Selasa, 8 Juli 2025

Covid-19 Membuat Kadar Oksigen Turun tanpa Gejala

JAKARTA, (RIAUPOS.CO) – Kasus Covid-19 masih tinggi di Surabaya. Sepanjang kurun waktu setengah tahun, banyak perkembangan terjadi yang menandai gejala-gejala terhadap Covid-19. Salah satunya adalah happy hypoxia.

Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Prof dr Nasronudin SpPD KPTI FINASIM menyatakan, happy hypoxia yang kerap disebut silent hypoxia merupakan keadaan penurunan kadar oksigen dalam darah. Kondisi itu dapat terjadi pada individu yang terpapar SARS-CoV-2. Gejalanya, penurunan kadar oksigen dalam darah. Namun, individu yang mengalami keadaan tersebut tidak mengalami gejala apa pun. "Jadi, individu ini tetap merasa sehat tanpa menunjukkan gejala pusing, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak napas," katanya.

Nasronudin menuturkan, pada awal-awal kasus Covid-19, gejala umum yang terjadi masih tergolong klasik. Di antaranya, mual, nyeri tenggorokan, batuk, pusing, kehilangan rasa atau penciuman, nafsu makan menurun, lemas, dan sesak napas. Namun, dalam kondisi yang mengalami happy hypoxia, tidak ada gejala apa pun. "Ada proses terselubung pada darah yang mengakibatkan kadar oksigen menurun," jelasnya.

Baca Juga:  Kelebihan Sparkle Sabun Cuci Piring Terbaik

Pada umumnya, kadar oksigen normal 95–100 persen. Pada individu yang mengalami happy hypoxia, bisa mencapai 75, 60, hingga 50 persen. Meskipun demikian, mereka tetap terlihat baik-baik saja. Namun, keadaannya bisa berkembang memburuk. "Memburuknya bisa sampai penurunan kesadaran, sesak napas, dan tiba-tiba terjatuh. Dan, dibutuhkan alat bantu napas," tuturnya.

Nasronudin menjelaskan, situasi tersebut sangat mengagetkan, bukan hanya pasien, melainkan juga dokter maupun rumah sakit. Sebab, individu secara tiba-tiba menimbulkan pemburukan keadaan dalam waktu yang tidak diduga. Ada banyak teori yang menjelaskan tentang penyebab happy hypoxia. Namun, pada hakikatnya, hal itu disebabkan gangguan pada paru-paru karena Covid-19. "Hal tersebut mengakibatkan proses oksigenisasi terganggu. Dampaknya, kadar oksigennya menurun," ujarnya.

Baca Juga:  Wajib Tiga Poin

Penyebab lainnya, gangguan pada saraf pusat yang tidak menimbulkan respons terhadap penurunan kadar oksigen dalam darah. Padahal, semestinya ada respons dari pusat ketika kadar oksigen turun. "Karena, sentral sistem saraf pusat terganggu akibat intervensi SARS-CoV-2. Virus tersebut juga dapat menimbulkan efek neurotoksik dan psikotoksik," katanya.

Efek neurotoksik akibat Covid-19, lanjut dia, membuat sistem otak berkurang atau terganggu fungsinya. Ketika kadar oksigen turun, seharusnya sistem otak otomatis memerintahkan gejala pernapasan cepat, sesak napas, dan lain-lain. Namun, hal itu tidak terjadi ketika terkena efek neurotokik. Sementara itu, Covid-19 juga dapat mengakibatkan efek psikotoksik.(jpg)

 

JAKARTA, (RIAUPOS.CO) – Kasus Covid-19 masih tinggi di Surabaya. Sepanjang kurun waktu setengah tahun, banyak perkembangan terjadi yang menandai gejala-gejala terhadap Covid-19. Salah satunya adalah happy hypoxia.

Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Prof dr Nasronudin SpPD KPTI FINASIM menyatakan, happy hypoxia yang kerap disebut silent hypoxia merupakan keadaan penurunan kadar oksigen dalam darah. Kondisi itu dapat terjadi pada individu yang terpapar SARS-CoV-2. Gejalanya, penurunan kadar oksigen dalam darah. Namun, individu yang mengalami keadaan tersebut tidak mengalami gejala apa pun. "Jadi, individu ini tetap merasa sehat tanpa menunjukkan gejala pusing, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak napas," katanya.

Nasronudin menuturkan, pada awal-awal kasus Covid-19, gejala umum yang terjadi masih tergolong klasik. Di antaranya, mual, nyeri tenggorokan, batuk, pusing, kehilangan rasa atau penciuman, nafsu makan menurun, lemas, dan sesak napas. Namun, dalam kondisi yang mengalami happy hypoxia, tidak ada gejala apa pun. "Ada proses terselubung pada darah yang mengakibatkan kadar oksigen menurun," jelasnya.

Baca Juga:  Dapat Kuota Dana Hibah dari AS, Gubri Usulkan Rp4 T untuk Infrastruktur

Pada umumnya, kadar oksigen normal 95–100 persen. Pada individu yang mengalami happy hypoxia, bisa mencapai 75, 60, hingga 50 persen. Meskipun demikian, mereka tetap terlihat baik-baik saja. Namun, keadaannya bisa berkembang memburuk. "Memburuknya bisa sampai penurunan kesadaran, sesak napas, dan tiba-tiba terjatuh. Dan, dibutuhkan alat bantu napas," tuturnya.

Nasronudin menjelaskan, situasi tersebut sangat mengagetkan, bukan hanya pasien, melainkan juga dokter maupun rumah sakit. Sebab, individu secara tiba-tiba menimbulkan pemburukan keadaan dalam waktu yang tidak diduga. Ada banyak teori yang menjelaskan tentang penyebab happy hypoxia. Namun, pada hakikatnya, hal itu disebabkan gangguan pada paru-paru karena Covid-19. "Hal tersebut mengakibatkan proses oksigenisasi terganggu. Dampaknya, kadar oksigennya menurun," ujarnya.

- Advertisement -
Baca Juga:  Tegaskan Bansos Baru buat Masyarakat

Penyebab lainnya, gangguan pada saraf pusat yang tidak menimbulkan respons terhadap penurunan kadar oksigen dalam darah. Padahal, semestinya ada respons dari pusat ketika kadar oksigen turun. "Karena, sentral sistem saraf pusat terganggu akibat intervensi SARS-CoV-2. Virus tersebut juga dapat menimbulkan efek neurotoksik dan psikotoksik," katanya.

Efek neurotoksik akibat Covid-19, lanjut dia, membuat sistem otak berkurang atau terganggu fungsinya. Ketika kadar oksigen turun, seharusnya sistem otak otomatis memerintahkan gejala pernapasan cepat, sesak napas, dan lain-lain. Namun, hal itu tidak terjadi ketika terkena efek neurotokik. Sementara itu, Covid-19 juga dapat mengakibatkan efek psikotoksik.(jpg)

- Advertisement -

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA, (RIAUPOS.CO) – Kasus Covid-19 masih tinggi di Surabaya. Sepanjang kurun waktu setengah tahun, banyak perkembangan terjadi yang menandai gejala-gejala terhadap Covid-19. Salah satunya adalah happy hypoxia.

Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Prof dr Nasronudin SpPD KPTI FINASIM menyatakan, happy hypoxia yang kerap disebut silent hypoxia merupakan keadaan penurunan kadar oksigen dalam darah. Kondisi itu dapat terjadi pada individu yang terpapar SARS-CoV-2. Gejalanya, penurunan kadar oksigen dalam darah. Namun, individu yang mengalami keadaan tersebut tidak mengalami gejala apa pun. "Jadi, individu ini tetap merasa sehat tanpa menunjukkan gejala pusing, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak napas," katanya.

Nasronudin menuturkan, pada awal-awal kasus Covid-19, gejala umum yang terjadi masih tergolong klasik. Di antaranya, mual, nyeri tenggorokan, batuk, pusing, kehilangan rasa atau penciuman, nafsu makan menurun, lemas, dan sesak napas. Namun, dalam kondisi yang mengalami happy hypoxia, tidak ada gejala apa pun. "Ada proses terselubung pada darah yang mengakibatkan kadar oksigen menurun," jelasnya.

Baca Juga:  Wakil Menkes Iran dan Anggota Parlemen Positif Virus Corona

Pada umumnya, kadar oksigen normal 95–100 persen. Pada individu yang mengalami happy hypoxia, bisa mencapai 75, 60, hingga 50 persen. Meskipun demikian, mereka tetap terlihat baik-baik saja. Namun, keadaannya bisa berkembang memburuk. "Memburuknya bisa sampai penurunan kesadaran, sesak napas, dan tiba-tiba terjatuh. Dan, dibutuhkan alat bantu napas," tuturnya.

Nasronudin menjelaskan, situasi tersebut sangat mengagetkan, bukan hanya pasien, melainkan juga dokter maupun rumah sakit. Sebab, individu secara tiba-tiba menimbulkan pemburukan keadaan dalam waktu yang tidak diduga. Ada banyak teori yang menjelaskan tentang penyebab happy hypoxia. Namun, pada hakikatnya, hal itu disebabkan gangguan pada paru-paru karena Covid-19. "Hal tersebut mengakibatkan proses oksigenisasi terganggu. Dampaknya, kadar oksigennya menurun," ujarnya.

Baca Juga:  Natuna Tempat Terbaik Isolasi WNI dari Wuhan

Penyebab lainnya, gangguan pada saraf pusat yang tidak menimbulkan respons terhadap penurunan kadar oksigen dalam darah. Padahal, semestinya ada respons dari pusat ketika kadar oksigen turun. "Karena, sentral sistem saraf pusat terganggu akibat intervensi SARS-CoV-2. Virus tersebut juga dapat menimbulkan efek neurotoksik dan psikotoksik," katanya.

Efek neurotoksik akibat Covid-19, lanjut dia, membuat sistem otak berkurang atau terganggu fungsinya. Ketika kadar oksigen turun, seharusnya sistem otak otomatis memerintahkan gejala pernapasan cepat, sesak napas, dan lain-lain. Namun, hal itu tidak terjadi ketika terkena efek neurotokik. Sementara itu, Covid-19 juga dapat mengakibatkan efek psikotoksik.(jpg)

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari