Rabu, 5 Agustus 2026
- Advertisement -

Ketua KPK: Jangan Gunakan Simbol Pribadi saat Bertugas

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyatakan berdirinya KPK untuk menguatkan eksistensi Indonesia di mata dunia internasional. Agus menginginkan hal ini dapat ditanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

“Merawat Indonesia sebesar ini sungguh beratnya luar biasa, sangat kompleks, sangat kompetitif,” kata Agus di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (20/11).

Agus mencontohkan, negara Yugoslavia pecah menjadi tujuh negara karena perbedaan sejarah agama dan suku. Namun, Agus bersyukur hal ini tidak terjadi pada Indonesia.

“Montenegro, Kosovo, Serbia, Makedonia, ingat ya? Mereka menjadi itu juga berdarah-darah korbannya banyak sekali. Kita hari ini sebetulnya menikmati founding father kita yang sudah sepakat menggariskan Pancasila, menggariskan Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Agus.

Baca Juga:  Tiga Kali Bocah Perempuan Ini Gagalkan Bapak Bunuh Diri

Agus menyebut, padahal Indonesia dalam sejarahnya banyak kerajaan. Bahkan bahasa dan sukunya berbeda-beda, namun tetap bersatu hingga kini.

“Kalau kita berbicara bahasa, di Papua saja bahasa itu 400 lebih. Jadi kalau ada yang bilang, suku bangsa kita itu 742 dan India 642. Jadi kalau syukur-syukur orang sekomplek kita,” terang Agus.

Oleh karena itu, Agus menyatakan sebagai pimpinan KPK dia meminta agar jajarannya tidak memakai simbol pribadi saat melakukan tugas. Terlebih KPK merupakan aparat penegak hukum.

“Jadi kita sebagai penegak hukum harus memikirkan imparsial, bayangkan kalau kita menangkap orang dengan menggunakan kopiah haji, yang ditangkap dari agama lain gimana? Itu enggak boleh, iya kan? Jadi kita harus menjaga independensi kita,” tukasnya.

Baca Juga:  Dihentikannya 36 Perkara Korupsi, Eks Ketua KPK Abraham Menilai Tidak Wajar

Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyatakan berdirinya KPK untuk menguatkan eksistensi Indonesia di mata dunia internasional. Agus menginginkan hal ini dapat ditanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

“Merawat Indonesia sebesar ini sungguh beratnya luar biasa, sangat kompleks, sangat kompetitif,” kata Agus di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (20/11).

Agus mencontohkan, negara Yugoslavia pecah menjadi tujuh negara karena perbedaan sejarah agama dan suku. Namun, Agus bersyukur hal ini tidak terjadi pada Indonesia.

“Montenegro, Kosovo, Serbia, Makedonia, ingat ya? Mereka menjadi itu juga berdarah-darah korbannya banyak sekali. Kita hari ini sebetulnya menikmati founding father kita yang sudah sepakat menggariskan Pancasila, menggariskan Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Agus.

Baca Juga:  THR CPNS Maksimal 80 Persen dari Gaji Pokok

Agus menyebut, padahal Indonesia dalam sejarahnya banyak kerajaan. Bahkan bahasa dan sukunya berbeda-beda, namun tetap bersatu hingga kini.

- Advertisement -

“Kalau kita berbicara bahasa, di Papua saja bahasa itu 400 lebih. Jadi kalau ada yang bilang, suku bangsa kita itu 742 dan India 642. Jadi kalau syukur-syukur orang sekomplek kita,” terang Agus.

Oleh karena itu, Agus menyatakan sebagai pimpinan KPK dia meminta agar jajarannya tidak memakai simbol pribadi saat melakukan tugas. Terlebih KPK merupakan aparat penegak hukum.

- Advertisement -

“Jadi kita sebagai penegak hukum harus memikirkan imparsial, bayangkan kalau kita menangkap orang dengan menggunakan kopiah haji, yang ditangkap dari agama lain gimana? Itu enggak boleh, iya kan? Jadi kita harus menjaga independensi kita,” tukasnya.

Baca Juga:  Kejari Inhu Tahan Kabag Kesra dan Staf Terkait Kasus Korupsi Uang Makan MTQ

Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menyatakan berdirinya KPK untuk menguatkan eksistensi Indonesia di mata dunia internasional. Agus menginginkan hal ini dapat ditanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

“Merawat Indonesia sebesar ini sungguh beratnya luar biasa, sangat kompleks, sangat kompetitif,” kata Agus di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (20/11).

Agus mencontohkan, negara Yugoslavia pecah menjadi tujuh negara karena perbedaan sejarah agama dan suku. Namun, Agus bersyukur hal ini tidak terjadi pada Indonesia.

“Montenegro, Kosovo, Serbia, Makedonia, ingat ya? Mereka menjadi itu juga berdarah-darah korbannya banyak sekali. Kita hari ini sebetulnya menikmati founding father kita yang sudah sepakat menggariskan Pancasila, menggariskan Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Agus.

Baca Juga:  Kejari Inhu Tahan Kabag Kesra dan Staf Terkait Kasus Korupsi Uang Makan MTQ

Agus menyebut, padahal Indonesia dalam sejarahnya banyak kerajaan. Bahkan bahasa dan sukunya berbeda-beda, namun tetap bersatu hingga kini.

“Kalau kita berbicara bahasa, di Papua saja bahasa itu 400 lebih. Jadi kalau ada yang bilang, suku bangsa kita itu 742 dan India 642. Jadi kalau syukur-syukur orang sekomplek kita,” terang Agus.

Oleh karena itu, Agus menyatakan sebagai pimpinan KPK dia meminta agar jajarannya tidak memakai simbol pribadi saat melakukan tugas. Terlebih KPK merupakan aparat penegak hukum.

“Jadi kita sebagai penegak hukum harus memikirkan imparsial, bayangkan kalau kita menangkap orang dengan menggunakan kopiah haji, yang ditangkap dari agama lain gimana? Itu enggak boleh, iya kan? Jadi kita harus menjaga independensi kita,” tukasnya.

Baca Juga:  Pastikan Pembahasan APBD 2021 Tidak Terganggu

Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari