Sabtu, 7 Februari 2026
- Advertisement -

Pustu Tak Layak, Warga Desa Patah Parang Terpaksa Melahirkan di Kantor Desa

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Kondisi bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Patah Parang, Kecamatan Sungai Batang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dinilai sudah tidak layak digunakan. Akibatnya, seorang warga terpaksa melahirkan di kantor desa karena fasilitas kesehatan tersebut tidak dapat difungsikan.

Warga yang melahirkan tersebut diketahui bernama Fitri (19), berasal dari keluarga kurang mampu. Dalam kondisi darurat, keterbatasan ekonomi serta rusaknya bangunan Pustu membuat proses persalinan tidak memungkinkan dilakukan di fasilitas kesehatan.

Menurut keterangan warga setempat, kerusakan bangunan Pustu sudah terjadi cukup lama. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan serius dan tidak lagi memenuhi standar sebagai tempat pelayanan kesehatan.

“Bangunannya sudah lama rusak dan tidak layak. Kalau masih bisa digunakan, tentu warga tidak sampai melahirkan di kantor desa,” ujar seorang warga.

Baca Juga:  119 Kafilah Diberangkatkan

Selain kondisi bangunan, warga juga menyebutkan keterbatasan ekonomi menjadi kendala lain. Biaya persalinan di bidan praktik mandiri tidak mampu ditanggung oleh keluarga pasien.

“Ini sangat memprihatinkan. Fasilitasnya ada, tapi bangunannya tidak bisa digunakan,” tambah warga tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Patah Parang, Dedi Suandi, membenarkan adanya persalinan warga di kantor desa. Ia mengatakan, sebelum proses persalinan, pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa.

“Benar, sebelum persalinan pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan kami. Bersama perangkat desa, kami mengambil keputusan melahirkan di kantor desa. Kalau tidak salah, lahirnya Kamis kemarin. Alhamdulillah, ibu dan bayi dalam keadaan sehat,” ujar Dedi kepada Riaupos.co, Jumat (6/2/2026).

Terkait kondisi bangunan Pustu, Dedi mengakui bangunan tersebut memang sudah tidak layak digunakan. Ia menyebutkan, usulan perbaikan telah beberapa kali diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Baca Juga:  Jejak Kaki Maut Ditemukan! Harimau Sumatera Diduga Mangsa 5 Kambing Warga Inhil

Menurutnya, pada tahun 2026 bangunan Pustu Desa Patah Parang telah masuk dalam rencana perbaikan oleh pemerintah kabupaten.

“Fasilitasnya ada, hanya bangunannya yang rusak. Untuk perbaikan memang menunggu dari pemerintah kabupaten. Alhamdulillah, tahun ini sudah mendapatkan bantuan perbaikan,” katanya.

Dedi juga menjelaskan, jarak tempuh dari Desa Patah Parang menuju Puskesmas Sungai Batang membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan kapal motor atau pompong.

“Sambil menunggu perbaikan, kami sepakat mengontrak rumah warga untuk dijadikan Pustu sementara. Jika harus ke puskesmas, warga tentu membutuhkan biaya tambahan. Untuk itu, kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” tutupnya. (*2)

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Kondisi bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Patah Parang, Kecamatan Sungai Batang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dinilai sudah tidak layak digunakan. Akibatnya, seorang warga terpaksa melahirkan di kantor desa karena fasilitas kesehatan tersebut tidak dapat difungsikan.

Warga yang melahirkan tersebut diketahui bernama Fitri (19), berasal dari keluarga kurang mampu. Dalam kondisi darurat, keterbatasan ekonomi serta rusaknya bangunan Pustu membuat proses persalinan tidak memungkinkan dilakukan di fasilitas kesehatan.

Menurut keterangan warga setempat, kerusakan bangunan Pustu sudah terjadi cukup lama. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan serius dan tidak lagi memenuhi standar sebagai tempat pelayanan kesehatan.

“Bangunannya sudah lama rusak dan tidak layak. Kalau masih bisa digunakan, tentu warga tidak sampai melahirkan di kantor desa,” ujar seorang warga.

Baca Juga:  TP PKK Indragiri Hilir Gerakkan Kader untuk Iuran Rutin Bulanan

Selain kondisi bangunan, warga juga menyebutkan keterbatasan ekonomi menjadi kendala lain. Biaya persalinan di bidan praktik mandiri tidak mampu ditanggung oleh keluarga pasien.

- Advertisement -

“Ini sangat memprihatinkan. Fasilitasnya ada, tapi bangunannya tidak bisa digunakan,” tambah warga tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Patah Parang, Dedi Suandi, membenarkan adanya persalinan warga di kantor desa. Ia mengatakan, sebelum proses persalinan, pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa.

- Advertisement -

“Benar, sebelum persalinan pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan kami. Bersama perangkat desa, kami mengambil keputusan melahirkan di kantor desa. Kalau tidak salah, lahirnya Kamis kemarin. Alhamdulillah, ibu dan bayi dalam keadaan sehat,” ujar Dedi kepada Riaupos.co, Jumat (6/2/2026).

Terkait kondisi bangunan Pustu, Dedi mengakui bangunan tersebut memang sudah tidak layak digunakan. Ia menyebutkan, usulan perbaikan telah beberapa kali diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Baca Juga:  20 Unit RLH Enok Belum Ditempati

Menurutnya, pada tahun 2026 bangunan Pustu Desa Patah Parang telah masuk dalam rencana perbaikan oleh pemerintah kabupaten.

“Fasilitasnya ada, hanya bangunannya yang rusak. Untuk perbaikan memang menunggu dari pemerintah kabupaten. Alhamdulillah, tahun ini sudah mendapatkan bantuan perbaikan,” katanya.

Dedi juga menjelaskan, jarak tempuh dari Desa Patah Parang menuju Puskesmas Sungai Batang membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan kapal motor atau pompong.

“Sambil menunggu perbaikan, kami sepakat mengontrak rumah warga untuk dijadikan Pustu sementara. Jika harus ke puskesmas, warga tentu membutuhkan biaya tambahan. Untuk itu, kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” tutupnya. (*2)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Kondisi bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Patah Parang, Kecamatan Sungai Batang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dinilai sudah tidak layak digunakan. Akibatnya, seorang warga terpaksa melahirkan di kantor desa karena fasilitas kesehatan tersebut tidak dapat difungsikan.

Warga yang melahirkan tersebut diketahui bernama Fitri (19), berasal dari keluarga kurang mampu. Dalam kondisi darurat, keterbatasan ekonomi serta rusaknya bangunan Pustu membuat proses persalinan tidak memungkinkan dilakukan di fasilitas kesehatan.

Menurut keterangan warga setempat, kerusakan bangunan Pustu sudah terjadi cukup lama. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan serius dan tidak lagi memenuhi standar sebagai tempat pelayanan kesehatan.

“Bangunannya sudah lama rusak dan tidak layak. Kalau masih bisa digunakan, tentu warga tidak sampai melahirkan di kantor desa,” ujar seorang warga.

Baca Juga:  Jejak Kaki Maut Ditemukan! Harimau Sumatera Diduga Mangsa 5 Kambing Warga Inhil

Selain kondisi bangunan, warga juga menyebutkan keterbatasan ekonomi menjadi kendala lain. Biaya persalinan di bidan praktik mandiri tidak mampu ditanggung oleh keluarga pasien.

“Ini sangat memprihatinkan. Fasilitasnya ada, tapi bangunannya tidak bisa digunakan,” tambah warga tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Patah Parang, Dedi Suandi, membenarkan adanya persalinan warga di kantor desa. Ia mengatakan, sebelum proses persalinan, pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa.

“Benar, sebelum persalinan pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan kami. Bersama perangkat desa, kami mengambil keputusan melahirkan di kantor desa. Kalau tidak salah, lahirnya Kamis kemarin. Alhamdulillah, ibu dan bayi dalam keadaan sehat,” ujar Dedi kepada Riaupos.co, Jumat (6/2/2026).

Terkait kondisi bangunan Pustu, Dedi mengakui bangunan tersebut memang sudah tidak layak digunakan. Ia menyebutkan, usulan perbaikan telah beberapa kali diajukan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Baca Juga:  Api Berkobar Saat Jam Kerja, Kantor Camat Enok Nyaris Rata dengan Tanah

Menurutnya, pada tahun 2026 bangunan Pustu Desa Patah Parang telah masuk dalam rencana perbaikan oleh pemerintah kabupaten.

“Fasilitasnya ada, hanya bangunannya yang rusak. Untuk perbaikan memang menunggu dari pemerintah kabupaten. Alhamdulillah, tahun ini sudah mendapatkan bantuan perbaikan,” katanya.

Dedi juga menjelaskan, jarak tempuh dari Desa Patah Parang menuju Puskesmas Sungai Batang membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan kapal motor atau pompong.

“Sambil menunggu perbaikan, kami sepakat mengontrak rumah warga untuk dijadikan Pustu sementara. Jika harus ke puskesmas, warga tentu membutuhkan biaya tambahan. Untuk itu, kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan,” tutupnya. (*2)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari