Rabu, 15 April 2026
- Advertisement -

Penderitaan Petani Sawit; Buah Trek, Jalan Rusak

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit swadaya di Kecamatan Rengat Barat, Indragiri Hulu, mengeluh akibat masa trek. Dalam pada itu, petani juga mengeluh akibat kondisi jalan pertanian yang mengalami rusak berat.

Sehingga dengan kondisi yang ada, juga berdampak kepada hasil panen tanda buah segar (TBS). "Sudahlah hasil panen tak maksimal akibat masa trek, ditambah lagi jalan keluar dan masuk lokasi perkebunan yang mengalami rusak berat," ujar Akmal, petani kelapa sawit di Kecamatan Rengat Barat, Rabu (29/4).

Masa trek yang dialaminya bersama petani lainnya di daerah itu, sudah terjadi sejak sekitar dua bulan lalu. Sehingga sejak itu pula, produksi TBS miliknya bersama petani lainnya berkurang. Bahkan kondisi itu, diperkirakan masih akan berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan ke depan.

Baca Juga:  Relax Staycation di Garden Inn Labersa Hanya Rp315 Ribu

Memang sebutnya, sejak beberapa pekan terakhir ini, harga TBS mengalami naik dari sebelumnya. Walaupun naik harga TBS itu  hanya berkisar dari Rp5 hingga Rp10.

"Ketika harga naik, juga hasilnya tak seimbang jika dibandingkan pada saat tidak trek," ungkapnya.

Belum lagi beranjak dari kondisi trek, petani juga dihadapkan dengan kondisi jalan produksi yang rusak. Kondisi jalan rusak ini dipengaruhi oleh curah hujan sejak dua pekan terakhir ini cukup tinggi.

Sehingga ketika mobil pengangkut TBS melintas di jalan tersebut, menjadi berlumpur hingga sulit dilewati. Bahkan, ada di antara mobil pengangkut TBS terpaksa harus dibantu dorong akibat masuk lubang.

Kondisi jalan rusak ini juga membuat pemilik mobil menaikan harga angkut. "Dari hasil yang tak seberapa akibat trek, masih harus dikeluarkan biaya tambah an untuk mobil angkutan TBS," terangnya.(kas)

Baca Juga:  April, BNI Bakal Tebar Dividen Rp10,45 T

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit swadaya di Kecamatan Rengat Barat, Indragiri Hulu, mengeluh akibat masa trek. Dalam pada itu, petani juga mengeluh akibat kondisi jalan pertanian yang mengalami rusak berat.

Sehingga dengan kondisi yang ada, juga berdampak kepada hasil panen tanda buah segar (TBS). "Sudahlah hasil panen tak maksimal akibat masa trek, ditambah lagi jalan keluar dan masuk lokasi perkebunan yang mengalami rusak berat," ujar Akmal, petani kelapa sawit di Kecamatan Rengat Barat, Rabu (29/4).

Masa trek yang dialaminya bersama petani lainnya di daerah itu, sudah terjadi sejak sekitar dua bulan lalu. Sehingga sejak itu pula, produksi TBS miliknya bersama petani lainnya berkurang. Bahkan kondisi itu, diperkirakan masih akan berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan ke depan.

Baca Juga:  PLN Alokasikan Usulan PMN untuk Kebut 4.700 Desa Dapat Akses Listrik

Memang sebutnya, sejak beberapa pekan terakhir ini, harga TBS mengalami naik dari sebelumnya. Walaupun naik harga TBS itu  hanya berkisar dari Rp5 hingga Rp10.

"Ketika harga naik, juga hasilnya tak seimbang jika dibandingkan pada saat tidak trek," ungkapnya.

- Advertisement -

Belum lagi beranjak dari kondisi trek, petani juga dihadapkan dengan kondisi jalan produksi yang rusak. Kondisi jalan rusak ini dipengaruhi oleh curah hujan sejak dua pekan terakhir ini cukup tinggi.

Sehingga ketika mobil pengangkut TBS melintas di jalan tersebut, menjadi berlumpur hingga sulit dilewati. Bahkan, ada di antara mobil pengangkut TBS terpaksa harus dibantu dorong akibat masuk lubang.

- Advertisement -

Kondisi jalan rusak ini juga membuat pemilik mobil menaikan harga angkut. "Dari hasil yang tak seberapa akibat trek, masih harus dikeluarkan biaya tambah an untuk mobil angkutan TBS," terangnya.(kas)

Baca Juga:  April, BNI Bakal Tebar Dividen Rp10,45 T
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

RENGAT (RIAUPOS.CO) — Petani kelapa sawit swadaya di Kecamatan Rengat Barat, Indragiri Hulu, mengeluh akibat masa trek. Dalam pada itu, petani juga mengeluh akibat kondisi jalan pertanian yang mengalami rusak berat.

Sehingga dengan kondisi yang ada, juga berdampak kepada hasil panen tanda buah segar (TBS). "Sudahlah hasil panen tak maksimal akibat masa trek, ditambah lagi jalan keluar dan masuk lokasi perkebunan yang mengalami rusak berat," ujar Akmal, petani kelapa sawit di Kecamatan Rengat Barat, Rabu (29/4).

Masa trek yang dialaminya bersama petani lainnya di daerah itu, sudah terjadi sejak sekitar dua bulan lalu. Sehingga sejak itu pula, produksi TBS miliknya bersama petani lainnya berkurang. Bahkan kondisi itu, diperkirakan masih akan berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan ke depan.

Baca Juga:  OJK: Jangan Menghindar jika Punya Tunggakan

Memang sebutnya, sejak beberapa pekan terakhir ini, harga TBS mengalami naik dari sebelumnya. Walaupun naik harga TBS itu  hanya berkisar dari Rp5 hingga Rp10.

"Ketika harga naik, juga hasilnya tak seimbang jika dibandingkan pada saat tidak trek," ungkapnya.

Belum lagi beranjak dari kondisi trek, petani juga dihadapkan dengan kondisi jalan produksi yang rusak. Kondisi jalan rusak ini dipengaruhi oleh curah hujan sejak dua pekan terakhir ini cukup tinggi.

Sehingga ketika mobil pengangkut TBS melintas di jalan tersebut, menjadi berlumpur hingga sulit dilewati. Bahkan, ada di antara mobil pengangkut TBS terpaksa harus dibantu dorong akibat masuk lubang.

Kondisi jalan rusak ini juga membuat pemilik mobil menaikan harga angkut. "Dari hasil yang tak seberapa akibat trek, masih harus dikeluarkan biaya tambah an untuk mobil angkutan TBS," terangnya.(kas)

Baca Juga:  Relax Staycation di Garden Inn Labersa Hanya Rp315 Ribu

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari