Sabtu, 23 Mei 2026
- Advertisement -

Hidayat Nur Wahid Peringatkan Nadiem

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Program Organisasi Penggerak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menuai banyak kritik pedas dari berbagai kalangan. Proyek itu dianggap lemah dalam proses verifikasi dan validasi.

Akibat kelemahan proses verifikasi dan validasi, itu mengakibatkan penolakan dari Muhammadiyah dan NU. Menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW), dua organisasi massa terbesar di Indonesia itu telah berjasa dalam menggerakkan dan mengelola pendidikan di Indonesia.

Karena itu HNW meminta menteri Nadiem mendengarkan masukan dari masyarakat, termasuk Muhammadiyah dan NU. Terutama masukan yang menyatakan bahwa program dengan total anggaran Rp595 Miliar tersebut seharusnya melibatkan lembaga yang kredibel dan terbukti berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Polisi Diminta Usut Tuntas Kasus Kekerasan Terhadap Wartawan Tempo, Nurhadi

"Anggaran penggerak pendidikan ini jangan sampai jadi sekedar hibah untuk pihak swasta, yang belum jelas kontribusinya di bidang pendidikan. Pemerintah harusnya lebih hati-hati soal pemakaian APBN, apalagi saat ini merupakan era darurat corona," ujar HNW kepada JawaPos.com.

HNW juga mengingatkan, 30 hingga 40 persen pembiayaan negara di masa Pandemi ini berasal dari utang. Ini terjadi karena defisit yang semakin melebar hingga lebih dari Rp1000 triliun sesuai Perpres 72/2020. Karena itu diperlukan langkah penggunaan anggaran yang hati-hati, efisien, tepat guna dan pruden, terutama untuk program dengan anggaran yang melimpah.

Menurutnya, anggaran untuk Organisasi Penggerak Pendidikan sebesar Rp595 Miliar di Kemendikbud adalah sangat besar, dibandingkan misalnya anggaran untuk Lembaga/Ormas di Kementerian Agama yang hanya sekitar Rp75 Miliar.

Baca Juga:  Mahfud MD: Penghargaan ke Gatot Nurmantyo Bukan untuk Membungkam

Karenanya, elit politisi PKS ini meminta mendikbud lebih peka dan berhati-hati, apalagi ditemukan ada beberapa Lembaga yang berafiliasi dengan dana CSR perusahaan, seperti Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation, tapi malah menerima "hibah" kelas gajah dari program ini.

"Mundurnya Muhammadiyah dan NU dari program tersebut harus menjadi evaluasi serius bahwa ada yang tidak beres dalam proses dan pengambilan keputusannya, apalagi kabarnya dalam proses verifikasi, tidak menggugurkan satu pun dari 183 lembaga calon penerima," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Program Organisasi Penggerak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menuai banyak kritik pedas dari berbagai kalangan. Proyek itu dianggap lemah dalam proses verifikasi dan validasi.

Akibat kelemahan proses verifikasi dan validasi, itu mengakibatkan penolakan dari Muhammadiyah dan NU. Menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW), dua organisasi massa terbesar di Indonesia itu telah berjasa dalam menggerakkan dan mengelola pendidikan di Indonesia.

Karena itu HNW meminta menteri Nadiem mendengarkan masukan dari masyarakat, termasuk Muhammadiyah dan NU. Terutama masukan yang menyatakan bahwa program dengan total anggaran Rp595 Miliar tersebut seharusnya melibatkan lembaga yang kredibel dan terbukti berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Mahfud MD: Penghargaan ke Gatot Nurmantyo Bukan untuk Membungkam

"Anggaran penggerak pendidikan ini jangan sampai jadi sekedar hibah untuk pihak swasta, yang belum jelas kontribusinya di bidang pendidikan. Pemerintah harusnya lebih hati-hati soal pemakaian APBN, apalagi saat ini merupakan era darurat corona," ujar HNW kepada JawaPos.com.

HNW juga mengingatkan, 30 hingga 40 persen pembiayaan negara di masa Pandemi ini berasal dari utang. Ini terjadi karena defisit yang semakin melebar hingga lebih dari Rp1000 triliun sesuai Perpres 72/2020. Karena itu diperlukan langkah penggunaan anggaran yang hati-hati, efisien, tepat guna dan pruden, terutama untuk program dengan anggaran yang melimpah.

- Advertisement -

Menurutnya, anggaran untuk Organisasi Penggerak Pendidikan sebesar Rp595 Miliar di Kemendikbud adalah sangat besar, dibandingkan misalnya anggaran untuk Lembaga/Ormas di Kementerian Agama yang hanya sekitar Rp75 Miliar.

Baca Juga:  MUI Ajak Boikot Produk Prancis

Karenanya, elit politisi PKS ini meminta mendikbud lebih peka dan berhati-hati, apalagi ditemukan ada beberapa Lembaga yang berafiliasi dengan dana CSR perusahaan, seperti Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation, tapi malah menerima "hibah" kelas gajah dari program ini.

- Advertisement -

"Mundurnya Muhammadiyah dan NU dari program tersebut harus menjadi evaluasi serius bahwa ada yang tidak beres dalam proses dan pengambilan keputusannya, apalagi kabarnya dalam proses verifikasi, tidak menggugurkan satu pun dari 183 lembaga calon penerima," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Perlawanan

Salah Naik Mobil

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Program Organisasi Penggerak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menuai banyak kritik pedas dari berbagai kalangan. Proyek itu dianggap lemah dalam proses verifikasi dan validasi.

Akibat kelemahan proses verifikasi dan validasi, itu mengakibatkan penolakan dari Muhammadiyah dan NU. Menurut Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW), dua organisasi massa terbesar di Indonesia itu telah berjasa dalam menggerakkan dan mengelola pendidikan di Indonesia.

Karena itu HNW meminta menteri Nadiem mendengarkan masukan dari masyarakat, termasuk Muhammadiyah dan NU. Terutama masukan yang menyatakan bahwa program dengan total anggaran Rp595 Miliar tersebut seharusnya melibatkan lembaga yang kredibel dan terbukti berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Baca Juga:  Ambisi Jadi yang Pertama Gelar 5G

"Anggaran penggerak pendidikan ini jangan sampai jadi sekedar hibah untuk pihak swasta, yang belum jelas kontribusinya di bidang pendidikan. Pemerintah harusnya lebih hati-hati soal pemakaian APBN, apalagi saat ini merupakan era darurat corona," ujar HNW kepada JawaPos.com.

HNW juga mengingatkan, 30 hingga 40 persen pembiayaan negara di masa Pandemi ini berasal dari utang. Ini terjadi karena defisit yang semakin melebar hingga lebih dari Rp1000 triliun sesuai Perpres 72/2020. Karena itu diperlukan langkah penggunaan anggaran yang hati-hati, efisien, tepat guna dan pruden, terutama untuk program dengan anggaran yang melimpah.

Menurutnya, anggaran untuk Organisasi Penggerak Pendidikan sebesar Rp595 Miliar di Kemendikbud adalah sangat besar, dibandingkan misalnya anggaran untuk Lembaga/Ormas di Kementerian Agama yang hanya sekitar Rp75 Miliar.

Baca Juga:  Mahfud MD: Penghargaan ke Gatot Nurmantyo Bukan untuk Membungkam

Karenanya, elit politisi PKS ini meminta mendikbud lebih peka dan berhati-hati, apalagi ditemukan ada beberapa Lembaga yang berafiliasi dengan dana CSR perusahaan, seperti Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation, tapi malah menerima "hibah" kelas gajah dari program ini.

"Mundurnya Muhammadiyah dan NU dari program tersebut harus menjadi evaluasi serius bahwa ada yang tidak beres dalam proses dan pengambilan keputusannya, apalagi kabarnya dalam proses verifikasi, tidak menggugurkan satu pun dari 183 lembaga calon penerima," tegasnya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Karbit Kelepus

Bona Malwal (2)

Pasangan Manipulatif

Ditabrak dari Belakang

Perlawanan

Salah Naik Mobil

Trending Tags

Rubrik dicari