Pertanyaan:
Assalamualaikum ustaz, Saya Syarifah, ingin bertanya kepada ustaz, apakah perempuan bisa mendapatkan malam lailatul qadar ? Terima kasih Pak ustaz.

Syarifah
Jawaban:
Terima kasih kepada Bu Syarifah yang menanyakan perihal apakah perempuan haid bisa mendapatkan malam lailatul qadar?
Dalam Islam, Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa di bulan Ramadan, di mana umat Muslim percaya dan beriman bahwa pada malam tersebut, amal ibadah lebih bernilai daripada seribu bulan. Bagaimana tidak, pada lailatul qadar Al-Qur’an diturunkan pertama kalinya. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan.” (QS Al-Qadr: 1-3).
Lailatul Qadar dapat diperoleh dengan cara menghidupkan malam-malam ganjil dengan beribadah seperti berdzikir, melakukan salat sunah, dan salat berjamaah. Dengannya Allah swt akan mengampuni dosa-dosa yang terdahulu, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW yang artinya ‘’ Barangsiapa beribadah pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR Al-Bukhari). Oleh itu, umat Islam ingin meraih kemuliaan dan keagungan Lailatul Qadar. Tak terkecuali perempuan yang mengalami haid, namun mereka mengalami dilema sebab kodratnya sebagai perempuan dewasa menghalanginya untuk melakukan sejumlah ibadah-ibadah tertentu.
Lantas bagaimana dengan perempuan yang sedangan mengalami haid. Apakah mereka bisa mendapatkan malam lailatul qadar ?
Imam Ad Dhahk seorang ulama hadis menyebutkan didalam Lathaiful Ma’arif. Jubair berkata: “Aku pernah bertanya kepada Imam Ad-Dhahak, bagaimana pendapatmu mengenai perempuan yang sedang nifas, haid, orang yang tengah bepergian (musafir) dan orang yang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailatul Qadar?” Lantas oleh Imam Ad-Dhahak dijawab: “Ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang diterima amalnya, maka Allah swt akan memberikan bagiannya dari Lailatul Qadar.” Statemen yang disampaikan oleh Imam Ad-Dhahak di atas menunjukkan bahwa seorang perempuan yang mengalami haid dapat memperoleh Lailatul Qadar.
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh perempuan haid untuk menghidupkan dan mengisi lailatul qadar. Imam Nawawi Al-Bantani menyebutkan didalam kitabnya Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin,
Tingkatan dalam menghidupkan Lailatul Qadar ada tiga (3). Yang tertinggi adalah menghidupkan Lailatul Qadar dengan melakukan salat. Sedangkan, tingkatan yang sedang ialah menghidupkan Lailatul Qadar dengan dzikir. Adapun tingkatan terendah ialah dengan melaksanakan Salat Isya dan Subuh secara berjamaah. Melakukan hal tersebut pada malam Lailatul Qadar lebih baik ketimbang malam lainnya selama 1000 bulan, dan orang yang melakukannya akan mendapatkan keutamaan meski tidak menyaksikan Lailatul Qadar menurut pendapat yang kuat.***