Sabtu, 25 Mei 2024

Turun Drastis, Harga Cabai Rp90 Ribu per Kg

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Harga cabai, terutama cabai merah dari Bukittinggi turun drastis, Jumat (15/3). Berdasarkan pantauan Riau Pos di pasar tradisional Pekanbaru, harga cabai merah dari Bukittinggi yang sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram (kg), turun menjadi Rp90 ribu per kg.

Salah seorang pedagang di Pasar Cik Puan Pekanbaru bernama Edi mengaku, saat ini harga cabai sudah mulai mengalami penurunan dari sebelumnya berkisar Rp130 ribu per kg menjadi Rp90.000 per kg untuk cabai merah Bukittinggi.

Yamaha

Sedangkan harga cabai merah asal Medan kini dijual Rp72 ribu per kg dan kualitas nomor dua dijual Rp68 ribu per kg. Sebelumnya, cabai merah dari Medan ini sempat dijual Rp110 ribu per kg. “Hari ini (kemarin, red) cabai dari Bukittinggi sudah habis. Tinggal cabai dari Medan. Memang awal Ramadan lalu sempat tinggi  tapi sekarang sudah mulai turun lagi,” ujarnya, Jumat (15/3).

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pedagang di Pasar Agussalim Pekanbaru bernama Yolanda. Menurutnya, saat ini harga cabai dari Medan sebesar Rp80 ribu per kg, sedangkan cabai dari Bukittinggi seharga Rp95 ribu per kg. “Stok sudah banyak makanya harganya juga sudah turun lagi,” ungkap Yolanda.

Tingginya bahan pokok di Kota Pekanbaru membuat Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Tim Satgas Pangan dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pasar tradisional yakni Pasar Agus Salim Jalan Agus Salim Kecamatan Pekanbaru Kota dan Pasar Cik Puan Jalan Tuanku Tambusai.

- Advertisement -

Di Pasar Cik Puan dan Pasar Agus Salim Kepala Disperindag Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin turun langsung mendampingi Asisten II Sekertariat Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut untuk melakukan intervensi harga yang sempat melonjak tersebut.

Mereka berdialog bersama para pedagang dan juga pembeli terkait lonjakan harga yang belakangan ini terjadi, serta mengetahui mulai masuknya stok bahan pangan lainnya ke Kota Pekanbaru yang dapat membantu menekan harga cabai merah di pasar tradisional.

- Advertisement -

Asisten II Sekertariat Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut tidak menampik jika memang terjadinya lonjakan harga di awal pekan pertama Ramadan 1445 H ini. “Tadi (kemarin, red)sudah dicek harganya sudah mulai turun. Ini karena kita juga memberikan subsidi transportasi. Alhamdulilah, harga cabai merah sudah di bawah seratus ribu hari ini (kemarin, red),” katanya.

Dikatakan Ingot, berdasarkan hasil sidak, harga cabai merah asal Bukittinggi sudah mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu berkisar Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kg dari sebelumnya mencapai Rp150 ribu per kg.

Sementara itu, cabai merah asal Medan dijual Rp75 ribu per kg, sebelumnya dijual Rp100 ribu per kg. Dikatakan Ingot, langkah mengintervensi ini dilakukan sesuai arahan Pj Wali Kota, lantaran pemerintah daerah punya kewajiban mengendalikan inflasi harga komoditi bahan pokok.

Baca Juga:  Ada Kebakaran saat Gowes, Personel Brimob Selamatkan Korban

Selain dua pasar tradisional di Kota Pekanbaru, Tim Satgas Pangan Pemerintah Kota Pekanbaru langsung melakukan penelusuran di tingkat pedagang pendistribusi yang ada di Pasar AKAP. Di mana, pemerintah kota akan melakukan intervensi harga cabai merah dilakukan hingga ke jalur distribusi dengan memberikan subsidi transportasi.

Lanjut Ingot, pihaknya akan terus melakukan monitoring terhadap seluruh harga bahan pokok lainnya yang juga diharapkan akan ikut berangsur normal.

Ia mengatakan, pemerintah kota dan tim satgas tidak ingin menganggu dinamika harga bahan pangan di pasaran. Pihaknya juga berupaya menjaga kepentingan semua pihak seperti petani, distributor hingga pengecer.

Sementara itu, saat melanjutkan sidak di Pasar Cik Puan, Zulhelmi Arifin mengatakan  tingginya harga cabai merah di pasaran disebabkan pasokan dari daerah penghasil yang tengah mengalami masalah. Namun  dengan berbagai intervensi yang dilakukan harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Pekanbaru mulai turun.

Pihaknya juga akan mengecek serta memastikan pola distribusi, pola penyimpanan hingga pendistribusian ke pasar-pasar tradisional tidak mengalami gangguan. Mulai dari pada pola distribusi dan juga pola penyimpanan sampai ke jalur distribusi ke pasar-pasar harus dilakukan pengecekan secara keseluruhan.

Sementara itu, untuk kenaikan harga bahan pokok lainnya seperti kentang, tomat, dan lainnya, Zulheli mengatakan Pemko Pekanbaru terus berupaya menurunkan harga bahan pokok terutama cabai dengan melakukan intervensi ke pasar, memberikan subsidi transportasi.

‘’Serta memastikan kelancaran alur distribusi serta melakukan kerja sama dengan daerah penghasil. Sementara untuk komoditas lainnya kami akan melakukan pelurusan lebih lanjut agar harga bahan pokok tersebut juga ikut mengalami penurunan harga,’’ paparnya.

‘’Tadi (kemarin, red) juga disampaikan bahwa komoditas kentang mengalami kenaikan. Kami akan cek lagi dari jalur produsennya, terus jalur masuk ke Pekanbaru, dan distribusi ke pasar-pasar. Kami akan cek satu per satu,” tambahnya.

Penurunan harga juga terjadi di Kepulauan Meranti. Namun, harga cabai di sini masih di atas Rp100 ribu per kg. “Turun Rp20 ribu per kg sejak naik beberapa hari lalu Rp130 per kilogram. Memang ada penurunam. Namun harga tersebut masih tergolong tinggi dari harga normal,” ungkap Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti Izam, Jumat (15/3).

Harga cabai merah dari Bukittinggi dikatakan normal jika harga jual mampu bertahan pada kisaran Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kg. “Biasanya itu paling tinggi hanya Rp80 ribu per kilogram. Jika di atas itu jauh dari batas wajar,” bebernya.

Selain harga cabai merah, Izam juga menjelaskan saat ini lonjakan harga juga terjadi pada cabe rawit dari Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram.

Terpisah kepala Diperindag Meranti Marwan mengaku akan memanggil seluruh pemasok cabai yang beroperasi di Kepulauan Meranti, untuk membahas kenaikan tersebut. Pertemuan itu diatensikan untuk mencari jalan keluar atas kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir. “Mudah-mudahan ada masukan dari seluruh distributor itu nantinya,” ujarnya.

Baca Juga:  Dompet Dhuafa Himpun Dana Ziswaf Rp4,2 Miliar

Sementara itu, di wilayah Kota Dumai cabai juga masih dijual di atas Rp100 ribu per kg. Kepala Dinas Perdagangan Kota Dumai, Fridarson yang dihubungi Riau Pos, Jumat (15/3) di Dumai secara diplomatis tidak menafikan hal tersebut. ‘’Hasil pantauan di beberapa pasar, memang ada beberapa sembako yang sudah naik,’’ kata Fridarson.

Berdasarkan data yang dirangkum dari lapangan, tambah Fridarson, kenaikan harga yang cukup dirasakan yakni cabai merah. ‘’Semula harga berkisar antara Rp80 ribu per kilogram hingga Rp90 ribu per kilogram. Kondisi ini naik menjadi Rp110 ribu per kilogram,’’ kata Fridarson.

Kondisi serupa, tambah Fridarson, turut terjadi dengan harga cabai merah keriting yang mencapai Rp55 ribu per kg, cabai rawit merah Rp90 ribu per kg, dan cabai rawit hijau dijual Rp40 ribu per kg. ‘’Kenaikan ini sama terjadi dengan harga minyak goreng dan gula pasir,’’ ujarnya.

Menjawab Riau Pos, Fridarson menjelaskan, mengacu pada pengalaman sebelumnya menjelang Idulfitri, juga bakal mengalami kenaikan harga. Biasanya terjadi pada tepung, minyak goreng, gula pasir dan telur serta bawang maupun lainnya. ‘’ Biasa menghadapi Idulfitri, tentu permintaan semakin meningkat,’’ kata Fridarson.

Selain itu, lanjut Fridarson, kenaikan harga jelas disebabkan oleh kondisi daerah sebagai penghasil. ‘’Kemarin kan ada bencana melanda daerah Sumatera Barat. Belum lagi, banjir melanda di beberapa daerah. Dengan kondisi seperti itu membuat pasokan barang menjadi tidak lancar,’’ kata Fridarson.

Salah seorang warga Jalan Pangeran Diponegoro bernama Susan (54) menjelaskan, terpaksa harus menyiasati untuk membeli barang-barang di tengah kenaikan harga. ‘’Kalau waktu murah, bisa beli satu kilogram. Setelah mengalami kenaikan, ya harus beli setengah kilogram atau seperempat kilogram saja,’’ kata Susan.

Cabai merah misalnya, tambah Susan, hanya bisa membeli seperempat kilogram. ‘’Kalau beli satu kilogram, jelas mahal. Mendingan beli seperempat saja,’’ kata Susan seraya menambahkan ya cuma ya dua atau satu kali masak saja.

Kemudian, salah seorang pedagang di Pasar Jalan Sultan Hasanuddin Sumarsih menjelaskan, kenaikan harga telah membuat dilema bagi para pedagang. Harga barang yang naik membuat pembeli mengeluh. ‘’Itu sudah jelas pembeli mengeluh. Kalau tidak dinaikan, pedagang pula yang rugi,’’ kata Sumarsih.

Alhasil, tambah Sumarsih, harus mengikuti harga di pasaran. ‘’Kalau harga naik, kita sebagai pedagang ya ngikut saja,’’ kata Sunarsih seraya menambahkan ada bencana alam di beberapa daerah bisa mempengaruhi terjadinya kenaikan harga.(ayi/wir/sah)






Reporter: Prapti Dwi Lestari





Reporter: Wira Saputra

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Harga cabai, terutama cabai merah dari Bukittinggi turun drastis, Jumat (15/3). Berdasarkan pantauan Riau Pos di pasar tradisional Pekanbaru, harga cabai merah dari Bukittinggi yang sempat mencapai Rp150 ribu per kilogram (kg), turun menjadi Rp90 ribu per kg.

Salah seorang pedagang di Pasar Cik Puan Pekanbaru bernama Edi mengaku, saat ini harga cabai sudah mulai mengalami penurunan dari sebelumnya berkisar Rp130 ribu per kg menjadi Rp90.000 per kg untuk cabai merah Bukittinggi.

Sedangkan harga cabai merah asal Medan kini dijual Rp72 ribu per kg dan kualitas nomor dua dijual Rp68 ribu per kg. Sebelumnya, cabai merah dari Medan ini sempat dijual Rp110 ribu per kg. “Hari ini (kemarin, red) cabai dari Bukittinggi sudah habis. Tinggal cabai dari Medan. Memang awal Ramadan lalu sempat tinggi  tapi sekarang sudah mulai turun lagi,” ujarnya, Jumat (15/3).

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pedagang di Pasar Agussalim Pekanbaru bernama Yolanda. Menurutnya, saat ini harga cabai dari Medan sebesar Rp80 ribu per kg, sedangkan cabai dari Bukittinggi seharga Rp95 ribu per kg. “Stok sudah banyak makanya harganya juga sudah turun lagi,” ungkap Yolanda.

Tingginya bahan pokok di Kota Pekanbaru membuat Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Tim Satgas Pangan dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pasar tradisional yakni Pasar Agus Salim Jalan Agus Salim Kecamatan Pekanbaru Kota dan Pasar Cik Puan Jalan Tuanku Tambusai.

Di Pasar Cik Puan dan Pasar Agus Salim Kepala Disperindag Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin turun langsung mendampingi Asisten II Sekertariat Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut untuk melakukan intervensi harga yang sempat melonjak tersebut.

Mereka berdialog bersama para pedagang dan juga pembeli terkait lonjakan harga yang belakangan ini terjadi, serta mengetahui mulai masuknya stok bahan pangan lainnya ke Kota Pekanbaru yang dapat membantu menekan harga cabai merah di pasar tradisional.

Asisten II Sekertariat Daerah Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut tidak menampik jika memang terjadinya lonjakan harga di awal pekan pertama Ramadan 1445 H ini. “Tadi (kemarin, red)sudah dicek harganya sudah mulai turun. Ini karena kita juga memberikan subsidi transportasi. Alhamdulilah, harga cabai merah sudah di bawah seratus ribu hari ini (kemarin, red),” katanya.

Dikatakan Ingot, berdasarkan hasil sidak, harga cabai merah asal Bukittinggi sudah mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu berkisar Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kg dari sebelumnya mencapai Rp150 ribu per kg.

Sementara itu, cabai merah asal Medan dijual Rp75 ribu per kg, sebelumnya dijual Rp100 ribu per kg. Dikatakan Ingot, langkah mengintervensi ini dilakukan sesuai arahan Pj Wali Kota, lantaran pemerintah daerah punya kewajiban mengendalikan inflasi harga komoditi bahan pokok.

Baca Juga:  Rusli Ahmad Ingin Jadikan Anak Kemenakan Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Selain dua pasar tradisional di Kota Pekanbaru, Tim Satgas Pangan Pemerintah Kota Pekanbaru langsung melakukan penelusuran di tingkat pedagang pendistribusi yang ada di Pasar AKAP. Di mana, pemerintah kota akan melakukan intervensi harga cabai merah dilakukan hingga ke jalur distribusi dengan memberikan subsidi transportasi.

Lanjut Ingot, pihaknya akan terus melakukan monitoring terhadap seluruh harga bahan pokok lainnya yang juga diharapkan akan ikut berangsur normal.

Ia mengatakan, pemerintah kota dan tim satgas tidak ingin menganggu dinamika harga bahan pangan di pasaran. Pihaknya juga berupaya menjaga kepentingan semua pihak seperti petani, distributor hingga pengecer.

Sementara itu, saat melanjutkan sidak di Pasar Cik Puan, Zulhelmi Arifin mengatakan  tingginya harga cabai merah di pasaran disebabkan pasokan dari daerah penghasil yang tengah mengalami masalah. Namun  dengan berbagai intervensi yang dilakukan harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Pekanbaru mulai turun.

Pihaknya juga akan mengecek serta memastikan pola distribusi, pola penyimpanan hingga pendistribusian ke pasar-pasar tradisional tidak mengalami gangguan. Mulai dari pada pola distribusi dan juga pola penyimpanan sampai ke jalur distribusi ke pasar-pasar harus dilakukan pengecekan secara keseluruhan.

Sementara itu, untuk kenaikan harga bahan pokok lainnya seperti kentang, tomat, dan lainnya, Zulheli mengatakan Pemko Pekanbaru terus berupaya menurunkan harga bahan pokok terutama cabai dengan melakukan intervensi ke pasar, memberikan subsidi transportasi.

‘’Serta memastikan kelancaran alur distribusi serta melakukan kerja sama dengan daerah penghasil. Sementara untuk komoditas lainnya kami akan melakukan pelurusan lebih lanjut agar harga bahan pokok tersebut juga ikut mengalami penurunan harga,’’ paparnya.

‘’Tadi (kemarin, red) juga disampaikan bahwa komoditas kentang mengalami kenaikan. Kami akan cek lagi dari jalur produsennya, terus jalur masuk ke Pekanbaru, dan distribusi ke pasar-pasar. Kami akan cek satu per satu,” tambahnya.

Penurunan harga juga terjadi di Kepulauan Meranti. Namun, harga cabai di sini masih di atas Rp100 ribu per kg. “Turun Rp20 ribu per kg sejak naik beberapa hari lalu Rp130 per kilogram. Memang ada penurunam. Namun harga tersebut masih tergolong tinggi dari harga normal,” ungkap Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Kabupaten Kepulauan Meranti Izam, Jumat (15/3).

Harga cabai merah dari Bukittinggi dikatakan normal jika harga jual mampu bertahan pada kisaran Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per kg. “Biasanya itu paling tinggi hanya Rp80 ribu per kilogram. Jika di atas itu jauh dari batas wajar,” bebernya.

Selain harga cabai merah, Izam juga menjelaskan saat ini lonjakan harga juga terjadi pada cabe rawit dari Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram.

Terpisah kepala Diperindag Meranti Marwan mengaku akan memanggil seluruh pemasok cabai yang beroperasi di Kepulauan Meranti, untuk membahas kenaikan tersebut. Pertemuan itu diatensikan untuk mencari jalan keluar atas kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir. “Mudah-mudahan ada masukan dari seluruh distributor itu nantinya,” ujarnya.

Baca Juga:  Ada Kebakaran saat Gowes, Personel Brimob Selamatkan Korban

Sementara itu, di wilayah Kota Dumai cabai juga masih dijual di atas Rp100 ribu per kg. Kepala Dinas Perdagangan Kota Dumai, Fridarson yang dihubungi Riau Pos, Jumat (15/3) di Dumai secara diplomatis tidak menafikan hal tersebut. ‘’Hasil pantauan di beberapa pasar, memang ada beberapa sembako yang sudah naik,’’ kata Fridarson.

Berdasarkan data yang dirangkum dari lapangan, tambah Fridarson, kenaikan harga yang cukup dirasakan yakni cabai merah. ‘’Semula harga berkisar antara Rp80 ribu per kilogram hingga Rp90 ribu per kilogram. Kondisi ini naik menjadi Rp110 ribu per kilogram,’’ kata Fridarson.

Kondisi serupa, tambah Fridarson, turut terjadi dengan harga cabai merah keriting yang mencapai Rp55 ribu per kg, cabai rawit merah Rp90 ribu per kg, dan cabai rawit hijau dijual Rp40 ribu per kg. ‘’Kenaikan ini sama terjadi dengan harga minyak goreng dan gula pasir,’’ ujarnya.

Menjawab Riau Pos, Fridarson menjelaskan, mengacu pada pengalaman sebelumnya menjelang Idulfitri, juga bakal mengalami kenaikan harga. Biasanya terjadi pada tepung, minyak goreng, gula pasir dan telur serta bawang maupun lainnya. ‘’ Biasa menghadapi Idulfitri, tentu permintaan semakin meningkat,’’ kata Fridarson.

Selain itu, lanjut Fridarson, kenaikan harga jelas disebabkan oleh kondisi daerah sebagai penghasil. ‘’Kemarin kan ada bencana melanda daerah Sumatera Barat. Belum lagi, banjir melanda di beberapa daerah. Dengan kondisi seperti itu membuat pasokan barang menjadi tidak lancar,’’ kata Fridarson.

Salah seorang warga Jalan Pangeran Diponegoro bernama Susan (54) menjelaskan, terpaksa harus menyiasati untuk membeli barang-barang di tengah kenaikan harga. ‘’Kalau waktu murah, bisa beli satu kilogram. Setelah mengalami kenaikan, ya harus beli setengah kilogram atau seperempat kilogram saja,’’ kata Susan.

Cabai merah misalnya, tambah Susan, hanya bisa membeli seperempat kilogram. ‘’Kalau beli satu kilogram, jelas mahal. Mendingan beli seperempat saja,’’ kata Susan seraya menambahkan ya cuma ya dua atau satu kali masak saja.

Kemudian, salah seorang pedagang di Pasar Jalan Sultan Hasanuddin Sumarsih menjelaskan, kenaikan harga telah membuat dilema bagi para pedagang. Harga barang yang naik membuat pembeli mengeluh. ‘’Itu sudah jelas pembeli mengeluh. Kalau tidak dinaikan, pedagang pula yang rugi,’’ kata Sumarsih.

Alhasil, tambah Sumarsih, harus mengikuti harga di pasaran. ‘’Kalau harga naik, kita sebagai pedagang ya ngikut saja,’’ kata Sunarsih seraya menambahkan ada bencana alam di beberapa daerah bisa mempengaruhi terjadinya kenaikan harga.(ayi/wir/sah)






Reporter: Prapti Dwi Lestari





Reporter: Wira Saputra
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari