-kuburan kuno yang dikabarkan ada di sana, hingga isu harta karun.

“Menurut saya, banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan itu harus dilakukan penelitian multidisiplin ilmu yang lebih mendalam,” ujarnya.

Disarikan dari berbagai sumber, Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Budha yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar. Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Palangka.

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarawan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai, dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 Km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.***

Laporan HARY B KORIUN, Pekanbaru

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari