Minggu, 6 April 2025
spot_img

Publik Konsisten Tolak Tiga Periode

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penolakan terhadap ide perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode tetap tinggi. Berdasar survei terbaru yang dilakukan Kawula17 pada 16 Maret–29 Maret 2022, masyarakat Indonesia konsisten menolak wacana tersebut.

Survei Kawula17 mengambil sampel 531 warga Indonesia secara online. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage quota sampling dengan margin of error survei 4,3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Peneliti Kawula17 Maria Angelica Christy Aka menuturkan, pemetaan hasil survei dibagi dalam tiga kategori usia. Yakni, usia 18–24 tahun, 25–35 tahun, dan 35–45 tahun. Hasilnya, penolakan terjadi secara merata di semua usia. ’’Orang berumur 25–35 tahun paling tidak mendukung tiga periode jika dibandingkan kelompok umur lainnya, yakni 64 persen,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Airlangga: Partai Golkar Segaris dengan Presiden

Sementara itu, di usia 18–24 tahun penolakan mencapai 50 persen dan usia 35–45 ada di angka 35 persen. Meski penolakan di usia 35–45 tidak sampai separuh, bukan berarti mereka sepakat. Sebab, yang setuju hanya 32 persen, sedangkan sisanya memilih netral.

Jika diakumulasi dari berbagai kategori usia tersebut, 50 persen menolak isu tiga periode. Di sisi lain, yang sepakat hanya 25 persen. Mereka yang sepakat beralasan bahwa pandemi adalah situasi luar biasa. Jika diperpanjang, presiden bisa fokus merealisasikan program-program yang ada.

Sementara itu, bagi mereka yang menolak, salah satu alasannya karena perpanjangan periode presiden akan menghambat upaya regenerasi pemimpin Indonesia. Selain itu, cara tersebut dapat memicu potensi otoritarianisme. "Batas periode itu ada karena alasan, salah satunya untuk mengurangi potensi otoritarian pemerintah," kata Maria.(far/c18/bay/jpg)

Baca Juga:  Prabowo Ajak Semua Pihak Hormati Proses Hukum

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penolakan terhadap ide perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode tetap tinggi. Berdasar survei terbaru yang dilakukan Kawula17 pada 16 Maret–29 Maret 2022, masyarakat Indonesia konsisten menolak wacana tersebut.

Survei Kawula17 mengambil sampel 531 warga Indonesia secara online. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage quota sampling dengan margin of error survei 4,3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Peneliti Kawula17 Maria Angelica Christy Aka menuturkan, pemetaan hasil survei dibagi dalam tiga kategori usia. Yakni, usia 18–24 tahun, 25–35 tahun, dan 35–45 tahun. Hasilnya, penolakan terjadi secara merata di semua usia. ’’Orang berumur 25–35 tahun paling tidak mendukung tiga periode jika dibandingkan kelompok umur lainnya, yakni 64 persen,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Demokrat Gelar Pasar Murah Online, Pesan Langsung Diantar ke Rumah

Sementara itu, di usia 18–24 tahun penolakan mencapai 50 persen dan usia 35–45 ada di angka 35 persen. Meski penolakan di usia 35–45 tidak sampai separuh, bukan berarti mereka sepakat. Sebab, yang setuju hanya 32 persen, sedangkan sisanya memilih netral.

Jika diakumulasi dari berbagai kategori usia tersebut, 50 persen menolak isu tiga periode. Di sisi lain, yang sepakat hanya 25 persen. Mereka yang sepakat beralasan bahwa pandemi adalah situasi luar biasa. Jika diperpanjang, presiden bisa fokus merealisasikan program-program yang ada.

Sementara itu, bagi mereka yang menolak, salah satu alasannya karena perpanjangan periode presiden akan menghambat upaya regenerasi pemimpin Indonesia. Selain itu, cara tersebut dapat memicu potensi otoritarianisme. "Batas periode itu ada karena alasan, salah satunya untuk mengurangi potensi otoritarian pemerintah," kata Maria.(far/c18/bay/jpg)

Baca Juga:  Sulit Kurangi Durasi Kampanye di Pilkada 2020

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Publik Konsisten Tolak Tiga Periode

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penolakan terhadap ide perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode tetap tinggi. Berdasar survei terbaru yang dilakukan Kawula17 pada 16 Maret–29 Maret 2022, masyarakat Indonesia konsisten menolak wacana tersebut.

Survei Kawula17 mengambil sampel 531 warga Indonesia secara online. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage quota sampling dengan margin of error survei 4,3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Peneliti Kawula17 Maria Angelica Christy Aka menuturkan, pemetaan hasil survei dibagi dalam tiga kategori usia. Yakni, usia 18–24 tahun, 25–35 tahun, dan 35–45 tahun. Hasilnya, penolakan terjadi secara merata di semua usia. ’’Orang berumur 25–35 tahun paling tidak mendukung tiga periode jika dibandingkan kelompok umur lainnya, yakni 64 persen,’’ ujarnya.

Baca Juga:  Mahfud MD: Pemecatan Presiden Itu Dibolehkan UU

Sementara itu, di usia 18–24 tahun penolakan mencapai 50 persen dan usia 35–45 ada di angka 35 persen. Meski penolakan di usia 35–45 tidak sampai separuh, bukan berarti mereka sepakat. Sebab, yang setuju hanya 32 persen, sedangkan sisanya memilih netral.

Jika diakumulasi dari berbagai kategori usia tersebut, 50 persen menolak isu tiga periode. Di sisi lain, yang sepakat hanya 25 persen. Mereka yang sepakat beralasan bahwa pandemi adalah situasi luar biasa. Jika diperpanjang, presiden bisa fokus merealisasikan program-program yang ada.

Sementara itu, bagi mereka yang menolak, salah satu alasannya karena perpanjangan periode presiden akan menghambat upaya regenerasi pemimpin Indonesia. Selain itu, cara tersebut dapat memicu potensi otoritarianisme. "Batas periode itu ada karena alasan, salah satunya untuk mengurangi potensi otoritarian pemerintah," kata Maria.(far/c18/bay/jpg)

Baca Juga:  Ormas Garbi Akan Dideklarasikan sebagai Partai Politik

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penolakan terhadap ide perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode tetap tinggi. Berdasar survei terbaru yang dilakukan Kawula17 pada 16 Maret–29 Maret 2022, masyarakat Indonesia konsisten menolak wacana tersebut.

Survei Kawula17 mengambil sampel 531 warga Indonesia secara online. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage quota sampling dengan margin of error survei 4,3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Peneliti Kawula17 Maria Angelica Christy Aka menuturkan, pemetaan hasil survei dibagi dalam tiga kategori usia. Yakni, usia 18–24 tahun, 25–35 tahun, dan 35–45 tahun. Hasilnya, penolakan terjadi secara merata di semua usia. ’’Orang berumur 25–35 tahun paling tidak mendukung tiga periode jika dibandingkan kelompok umur lainnya, yakni 64 persen,’’ ujarnya.

Baca Juga:  DPD Minta Jokowi Lakukan Reshuffle Kabinet

Sementara itu, di usia 18–24 tahun penolakan mencapai 50 persen dan usia 35–45 ada di angka 35 persen. Meski penolakan di usia 35–45 tidak sampai separuh, bukan berarti mereka sepakat. Sebab, yang setuju hanya 32 persen, sedangkan sisanya memilih netral.

Jika diakumulasi dari berbagai kategori usia tersebut, 50 persen menolak isu tiga periode. Di sisi lain, yang sepakat hanya 25 persen. Mereka yang sepakat beralasan bahwa pandemi adalah situasi luar biasa. Jika diperpanjang, presiden bisa fokus merealisasikan program-program yang ada.

Sementara itu, bagi mereka yang menolak, salah satu alasannya karena perpanjangan periode presiden akan menghambat upaya regenerasi pemimpin Indonesia. Selain itu, cara tersebut dapat memicu potensi otoritarianisme. "Batas periode itu ada karena alasan, salah satunya untuk mengurangi potensi otoritarian pemerintah," kata Maria.(far/c18/bay/jpg)

Baca Juga:  Airlangga Jelaskan soal Program Golkar Institute dan Yellow Klinik

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari