Kamis, 12 Maret 2026
- Advertisement -

Kata BI, Cadangan Devisa Akan Bertambah US$4,3 Miliar 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Bank Indonesia (BI) memastikan cadangan devisa pekan depan akan bertambah dari US$121 miliar menjadi US$125 miliar. Tambahan itu berasal dari penerbitan surat utang global (global bond) pemerintah sebesar US$4,3 miliar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan penerbitan global bond pemerintah saat ini sedang dalam proses administrasi dan settlement. Menurutnya, proses itu akan selesai pekan depan.

"Begitu proses pekan depan selesai maka cadangan devisa akan mendekati US$125 miliar," ucap Perry dalam video conference, Kamis (9/4/2020).

Perry optimistis cadangan devisa itu akan cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, membayar utang pemerintah jatuh tempo, dan menjaga arus kas impor hingga beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Momentum HKN, RS Awal Bros Semakin Tingkatkan Pelayanan

"Cadangan devisa akan terus membaik dan jumlah lebih dari cukup untuk bayar impor, utang pemerintah, dan menstabilkan rupiah," imbuh Perry.

Diketahui, cadangan devisa pada akhir Maret 2020 turun US$9,4 miliar dari US$130,4 miliar menjadi US$121 miliar. Perry menyatakan penurunan terjadi karena BI menggunakan cadangan devisa sebesar US$7 miliar untuk nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hebat akibat penyebaran virus corona dan US$2 miliar untuk membayar utang pemerintah yang sudah jatuh tempo.

Perry menyatakan upaya stabilisasi rupiah khususnya dilakukan pada pekan kedua dan ketiga bulan lalu. Saat itu, banyak investor global yang menarik dananya dari Indonesia, sehingga rupiah tertekan.

Walaupun cadangan devisa turun, Perry tak khawatir karena BI memiliki kerja sama dengan sejumlah bank sentral lain sebagai upaya pertahanan lapis kedua (second line of defense) dalam memasok ketersediaan dolar di dalam negeri.

Baca Juga:  Pakar Prediksi Pasar Sawit Asia Pulih Tahun Depan

Kerja sama itu berbentuk bilateral swap dengan bank sentral Cina sebesar US$30 miliar, Jepang US$22,7 miliar, Singapura US$7 miliar, dan Korea Selatan US$10 miliar.

Kemudian, kerja sama berbentuk repo line dengan Bank for International Settlements (BIS) sebesar US$2,5 miliar, bank sentral Singapura US$3 miliar, bank sentral AS sebesar US$60 miliar, dan dengan sejumlah bank sentral lain sekitar US$500 juta sampai US$1 miliar.

Sumber: CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Bank Indonesia (BI) memastikan cadangan devisa pekan depan akan bertambah dari US$121 miliar menjadi US$125 miliar. Tambahan itu berasal dari penerbitan surat utang global (global bond) pemerintah sebesar US$4,3 miliar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan penerbitan global bond pemerintah saat ini sedang dalam proses administrasi dan settlement. Menurutnya, proses itu akan selesai pekan depan.

"Begitu proses pekan depan selesai maka cadangan devisa akan mendekati US$125 miliar," ucap Perry dalam video conference, Kamis (9/4/2020).

Perry optimistis cadangan devisa itu akan cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, membayar utang pemerintah jatuh tempo, dan menjaga arus kas impor hingga beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Konsisten Dukung UMKM, Apical Group Raih Penghargaan

"Cadangan devisa akan terus membaik dan jumlah lebih dari cukup untuk bayar impor, utang pemerintah, dan menstabilkan rupiah," imbuh Perry.

- Advertisement -

Diketahui, cadangan devisa pada akhir Maret 2020 turun US$9,4 miliar dari US$130,4 miliar menjadi US$121 miliar. Perry menyatakan penurunan terjadi karena BI menggunakan cadangan devisa sebesar US$7 miliar untuk nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hebat akibat penyebaran virus corona dan US$2 miliar untuk membayar utang pemerintah yang sudah jatuh tempo.

