RENGAT (RIAUPOS.CO) – Krisis ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kian meluas di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Riau hingga memicu antrean mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Terbatasnya kuota dan hambatan pasokan membuat para sopir truk harus rela mengantre hingga enam jam demi mendapatkan solar.
Manajer SPBU Kelurahan Pangkalan Kasai, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Oxy Maryuand, mengungkapkan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di Riau, tetapi juga dialami provinsi tetangga.
Antrean mengular umumnya terjadi dari pagi hingga siang, serta malam hingga pagi hari lantaran stok solar yang masuk pada pagi hari biasanya langsung ludes pada siang hari.
“Truk yang belum mendapatkan solar harus antre menunggu hingga siang. Kadang antrean terjadi paling lama sekitar empat hingga enam jam,” terang Oxy, Kamis (17/9/2026).
Kondisi tak jauh berbeda terlihat di Rokan Hilir (Rohil). Direktur Pengembangan BUMD PT SPRH (Perseroda), Yusuf Mudji Sutrisno, menjelaskan bahwa pengiriman dari Pertamina Patra Niaga Dumai yang membutuhkan waktu membuat penyaluran tidak bisa dilakukan sekaligus.
Selain angkutan barang, tingginya kebutuhan solar di Rohil dipicu oleh sektor perikanan dan pertanian yang memasuki masa tanam.
Untuk mencegah kekosongan total, pihak SPBU terpaksa membagi alokasi harian agar pelayanan tetap mengalir hingga pasokan berikutnya tiba.
“Kalau stok solar subsidi datang, tidak semuanya kita habiskan. Kita sisakan untuk besok pagi supaya pelayanan tetap ada,” ujar Yusuf.
Ia juga menekankan pentingnya pendataan ulang penerima subsidi, terutama bagi nelayan yang membutuhkan alokasi 8 hingga 16 kiloliter per hari, guna memastikan solar tidak disalahgunakan pihak yang tidak berhak.
Sebab, terhambatnya distribusi BBM pada kendaraan angkutan barang dari luar daerah, seperti Medan, dikhawatirkan memicu lonjakan harga barang pokok dan material akibat terganggunya rantai pasok.
Sementara itu di Kuantan Singingi (Kuansing), pemandangan kendaraan mengular masih terlihat jelas di SPBU Sungai Jering dan SPBU Kebun Nenas hingga memakan badan jalan.
Kendati antrean mengular, Pejabat Fungsional Pengawasan Perdagangan Dinas Kopdagrin Kuansing, Herlinawati, menyatakan bahwa hasil pantauan rutin menunjukkan pasokan BBM di seluruh SPBU sebenarnya masih tersedia sesuai kuota.
Di sisi lain, kelangkaan solar di Rokan Hulu (Rohul) mulai memicu keresahan warga akibat dugaan maraknya praktik pelangsiran.
Antrean armada truk di SPBU Jalan Tuanku Tambusai dan Jalan Lingkar Pasirpengaraian meluber hingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Rian, seorang pengemudi mobil pribadi, mengeluhkan sulitnya mendapat solar untuk kebutuhan harian lantaran didominasi oleh truk yang diduga melakukan pelangsiran berulang kali.
“Kalau memang ada truk dan mobil pribadi yang bolak-balik mengisi dan melangsir BBM solar dengan menukar nopol dan dua barcode, seharusnya ditindak tegas oleh polisi,” tegas Rian.
Masyarakat mendesak aparat Polres Rohul untuk menerjunkan personel dan memperketat pengawasan langsung di setiap SPBU guna menindak tegas oknum pelangsir serta mengurai kemacetan lalu lintas.

