JAKARTA (RIAUPOS.CO) Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda pada 2026. Meningkatnya sentimen negatif global membuat rupiah berpotensi bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni di kisaran Rp16.400 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelebaran pergerakan rupiah tersebut mencerminkan kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Situasi ini diperkirakan terus membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Dampaknya langsung terasa pada pelemahan nilai tukar rupiah,” ujar Ibrahim, Rabu (7/1).
Seiring tekanan terhadap rupiah, harga logam mulia di dalam negeri juga diproyeksikan mengalami kenaikan signifikan. Ibrahim memperkirakan harga emas berpeluang menembus level Rp3,8 juta per gram pada 2026, didorong meningkatnya minat investor terhadap aset aman atau safe haven.
Menurutnya, terdapat sedikitnya lima faktor utama yang memengaruhi pelemahan rupiah sekaligus mendorong kenaikan harga emas dunia. Faktor tersebut meliputi ketegangan geopolitik global, dinamika politik Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed, perang dagang, serta ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan global.
Dari kelima faktor tersebut, geopolitik dinilai menjadi pemicu paling dominan. Eskalasi konflik yang semakin meluas mendorong investor menarik dana dari aset berisiko dan mengalihkan portofolio ke dolar AS serta emas.
“Geopolitik saat ini sudah melebar dan sangat memengaruhi pasar keuangan global,” terangnya.
Pada Rabu (7/1), indeks dolar AS tercatat menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dari sisi kebijakan moneter, muncul perbedaan pandangan di internal The Fed.
Anggota Dewan Gubernur The Fed, Stephen Miran, menilai aktivitas bisnis di Amerika Serikat masih solid, namun kondisi tersebut justru membuka peluang penurunan suku bunga. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Richmond, Thomas Barkin, menyebut suku bunga dana Fed saat ini berada di level netral.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sebesar 82 persen bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari 2026. Meski demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali sepanjang tahun ini tetap menjadi penopang harga emas di level tinggi.