Perry menyatakan upaya stabilisasi rupiah khususnya dilakukan pada pekan kedua dan ketiga bulan lalu. Saat itu, banyak investor global yang menarik dananya dari Indonesia, sehingga rupiah tertekan.

- Advertisement -

Walaupun cadangan devisa turun, Perry tak khawatir karena BI memiliki kerja sama dengan sejumlah bank sentral lain sebagai upaya pertahanan lapis kedua (second line of defense) dalam memasok ketersediaan dolar di dalam negeri.

Baca Juga:  Aletra L8 EV Kini Hadir di Pekanbaru, Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik Sumatera

Kerja sama itu berbentuk bilateral swap dengan bank sentral Cina sebesar US$30 miliar, Jepang US$22,7 miliar, Singapura US$7 miliar, dan Korea Selatan US$10 miliar.

Kemudian, kerja sama berbentuk repo line dengan Bank for International Settlements (BIS) sebesar US$2,5 miliar, bank sentral Singapura US$3 miliar, bank sentral AS sebesar US$60 miliar, dan dengan sejumlah bank sentral lain sekitar US$500 juta sampai US$1 miliar.

Sumber: CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Bank Indonesia (BI) memastikan cadangan devisa pekan depan akan bertambah dari US$121 miliar menjadi US$125 miliar. Tambahan itu berasal dari penerbitan surat utang global (global bond) pemerintah sebesar US$4,3 miliar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan penerbitan global bond pemerintah saat ini sedang dalam proses administrasi dan settlement. Menurutnya, proses itu akan selesai pekan depan.

"Begitu proses pekan depan selesai maka cadangan devisa akan mendekati US$125 miliar," ucap Perry dalam video conference, Kamis (9/4/2020).

Perry optimistis cadangan devisa itu akan cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, membayar utang pemerintah jatuh tempo, dan menjaga arus kas impor hingga beberapa bulan ke depan.

Baca Juga:  Pakar Prediksi Pasar Sawit Asia Pulih Tahun Depan

"Cadangan devisa akan terus membaik dan jumlah lebih dari cukup untuk bayar impor, utang pemerintah, dan menstabilkan rupiah," imbuh Perry.

Diketahui, cadangan devisa pada akhir Maret 2020 turun US$9,4 miliar dari US$130,4 miliar menjadi US$121 miliar. Perry menyatakan penurunan terjadi karena BI menggunakan cadangan devisa sebesar US$7 miliar untuk nilai tukar rupiah yang sempat tertekan hebat akibat penyebaran virus corona dan US$2 miliar untuk membayar utang pemerintah yang sudah jatuh tempo.

Perry menyatakan upaya stabilisasi rupiah khususnya dilakukan pada pekan kedua dan ketiga bulan lalu. Saat itu, banyak investor global yang menarik dananya dari Indonesia, sehingga rupiah tertekan.

Walaupun cadangan devisa turun, Perry tak khawatir karena BI memiliki kerja sama dengan sejumlah bank sentral lain sebagai upaya pertahanan lapis kedua (second line of defense) dalam memasok ketersediaan dolar di dalam negeri.

Baca Juga:  Aletra L8 EV Kini Hadir di Pekanbaru, Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik Sumatera

Kerja sama itu berbentuk bilateral swap dengan bank sentral Cina sebesar US$30 miliar, Jepang US$22,7 miliar, Singapura US$7 miliar, dan Korea Selatan US$10 miliar.

Kemudian, kerja sama berbentuk repo line dengan Bank for International Settlements (BIS) sebesar US$2,5 miliar, bank sentral Singapura US$3 miliar, bank sentral AS sebesar US$60 miliar, dan dengan sejumlah bank sentral lain sekitar US$500 juta sampai US$1 miliar.

Sumber: CNN/Antara/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari