Jumat, 4 September 2026
- Advertisement -

Trump Setuju “Bercerai” dengan Filipina

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Bukan Donald Trump namanya kalau tidak melakukan tindakan kontroversial yang bikin geleng-geleng kepala. Di saat anak buahnya khawatir akan rencana Filipina mengakhiri perjanjian militer, presiden Amerika Serikat itu justru mengaku dengan senang hati menerimanya.

Seperti diketahui, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengumumkan pemutusan Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA) yang telah berusia dua dekade.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut keputusan itu mencederai upaya Washington dan sekutunya dalam menekan Cina agar mematuhi aturan internasional di Asia. Kedutaan Besar AS di Manila menyebutnya sebagai langkah serius dengan implikasi yang signifikan. Namun, bagi Trump pembatalan perjanjian itu justru berdampak positif bagi Amerika Serikat. "Saya tidak keberatan jika mereka ingin melakukan itu, itu akan menghemat banyak uang," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (12/2).

Baca Juga:  Bibi Ardiansyah Sebut Vanessa Angel Sedang Stres

Trump sering menyatakan keinginan untuk membawa pasukan militer AS pulang dari pengerahan selama puluhan tahun di luar negeri dan memiliki beberapa sekutu bersenjata yang kuat untuk membayar lebih banyak untuk hak pertahanan AS. Trump mengatakan Amerika Serikat telah membantu Filipina mengalahkan kelompok militan ISIS.

Keputusan Duterte dapat menyulitkan kepentingan militer AS di wilayah Asia-Pasifik yang lebih luas saat ambisi Cina meningkat. Beberapa senator Filipina dengan cepat berusaha untuk memblokir langkah itu, dengan alasan Duterte tidak punya hak untuk secara sepihak membatalkan pakta internasional yang telah diratifikasi oleh senat negara itu. Mengakhiri VFA mempersulit upaya Washington untuk mempertahankan kehadiran pasukan Asia-Pasifik di tengah gesekan atas kehadiran personel AS di Jepang dan Korea Selatan dan kekhawatiran keamanan tentang Cina dan Korea Utara.

Baca Juga:  KPK Sebut OTT Buka Tabir Masalah Politik

"Seratus delapan puluh hari. Kita harus mengatasinya," ucap Duterte. Beberapa anggota parlemen di Filipina prihatin dengan kondisi ini.(jpg)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Bukan Donald Trump namanya kalau tidak melakukan tindakan kontroversial yang bikin geleng-geleng kepala. Di saat anak buahnya khawatir akan rencana Filipina mengakhiri perjanjian militer, presiden Amerika Serikat itu justru mengaku dengan senang hati menerimanya.

Seperti diketahui, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengumumkan pemutusan Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA) yang telah berusia dua dekade.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut keputusan itu mencederai upaya Washington dan sekutunya dalam menekan Cina agar mematuhi aturan internasional di Asia. Kedutaan Besar AS di Manila menyebutnya sebagai langkah serius dengan implikasi yang signifikan. Namun, bagi Trump pembatalan perjanjian itu justru berdampak positif bagi Amerika Serikat. "Saya tidak keberatan jika mereka ingin melakukan itu, itu akan menghemat banyak uang," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (12/2).

Baca Juga:  Kejari Eksekusi Oknum Dosen Unri ke Rutan

Trump sering menyatakan keinginan untuk membawa pasukan militer AS pulang dari pengerahan selama puluhan tahun di luar negeri dan memiliki beberapa sekutu bersenjata yang kuat untuk membayar lebih banyak untuk hak pertahanan AS. Trump mengatakan Amerika Serikat telah membantu Filipina mengalahkan kelompok militan ISIS.

Keputusan Duterte dapat menyulitkan kepentingan militer AS di wilayah Asia-Pasifik yang lebih luas saat ambisi Cina meningkat. Beberapa senator Filipina dengan cepat berusaha untuk memblokir langkah itu, dengan alasan Duterte tidak punya hak untuk secara sepihak membatalkan pakta internasional yang telah diratifikasi oleh senat negara itu. Mengakhiri VFA mempersulit upaya Washington untuk mempertahankan kehadiran pasukan Asia-Pasifik di tengah gesekan atas kehadiran personel AS di Jepang dan Korea Selatan dan kekhawatiran keamanan tentang Cina dan Korea Utara.

- Advertisement -
Baca Juga:  Warga Singapura Banjiri Batam

"Seratus delapan puluh hari. Kita harus mengatasinya," ucap Duterte. Beberapa anggota parlemen di Filipina prihatin dengan kondisi ini.(jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Bukan Donald Trump namanya kalau tidak melakukan tindakan kontroversial yang bikin geleng-geleng kepala. Di saat anak buahnya khawatir akan rencana Filipina mengakhiri perjanjian militer, presiden Amerika Serikat itu justru mengaku dengan senang hati menerimanya.

Seperti diketahui, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengumumkan pemutusan Perjanjian Kunjungan Pasukan (VFA) yang telah berusia dua dekade.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyebut keputusan itu mencederai upaya Washington dan sekutunya dalam menekan Cina agar mematuhi aturan internasional di Asia. Kedutaan Besar AS di Manila menyebutnya sebagai langkah serius dengan implikasi yang signifikan. Namun, bagi Trump pembatalan perjanjian itu justru berdampak positif bagi Amerika Serikat. "Saya tidak keberatan jika mereka ingin melakukan itu, itu akan menghemat banyak uang," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (12/2).

Baca Juga:  Petani Segera Tanam Padi Gogo 

Trump sering menyatakan keinginan untuk membawa pasukan militer AS pulang dari pengerahan selama puluhan tahun di luar negeri dan memiliki beberapa sekutu bersenjata yang kuat untuk membayar lebih banyak untuk hak pertahanan AS. Trump mengatakan Amerika Serikat telah membantu Filipina mengalahkan kelompok militan ISIS.

Keputusan Duterte dapat menyulitkan kepentingan militer AS di wilayah Asia-Pasifik yang lebih luas saat ambisi Cina meningkat. Beberapa senator Filipina dengan cepat berusaha untuk memblokir langkah itu, dengan alasan Duterte tidak punya hak untuk secara sepihak membatalkan pakta internasional yang telah diratifikasi oleh senat negara itu. Mengakhiri VFA mempersulit upaya Washington untuk mempertahankan kehadiran pasukan Asia-Pasifik di tengah gesekan atas kehadiran personel AS di Jepang dan Korea Selatan dan kekhawatiran keamanan tentang Cina dan Korea Utara.

Baca Juga:  Imbau Masyarakat Tidak Pilih-Pilih Vaksin

"Seratus delapan puluh hari. Kita harus mengatasinya," ucap Duterte. Beberapa anggota parlemen di Filipina prihatin dengan kondisi ini.(jpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari