Jumat, 13 Februari 2026
- Advertisement -

Childfree Pilihan yang Tidak Selayaknya Dipertentangkan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menanggapi riuhnya polemik childfree. Dia menegaskan, pilihan untuk mempunyai atau tidak memiliki anak berkaitan erat dengan kondisi dan pengetahuan si pembuat keputusan.

“Ini bukan tentang kontestasi hak. Jika ternyata perempuan memilih tidak punya anak karena kehamilan berisiko tinggi atau alasan kesehatan, ya itu tentang bagaimana dia menyikapi kesehatannya,” papar Andy kepada Jawa Pos pekan lalu.

Andy mengimbau publik menghargai privasi orang lain. Batasan privasi, menurut dia, bukanlah ranah yang boleh dilanggar. Maka, publik tidak berhak mengintervensi privasi orang lain. ’’Keputusan punya anak atau nggak punya anak tidak menghilangkan kemanusiaan dia, kan? Juga tidak menghilangkan kemanusiaan kita, kan?’’ tegasnya.

Baca Juga:  Ingat Bunda, Minat Baca Rendah Picu Anak Sulit Sosialisasi

Soal stigma masyarakat terhadap kaum hawa yang memilih tidak memiliki anak, Andy tidak menampiknya. Jangankan child-free, keputusan menunda kehamilan pun mengundang cap negatif dari masyarakat.

Padahal, menurut Andy, kapan punya anak atau berapa banyak jumlahnya adalah murni keputusan perempuan dan pasangannya. Lancang jika orang lain ikut berpendapat atau bahkan mengatur hal itu. ’’Dalam berbagai kesempatan, saya selalu tekankan agar masyarakat tidak menghakimi,’’ ucapnya.

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menyatakan, keputusan untuk punya atau tidak punya anak adalah hak setiap pasangan. ’’Jadi, kalau dari sudut pandang pasangan suami istri, itu adalah hak mereka,’’ katanya.

Namun, dari sudut pandang keislaman, memilih child-free berarti secara sadar tidak menunaikan kewajiban berumah tangga. Sebab, berketurunan adalah kodrat manusia dalam ikatan perkawinan. ’’Jika kodrat ini tidak dilaksanakan, akan timbul kekosongan jiwa,’’ sambung Amirsyah.

Baca Juga:  5 Zodiak Ini Umumnya Bertemu Jodoh di Usia 30-an

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menanggapi riuhnya polemik childfree. Dia menegaskan, pilihan untuk mempunyai atau tidak memiliki anak berkaitan erat dengan kondisi dan pengetahuan si pembuat keputusan.

“Ini bukan tentang kontestasi hak. Jika ternyata perempuan memilih tidak punya anak karena kehamilan berisiko tinggi atau alasan kesehatan, ya itu tentang bagaimana dia menyikapi kesehatannya,” papar Andy kepada Jawa Pos pekan lalu.

Andy mengimbau publik menghargai privasi orang lain. Batasan privasi, menurut dia, bukanlah ranah yang boleh dilanggar. Maka, publik tidak berhak mengintervensi privasi orang lain. ’’Keputusan punya anak atau nggak punya anak tidak menghilangkan kemanusiaan dia, kan? Juga tidak menghilangkan kemanusiaan kita, kan?’’ tegasnya.

Baca Juga:  Serba Pink dan Gold

Soal stigma masyarakat terhadap kaum hawa yang memilih tidak memiliki anak, Andy tidak menampiknya. Jangankan child-free, keputusan menunda kehamilan pun mengundang cap negatif dari masyarakat.

Padahal, menurut Andy, kapan punya anak atau berapa banyak jumlahnya adalah murni keputusan perempuan dan pasangannya. Lancang jika orang lain ikut berpendapat atau bahkan mengatur hal itu. ’’Dalam berbagai kesempatan, saya selalu tekankan agar masyarakat tidak menghakimi,’’ ucapnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menyatakan, keputusan untuk punya atau tidak punya anak adalah hak setiap pasangan. ’’Jadi, kalau dari sudut pandang pasangan suami istri, itu adalah hak mereka,’’ katanya.

Namun, dari sudut pandang keislaman, memilih child-free berarti secara sadar tidak menunaikan kewajiban berumah tangga. Sebab, berketurunan adalah kodrat manusia dalam ikatan perkawinan. ’’Jika kodrat ini tidak dilaksanakan, akan timbul kekosongan jiwa,’’ sambung Amirsyah.

- Advertisement -
Baca Juga:  12 Zodiak Sepanjang Mei, Apakah Anda Beruntung?

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menanggapi riuhnya polemik childfree. Dia menegaskan, pilihan untuk mempunyai atau tidak memiliki anak berkaitan erat dengan kondisi dan pengetahuan si pembuat keputusan.

“Ini bukan tentang kontestasi hak. Jika ternyata perempuan memilih tidak punya anak karena kehamilan berisiko tinggi atau alasan kesehatan, ya itu tentang bagaimana dia menyikapi kesehatannya,” papar Andy kepada Jawa Pos pekan lalu.

Andy mengimbau publik menghargai privasi orang lain. Batasan privasi, menurut dia, bukanlah ranah yang boleh dilanggar. Maka, publik tidak berhak mengintervensi privasi orang lain. ’’Keputusan punya anak atau nggak punya anak tidak menghilangkan kemanusiaan dia, kan? Juga tidak menghilangkan kemanusiaan kita, kan?’’ tegasnya.

Baca Juga:  Pilih yang Natural dan Fungsional

Soal stigma masyarakat terhadap kaum hawa yang memilih tidak memiliki anak, Andy tidak menampiknya. Jangankan child-free, keputusan menunda kehamilan pun mengundang cap negatif dari masyarakat.

Padahal, menurut Andy, kapan punya anak atau berapa banyak jumlahnya adalah murni keputusan perempuan dan pasangannya. Lancang jika orang lain ikut berpendapat atau bahkan mengatur hal itu. ’’Dalam berbagai kesempatan, saya selalu tekankan agar masyarakat tidak menghakimi,’’ ucapnya.

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan menyatakan, keputusan untuk punya atau tidak punya anak adalah hak setiap pasangan. ’’Jadi, kalau dari sudut pandang pasangan suami istri, itu adalah hak mereka,’’ katanya.

Namun, dari sudut pandang keislaman, memilih child-free berarti secara sadar tidak menunaikan kewajiban berumah tangga. Sebab, berketurunan adalah kodrat manusia dalam ikatan perkawinan. ’’Jika kodrat ini tidak dilaksanakan, akan timbul kekosongan jiwa,’’ sambung Amirsyah.

Baca Juga:  Ingat Bunda, Minat Baca Rendah Picu Anak Sulit Sosialisasi

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari