Selasa, 14 April 2026
- Advertisement -

45 Ribu Hektare Mangrove Hilang, Pesisir Inhil Kian Rentan

Mangrove Menyusut, Warga Inhil Berjuang Pulihkan Pesisir dari Ancaman Abrasi

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) KERUSAKAN hutan mangrove di pesisir Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mulai menunjukkan dampak nyata. Air laut yang sebelumnya tidak pernah masuk ke permukiman kini perlahan merangsek, sementara garis pantai terus mengalami kemunduran.

Kondisi tersebut terlihat di kawasan Pantai Terumbu Mabloe, Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri. Penanaman mangrove di wilayah ini bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan langkah nyata untuk merespons kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari asesmen lapangan dan citra satelit terbaru, luas mangrove di Inhil saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 67.234 hektare. Angka ini menurun drastis dibandingkan tahun 1990 yang mencapai 112.568 hektare.

Artinya, lebih dari 45 ribu hektare hutan mangrove telah hilang dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade. Tren penurunan ini juga terlihat dari data tahun 2019 yang masih mencatat 95.608 hektare, serta penelitian lain yang menunjukkan angka serupa.

Akibatnya, kawasan pesisir menjadi semakin rentan. Di sejumlah titik, hamparan mangrove yang dulu lebat kini berubah menjadi area terbuka tanpa perlindungan vegetasi, menyisakan lumpur dan akar yang tidak lagi mampu menahan gelombang laut.

Baca Juga:  Objek Penilaian Adipura, Hutan Pulau Bungin Jadi Paru-Paru Ibu Kota

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Baru Dolak, Junaidi, menyebut kerusakan tersebut terjadi secara bertahap namun berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat.

Ia mengungkapkan, selama hampir 20 tahun tinggal di Sungai Bela, rumahnya tidak pernah terdampak banjir. Namun kondisi itu berubah pada 2025.

“Dulu tidak pernah kebanjiran, tapi sekarang mulai terjadi. Salah satu penyebabnya karena mangrove sudah rusak,” ujarnya.

Tak hanya itu, dampak juga dirasakan para nelayan. Hasil tangkapan ikan dan udang mengalami penurunan seiring terganggunya ekosistem pesisir.

“Sekarang hasil tangkapan berkurang. Mangrove yang rusak ikut memengaruhi,” tambahnya.

Sebagai upaya pemulihan, masyarakat membentuk Kelompok Tani Hutan dan melakukan penanaman mangrove secara bertahap. Hingga kini, progres penanaman telah mencapai sekitar 70 persen dari target 50 hektare.

Penanaman dilakukan di dua lokasi utama, yakni 20 hektare di kawasan Sungai Terumbu dan 30 hektare di aliran Sungai Batang. Total bibit yang telah ditanam mencapai sekitar 110 ribu batang.

Baca Juga:  Menanam Sejak Dini, Kapolda Tanam Pohon Bersama Siswa SD di Rohul

Meski demikian, tantangan tidak hanya pada penanaman, tetapi juga menjaga agar kawasan tersebut tidak kembali rusak. Sebelumnya, kawasan Sungai Terumbu bahkan sempat mengalami kerusakan parah akibat penebangan.

Dalam upaya ini, masyarakat mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LSM Paradigma. Manager Program Paradigma, Fandi, menegaskan pentingnya mangrove sebagai pelindung utama pesisir.

Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi menahan abrasi, tetapi juga menyerap karbon dalam jumlah besar serta menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.

“Jika mangrove hilang, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” jelasnya.

Pemerintah Desa Sungai Bela juga menilai program ini penting untuk keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda, diharapkan terus meningkat agar upaya pelestarian mangrove dapat berjalan berkelanjutan.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, mangrove kini kembali dipandang sebagai benteng terakhir pesisir. Namun keberadaannya sangat bergantung pada kesadaran dan peran aktif semua pihak dalam menjaganya.(nda/*2)

Mangrove Menyusut, Warga Inhil Berjuang Pulihkan Pesisir dari Ancaman Abrasi

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) KERUSAKAN hutan mangrove di pesisir Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mulai menunjukkan dampak nyata. Air laut yang sebelumnya tidak pernah masuk ke permukiman kini perlahan merangsek, sementara garis pantai terus mengalami kemunduran.

Kondisi tersebut terlihat di kawasan Pantai Terumbu Mabloe, Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri. Penanaman mangrove di wilayah ini bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan langkah nyata untuk merespons kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari asesmen lapangan dan citra satelit terbaru, luas mangrove di Inhil saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 67.234 hektare. Angka ini menurun drastis dibandingkan tahun 1990 yang mencapai 112.568 hektare.

Artinya, lebih dari 45 ribu hektare hutan mangrove telah hilang dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade. Tren penurunan ini juga terlihat dari data tahun 2019 yang masih mencatat 95.608 hektare, serta penelitian lain yang menunjukkan angka serupa.

- Advertisement -

Akibatnya, kawasan pesisir menjadi semakin rentan. Di sejumlah titik, hamparan mangrove yang dulu lebat kini berubah menjadi area terbuka tanpa perlindungan vegetasi, menyisakan lumpur dan akar yang tidak lagi mampu menahan gelombang laut.

Baca Juga:  Menanam Sejak Dini, Kapolda Tanam Pohon Bersama Siswa SD di Rohul

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Baru Dolak, Junaidi, menyebut kerusakan tersebut terjadi secara bertahap namun berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat.

- Advertisement -

Ia mengungkapkan, selama hampir 20 tahun tinggal di Sungai Bela, rumahnya tidak pernah terdampak banjir. Namun kondisi itu berubah pada 2025.

“Dulu tidak pernah kebanjiran, tapi sekarang mulai terjadi. Salah satu penyebabnya karena mangrove sudah rusak,” ujarnya.

Tak hanya itu, dampak juga dirasakan para nelayan. Hasil tangkapan ikan dan udang mengalami penurunan seiring terganggunya ekosistem pesisir.

“Sekarang hasil tangkapan berkurang. Mangrove yang rusak ikut memengaruhi,” tambahnya.

Sebagai upaya pemulihan, masyarakat membentuk Kelompok Tani Hutan dan melakukan penanaman mangrove secara bertahap. Hingga kini, progres penanaman telah mencapai sekitar 70 persen dari target 50 hektare.

Penanaman dilakukan di dua lokasi utama, yakni 20 hektare di kawasan Sungai Terumbu dan 30 hektare di aliran Sungai Batang. Total bibit yang telah ditanam mencapai sekitar 110 ribu batang.

Baca Juga:  Paru-paru Dunia di Jantung Sumatra, TN Bukit Tigapuluh Jadi Sorotan

Meski demikian, tantangan tidak hanya pada penanaman, tetapi juga menjaga agar kawasan tersebut tidak kembali rusak. Sebelumnya, kawasan Sungai Terumbu bahkan sempat mengalami kerusakan parah akibat penebangan.

Dalam upaya ini, masyarakat mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LSM Paradigma. Manager Program Paradigma, Fandi, menegaskan pentingnya mangrove sebagai pelindung utama pesisir.

Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi menahan abrasi, tetapi juga menyerap karbon dalam jumlah besar serta menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.

“Jika mangrove hilang, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” jelasnya.

Pemerintah Desa Sungai Bela juga menilai program ini penting untuk keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda, diharapkan terus meningkat agar upaya pelestarian mangrove dapat berjalan berkelanjutan.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, mangrove kini kembali dipandang sebagai benteng terakhir pesisir. Namun keberadaannya sangat bergantung pada kesadaran dan peran aktif semua pihak dalam menjaganya.(nda/*2)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Mangrove Menyusut, Warga Inhil Berjuang Pulihkan Pesisir dari Ancaman Abrasi

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) KERUSAKAN hutan mangrove di pesisir Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mulai menunjukkan dampak nyata. Air laut yang sebelumnya tidak pernah masuk ke permukiman kini perlahan merangsek, sementara garis pantai terus mengalami kemunduran.

Kondisi tersebut terlihat di kawasan Pantai Terumbu Mabloe, Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri. Penanaman mangrove di wilayah ini bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan langkah nyata untuk merespons kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari asesmen lapangan dan citra satelit terbaru, luas mangrove di Inhil saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 67.234 hektare. Angka ini menurun drastis dibandingkan tahun 1990 yang mencapai 112.568 hektare.

Artinya, lebih dari 45 ribu hektare hutan mangrove telah hilang dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade. Tren penurunan ini juga terlihat dari data tahun 2019 yang masih mencatat 95.608 hektare, serta penelitian lain yang menunjukkan angka serupa.

Akibatnya, kawasan pesisir menjadi semakin rentan. Di sejumlah titik, hamparan mangrove yang dulu lebat kini berubah menjadi area terbuka tanpa perlindungan vegetasi, menyisakan lumpur dan akar yang tidak lagi mampu menahan gelombang laut.

Baca Juga:  9 Daerah Siaga Darurat Banjir

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Baru Dolak, Junaidi, menyebut kerusakan tersebut terjadi secara bertahap namun berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat.

Ia mengungkapkan, selama hampir 20 tahun tinggal di Sungai Bela, rumahnya tidak pernah terdampak banjir. Namun kondisi itu berubah pada 2025.

“Dulu tidak pernah kebanjiran, tapi sekarang mulai terjadi. Salah satu penyebabnya karena mangrove sudah rusak,” ujarnya.

Tak hanya itu, dampak juga dirasakan para nelayan. Hasil tangkapan ikan dan udang mengalami penurunan seiring terganggunya ekosistem pesisir.

“Sekarang hasil tangkapan berkurang. Mangrove yang rusak ikut memengaruhi,” tambahnya.

Sebagai upaya pemulihan, masyarakat membentuk Kelompok Tani Hutan dan melakukan penanaman mangrove secara bertahap. Hingga kini, progres penanaman telah mencapai sekitar 70 persen dari target 50 hektare.

Penanaman dilakukan di dua lokasi utama, yakni 20 hektare di kawasan Sungai Terumbu dan 30 hektare di aliran Sungai Batang. Total bibit yang telah ditanam mencapai sekitar 110 ribu batang.

Baca Juga:  Paru-paru Dunia di Jantung Sumatra, TN Bukit Tigapuluh Jadi Sorotan

Meski demikian, tantangan tidak hanya pada penanaman, tetapi juga menjaga agar kawasan tersebut tidak kembali rusak. Sebelumnya, kawasan Sungai Terumbu bahkan sempat mengalami kerusakan parah akibat penebangan.

Dalam upaya ini, masyarakat mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LSM Paradigma. Manager Program Paradigma, Fandi, menegaskan pentingnya mangrove sebagai pelindung utama pesisir.

Menurutnya, mangrove tidak hanya berfungsi menahan abrasi, tetapi juga menyerap karbon dalam jumlah besar serta menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.

“Jika mangrove hilang, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” jelasnya.

Pemerintah Desa Sungai Bela juga menilai program ini penting untuk keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda, diharapkan terus meningkat agar upaya pelestarian mangrove dapat berjalan berkelanjutan.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, mangrove kini kembali dipandang sebagai benteng terakhir pesisir. Namun keberadaannya sangat bergantung pada kesadaran dan peran aktif semua pihak dalam menjaganya.(nda/*2)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari