Senin, 7 April 2025
spot_img

Stres, Tantangan Kesehatan Mental Makin Berat Saat Pandemi

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Di kala pandemi Covid-19, rupanya tantangan kesehatan mental semakin berat dihadapi oleh populasi dunia. Mulai dari dampak ekonomi hingga stres akibat terinfeksi penyakit Covid-19.

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, RS Siloam Bogor dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan, kesehatan mental sedunia tahun ini mengusung tema kesetaraan dalam kesehatan jiwa untuk semua (Mental Health in Unequal World). Menurutnya, pandemi Covid-19 yang melanda bumi ini memberikan dampak kesehatan jiwa yang sangat besar.

“Apakah saat ini kesehatan jiwa belum jadi milik seluruh masyarakat semuanya? Sebuah pertanyaan yang langsung berhadapan dengan fakta bagaimana stigma dan diskriminasi bagi orang dengan gangguan jiwa masih sangat kuat berakar di negeri ini,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Sebuah survei dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa ada 64,8 persen masyarakat Indonesia mengalami beberapa masalah seperti gangguan ansietas, depresi dan trauma psikologis adalah gangguan yang paling banyak terjadi. Hasil survei ini juga cukup serius karena 1 dari 5 orang sudah mulai berpikir tidak ada lagi harapan dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup.

Baca Juga:  Subsidi Upah Batch 3 Cair

Riset juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa memiliki risiko 7 kali lipat untuk terpapar infeksi Covid-19 dan kemudian menularkannya. Risiko kematian juga meningkat 2 kali lipat pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terpapar infeksi Covid-19.

“Pandemi dan hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa kita perlu memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam meningkatkan, menjaga dan mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dihadapi,” jelasnya.

Stres di Saat Pandemi

Menurutnya pandemi Covid-19 adalah peristiwa traumatis yang dialami oleh setiap orang. Stres dapat terjadi pada orang yang mengalaminya dan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik dan jiwa.

Baca Juga:  FIFGROUP Raih Penghargaan Indonesia Sales Marketing Award di Economic Review

“Stres tidak dapat dihindari, itu adalah bagian hidup manusia tetapi stres dapat dikendalikan sehingga dapat negatifnya bisa dihindari,” kata dr. Lahargo.

Menurutnya sebenarnya stres dalam jumlah yang kecil dan singkat bisa membuat performa kita menjadi lebih baik, contoh stres dalam tugas di kantor membuat kita lebih giat menyelesaikan sehingga kemampuan dan keterampilan kita menjadi meningkat, stres karena akan menghadapi ujian membuat seorang mahasiswa belajar dengan lebih sungguh dan mengatur waktu sebaik-baiknya.

“Kehidupan di tengah pandemi saat ini dengan berbagai perubahan yang cepat mendorong setiap orang untuk segera beradaptasi. Namun, tidak setiap orang memiliki kapasitas dan flexibilitas yang sama dalam menghadapi masalah dan ini yang menyebabkan terjadi stres,” tuturnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Di kala pandemi Covid-19, rupanya tantangan kesehatan mental semakin berat dihadapi oleh populasi dunia. Mulai dari dampak ekonomi hingga stres akibat terinfeksi penyakit Covid-19.

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, RS Siloam Bogor dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan, kesehatan mental sedunia tahun ini mengusung tema kesetaraan dalam kesehatan jiwa untuk semua (Mental Health in Unequal World). Menurutnya, pandemi Covid-19 yang melanda bumi ini memberikan dampak kesehatan jiwa yang sangat besar.

“Apakah saat ini kesehatan jiwa belum jadi milik seluruh masyarakat semuanya? Sebuah pertanyaan yang langsung berhadapan dengan fakta bagaimana stigma dan diskriminasi bagi orang dengan gangguan jiwa masih sangat kuat berakar di negeri ini,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Sebuah survei dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa ada 64,8 persen masyarakat Indonesia mengalami beberapa masalah seperti gangguan ansietas, depresi dan trauma psikologis adalah gangguan yang paling banyak terjadi. Hasil survei ini juga cukup serius karena 1 dari 5 orang sudah mulai berpikir tidak ada lagi harapan dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup.

Baca Juga:  31 PMI Kembali Dideportasi Melalui Pelabuhan Dumai

Riset juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa memiliki risiko 7 kali lipat untuk terpapar infeksi Covid-19 dan kemudian menularkannya. Risiko kematian juga meningkat 2 kali lipat pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terpapar infeksi Covid-19.

“Pandemi dan hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa kita perlu memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam meningkatkan, menjaga dan mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dihadapi,” jelasnya.

Stres di Saat Pandemi

Menurutnya pandemi Covid-19 adalah peristiwa traumatis yang dialami oleh setiap orang. Stres dapat terjadi pada orang yang mengalaminya dan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik dan jiwa.

Baca Juga:  Mayoritas Perempuan Selingkuh dari Pasangan karena Jarang Dipuji

“Stres tidak dapat dihindari, itu adalah bagian hidup manusia tetapi stres dapat dikendalikan sehingga dapat negatifnya bisa dihindari,” kata dr. Lahargo.

Menurutnya sebenarnya stres dalam jumlah yang kecil dan singkat bisa membuat performa kita menjadi lebih baik, contoh stres dalam tugas di kantor membuat kita lebih giat menyelesaikan sehingga kemampuan dan keterampilan kita menjadi meningkat, stres karena akan menghadapi ujian membuat seorang mahasiswa belajar dengan lebih sungguh dan mengatur waktu sebaik-baiknya.

“Kehidupan di tengah pandemi saat ini dengan berbagai perubahan yang cepat mendorong setiap orang untuk segera beradaptasi. Namun, tidak setiap orang memiliki kapasitas dan flexibilitas yang sama dalam menghadapi masalah dan ini yang menyebabkan terjadi stres,” tuturnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Stres, Tantangan Kesehatan Mental Makin Berat Saat Pandemi

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Di kala pandemi Covid-19, rupanya tantangan kesehatan mental semakin berat dihadapi oleh populasi dunia. Mulai dari dampak ekonomi hingga stres akibat terinfeksi penyakit Covid-19.

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, RS Siloam Bogor dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan, kesehatan mental sedunia tahun ini mengusung tema kesetaraan dalam kesehatan jiwa untuk semua (Mental Health in Unequal World). Menurutnya, pandemi Covid-19 yang melanda bumi ini memberikan dampak kesehatan jiwa yang sangat besar.

“Apakah saat ini kesehatan jiwa belum jadi milik seluruh masyarakat semuanya? Sebuah pertanyaan yang langsung berhadapan dengan fakta bagaimana stigma dan diskriminasi bagi orang dengan gangguan jiwa masih sangat kuat berakar di negeri ini,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Sebuah survei dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa ada 64,8 persen masyarakat Indonesia mengalami beberapa masalah seperti gangguan ansietas, depresi dan trauma psikologis adalah gangguan yang paling banyak terjadi. Hasil survei ini juga cukup serius karena 1 dari 5 orang sudah mulai berpikir tidak ada lagi harapan dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup.

Baca Juga:  Mayoritas Perempuan Selingkuh dari Pasangan karena Jarang Dipuji

Riset juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa memiliki risiko 7 kali lipat untuk terpapar infeksi Covid-19 dan kemudian menularkannya. Risiko kematian juga meningkat 2 kali lipat pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terpapar infeksi Covid-19.

“Pandemi dan hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa kita perlu memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam meningkatkan, menjaga dan mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dihadapi,” jelasnya.

Stres di Saat Pandemi

Menurutnya pandemi Covid-19 adalah peristiwa traumatis yang dialami oleh setiap orang. Stres dapat terjadi pada orang yang mengalaminya dan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik dan jiwa.

Baca Juga:  Strategi Guru Tetap Mengajar di Tengah Pandemi

“Stres tidak dapat dihindari, itu adalah bagian hidup manusia tetapi stres dapat dikendalikan sehingga dapat negatifnya bisa dihindari,” kata dr. Lahargo.

Menurutnya sebenarnya stres dalam jumlah yang kecil dan singkat bisa membuat performa kita menjadi lebih baik, contoh stres dalam tugas di kantor membuat kita lebih giat menyelesaikan sehingga kemampuan dan keterampilan kita menjadi meningkat, stres karena akan menghadapi ujian membuat seorang mahasiswa belajar dengan lebih sungguh dan mengatur waktu sebaik-baiknya.

“Kehidupan di tengah pandemi saat ini dengan berbagai perubahan yang cepat mendorong setiap orang untuk segera beradaptasi. Namun, tidak setiap orang memiliki kapasitas dan flexibilitas yang sama dalam menghadapi masalah dan ini yang menyebabkan terjadi stres,” tuturnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Di kala pandemi Covid-19, rupanya tantangan kesehatan mental semakin berat dihadapi oleh populasi dunia. Mulai dari dampak ekonomi hingga stres akibat terinfeksi penyakit Covid-19.

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.Jiwa.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor, RS Siloam Bogor dr. Lahargo Kembaren, SpKJ mengatakan, kesehatan mental sedunia tahun ini mengusung tema kesetaraan dalam kesehatan jiwa untuk semua (Mental Health in Unequal World). Menurutnya, pandemi Covid-19 yang melanda bumi ini memberikan dampak kesehatan jiwa yang sangat besar.

“Apakah saat ini kesehatan jiwa belum jadi milik seluruh masyarakat semuanya? Sebuah pertanyaan yang langsung berhadapan dengan fakta bagaimana stigma dan diskriminasi bagi orang dengan gangguan jiwa masih sangat kuat berakar di negeri ini,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Sebuah survei dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa ada 64,8 persen masyarakat Indonesia mengalami beberapa masalah seperti gangguan ansietas, depresi dan trauma psikologis adalah gangguan yang paling banyak terjadi. Hasil survei ini juga cukup serius karena 1 dari 5 orang sudah mulai berpikir tidak ada lagi harapan dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan mengakhiri hidup.

Baca Juga:  FIFGROUP Raih Penghargaan Indonesia Sales Marketing Award di Economic Review

Riset juga menunjukkan bahwa orang dengan gangguan jiwa memiliki risiko 7 kali lipat untuk terpapar infeksi Covid-19 dan kemudian menularkannya. Risiko kematian juga meningkat 2 kali lipat pada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terpapar infeksi Covid-19.

“Pandemi dan hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa kita perlu memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam meningkatkan, menjaga dan mengatasi masalah kesehatan jiwa yang dihadapi,” jelasnya.

Stres di Saat Pandemi

Menurutnya pandemi Covid-19 adalah peristiwa traumatis yang dialami oleh setiap orang. Stres dapat terjadi pada orang yang mengalaminya dan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik dan jiwa.

Baca Juga:  Lipan

“Stres tidak dapat dihindari, itu adalah bagian hidup manusia tetapi stres dapat dikendalikan sehingga dapat negatifnya bisa dihindari,” kata dr. Lahargo.

Menurutnya sebenarnya stres dalam jumlah yang kecil dan singkat bisa membuat performa kita menjadi lebih baik, contoh stres dalam tugas di kantor membuat kita lebih giat menyelesaikan sehingga kemampuan dan keterampilan kita menjadi meningkat, stres karena akan menghadapi ujian membuat seorang mahasiswa belajar dengan lebih sungguh dan mengatur waktu sebaik-baiknya.

“Kehidupan di tengah pandemi saat ini dengan berbagai perubahan yang cepat mendorong setiap orang untuk segera beradaptasi. Namun, tidak setiap orang memiliki kapasitas dan flexibilitas yang sama dalam menghadapi masalah dan ini yang menyebabkan terjadi stres,” tuturnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari