Jumat, 19 Juni 2026
- Advertisement -

Kegiatan Positif Sambut Tahun Baru

Dalam hitungan jam, tahun 2019 akan berakhir, tahun 2020 menjelang. Biasanya malam pergantian tahun atau tahun baru Masehi dimeriahkan warga dengan euforia jelang pukul 00.00 hingga dinihari memasuki tahun baru. Beragam kegiatan pun digelar. Mulai acara bakar-bakaran (bakar ayam, ikan dan jagung), api unggun, meniup terompet, melepas kembang api hingga konvoi di jalanan dan berkumpul di satu titik menanti detik-detik pergantian tahun. Lalu melepas kembang api ke udara. Bunyinya yang memekakkan telinga, tak jarang bak suasana perang. Begitulah perayaan malam bergantian tahun di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dan Sumbar tentunya.
Namun, beberapa tahun ini, pemerintah daerah, kepolisian dan MUI di Riau mengimbau umat muslim tidak merayakan tahun baru Masehi. Selain itu, merayakan tahun baru dengan euphoria seperti itu lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Rawan kecelakaan, maksiat hingga penggunaan barang haram. Karena itu, pemerintah daerah bersama MUI gencarkan mengimbau jauh-jauh hari jelang malam pergantian tahun. 
Agar masyarakat terutama remaja tidak melewat malam tahun baru dengan hura-hara, sejumlah pihak mengagendakan kegiatan bersifat islami di malam pergantian tahun. Seperti meramaikan masjid/musala dengan muhasabah, zikir di malam tersebut. Kegiatan ini nampaknya cukup efektif, setidaknya bisa memecah konsentrasi massa untuk merayakan malam pergantian tahun. Apalagi bila sejumlah titik yang digunakan titik kumpul massa ditutup di malam tersebut. 
Seperti biasa, pada malam tahun baru, sering terjadi kompoi sepeda motor, mobil sambil meniup terompet. Sejumlah tempat hiburan pun menggelar beragam acara yang mengundang kesenangan. Padahal idealnya, saat pergantian tahun, kita sikapi dengan bersyukur dan berdoa tahun depan lebih baik.
Setiap orang wajar berharap, terutama di awal tahun baru. Artinya tahun 2020 akan lebih baik dari tahun 2019. Banyak peristiwa selama 2019 kita lalui, ada yang pahit dan manis. Semuanya kita rasakan sebagai satu rasa, yakni kehidupan selama 2019. Selama 2019 memang terlalu banyak peristiwa pahit yang kita rasakan. 
Banyak kejadian yang menimpa negeri ini, mulai dari banjir, kebakaran, asap, kekeringan dan ancaman bencana alam lainnya. Melihat penderitaan yang kita alami ini, wajarkah kita merayakan tahun baru 2020 ini dengan acara yang mewah atau perayaan yang mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sangat memalukan, jika kita melakukan itu di tengah penderitaan yang kita alami sendiri.
Idealnya pergantian tahun ini dilakukan sewajarnya, sehingga tidak menghilangkan rasa suka dan rasa duka.  
Selaku manusia tentu kita memiliki kesalahan. Ke depan, sejumlah kelemahan kita, sudah seharusnya diperbaiki. Sebab, manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih hari esok daripada hari ini. Semoga 2014 kita lebih baik.***
Dalam hitungan jam, tahun 2019 akan berakhir, tahun 2020 menjelang. Biasanya malam pergantian tahun atau tahun baru Masehi dimeriahkan warga dengan euforia jelang pukul 00.00 hingga dinihari memasuki tahun baru. Beragam kegiatan pun digelar. Mulai acara bakar-bakaran (bakar ayam, ikan dan jagung), api unggun, meniup terompet, melepas kembang api hingga konvoi di jalanan dan berkumpul di satu titik menanti detik-detik pergantian tahun. Lalu melepas kembang api ke udara. Bunyinya yang memekakkan telinga, tak jarang bak suasana perang. Begitulah perayaan malam bergantian tahun di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dan Sumbar tentunya.
Namun, beberapa tahun ini, pemerintah daerah, kepolisian dan MUI di Riau mengimbau umat muslim tidak merayakan tahun baru Masehi. Selain itu, merayakan tahun baru dengan euphoria seperti itu lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Rawan kecelakaan, maksiat hingga penggunaan barang haram. Karena itu, pemerintah daerah bersama MUI gencarkan mengimbau jauh-jauh hari jelang malam pergantian tahun. 
Agar masyarakat terutama remaja tidak melewat malam tahun baru dengan hura-hara, sejumlah pihak mengagendakan kegiatan bersifat islami di malam pergantian tahun. Seperti meramaikan masjid/musala dengan muhasabah, zikir di malam tersebut. Kegiatan ini nampaknya cukup efektif, setidaknya bisa memecah konsentrasi massa untuk merayakan malam pergantian tahun. Apalagi bila sejumlah titik yang digunakan titik kumpul massa ditutup di malam tersebut. 
Seperti biasa, pada malam tahun baru, sering terjadi kompoi sepeda motor, mobil sambil meniup terompet. Sejumlah tempat hiburan pun menggelar beragam acara yang mengundang kesenangan. Padahal idealnya, saat pergantian tahun, kita sikapi dengan bersyukur dan berdoa tahun depan lebih baik.
Setiap orang wajar berharap, terutama di awal tahun baru. Artinya tahun 2020 akan lebih baik dari tahun 2019. Banyak peristiwa selama 2019 kita lalui, ada yang pahit dan manis. Semuanya kita rasakan sebagai satu rasa, yakni kehidupan selama 2019. Selama 2019 memang terlalu banyak peristiwa pahit yang kita rasakan. 
Banyak kejadian yang menimpa negeri ini, mulai dari banjir, kebakaran, asap, kekeringan dan ancaman bencana alam lainnya. Melihat penderitaan yang kita alami ini, wajarkah kita merayakan tahun baru 2020 ini dengan acara yang mewah atau perayaan yang mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sangat memalukan, jika kita melakukan itu di tengah penderitaan yang kita alami sendiri.
Idealnya pergantian tahun ini dilakukan sewajarnya, sehingga tidak menghilangkan rasa suka dan rasa duka.  
Selaku manusia tentu kita memiliki kesalahan. Ke depan, sejumlah kelemahan kita, sudah seharusnya diperbaiki. Sebab, manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih hari esok daripada hari ini. Semoga 2014 kita lebih baik.***
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Dalam hitungan jam, tahun 2019 akan berakhir, tahun 2020 menjelang. Biasanya malam pergantian tahun atau tahun baru Masehi dimeriahkan warga dengan euforia jelang pukul 00.00 hingga dinihari memasuki tahun baru. Beragam kegiatan pun digelar. Mulai acara bakar-bakaran (bakar ayam, ikan dan jagung), api unggun, meniup terompet, melepas kembang api hingga konvoi di jalanan dan berkumpul di satu titik menanti detik-detik pergantian tahun. Lalu melepas kembang api ke udara. Bunyinya yang memekakkan telinga, tak jarang bak suasana perang. Begitulah perayaan malam bergantian tahun di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia dan Sumbar tentunya.
Namun, beberapa tahun ini, pemerintah daerah, kepolisian dan MUI di Riau mengimbau umat muslim tidak merayakan tahun baru Masehi. Selain itu, merayakan tahun baru dengan euphoria seperti itu lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Rawan kecelakaan, maksiat hingga penggunaan barang haram. Karena itu, pemerintah daerah bersama MUI gencarkan mengimbau jauh-jauh hari jelang malam pergantian tahun. 
Agar masyarakat terutama remaja tidak melewat malam tahun baru dengan hura-hara, sejumlah pihak mengagendakan kegiatan bersifat islami di malam pergantian tahun. Seperti meramaikan masjid/musala dengan muhasabah, zikir di malam tersebut. Kegiatan ini nampaknya cukup efektif, setidaknya bisa memecah konsentrasi massa untuk merayakan malam pergantian tahun. Apalagi bila sejumlah titik yang digunakan titik kumpul massa ditutup di malam tersebut. 
Seperti biasa, pada malam tahun baru, sering terjadi kompoi sepeda motor, mobil sambil meniup terompet. Sejumlah tempat hiburan pun menggelar beragam acara yang mengundang kesenangan. Padahal idealnya, saat pergantian tahun, kita sikapi dengan bersyukur dan berdoa tahun depan lebih baik.
Setiap orang wajar berharap, terutama di awal tahun baru. Artinya tahun 2020 akan lebih baik dari tahun 2019. Banyak peristiwa selama 2019 kita lalui, ada yang pahit dan manis. Semuanya kita rasakan sebagai satu rasa, yakni kehidupan selama 2019. Selama 2019 memang terlalu banyak peristiwa pahit yang kita rasakan. 
Banyak kejadian yang menimpa negeri ini, mulai dari banjir, kebakaran, asap, kekeringan dan ancaman bencana alam lainnya. Melihat penderitaan yang kita alami ini, wajarkah kita merayakan tahun baru 2020 ini dengan acara yang mewah atau perayaan yang mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Sangat memalukan, jika kita melakukan itu di tengah penderitaan yang kita alami sendiri.
Idealnya pergantian tahun ini dilakukan sewajarnya, sehingga tidak menghilangkan rasa suka dan rasa duka.  
Selaku manusia tentu kita memiliki kesalahan. Ke depan, sejumlah kelemahan kita, sudah seharusnya diperbaiki. Sebab, manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih hari esok daripada hari ini. Semoga 2014 kita lebih baik.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari