Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Penggunaan BBM Tak Tepat Sasaran

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pekanbaru masih terjadi sejak sepekan terakhir. Ini dinilai karena terjadinya penyaluran yang tidak tepat sasaran terhadap bahan bakar minyak (BBM) penugasan. Sebab, kuota untuk Riau merupakan tertinggi di Tanah Air, dan kuota premium memang diprediksi habis bulan ini.

Penilaian ini disampaikan Pemprov Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau. Menurut Kepala Dinas ESDM Indra Agus, kuota BBM berdasarkan beberapa pertimbangan dan khusus Riau tidak ada persoalan.

"Yang selalu menjadi persoalan adalah kuota BBM penugasan yakni premium dan solar di mana pemerintah memang sedang melaksanakan perubahan atau pergeseran ke arah penggunaan BBM nonpenugasan," ungkap Indra kepada Riau Pos, Senin (14/10).

Pemprov Riau, lanjut Indra, berharap ke depan agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan BBM penugasan ini. Sehingga masyarakat yang layak menerima dan menggunakan bisa memanfaatkan.

Disinggung kuota Riau dan usulan pemprov, Indra memberikan semacam data global. Mulai dari angka penyaluran biosolar bersubsidi sampai 30 September 2019 adalah sebesar 595.048 kiloliter (kl) dari kuota yang tersedia sebesar 725.122 kiloliter (atau penyaluran sudah mencapai 82 persen dari kuota tersedia).

Baca Juga:  Riau Bertambah 4 Kasus Baru, Total 34 Orang Positif Covid-19

Kemudian dari data yang disampaikannya juga terkait penyaluran premium jenis BBM khusus penugasan (JBKP) sampai 30 September 2019 sebesar 587,639 kl dari kuota yang tersedia sebesar 609.415 kl (atau 96 persen dari kuota tersedia).

Di mana angka rata-rata harian penyaluran premium JBKP di Riau adalah 2.153 kl per hari dan biosolar subsidi adalah 2.180 kl per hari. Kemudian untuk penyaluran solar, pascapencabutan surat edaran BPH Migas, menurut laporan yang diterimanya dari Pertamina, telah menyalurkan biosolar bersubsidi secara normal. Seperti sebelum terbit surat edaran di mana penyalurannya mengacu pada Perpres Nomor 191/2014 per tanggal 28 September 2019.

"Mengingat diperkirakan kuota premium habis pada awal Oktober 2019 ini, kami melakukan pengaturan penyalurannya dan memastikan produk pertalite maupun pertamax tersedia di seluruh SPBU di Riau. Saat ini, produk pertalite sudah tersedia di seluruh SPBU regular di Riau," paparnya.

Baca Juga:  Kombes Asep Pimpin Patroli Antisipasi Premanisme dan Geng Motor, Ini Hasilnya

Kadis ESDM berharap melalui media disampaikan dan didorong kepada masyarakat agar mempergunakan bahan bakar yang sesuai dengan keperluan mesin kendaraan. Mengingat masih banyak kendaraan di Riau yang seharusnya membeli BBM dengan bahan bakar oktan tinggi, namun masih menggunakan premium.

Sementara itu Unit Manager Comunication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, pihaknya telah melaporkan pengendalian penyaluran bahan bakar tersebut kepada Pemprov Riau. Pengendalian, disampakan dia, agar sisa kuota yang tersisa mencukupi hingga akhir Desember.

"Jadi, terkait kondisi saat ini telah kami laporkan ke pemda (Riau). Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPH Migas dan pemda untuk melakukan pengendalian penyaluran," ungkap Roby.(rir/egp)

 

Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Editor : Rinaldi

 

 

 

 

 

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pekanbaru masih terjadi sejak sepekan terakhir. Ini dinilai karena terjadinya penyaluran yang tidak tepat sasaran terhadap bahan bakar minyak (BBM) penugasan. Sebab, kuota untuk Riau merupakan tertinggi di Tanah Air, dan kuota premium memang diprediksi habis bulan ini.

Penilaian ini disampaikan Pemprov Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau. Menurut Kepala Dinas ESDM Indra Agus, kuota BBM berdasarkan beberapa pertimbangan dan khusus Riau tidak ada persoalan.

"Yang selalu menjadi persoalan adalah kuota BBM penugasan yakni premium dan solar di mana pemerintah memang sedang melaksanakan perubahan atau pergeseran ke arah penggunaan BBM nonpenugasan," ungkap Indra kepada Riau Pos, Senin (14/10).

Pemprov Riau, lanjut Indra, berharap ke depan agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan BBM penugasan ini. Sehingga masyarakat yang layak menerima dan menggunakan bisa memanfaatkan.

Disinggung kuota Riau dan usulan pemprov, Indra memberikan semacam data global. Mulai dari angka penyaluran biosolar bersubsidi sampai 30 September 2019 adalah sebesar 595.048 kiloliter (kl) dari kuota yang tersedia sebesar 725.122 kiloliter (atau penyaluran sudah mencapai 82 persen dari kuota tersedia).

Baca Juga:  Siswi MTs Muhammadiyah 02 Sabet Juara Satu Terbaik Se-Riau

Kemudian dari data yang disampaikannya juga terkait penyaluran premium jenis BBM khusus penugasan (JBKP) sampai 30 September 2019 sebesar 587,639 kl dari kuota yang tersedia sebesar 609.415 kl (atau 96 persen dari kuota tersedia).

Di mana angka rata-rata harian penyaluran premium JBKP di Riau adalah 2.153 kl per hari dan biosolar subsidi adalah 2.180 kl per hari. Kemudian untuk penyaluran solar, pascapencabutan surat edaran BPH Migas, menurut laporan yang diterimanya dari Pertamina, telah menyalurkan biosolar bersubsidi secara normal. Seperti sebelum terbit surat edaran di mana penyalurannya mengacu pada Perpres Nomor 191/2014 per tanggal 28 September 2019.

"Mengingat diperkirakan kuota premium habis pada awal Oktober 2019 ini, kami melakukan pengaturan penyalurannya dan memastikan produk pertalite maupun pertamax tersedia di seluruh SPBU di Riau. Saat ini, produk pertalite sudah tersedia di seluruh SPBU regular di Riau," paparnya.

Baca Juga:  Ini Syarat Pasien OTG Covid-19 Bisa Jalani Isolasi Mandiri di Hotel

Kadis ESDM berharap melalui media disampaikan dan didorong kepada masyarakat agar mempergunakan bahan bakar yang sesuai dengan keperluan mesin kendaraan. Mengingat masih banyak kendaraan di Riau yang seharusnya membeli BBM dengan bahan bakar oktan tinggi, namun masih menggunakan premium.

Sementara itu Unit Manager Comunication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, pihaknya telah melaporkan pengendalian penyaluran bahan bakar tersebut kepada Pemprov Riau. Pengendalian, disampakan dia, agar sisa kuota yang tersisa mencukupi hingga akhir Desember.

"Jadi, terkait kondisi saat ini telah kami laporkan ke pemda (Riau). Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPH Migas dan pemda untuk melakukan pengendalian penyaluran," ungkap Roby.(rir/egp)

 

Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Editor : Rinaldi

 

 

 

 

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Penggunaan BBM Tak Tepat Sasaran

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pekanbaru masih terjadi sejak sepekan terakhir. Ini dinilai karena terjadinya penyaluran yang tidak tepat sasaran terhadap bahan bakar minyak (BBM) penugasan. Sebab, kuota untuk Riau merupakan tertinggi di Tanah Air, dan kuota premium memang diprediksi habis bulan ini.

Penilaian ini disampaikan Pemprov Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau. Menurut Kepala Dinas ESDM Indra Agus, kuota BBM berdasarkan beberapa pertimbangan dan khusus Riau tidak ada persoalan.

"Yang selalu menjadi persoalan adalah kuota BBM penugasan yakni premium dan solar di mana pemerintah memang sedang melaksanakan perubahan atau pergeseran ke arah penggunaan BBM nonpenugasan," ungkap Indra kepada Riau Pos, Senin (14/10).

Pemprov Riau, lanjut Indra, berharap ke depan agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan BBM penugasan ini. Sehingga masyarakat yang layak menerima dan menggunakan bisa memanfaatkan.

Disinggung kuota Riau dan usulan pemprov, Indra memberikan semacam data global. Mulai dari angka penyaluran biosolar bersubsidi sampai 30 September 2019 adalah sebesar 595.048 kiloliter (kl) dari kuota yang tersedia sebesar 725.122 kiloliter (atau penyaluran sudah mencapai 82 persen dari kuota tersedia).

Baca Juga:  Hari Ini Tol Permai Dibuka Gratis

Kemudian dari data yang disampaikannya juga terkait penyaluran premium jenis BBM khusus penugasan (JBKP) sampai 30 September 2019 sebesar 587,639 kl dari kuota yang tersedia sebesar 609.415 kl (atau 96 persen dari kuota tersedia).

Di mana angka rata-rata harian penyaluran premium JBKP di Riau adalah 2.153 kl per hari dan biosolar subsidi adalah 2.180 kl per hari. Kemudian untuk penyaluran solar, pascapencabutan surat edaran BPH Migas, menurut laporan yang diterimanya dari Pertamina, telah menyalurkan biosolar bersubsidi secara normal. Seperti sebelum terbit surat edaran di mana penyalurannya mengacu pada Perpres Nomor 191/2014 per tanggal 28 September 2019.

"Mengingat diperkirakan kuota premium habis pada awal Oktober 2019 ini, kami melakukan pengaturan penyalurannya dan memastikan produk pertalite maupun pertamax tersedia di seluruh SPBU di Riau. Saat ini, produk pertalite sudah tersedia di seluruh SPBU regular di Riau," paparnya.

Baca Juga:  Ini Syarat Pasien OTG Covid-19 Bisa Jalani Isolasi Mandiri di Hotel

Kadis ESDM berharap melalui media disampaikan dan didorong kepada masyarakat agar mempergunakan bahan bakar yang sesuai dengan keperluan mesin kendaraan. Mengingat masih banyak kendaraan di Riau yang seharusnya membeli BBM dengan bahan bakar oktan tinggi, namun masih menggunakan premium.

Sementara itu Unit Manager Comunication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, pihaknya telah melaporkan pengendalian penyaluran bahan bakar tersebut kepada Pemprov Riau. Pengendalian, disampakan dia, agar sisa kuota yang tersisa mencukupi hingga akhir Desember.

"Jadi, terkait kondisi saat ini telah kami laporkan ke pemda (Riau). Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPH Migas dan pemda untuk melakukan pengendalian penyaluran," ungkap Roby.(rir/egp)

 

Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Editor : Rinaldi

 

 

 

 

 

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pekanbaru masih terjadi sejak sepekan terakhir. Ini dinilai karena terjadinya penyaluran yang tidak tepat sasaran terhadap bahan bakar minyak (BBM) penugasan. Sebab, kuota untuk Riau merupakan tertinggi di Tanah Air, dan kuota premium memang diprediksi habis bulan ini.

Penilaian ini disampaikan Pemprov Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau. Menurut Kepala Dinas ESDM Indra Agus, kuota BBM berdasarkan beberapa pertimbangan dan khusus Riau tidak ada persoalan.

"Yang selalu menjadi persoalan adalah kuota BBM penugasan yakni premium dan solar di mana pemerintah memang sedang melaksanakan perubahan atau pergeseran ke arah penggunaan BBM nonpenugasan," ungkap Indra kepada Riau Pos, Senin (14/10).

Pemprov Riau, lanjut Indra, berharap ke depan agar dapat bersama-sama mengawasi penggunaan BBM penugasan ini. Sehingga masyarakat yang layak menerima dan menggunakan bisa memanfaatkan.

Disinggung kuota Riau dan usulan pemprov, Indra memberikan semacam data global. Mulai dari angka penyaluran biosolar bersubsidi sampai 30 September 2019 adalah sebesar 595.048 kiloliter (kl) dari kuota yang tersedia sebesar 725.122 kiloliter (atau penyaluran sudah mencapai 82 persen dari kuota tersedia).

Baca Juga:  Siswi MTs Muhammadiyah 02 Sabet Juara Satu Terbaik Se-Riau

Kemudian dari data yang disampaikannya juga terkait penyaluran premium jenis BBM khusus penugasan (JBKP) sampai 30 September 2019 sebesar 587,639 kl dari kuota yang tersedia sebesar 609.415 kl (atau 96 persen dari kuota tersedia).

Di mana angka rata-rata harian penyaluran premium JBKP di Riau adalah 2.153 kl per hari dan biosolar subsidi adalah 2.180 kl per hari. Kemudian untuk penyaluran solar, pascapencabutan surat edaran BPH Migas, menurut laporan yang diterimanya dari Pertamina, telah menyalurkan biosolar bersubsidi secara normal. Seperti sebelum terbit surat edaran di mana penyalurannya mengacu pada Perpres Nomor 191/2014 per tanggal 28 September 2019.

"Mengingat diperkirakan kuota premium habis pada awal Oktober 2019 ini, kami melakukan pengaturan penyalurannya dan memastikan produk pertalite maupun pertamax tersedia di seluruh SPBU di Riau. Saat ini, produk pertalite sudah tersedia di seluruh SPBU regular di Riau," paparnya.

Baca Juga:  Peserta Didik Sespimti Polri Lakukan PKDN ke Riau Pos

Kadis ESDM berharap melalui media disampaikan dan didorong kepada masyarakat agar mempergunakan bahan bakar yang sesuai dengan keperluan mesin kendaraan. Mengingat masih banyak kendaraan di Riau yang seharusnya membeli BBM dengan bahan bakar oktan tinggi, namun masih menggunakan premium.

Sementara itu Unit Manager Comunication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo mengatakan, pihaknya telah melaporkan pengendalian penyaluran bahan bakar tersebut kepada Pemprov Riau. Pengendalian, disampakan dia, agar sisa kuota yang tersisa mencukupi hingga akhir Desember.

"Jadi, terkait kondisi saat ini telah kami laporkan ke pemda (Riau). Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPH Migas dan pemda untuk melakukan pengendalian penyaluran," ungkap Roby.(rir/egp)

 

Berita selengkapnya baca Riau Pos hari ini.

Editor : Rinaldi

 

 

 

 

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari