Minggu, 6 April 2025
spot_img

Southgate Dianggap Salah Pilih Eksekutor Penalti

LONDON (RIAUPOS.CO) – Pelatih Inggris, Gareth Southgate, dinilai membuat kesalahan saat Inggris gagal juara Piala Eropa 2020. Berlaga di Stadion Wemley, London, Senin (12/7/2021), The Three Lions kalah dari Italia melalui adu penalti di partai pamungkas.

Tampil sebagai tuan rumah, pasukan Gareth Southgate bermain dengan intensitas tinggi sejak menit-menit awal. Hasilnya membuat Three Lions unggul cepat melalui sepakan Luke Shaw pada menit 2.

Sayang, keunggulan itu mampu disamakan melalui gol Leonardo Bonucci pada menit 67. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.

Laga dilanjutkan babak perpanjangan waktu 2×15 menit. Upaya demi upaya kedua untuk mencetak gol tambahan mampu dimentahkan kiper Jordan Pickford bagi Inggris dan Gianluigi Donnarumma bagi Italia.

Semenit menjelang laga berakhir, Southgate membuat dua perubahan pemain. Dia memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, yang masuk menggantikan Kyle Walker dan Jordan Henderson.

Baca Juga:  Ronaldo Permainan Lebih Cepat kepada Solskjaer

Henderson sendiri sebelumnya adalah pemain cadangan yang masuk di babak kedua menggantikan Declan Rice.

Namun, pada babak adu penalti, kedua pemain baru masuk itu tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sepakan Rashford mengenai tiang gawang, sementara tendangan Sancho mampu ditepis Gianluigi Donnarumma.

Dua pemain Italia sebenarnya juga tak mampu menyelesaikan eksekusi dengan baik, yakni  Jorginho dan Andrea Belotti. Namun, penendang Inggris, Bukayo Saka, juga gagal saat menjadi eksekutor. Hasil itu membuat Italia menang 3-2 dalam adu penalti.

Kekalahan tersebut membuat seluruh pemain Inggris dan suporternya bungkam. Inggris gagal meraih trofi perdana Piala Eropa. Sedangkan Italia meraih trofi kedua, setelah terakhir pada Piala Eropa 1968.

Baca Juga:  Motta: Jakarta Sekarang Rumah Saya

Namun, sebenarnya Southgate tidak salah-salah amat. Sebab, dia tahu Henderson bukan pemain yang berani mengambil penalti. Sebagai kapten Liverpool, dia tak pernah mengambil penalti, dan tugas itu diberikan kepada pemain lain. James Milner adalah penendang penalti utama Liverpool jika dia ada di lapangan.

Dan pengganti Henderson, Rashford, adalah salah satu penendang terbaik di Manchester United, meski penendang utama di klub tersebut adalah gelandang Portugal, Bruno Fernandes.

"Tak ada yang salah dengan pilihan Southgate. Adu penalti adalah perang psikologis dan berbau keberuntungan," tulis Daily Mail membela.

Sumber: UEFA/News/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

LONDON (RIAUPOS.CO) – Pelatih Inggris, Gareth Southgate, dinilai membuat kesalahan saat Inggris gagal juara Piala Eropa 2020. Berlaga di Stadion Wemley, London, Senin (12/7/2021), The Three Lions kalah dari Italia melalui adu penalti di partai pamungkas.

Tampil sebagai tuan rumah, pasukan Gareth Southgate bermain dengan intensitas tinggi sejak menit-menit awal. Hasilnya membuat Three Lions unggul cepat melalui sepakan Luke Shaw pada menit 2.

Sayang, keunggulan itu mampu disamakan melalui gol Leonardo Bonucci pada menit 67. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.

Laga dilanjutkan babak perpanjangan waktu 2×15 menit. Upaya demi upaya kedua untuk mencetak gol tambahan mampu dimentahkan kiper Jordan Pickford bagi Inggris dan Gianluigi Donnarumma bagi Italia.

Semenit menjelang laga berakhir, Southgate membuat dua perubahan pemain. Dia memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, yang masuk menggantikan Kyle Walker dan Jordan Henderson.

Baca Juga:  Shin Tae Yong Ancam Coret Asnawi dari Timnas Indonesia

Henderson sendiri sebelumnya adalah pemain cadangan yang masuk di babak kedua menggantikan Declan Rice.

Namun, pada babak adu penalti, kedua pemain baru masuk itu tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sepakan Rashford mengenai tiang gawang, sementara tendangan Sancho mampu ditepis Gianluigi Donnarumma.

Dua pemain Italia sebenarnya juga tak mampu menyelesaikan eksekusi dengan baik, yakni  Jorginho dan Andrea Belotti. Namun, penendang Inggris, Bukayo Saka, juga gagal saat menjadi eksekutor. Hasil itu membuat Italia menang 3-2 dalam adu penalti.

Kekalahan tersebut membuat seluruh pemain Inggris dan suporternya bungkam. Inggris gagal meraih trofi perdana Piala Eropa. Sedangkan Italia meraih trofi kedua, setelah terakhir pada Piala Eropa 1968.

Baca Juga:  Motta: Jakarta Sekarang Rumah Saya

Namun, sebenarnya Southgate tidak salah-salah amat. Sebab, dia tahu Henderson bukan pemain yang berani mengambil penalti. Sebagai kapten Liverpool, dia tak pernah mengambil penalti, dan tugas itu diberikan kepada pemain lain. James Milner adalah penendang penalti utama Liverpool jika dia ada di lapangan.

Dan pengganti Henderson, Rashford, adalah salah satu penendang terbaik di Manchester United, meski penendang utama di klub tersebut adalah gelandang Portugal, Bruno Fernandes.

"Tak ada yang salah dengan pilihan Southgate. Adu penalti adalah perang psikologis dan berbau keberuntungan," tulis Daily Mail membela.

Sumber: UEFA/News/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Southgate Dianggap Salah Pilih Eksekutor Penalti

LONDON (RIAUPOS.CO) – Pelatih Inggris, Gareth Southgate, dinilai membuat kesalahan saat Inggris gagal juara Piala Eropa 2020. Berlaga di Stadion Wemley, London, Senin (12/7/2021), The Three Lions kalah dari Italia melalui adu penalti di partai pamungkas.

Tampil sebagai tuan rumah, pasukan Gareth Southgate bermain dengan intensitas tinggi sejak menit-menit awal. Hasilnya membuat Three Lions unggul cepat melalui sepakan Luke Shaw pada menit 2.

Sayang, keunggulan itu mampu disamakan melalui gol Leonardo Bonucci pada menit 67. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.

Laga dilanjutkan babak perpanjangan waktu 2×15 menit. Upaya demi upaya kedua untuk mencetak gol tambahan mampu dimentahkan kiper Jordan Pickford bagi Inggris dan Gianluigi Donnarumma bagi Italia.

Semenit menjelang laga berakhir, Southgate membuat dua perubahan pemain. Dia memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, yang masuk menggantikan Kyle Walker dan Jordan Henderson.

Baca Juga:  Bonus Piala Thomas Rp10 M Cair

Henderson sendiri sebelumnya adalah pemain cadangan yang masuk di babak kedua menggantikan Declan Rice.

Namun, pada babak adu penalti, kedua pemain baru masuk itu tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sepakan Rashford mengenai tiang gawang, sementara tendangan Sancho mampu ditepis Gianluigi Donnarumma.

Dua pemain Italia sebenarnya juga tak mampu menyelesaikan eksekusi dengan baik, yakni  Jorginho dan Andrea Belotti. Namun, penendang Inggris, Bukayo Saka, juga gagal saat menjadi eksekutor. Hasil itu membuat Italia menang 3-2 dalam adu penalti.

Kekalahan tersebut membuat seluruh pemain Inggris dan suporternya bungkam. Inggris gagal meraih trofi perdana Piala Eropa. Sedangkan Italia meraih trofi kedua, setelah terakhir pada Piala Eropa 1968.

Baca Juga:  Munchen Disingkirkan Tim Gurem, Spekulasi Flick Dipecat Muncul

Namun, sebenarnya Southgate tidak salah-salah amat. Sebab, dia tahu Henderson bukan pemain yang berani mengambil penalti. Sebagai kapten Liverpool, dia tak pernah mengambil penalti, dan tugas itu diberikan kepada pemain lain. James Milner adalah penendang penalti utama Liverpool jika dia ada di lapangan.

Dan pengganti Henderson, Rashford, adalah salah satu penendang terbaik di Manchester United, meski penendang utama di klub tersebut adalah gelandang Portugal, Bruno Fernandes.

"Tak ada yang salah dengan pilihan Southgate. Adu penalti adalah perang psikologis dan berbau keberuntungan," tulis Daily Mail membela.

Sumber: UEFA/News/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

LONDON (RIAUPOS.CO) – Pelatih Inggris, Gareth Southgate, dinilai membuat kesalahan saat Inggris gagal juara Piala Eropa 2020. Berlaga di Stadion Wemley, London, Senin (12/7/2021), The Three Lions kalah dari Italia melalui adu penalti di partai pamungkas.

Tampil sebagai tuan rumah, pasukan Gareth Southgate bermain dengan intensitas tinggi sejak menit-menit awal. Hasilnya membuat Three Lions unggul cepat melalui sepakan Luke Shaw pada menit 2.

Sayang, keunggulan itu mampu disamakan melalui gol Leonardo Bonucci pada menit 67. Skor 1-1 bertahan hingga pertandingan berakhir.

Laga dilanjutkan babak perpanjangan waktu 2×15 menit. Upaya demi upaya kedua untuk mencetak gol tambahan mampu dimentahkan kiper Jordan Pickford bagi Inggris dan Gianluigi Donnarumma bagi Italia.

Semenit menjelang laga berakhir, Southgate membuat dua perubahan pemain. Dia memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, yang masuk menggantikan Kyle Walker dan Jordan Henderson.

Baca Juga:  Munchen Disingkirkan Tim Gurem, Spekulasi Flick Dipecat Muncul

Henderson sendiri sebelumnya adalah pemain cadangan yang masuk di babak kedua menggantikan Declan Rice.

Namun, pada babak adu penalti, kedua pemain baru masuk itu tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sepakan Rashford mengenai tiang gawang, sementara tendangan Sancho mampu ditepis Gianluigi Donnarumma.

Dua pemain Italia sebenarnya juga tak mampu menyelesaikan eksekusi dengan baik, yakni  Jorginho dan Andrea Belotti. Namun, penendang Inggris, Bukayo Saka, juga gagal saat menjadi eksekutor. Hasil itu membuat Italia menang 3-2 dalam adu penalti.

Kekalahan tersebut membuat seluruh pemain Inggris dan suporternya bungkam. Inggris gagal meraih trofi perdana Piala Eropa. Sedangkan Italia meraih trofi kedua, setelah terakhir pada Piala Eropa 1968.

Baca Juga:  Iga Swiatek Raih Kemenangan Ke-29 secara Beruntun di Prancis Terbuka

Namun, sebenarnya Southgate tidak salah-salah amat. Sebab, dia tahu Henderson bukan pemain yang berani mengambil penalti. Sebagai kapten Liverpool, dia tak pernah mengambil penalti, dan tugas itu diberikan kepada pemain lain. James Milner adalah penendang penalti utama Liverpool jika dia ada di lapangan.

Dan pengganti Henderson, Rashford, adalah salah satu penendang terbaik di Manchester United, meski penendang utama di klub tersebut adalah gelandang Portugal, Bruno Fernandes.

"Tak ada yang salah dengan pilihan Southgate. Adu penalti adalah perang psikologis dan berbau keberuntungan," tulis Daily Mail membela.

Sumber: UEFA/News/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari