BENGKALIS (RIAUPOS.CO) — Kemarau panjang yang melanda wilayah Rupat menyebabkan lahan gambut dan semak belukar mengering, sehingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sulit dikendalikan. Asap tebal dari kebakaran bahkan menyelimuti udara di Kecamatan Rupat dan sekitarnya pada Rabu (25/3/2026).
Hingga Rabu siang, aparat bersama tim gabungan masih berupaya keras memadamkan api di sejumlah titik. Kapolsek Rupat AKP Faisal bersama Satgas terus melakukan pemadaman di Jalan Meranti Kelurahan Pergam, Jalan Parit Jawa Dusun Sungai Mesim 2, serta Jalan Sukajadi Desa Sukarjo Mesim yang meluas hingga Jalan Perjuangan Desa Kebumen.
AKP Faisal menyebutkan, proses pemadaman dan pendinginan masih berlangsung di lapangan. Total luas lahan yang terbakar mencapai 50 hektare, dengan rincian 10 hektare di Jalan Meranti dan 40 hektare di wilayah lainnya.
Ia menjelaskan, area yang terbakar didominasi semak belukar, tanaman pakis, serta kebun kelapa sawit. Kondisi tanah gambut yang kering, ditambah angin kencang yang berubah arah, menjadi tantangan utama bagi petugas. Cuaca panas ekstrem dan tidak adanya hujan selama sebulan terakhir juga memperparah situasi.
Di sisi lain, Manajer Pusdalops BPBD Bengkalis, Erzan Syah, mengungkapkan bahwa upaya pemadaman di lapangan menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.
Beberapa titik api bahkan berada hingga 13 kilometer dari akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Kondisi ini memaksa petugas menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki sambil membawa perlengkapan pemadaman.
Medan yang berat tersebut turut menyulitkan distribusi logistik dan peralatan. Selain itu, terbatasnya sumber air di lahan gambut kering menjadi hambatan serius dalam proses pemadaman.
Menurut Erzan, ketersediaan air merupakan faktor krusial dalam penanganan kebakaran. Ketika sumber air sulit dijangkau, maka proses pemadaman menjadi lebih lambat.
Faktor cuaca seperti suhu tinggi dan angin kencang juga mempercepat penyebaran api, sehingga area terdampak semakin luas. Meski demikian, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat tetap berupaya maksimal mengendalikan api.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat sekat bakar guna mencegah api merambat ke wilayah lain. Selain itu, proses pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa bara, terutama di lahan gambut yang rawan terbakar kembali.
Erzan menegaskan, koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif. Ia berharap upaya yang dilakukan dapat segera mengendalikan kebakaran meskipun kondisi di lapangan cukup kompleks.
Lebih lanjut, ia menjelaskan terdapat tiga faktor utama penyebab karhutla, yakni meteorologis, hidrologis, dan aktivitas manusia.
Faktor meteorologis berkaitan dengan cuaca ekstrem seperti suhu tinggi, angin kencang, dan peningkatan suhu permukaan laut yang memicu munculnya titik api.
Sementara faktor hidrologis disebabkan kondisi lahan gambut yang mengering akibat degradasi lingkungan, sehingga mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Namun, faktor terbesar berasal dari aktivitas manusia, baik karena kelalaian maupun kesengajaan. Erzan menyebut sekitar 99 persen kebakaran dipicu oleh faktor tersebut, sedangkan penyebab alami seperti petir sangat kecil kemungkinannya.
Ia menambahkan, pemahaman masyarakat menjadi kunci penting dalam pencegahan karhutla. BPBD terus mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan lebih bijak dalam penggunaan api.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dinilai sangat penting untuk menekan angka kebakaran. Dengan kesadaran bersama, diharapkan kejadian karhutla di Bengkalis dapat diminimalkan.

