Selasa, 16 April 2024

Dapat Jatah 4 Kali Penyeberangan, Raup Rp400 Ribu per Hari

Zulkarnain Banting Setir dari Nelayan Jadi Kernet Pompong Sewa

Banjir merupakan musibah. Tapi, di sisi lain ada hikmah yang didapatkan. Hal ini dirasakan Zulkarnain, pria asal Desa Kuala Terusan, Kecamatan Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan. Banjir yang melanda Pelalawan hampir dua bulan membawa berkah buat dirinya.

- Advertisement -

Laporan M AMIN AMRAN, Pangkalankerinci

AYO naik pak.. bu.. Langsung berangkat ini. Begitulah teriakan Zulkarnain yang terus berusaha menawarkan jasa penyeberangan kendaraan dan penumpang kepada warga yang berada di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

Banjir yang melanda Pelalawan membuat pria berusia 44 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan sehari-harinya mencari ikan di Pantai Kute (Kuala Terusan) ini banting setir. Ia terpaksa melakoni hidup menjadi seorang kernet kapal sewa penyeberangan kendaraan dan penumpang di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

- Advertisement -

“Ya, kondisi banjir membuat kami nelayan sulit mendapat ikan sehingga kami tak punya penghasilan lain untuk menafkahi keluarga. Tapi, alhamdulillah, Allah itu sangat adil. Tak dapat penghasilan dari mencari ikan, malah banyak dapat rezeki menjadi kernet kapal sewa penyeberangan kendaraan dan orang di lokasi banjir ini. Banjir ini memberikan berkah kepada kami,” tutur Zulkarnain saat ditemui Riau Pos, Jumat (9/2).

Dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan, bapak yang telah dikarunia tiga orang anak ini menceritakan pengalaman menjadi kernet kapal sewa milik majikannya H Sulaiman yang juga tinggal sekampung dengan dirinya. “Dulu, sekitar tahun 2004, saya bekerja sebagai buruh di PT RAPP dengan penghasilan Rp750 ribu per bulan,’’ cerita Zulkarnain.

‘’Tapi, gaji tersebut tidak cukup untuk menafkahi anak dan istri. Sehingga tahun 2007, saya berhenti bekerja di perusahaan pabrik kertas raksasa itu dan kembali ke kampung untuk menjalani pekerjaan baru sebagai nelayan. Alhamdulillah, dari mencari ikan ini, saya bisa dapat penghasilan sebesar Rp300 ribu per hari,” tambahnya.

Baca Juga:  Banjir di Siak Kecil Belum Surut

Hanya saja, pria berperawakan pendek dan gemoy ini mengatakan, saat banjir melanda Negeri Seiya Sekata ini, tepatnya pada pertengahan Desember 2023 lalu, ikan pun mulai sulit didapatkan. Kondisi ini membuatnya mulai mengalami kesulitan ekonomi.

Bahkan, dua pekan berlalu, kondisi banjir semakin parah dan meluas. Di bawah kepanikan tak mendapat penghasilan untuk keperluan hidup, dirinya pun berusaha mencari infomasi lowongan pekerjaan. “Jadi, saat saya mencari info lowongan kerja dari ponsel, saya lihat banyak warga menyeberang menggunakan kapal pompong sewa. Dari info itu, saya bujuk Pak Sulaiman untuk mencari penghasilan dengan menyewakan jasa angkut penyeberangan pakai pompong dia. Alhamdulillah, Pak Sulaiman mau sehingga peruntungan pun kami lakukan,” ujarnya.

Dengan penuh semangat, sambung Zulkarnain, mereka pun bergerak melintasi aliran Sungai Kampar menuju lokasi penyeberangan kendaraan dan penumpang kepada warga yang berada di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

“Saat kami di lokasi, banyak kami lihat pompong sewa dari warga tempatan. Tapi syukurlah, para warga tempatan sangat ramah dan mau berbagi rezeki. Setiap kapal sewa yang datang, langsung diberi nomor antrean untuk membawa penumpang secara bergiliran. Begitu juga dengan harga sewa, telah disepakati bersama. Yakni Rp150 ribu untuk jasa penyeberangan kendaraan dan orang dan Rp50 ribu untuk satu orang sekali penyeberangan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Brimob Dirikan Tenda Darurat di Dua Kabupaten

Dijelaskan Zulkarnain, setiap harinya, dirinya bisa mendapat penghasilan sebesar Rp400 ribu. Total keuntungan penyeberangan sewa kapal tersebut dibagi tiga dengan persentase yang berbeda. Misalnya sehari total penghasilan dapat sebesar Rp1,5 juta, maka dirinya mendapat jatah sebesar Rp400 ribu.

Sementara itu, warga setempat yang menjadi agen jasa pengangkutan dalam pompong mendapat penghasilan sebesar Rp150 ribu. “Sisanya sebesar Rp950 ribu merupakan jasa pemilik kapal pompong. Tapi jumlah tersebut masih kotor. Karena pemilik kapal harus menanggung biaya pembelian minyak sebesar Rp300 per harinya,” beber Zulkarnain.

Pria berkulit hitam manis ini menambahkan, setiap hari dirinya bersama pemilik kapal mendapat jatah 4 kali rute penyeberangan dari Dusun Pulau Payung menuju penyeberangan di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, tepatnya di Jalan Lintas Timur Km 84.

Dalam penyeberangan selama 1 jam perjalanan itu, kapal tersebut bisa mengangkut 10 kendaraan roda dua. Sedangkan aktivitas penyeberangan jasa angkut kapal pompong ini beroperasi mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB.

“Tapi hari ini (kemarin, red) pendapatan kami mulai menurun. Ya, paling cuma dapat dua rute. Karena banjir telah mulai surut banyak warga yang tidak lagi menggunakan jasa kami. Namun demikian, kami tentunya tetap bersyukur karena berkah bencana alam ini membuat kami masih bisa mencari duit buat makan anak dan istri hingga saat ini. Intinya, selagi masih mau berusaha dan bergerak, pasti ada rezeki yang diberikan Sang Pencipta. Terima kasih ya Allah, rezeki yang kau berikan sangat berlimpah,” tuturnya.(das)

Zulkarnain Banting Setir dari Nelayan Jadi Kernet Pompong Sewa

Banjir merupakan musibah. Tapi, di sisi lain ada hikmah yang didapatkan. Hal ini dirasakan Zulkarnain, pria asal Desa Kuala Terusan, Kecamatan Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan. Banjir yang melanda Pelalawan hampir dua bulan membawa berkah buat dirinya.

Laporan M AMIN AMRAN, Pangkalankerinci

AYO naik pak.. bu.. Langsung berangkat ini. Begitulah teriakan Zulkarnain yang terus berusaha menawarkan jasa penyeberangan kendaraan dan penumpang kepada warga yang berada di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

Banjir yang melanda Pelalawan membuat pria berusia 44 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan sehari-harinya mencari ikan di Pantai Kute (Kuala Terusan) ini banting setir. Ia terpaksa melakoni hidup menjadi seorang kernet kapal sewa penyeberangan kendaraan dan penumpang di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

“Ya, kondisi banjir membuat kami nelayan sulit mendapat ikan sehingga kami tak punya penghasilan lain untuk menafkahi keluarga. Tapi, alhamdulillah, Allah itu sangat adil. Tak dapat penghasilan dari mencari ikan, malah banyak dapat rezeki menjadi kernet kapal sewa penyeberangan kendaraan dan orang di lokasi banjir ini. Banjir ini memberikan berkah kepada kami,” tutur Zulkarnain saat ditemui Riau Pos, Jumat (9/2).

Dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan, bapak yang telah dikarunia tiga orang anak ini menceritakan pengalaman menjadi kernet kapal sewa milik majikannya H Sulaiman yang juga tinggal sekampung dengan dirinya. “Dulu, sekitar tahun 2004, saya bekerja sebagai buruh di PT RAPP dengan penghasilan Rp750 ribu per bulan,’’ cerita Zulkarnain.

‘’Tapi, gaji tersebut tidak cukup untuk menafkahi anak dan istri. Sehingga tahun 2007, saya berhenti bekerja di perusahaan pabrik kertas raksasa itu dan kembali ke kampung untuk menjalani pekerjaan baru sebagai nelayan. Alhamdulillah, dari mencari ikan ini, saya bisa dapat penghasilan sebesar Rp300 ribu per hari,” tambahnya.

Baca Juga:  Ajak Galakkan Budaya Melayu, Cegah Kekerasan dan LGBT

Hanya saja, pria berperawakan pendek dan gemoy ini mengatakan, saat banjir melanda Negeri Seiya Sekata ini, tepatnya pada pertengahan Desember 2023 lalu, ikan pun mulai sulit didapatkan. Kondisi ini membuatnya mulai mengalami kesulitan ekonomi.

Bahkan, dua pekan berlalu, kondisi banjir semakin parah dan meluas. Di bawah kepanikan tak mendapat penghasilan untuk keperluan hidup, dirinya pun berusaha mencari infomasi lowongan pekerjaan. “Jadi, saat saya mencari info lowongan kerja dari ponsel, saya lihat banyak warga menyeberang menggunakan kapal pompong sewa. Dari info itu, saya bujuk Pak Sulaiman untuk mencari penghasilan dengan menyewakan jasa angkut penyeberangan pakai pompong dia. Alhamdulillah, Pak Sulaiman mau sehingga peruntungan pun kami lakukan,” ujarnya.

Dengan penuh semangat, sambung Zulkarnain, mereka pun bergerak melintasi aliran Sungai Kampar menuju lokasi penyeberangan kendaraan dan penumpang kepada warga yang berada di Dusun Pulau Payung, Kelurahan Pangkalankerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

“Saat kami di lokasi, banyak kami lihat pompong sewa dari warga tempatan. Tapi syukurlah, para warga tempatan sangat ramah dan mau berbagi rezeki. Setiap kapal sewa yang datang, langsung diberi nomor antrean untuk membawa penumpang secara bergiliran. Begitu juga dengan harga sewa, telah disepakati bersama. Yakni Rp150 ribu untuk jasa penyeberangan kendaraan dan orang dan Rp50 ribu untuk satu orang sekali penyeberangan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kemacetan di Jalan Lintas Timur hingga 10 Km

Dijelaskan Zulkarnain, setiap harinya, dirinya bisa mendapat penghasilan sebesar Rp400 ribu. Total keuntungan penyeberangan sewa kapal tersebut dibagi tiga dengan persentase yang berbeda. Misalnya sehari total penghasilan dapat sebesar Rp1,5 juta, maka dirinya mendapat jatah sebesar Rp400 ribu.

Sementara itu, warga setempat yang menjadi agen jasa pengangkutan dalam pompong mendapat penghasilan sebesar Rp150 ribu. “Sisanya sebesar Rp950 ribu merupakan jasa pemilik kapal pompong. Tapi jumlah tersebut masih kotor. Karena pemilik kapal harus menanggung biaya pembelian minyak sebesar Rp300 per harinya,” beber Zulkarnain.

Pria berkulit hitam manis ini menambahkan, setiap hari dirinya bersama pemilik kapal mendapat jatah 4 kali rute penyeberangan dari Dusun Pulau Payung menuju penyeberangan di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, tepatnya di Jalan Lintas Timur Km 84.

Dalam penyeberangan selama 1 jam perjalanan itu, kapal tersebut bisa mengangkut 10 kendaraan roda dua. Sedangkan aktivitas penyeberangan jasa angkut kapal pompong ini beroperasi mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB.

“Tapi hari ini (kemarin, red) pendapatan kami mulai menurun. Ya, paling cuma dapat dua rute. Karena banjir telah mulai surut banyak warga yang tidak lagi menggunakan jasa kami. Namun demikian, kami tentunya tetap bersyukur karena berkah bencana alam ini membuat kami masih bisa mencari duit buat makan anak dan istri hingga saat ini. Intinya, selagi masih mau berusaha dan bergerak, pasti ada rezeki yang diberikan Sang Pencipta. Terima kasih ya Allah, rezeki yang kau berikan sangat berlimpah,” tuturnya.(das)

Berita Lainnya

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari