BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Produksi air bersih Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Terubuk Bengkalis yang terbatas membuat sejumlah usaha galon isi ulang dan laundry terpaksa tutup pada Sabtu (14/2/2026) akibat kemarau panjang yang melanda daerah tersebut.
Sudah dua bulan hujan tidak turun. Kondisi ini menyebabkan air baku Perumda Tirta Terubuk di Waduk Wonosari Bengkalis mengalami kekeringan. Bengkalis pun mulai menghadapi krisis air bersih. Meski waduk sebelumnya telah dilakukan normalisasi, curah hujan yang minim membuat debit air menyusut drastis sehingga produksi air bersih ikut menurun.
“Saat ini sudah dua hari kami tutup, karena air dari Perumda Tirta Terubuk tidak produksi dan tidak mengalir ke tempat kami,” ujar Andi, pemilik usaha galon isi ulang di Jalan Gatot Subroto Bengkalis, Sabtu (14/2).
Ia mengaku terpaksa menghentikan layanan pemesanan air galon dalam jumlah besar karena pasokan tidak tersedia. Kondisi itu membuat pelanggan resah karena persediaan air di rumah mereka kosong.
“Kalau dalam jumlah banyak tidak bisa kami layani. Tapi kalau hanya satu galon tetap kami jual, karena sumber air memang dari PDAM Bengkalis,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Joni, pemilik usaha laundry yang juga mengandalkan pasokan air bersih dari PDAM Tirta Terubuk. Ia terpaksa menutup sementara usahanya saat distribusi air terhenti.
“Tentu sangat rugi. Ini satu-satunya usaha kami untuk menopang ekonomi keluarga. Kabarnya air baku kering sehingga tidak mengalir ke rumah kami,” ujarnya.
Menurutnya, air sudah tidak mengalir selama dua hari terakhir. Bahkan lebih dari sepekan distribusi tidak lancar. Ia mengaku tidak memiliki cadangan air maupun sumur bor.
“Seharusnya Perumda Tirta Terubuk bisa mencarikan solusi atas kondisi ini. Kami tetap membayar tagihan air setiap bulan yang cukup mahal. Tidak ada subsidi, jadi pelayanan seharusnya ditingkatkan,” keluhnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Perumda Air Minum Tirta Terubuk Bengkalis, Abel Iqbal ST, didampingi Kepala Bagian Teknik Harry Kumbara, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan program penanganan jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk mengatasi kekurangan air baku.
“Melihat kondisi yang hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, kami telah menyiapkan target penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang,” ujar Abel.
Untuk jangka pendek, Perumda berencana melakukan normalisasi pembuangan air kanal kebun sawit yang dikelola Koperasi Meskom Sejati (KMS).
“Dalam waktu dekat kami akan bertemu Ketua KMS untuk meminta izin memanfaatkan air kanal sisa pengelolaan kebun sawit sebagai tambahan air baku,” jelasnya.
Selain itu, Perumda juga akan membangun kanal di garis sempadan antara lahan masyarakat dan lahan milik Pemerintah Daerah sepanjang sekitar lima kilometer. Kanal ini diharapkan menjadi cadangan air baku saat kemarau.
Untuk jangka menengah, Perumda berencana memanfaatkan air sungai sebagai sumber air baku dengan membangun sekat pintu air.
“Untuk rencana ini, kami akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR Bengkalis,” ujarnya.
Sementara program jangka panjang, Perumda berencana memanfaatkan air kanal milik PT MAS yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari waduk Perumda.
“Kami sudah berkomunikasi dengan BWSDA Riau. Mudah-mudahan pada 2027 kegiatan ini dapat direalisasikan melalui anggaran APBN,” jelasnya.
Kabag Teknik Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, Harry Kumbara, menambahkan bahwa kondisi tanah gambut di sekitar Waduk Wonosari turut mempercepat penyusutan air saat kemarau.
“Dengan kultur tanah gambut, ketika musim kemarau datang air baku di waduk cepat menyusut. Saat ini, sekitar satu bulan tidak turun hujan, air waduk sudah berkurang hampir 70 persen,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi faktor utama berkurangnya produksi air baku di Kecamatan Bengkalis. Idealnya, Bengkalis membutuhkan tambahan minimal tiga waduk baru. (ksm)

