Senin, 7 April 2025
spot_img

11 Kasus PMK Siak, Empat Positif Labor

SIAK (RIAUPOS.CO) – Ada 11 ekor hewan ternak warga jenis sapi yang terindikasi dan gejalanya sudah mengarah ke penyakit mulut dan kuku (PMK). Angka ini hasil laporan dari petugas di lab, terkait kondisi terakhir sapi terindikasi PMK di Kabupaten Siak. Menurut Kadis Peternakan Siak drh Susilawati, angka tersebut bisa saja bertambah.

Adapun data Kasus PMK hingga Sabtu (11/6) malam sebagai berikut. Untuk Kecamatan Dayun, satu ekor di Kampung Banjar Seminai. Di Kecamatan Tualang ada 10 ekor, delapan berada di Kampung Maredan, satu di Perawang Barat dan satu ekor di Kampung Tualang.

"Jumlah tersebut sudah masuk empat sapi di Kampung Maredan yang positif PMK hasil Laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi," jelas drh Susilawati kemarin.

Baca Juga:  Pulang dari Jakarta, Seorang Warga Perawang, Siak, Suspect Corona

Penyakit PMK ini, menurut drh Susilawati, penyebabnya adalah virus, dan penularannya melalui udara, sehingga lebih sulit pengendalikan dan pencegahannya dibanding dengan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

"Pengobatan pada ternak yang sakit ini, telah kami lakukan berupa pengobatan supportif, berupa peningkatan stamina," ungkap drh Susilawati.

Pengobatan simtomatis untuk menghilangkan belaka seperti demam dan lainnya. Hal itu juga dilakukan untuk menghindari efek sekunder oleh bakteri atau infeksi ikutan yang dapat memperparah keadaan sapi yang sakit, dan pemberian obat obatan antiperadangan. Pada usus penderita PMK, terdapat lesi lesu pada mulut, gusi dan lidah, dan kuku di sekitar teracak.

"Sapi yang sakit tentunya kita sarankan untuk dilakukan isolasi dengan memisahkan sapi tersebut dari yang sehat," jelas drh Susilawati.

Baca Juga:  Elakkan Lubang, Tokoh Muda Siak Terperosok dan Tak Sadarkan Diri

Tindakan vaksinasi memang belum ada dilakukan, karena memang belum ada vaksin di provinsi dan kabupaten/kota yang terjangkit.

Dikatakan drh Susilawati, pihaknya  masih menunggu dari pusat, karena vaksin akan didatangkan dari luar negeri memang belum sampai ke pusat. "Jika sudah sampai akan dikirim ke provinsi dan kabupaten/kota," terang drh Susilawati.

Melalui surat edaran Bupati Siak terkait PMK, dilakukan upaya berupa komunikasi, edukasi, kepada masyarakat maupun pihak kecamatan, hingga ke kampung.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Polres, melakukan sosialisasi di kantor camat dengan mengundang penghulu dan pedagang ternak. "Kami juga memantau kandang-kandang ternak, dengan menurunkan petugas kesehatan hewan didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa," sebut drh Susilawati.(ade)

Laporan Monang Lubis, Siak

SIAK (RIAUPOS.CO) – Ada 11 ekor hewan ternak warga jenis sapi yang terindikasi dan gejalanya sudah mengarah ke penyakit mulut dan kuku (PMK). Angka ini hasil laporan dari petugas di lab, terkait kondisi terakhir sapi terindikasi PMK di Kabupaten Siak. Menurut Kadis Peternakan Siak drh Susilawati, angka tersebut bisa saja bertambah.

Adapun data Kasus PMK hingga Sabtu (11/6) malam sebagai berikut. Untuk Kecamatan Dayun, satu ekor di Kampung Banjar Seminai. Di Kecamatan Tualang ada 10 ekor, delapan berada di Kampung Maredan, satu di Perawang Barat dan satu ekor di Kampung Tualang.

"Jumlah tersebut sudah masuk empat sapi di Kampung Maredan yang positif PMK hasil Laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi," jelas drh Susilawati kemarin.

Baca Juga:  Maksimalkan Pelayanan Kesehatan Menuju Siak Sehat

Penyakit PMK ini, menurut drh Susilawati, penyebabnya adalah virus, dan penularannya melalui udara, sehingga lebih sulit pengendalikan dan pencegahannya dibanding dengan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

"Pengobatan pada ternak yang sakit ini, telah kami lakukan berupa pengobatan supportif, berupa peningkatan stamina," ungkap drh Susilawati.

Pengobatan simtomatis untuk menghilangkan belaka seperti demam dan lainnya. Hal itu juga dilakukan untuk menghindari efek sekunder oleh bakteri atau infeksi ikutan yang dapat memperparah keadaan sapi yang sakit, dan pemberian obat obatan antiperadangan. Pada usus penderita PMK, terdapat lesi lesu pada mulut, gusi dan lidah, dan kuku di sekitar teracak.

"Sapi yang sakit tentunya kita sarankan untuk dilakukan isolasi dengan memisahkan sapi tersebut dari yang sehat," jelas drh Susilawati.

Baca Juga:  Segera Terealisasi Layanan Paspor di Sabak Auh

Tindakan vaksinasi memang belum ada dilakukan, karena memang belum ada vaksin di provinsi dan kabupaten/kota yang terjangkit.

Dikatakan drh Susilawati, pihaknya  masih menunggu dari pusat, karena vaksin akan didatangkan dari luar negeri memang belum sampai ke pusat. "Jika sudah sampai akan dikirim ke provinsi dan kabupaten/kota," terang drh Susilawati.

Melalui surat edaran Bupati Siak terkait PMK, dilakukan upaya berupa komunikasi, edukasi, kepada masyarakat maupun pihak kecamatan, hingga ke kampung.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Polres, melakukan sosialisasi di kantor camat dengan mengundang penghulu dan pedagang ternak. "Kami juga memantau kandang-kandang ternak, dengan menurunkan petugas kesehatan hewan didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa," sebut drh Susilawati.(ade)

Laporan Monang Lubis, Siak

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

11 Kasus PMK Siak, Empat Positif Labor

SIAK (RIAUPOS.CO) – Ada 11 ekor hewan ternak warga jenis sapi yang terindikasi dan gejalanya sudah mengarah ke penyakit mulut dan kuku (PMK). Angka ini hasil laporan dari petugas di lab, terkait kondisi terakhir sapi terindikasi PMK di Kabupaten Siak. Menurut Kadis Peternakan Siak drh Susilawati, angka tersebut bisa saja bertambah.

Adapun data Kasus PMK hingga Sabtu (11/6) malam sebagai berikut. Untuk Kecamatan Dayun, satu ekor di Kampung Banjar Seminai. Di Kecamatan Tualang ada 10 ekor, delapan berada di Kampung Maredan, satu di Perawang Barat dan satu ekor di Kampung Tualang.

"Jumlah tersebut sudah masuk empat sapi di Kampung Maredan yang positif PMK hasil Laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi," jelas drh Susilawati kemarin.

Baca Juga:  Siak Kembali PPKM Level Tiga

Penyakit PMK ini, menurut drh Susilawati, penyebabnya adalah virus, dan penularannya melalui udara, sehingga lebih sulit pengendalikan dan pencegahannya dibanding dengan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

"Pengobatan pada ternak yang sakit ini, telah kami lakukan berupa pengobatan supportif, berupa peningkatan stamina," ungkap drh Susilawati.

Pengobatan simtomatis untuk menghilangkan belaka seperti demam dan lainnya. Hal itu juga dilakukan untuk menghindari efek sekunder oleh bakteri atau infeksi ikutan yang dapat memperparah keadaan sapi yang sakit, dan pemberian obat obatan antiperadangan. Pada usus penderita PMK, terdapat lesi lesu pada mulut, gusi dan lidah, dan kuku di sekitar teracak.

"Sapi yang sakit tentunya kita sarankan untuk dilakukan isolasi dengan memisahkan sapi tersebut dari yang sehat," jelas drh Susilawati.

Baca Juga:  Polres Siak Siapkan Pengamanan Maksimal

Tindakan vaksinasi memang belum ada dilakukan, karena memang belum ada vaksin di provinsi dan kabupaten/kota yang terjangkit.

Dikatakan drh Susilawati, pihaknya  masih menunggu dari pusat, karena vaksin akan didatangkan dari luar negeri memang belum sampai ke pusat. "Jika sudah sampai akan dikirim ke provinsi dan kabupaten/kota," terang drh Susilawati.

Melalui surat edaran Bupati Siak terkait PMK, dilakukan upaya berupa komunikasi, edukasi, kepada masyarakat maupun pihak kecamatan, hingga ke kampung.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Polres, melakukan sosialisasi di kantor camat dengan mengundang penghulu dan pedagang ternak. "Kami juga memantau kandang-kandang ternak, dengan menurunkan petugas kesehatan hewan didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa," sebut drh Susilawati.(ade)

Laporan Monang Lubis, Siak

SIAK (RIAUPOS.CO) – Ada 11 ekor hewan ternak warga jenis sapi yang terindikasi dan gejalanya sudah mengarah ke penyakit mulut dan kuku (PMK). Angka ini hasil laporan dari petugas di lab, terkait kondisi terakhir sapi terindikasi PMK di Kabupaten Siak. Menurut Kadis Peternakan Siak drh Susilawati, angka tersebut bisa saja bertambah.

Adapun data Kasus PMK hingga Sabtu (11/6) malam sebagai berikut. Untuk Kecamatan Dayun, satu ekor di Kampung Banjar Seminai. Di Kecamatan Tualang ada 10 ekor, delapan berada di Kampung Maredan, satu di Perawang Barat dan satu ekor di Kampung Tualang.

"Jumlah tersebut sudah masuk empat sapi di Kampung Maredan yang positif PMK hasil Laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi," jelas drh Susilawati kemarin.

Baca Juga:  Elakkan Lubang, Tokoh Muda Siak Terperosok dan Tak Sadarkan Diri

Penyakit PMK ini, menurut drh Susilawati, penyebabnya adalah virus, dan penularannya melalui udara, sehingga lebih sulit pengendalikan dan pencegahannya dibanding dengan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

"Pengobatan pada ternak yang sakit ini, telah kami lakukan berupa pengobatan supportif, berupa peningkatan stamina," ungkap drh Susilawati.

Pengobatan simtomatis untuk menghilangkan belaka seperti demam dan lainnya. Hal itu juga dilakukan untuk menghindari efek sekunder oleh bakteri atau infeksi ikutan yang dapat memperparah keadaan sapi yang sakit, dan pemberian obat obatan antiperadangan. Pada usus penderita PMK, terdapat lesi lesu pada mulut, gusi dan lidah, dan kuku di sekitar teracak.

"Sapi yang sakit tentunya kita sarankan untuk dilakukan isolasi dengan memisahkan sapi tersebut dari yang sehat," jelas drh Susilawati.

Baca Juga:  Bupati Ingatkan Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Tindakan vaksinasi memang belum ada dilakukan, karena memang belum ada vaksin di provinsi dan kabupaten/kota yang terjangkit.

Dikatakan drh Susilawati, pihaknya  masih menunggu dari pusat, karena vaksin akan didatangkan dari luar negeri memang belum sampai ke pusat. "Jika sudah sampai akan dikirim ke provinsi dan kabupaten/kota," terang drh Susilawati.

Melalui surat edaran Bupati Siak terkait PMK, dilakukan upaya berupa komunikasi, edukasi, kepada masyarakat maupun pihak kecamatan, hingga ke kampung.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Polres, melakukan sosialisasi di kantor camat dengan mengundang penghulu dan pedagang ternak. "Kami juga memantau kandang-kandang ternak, dengan menurunkan petugas kesehatan hewan didampingi Bhabinkamtibmas dan Babinsa," sebut drh Susilawati.(ade)

Laporan Monang Lubis, Siak

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari