SAAT ini kondisi Covid-19 di Riau sangat mengkhawatirkan. Dengan rekor angka harian tertinggi di Indonesia, kemarin tercatat sebanyak 739 warga Riau positif Covid-19 dengan kematian 27 orang. Sebuah prestasi yang tidak membanggakan. Ini menunjukkan kinerja pemberantasan Covid-19 tidak berhasil. Harus ada evaluasi terhadap kebijakan dan orang-orang yang bertugas dalam penuntasan Covid-19 di daerah ini.
Sudah seharusnya Pemprov Riau introspeksi diri. Mengevaluasi kembali semua lini dan satukan visi antara stakeholder yang ada. Pemimpinnya juga harus sadar diri. Jangan merasa jumawa dan hindari mengeluarkan kebijakan yang kontroversial, seperti soal mudik lokal beberapa waktu lalu. Pemerintah daerah sebaiknya sesegera mungkin mengambil langkah kebijakan luar biasa dalam mengatasi perkembangan virus corona yang kian membludak ini.
Ditambah lagi dengan angka kematian tertinggi di Indonesia, harusnya jadi alarm untuk pemerintah daerah bersama stakeholder terkait mengatasi kondisi sekarang. Karena setiap 4 jam, satu nyawa warga Riau berpulang ke pencipta-Nya saat ini akibat Covid-19. Jangan sampai terjadi kepanikan di masyarakat dan lokasi kesehatan yang ada.
Pihak pemerintah daerah, terutama Pemerintah Provinsi Riau beserta tim yang ditugaskan khusus untuk Covid-19 ini, haruslah mengeluarkan jurus yang ampuh. Karena kondisi sekarang sangat luar biasa maka kebijakan yang diambil juga harus luar biasa. Belajar dari peningkatan kasus yang membludak di DKI Jakarta beberapa waktu lalu, pemerintahnya langsung mengeluarkan kebijakan "menarik rem darurat". Ini adalah istilah dari sebuah kebijakan yang diambil pemerintah DKI guna mengatasi hal tersebut dengan kebijakan luar biasa. Pemprov Riau bisa saja meniru hal yang sama agar kasus covid ini bisa kembali turun melandai, atau hilang sama sekali.
Hingga saat ini, masyarakat tidak melihat ada sebuah kebijakan khusus nan mumpuni diambil oleh pemerintah daerah di Riau ini. Semuanya hanya menjalankan kebijakan umum yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Tanpa ada sebuah kebijakan khusus sesuai dengan kondisi dan realita di lapangan.
Bahkan kini terjadi perang dingin antara pemprov dengan DPRD sehubungan dengan masalah Covid-19 ini. Komisi terkait di DPRD Riau mengeluarkan dua usulan yaitu pembuatan panja dan interpelasi gubernur sebagai dampak ketidakhadiran pemprov dalam rapat membahas Covid-19 beberapa waktu lalu.
Sebuah permasalahan baru di saat masalah utama tak kunjung tuntas. Masyarakat hanya bisa mengurut dada dan menerima takdir hidup mereka di tengah bencana pandemi yang setiap saat selalu mengintai mangsa.
Sekarang ini kita hanya bisa menunggu apa kebijakan luar biasa yang akan dilakukan pemerintah tersebut. Jika masih saja kebijakan standar sekadar imbauan ikuti prokes, vaksinasi massal dan 3T, agaknya sulit menurunkan angka positif harian dan angka kematian. Ditambah lagi usai Idulfitri, diprediksi akan banyak warga yang terpapar setelah pulang mudik, silaturahmi langsung, berkerumun baik di tempat wisata atau pasar dan lain sebagainya. Walaupun begitu, mari kita doakan yang terbaik untuk negeri kita ini agar selalu aman dan pandemi ini segera berakhir.***

