Selasa, 13 Oktober 2026
- Advertisement -

Program Peremajaan Sawit Seret, Produksi CPO Indonesia Jalan di Tempat

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri kelapa sawit masih memegang peran penting sebagai penopang ekonomi nasional. Namun, lima tahun terakhir, sektor ini menghadapi masalah serius: produksi crude palm oil (CPO) yang stagnan di kisaran 50 juta ton per tahun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menyebut penyebab utamanya adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang belum berjalan optimal. “Tanaman sawit seperti manusia, kalau sudah tua diberi pupuk atau input sebanyak apa pun tidak akan produktif. Harus diremajakan. Sayangnya, PSR belum pernah mencapai target,” ujar Eddy, Kamis (11/9).

Hambatan PSR datang dari persoalan legalitas lahan, status kawasan hutan, hingga keraguan petani menebang sawit karena takut kehilangan penghasilan. Padahal, produktivitas sawit yang diremajakan bisa naik hingga 2,5 kali lipat hanya dalam 4–5 tahun.

Baca Juga:  Pertahankan HET Minyakita hingga Idulfitri

Di sisi lain, kewajiban mendukung program biodiesel juga menghadirkan dilema. Eddy menjelaskan, produksi nasional memang masih cukup untuk program B50. Namun jika ekspor dikurangi demi kebutuhan domestik, dana pungutan ekspor bisa menurun. “Dana ini bukan hanya untuk insentif biodiesel, tapi juga peremajaan sawit rakyat. Kalau dana berkurang, bisa muncul masalah baru, bahkan lingkaran setan,” tambahnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa sawit menjadi komoditas terbesar kedua penyumbang pertumbuhan ekonomi setelah batu bara. Indonesia juga tercatat sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi 47 juta metrik ton, jauh di atas Malaysia yang 19 juta ton dan Thailand 3,45 juta ton.

Baca Juga:  Kinerja Cemerlang, PalmCo Bukukan Laba Hampir Rp3,5 Triliun di Kuartal III

“Sektor palm oil ini sangat penting. Saya pribadi menyebut palm oil sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu pentingnya,” kata Punto.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri kelapa sawit masih memegang peran penting sebagai penopang ekonomi nasional. Namun, lima tahun terakhir, sektor ini menghadapi masalah serius: produksi crude palm oil (CPO) yang stagnan di kisaran 50 juta ton per tahun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menyebut penyebab utamanya adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang belum berjalan optimal. “Tanaman sawit seperti manusia, kalau sudah tua diberi pupuk atau input sebanyak apa pun tidak akan produktif. Harus diremajakan. Sayangnya, PSR belum pernah mencapai target,” ujar Eddy, Kamis (11/9).

Hambatan PSR datang dari persoalan legalitas lahan, status kawasan hutan, hingga keraguan petani menebang sawit karena takut kehilangan penghasilan. Padahal, produktivitas sawit yang diremajakan bisa naik hingga 2,5 kali lipat hanya dalam 4–5 tahun.

Baca Juga:  PTPN IV PalmCo Target Revitalisasi 60.000 Ha Sawit Renta hingga 2026

Di sisi lain, kewajiban mendukung program biodiesel juga menghadirkan dilema. Eddy menjelaskan, produksi nasional memang masih cukup untuk program B50. Namun jika ekspor dikurangi demi kebutuhan domestik, dana pungutan ekspor bisa menurun. “Dana ini bukan hanya untuk insentif biodiesel, tapi juga peremajaan sawit rakyat. Kalau dana berkurang, bisa muncul masalah baru, bahkan lingkaran setan,” tambahnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa sawit menjadi komoditas terbesar kedua penyumbang pertumbuhan ekonomi setelah batu bara. Indonesia juga tercatat sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi 47 juta metrik ton, jauh di atas Malaysia yang 19 juta ton dan Thailand 3,45 juta ton.

- Advertisement -
Baca Juga:  Peduli Covid-19, Karyawan XL Axiata Ikuti Donor Plasma Konvalesen

“Sektor palm oil ini sangat penting. Saya pribadi menyebut palm oil sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu pentingnya,” kata Punto.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri kelapa sawit masih memegang peran penting sebagai penopang ekonomi nasional. Namun, lima tahun terakhir, sektor ini menghadapi masalah serius: produksi crude palm oil (CPO) yang stagnan di kisaran 50 juta ton per tahun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menyebut penyebab utamanya adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang belum berjalan optimal. “Tanaman sawit seperti manusia, kalau sudah tua diberi pupuk atau input sebanyak apa pun tidak akan produktif. Harus diremajakan. Sayangnya, PSR belum pernah mencapai target,” ujar Eddy, Kamis (11/9).

Hambatan PSR datang dari persoalan legalitas lahan, status kawasan hutan, hingga keraguan petani menebang sawit karena takut kehilangan penghasilan. Padahal, produktivitas sawit yang diremajakan bisa naik hingga 2,5 kali lipat hanya dalam 4–5 tahun.

Baca Juga:  Trossen Telling Bikin Produksi PTPN IV Regional III Makin Presisi, Akurasi Tembus 96,77 Persen

Di sisi lain, kewajiban mendukung program biodiesel juga menghadirkan dilema. Eddy menjelaskan, produksi nasional memang masih cukup untuk program B50. Namun jika ekspor dikurangi demi kebutuhan domestik, dana pungutan ekspor bisa menurun. “Dana ini bukan hanya untuk insentif biodiesel, tapi juga peremajaan sawit rakyat. Kalau dana berkurang, bisa muncul masalah baru, bahkan lingkaran setan,” tambahnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa sawit menjadi komoditas terbesar kedua penyumbang pertumbuhan ekonomi setelah batu bara. Indonesia juga tercatat sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi 47 juta metrik ton, jauh di atas Malaysia yang 19 juta ton dan Thailand 3,45 juta ton.

Baca Juga:  PTPN V Buka Akses Jalan Penghubung 11 Desa di Indragiri Hulu

“Sektor palm oil ini sangat penting. Saya pribadi menyebut palm oil sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu pentingnya,” kata Punto.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari